Menyorot Perubahan: Anatomi dan Antisipasi Pengelolaannya

Pagi ini saya membaca koran yang sebagian isinya penuh dengan tulisan yang berisikan kekhawatiran.   Demikian juga semalam “trending line” tweeter banyak bercerita tentang pro dan kontra terhadap berbagai isu munculnya pemimpin baru.   Semua memiliki kemiripan, merupakan reaksi yang muncul spontan karena antisipasi akan terjadinya “perubahan”. Yess perubahan dari kondisi “status quo” yang ada — menuju rancangan kondisi yang diskenariokan oleh Promotor Perubahan.

Mengapa status quo tidak bertahan lama dan selalu bergeser kepada kondisi baru yang kemudian menimbulkan pertentangan, silang pendapat dan reaksi keras ketidak-setujuan?

Meminjam isitilah ilmu ekonomi tingkat pertama, begitu satu tatanan bergeser dari satu kondisi “equilibrium yang lama” kepada posisi “keseimbangan yang baru” maka biasanya akan diikuti oleh perubahan2 tatanan yang ada dan mapan untuk jangka waktu lama. Dampak perubahan kebijakan makro ekonomi menuntut bahwa harga bisa naik dan bisa juga turun. Mereka yang kaya bisa saja menjadi miskin dan mungkin sebaliknya. Buruh pabrik bisa saja ada yang menikmati manfaat dan bisa juga sebaliknya mananggung efek negatif. Jadi intinya dari tindakan perubahan akan ada kelompok masyarakat yang diuntungkan dan ada yang dirugikan.

Naaaah dengan masuknya para pemimpin baru negara2 didunia, terakhir terpilihnya Presiden Amerika Serikat ke-45, yang istilah kerennya bekerja untuk memenuhi “tuntutan warga domestic” , maka terjadilah kegoncangan pada tatanan keseimbangan ekonomi global, pasar keuangan, perjanjian kerjasama antar Negara dan lulurnya komitmen yang dipegang President sebelumnya. Duniapun mengalami perubahan ke arah pendulum menuju kesimbangan barunya.

Ambil contoh misalnya bagaimana Masyarakat Ekonomi Eropah terguncang dengan keributan-keributan akibat keluarnya negara Inggris dari Kelompok Ekonomi Regional tersebut.   Demikian juga sekarang kita menyaksikan bagaimana Masyarakat dan Pemimpin Dunia dibuat ketar-ketir akibat akan adanya perubahan tatanan masyarakat Amerika Serikat yang ingin dirubah oleh kepemimpinan baru President Donald Trump.

tea_party_-_pennsylvania_avenue

(picture from Google)

Dengan “perubahan-perubahan” yang bisa terjadi apakah dalam organisasi publik, swasta maupun kegiatan mandiri, terdapat beberapa hal yang ingin saya “sharing” pada teman-teman tentang esensi “mekanisme kejadian” suatu “perubahan”:

(1) Bahwasanya “perubahan” banyak didorong akibat ketidak puasan atas kinerja yang ada.

Secara makro, kasus di Inggris didorong oleh tuntutan warga negara senior yang ingin agar kondisi kesejahteraannya tidak tergusur oleh kedatangan warga immigrant pendatang.   Kasus di Amerika Serikat terjadilah kehebohan dengan maraknya demo akibat kebijakan Pemerintah yang Baru mengusung “perlindungan pada kepentingan utama warga Amerika” dalam urusan investasi, ekonomi perdagangan luar negeri dan lalu lintas orang maupun modal. Kemudian ditambah lagi karena adanya tekanan deficit fiscal maka terjadi tuntutan perlunya kebijakan efisiensi nasional dikeluarkan, dengan memangkas berbagai kepentingan program kesehatan, pendidikan dan hak asasi.

Secara mikro, setiap perubahan biasanya tercetus dan kemudian menjadi dorongan Pimpinan Organisasi melakukan “perubahan” karena tidak bekerjanya unit-unit organisasi dalam mencapai tujuan.   Misalnya saja, kinerja Kantor Cabang yang tidak bagus dan kalah bersaing di wilayahnya, berdampak Pimpinan Organisasi melakukan perbaikan dengan mengganti pejabat atau menutup Kantor Cabang tersebut. Kondisi kalah bersaing di pasar industri bisa menuntut Pimpinan melakukan program pemangkasan biaya atau program perumahan karyawan. Kemudian dalam kasus “mekanisme pola kerja secara berkelompok”, bisa saja Leader-Leader Unit melakukan kebijakan “bedol desa” dan kemudian menggantikan tenaga2 andalan (coreteam) mereka — begitu signal-signal kemunduran dalam meraih target selalu tidak terpenuhi.   Demikian juga jika satu “ranting jaringan pemasaran” menunjukkan gejala lumpuh, bisa saja kemudian ranting tersebut diabaikan dan segera digantikan dengan proses scouting member baru yang lebih energetic.

(2) Bahwasanya setiap “perubahan” akan mengguncang tatanan yang lama dan menimbulkan reaksi yang berlebihan secara negatif dikalangan Anggota Organisasi/Masyarakat.

Alineasi (keberpihakan) atas kesamaan isu, apakah sifatnya positif ataupun negative, akan mendorong timbulnya reaksi protes yang keras.   Biasanya dalam kasus apapun, protes keras ini akan kalah dengan sendirinya, karena komitmen rezim Pembaharu yang relatif lebih dominan dan punya kuasa. Akhirnya para pelaku protes menghadapi frustasi yang berkepanjangan dan akan merasa terpojok atau lelah dengan sendirinya, yang diakhiri dengan keapatisan pada kondisi yang baru.

(3) Dengan berjalannya waktu “tindakan-tindakan pembaharuan” bisa memberikan hasil atas target yang diinginkan untuk dicapai. Posisi “status quo baru” akan menggantikan posisi yang lama.   Kondisi ini akan terguncang kembali saat ketidakpuasan meningkat atau karena masa jabatan pimpinan telah berakhir.

Melihat pada kasus-kasus bagaimana para Pemimpin/Leader organisasi sepanjang masa mengelola perubahan, ada beberapa manfaat yang bisa saya sarankan.   Memang idea untuk melakukan “perubahan” pada kebijakan atau bentuk struktur organisasi bisa menimbulkan reaksi kompromi yang positif atau reaksi perlawanan yang negative.   Reaksi negatif ini pada akhirnya biasanya akan melemah karena mungkin sebagian tuntutan telah diakomodir atau karena habisnya amunisi dari para pelaku protes.

Jika memang Strategi Perubahan itu sendiri perlu dilakukan, para Leader Organisasi hendaknya telah menyiapkan kejelasan blueprint kebijakan/konsep yang diusung dan ketegasan dalam proses pelaksanaannya. Jika timbul protes dengan reaksi negatif yang masif maka perlu dilakukan upaya mitigasi untuk mencapai kompromi sebelum ekskalasi bola saljunya semakin berbahaya.

Penulis: Aditiawan Chandra – 23 Januari 2017

Prospek Bisnis Penjualan Langsung Retail Indonesia 2017

Tulisan Utama:

Yang dimaksud Penjualan Langsung Retail disini adalah penjualan produk-produk retail tanpa melalui jalur distribusi ke distributor, pedagang menengah, dan kios2 keagenan. Jadi prosesnya dilakukan dengan penjualan lewat online atau melalui sistim jaringan pemasaran berjenjang (multi level).

Bicara mengenai prospek Penjualan Langsung Retail Indonesia ini tentunya tidak terlepas dari perkembangan perekonomian Indonesia.   Sehingga kesehatan dan keberlanjutan ekonomi ke depan tentunya akan mempengaruhi perkembangan kegiatan bisnis retail ini.

  1. Perkembangan Ekonomi Indonesia

Sehatkah kondisi perekonomian Indonesia beberapa tahun kebelakang?

Marilah kita lihat beberapa indikator utama yang menjadi factor penentu (drivers) , meliputi antara lain pertumbuhan ekonomi (growth rate), tingkat inflasi (inflation rate) dan nilai tukar (exchange rate).

Pertumbuhan ekonomi Indonesia rata-rata untuk tahun 2006 adalah 5.0%. Dibandingkan dengan perkembangan jangka panjang 2006-2016, pertumbuhan tinggi dicapai pada level 7.16% dan yang terendah 1.56%.   Ini merupakan prestasi tersendiri dengan pertumbuhan tertinggi di Negara-negara Asia Tenggara. Diantara Negara-negara G-20 Indonesia masuk ke peringkat No-3.

Ke depan pada tahun 2017, pertumbuhan ekonomi kita akan berlanjut walaupun tidak pada level yang terlalu tinggi.

Forecast Bank Indonesia mematok angka optimis pada tingkatan rata-rata 6% untuk periode 2017-2019. Sedangkan Asia Development Bank (ADB) memperkirakan level 5.1% — yang tidak jauh berbeda dengan perkiraan Bank Dunia pada level 5.5%.

og

(Source: Google- Statistics Indonesia)

Sebagai akibat perkembangan perekonomian yang menggembirakan ini, pendapatan per kapita penduduk Indonesia pada tahun 2016 menunjukkan angka 3834 US dollar/ kapita — tingkatan tertinggi yang diraih selama periode 2006-2016. Coba bandingkan dengan level terendahnya 549 US dollar/kapita sehingga merupakan lonjakan dahsyad dalam daya beli konsumen Indonesia secara menyeluruh.

Daya beli konsumen yang melonjak ini membuat sektor retail di Indonesia tumbuh cepat dibandingkan kondisi beberapa tahun sebelumnya. Baik perdagangan partai besar dan kecil mengalami perkembangan yang meningkat.   Akibatnya, investasi di bidang pergudangan, logistic, angkutan barang dan aktivitas mall meningkat pesat. Value added dari kegiatan sektor jasa misalnya, GDP nya mencapai level sekita 40 triliun rupiah, melonjak dari level terendah 23.7 triliun selama periode 2006-2016.

Daya beli yang kuat ini disokong oleh rendahnya tingkat inflasi, yang membukukan level 3.1% tahun 2016.   Pemerintah telah berupaya sekuat tenaga membuat realisasi inflasi dibawah level APBNP 2016.

Satu hal yang membuat kinerja perekonomian belum optimal adalah tingkatan nilai tukar rupiah.   Akibat tekanan faktor eksternal nilai tukar kita pernah mengalami pelemahan, dan kemudian bertengger pada stabilitas baru Rp 13.307 per US dollar pada tahun 2016.   Bagi produk-produk retail yang selama ini diimpor, tingginya nilai tukar ini membuat harga jual beberapa produk impor mengalami penyesuaian harga jual beberapa kali selama waktu 2 tahun terakhir. Produk-produk retail yang terkena dampak antara lain produk makanan, minuman, obat-obatan dan kosmetik.

  1. Tantangan Pasar Penjualan Langsung Retail 2017

Memasuki tahun 2017 pasar sektor retail di Indonesia menghadapi tantangan yang cukup serius. Diperlukan antisipasi para pebisnis dalam menghadapi tantangan berikut.

Pertama, bahwa walaupun pendapatan per kapita mengalami lonjakan sebenarnya kondisi disparitas perolehan pendapatan di level konsumen rumah tangga mengalami kepincangan. Sementara tingkat pertumbuhan ekonomi melaju dengan rata-rata pertumbuhan 5.58% selama periode 2004-2015, ternyata angka kemiskinan menurun dengan level rata-rata 5.53%.

Kedua, pada bulan Februari dan Maret kondisi politik di Negara kita kembali menghangat sejalan berjalannya Pilkada secara serentak.   Apalagi dengan jor-joran peserta partai politik dalam pemilihan kepala daerah, kondisi pasar retail akan terimbas oleh perlehatan akbar tersebut. Semoga proses Pilkada ini bisa berjalan aman dan terkendali.

Ketiga, bahwa produktivitas nasional belum berjalan dengan optimal. Dampak tingkat pengeluaran modal investasi (ICOR) tidak berbanding lurus dengan pertumbuhan perekonomian itu sendiri.  Menurut Harian Kompas ICOR Indonesia meningkat dari 4.5% pada tahun 2013 ke tingkatan 6.8% pada tahun 2015.   Namun demikian laju pertumbuhan ekonomi Indonesia turun dari tingkat 5.6% tahun 2013 menuju 5.02% tahun 2015.   Banyak ahli mengatakan bahwa dana desa yang ditingkatkan oleh Pemerintah dikhususkan untuk pengembangan infrastruktur, dan belum cukup disalurkan pada upaya meningkatkan investasi di bidang pemberdayaan masyarakat.

Terakhir, dengan perkembangan kondisi permintaan pasar global, biaya transport di dalam negeri akan cenderung meningkat. Faktor pencetusnya adalah penyesuaian harga premium dan bahan bakar serta peningkatan tariff pendaftaran kendaraan bermotor di kota besar.

Namun selama pebisnis sektor retail mampu bekerja dengan efisien dan menajamkan tergetting pasarnya maka tantangan ini insya Allah bisa dihadapi dengan baik.

  1. Bagaimana Prospek Sektor Penjualan Langsung Retail ke Depan?

Prospek kegiatan di sektor Penjualan Langsung Retail menurut saya masih menjanjikan.   Masih terdapat ruang gerak yang cukup luas untuk meningkatkan volume penjualan. Tentunya ini semua tergantung dari jenis produk retail yang digeluti dan target konsumen/wilayah pasar yang menjadi sorotan utama.

teaser_2016-retail-and-consumer-products-trends580x280

(picture from Google)

Alasan argumentasi ini saya buat dengan melihat perkembangan yang ditunjukkan oleh hal-hal berikut ini.

A.     Trend pola permintaan masyarakat di sektor riil bisa dilihat dari perkembangan Pengeluaran Konsumen. Rata-rata Consumer Spending masyarakat Indonesia berkisar angka 598 Triliun Rupiah selama tahun 2000-2015.   Kemudian permintaan ini melonjak dahsyad dengan angka 1308 Triliun Rupiah pada Kwartal III tahun 2016. Bandingkan posisi terendahnya pada Kwartal I tahun 2000 yang menunjukkan angka 210 Triliun Rupiah.

B.     Kredit konsumen apakah melalui mekanisme perbankan dan pengeluaran kartu kredit mengambil peran dominan atas lonjakan permintaan tersebut. Per bulan Nopember 2016, terdapat 17.351 juta kartu kredit yang diterbitkan. Jumlah transaksinya mencapai 26.342 juta , atau senilai angka 23.745 Triliun Rupiah. Ke depan dengan upaya pemerintah menurunkan tingkat bunga kredit diharapkan bisa membuat kondisi permintaan ini paling tidak untuk bertahan. Untuk diketahui, pada bulan Januari 2017 ini Bank Indonesia telah menurunkan tingkat Bunga kartu kredit 2.25% per bulan atau 27% per tahunnya.

C.     Penjualan sektor retail di Indonesia telah tumbuh 7.6% dengan basis year on year. Ini adalah posisi pada bulan Oktober 2016. Bandingkan dengan level terendah -26.3% dan max 40.3% selama periode sepuluh tahun terakhir. Sebagai informasi saja jumlah transaksi ATM telah mencapai 44 milyar transaksi dengan nilai Rp 483 Triliun Rupiah.

D.     Tingkat kepercayaan konsumen atas kondisi pasar, yang biasa disebut dengan Consumer Confidence Index –menunjukkan trend yang meningkat. Menurut Hasil Survey Konsumen dari Nilsen angkanya meningkat tajam dari 116 tahun 2015 ke 122 tahun 2016.   Rentang minimum level adalah 9.6 dan maksimum 121 selama periode 2006-2015.

E.     Pemerintah pada tahun 2017 akan lebih mengutamakan upaya memeratakan distribusi pendapatan dengan kebijakan-kebijakan: (a) transfer dana ke desa-desa yang lebih besar, (b) meredistribusikan asset dan (c) meningkatkan volume penyaluran kredit usaha rakyat.

F.     Penggunaan komunikasi dan pemasaran lewat media sosial di Indonesia merupakan salah satu yang terbesar di dunia.   Hal ini berakibat semakin murah dan tersedianya peralatan handphone dan dukungan kapasitas jaringan internet secara nasional. Penjualan on line melalui e-catalog telah banyak dirintis oleh perusahaan retail global, seperti halnya perusahaan kosmetik Oriflame.

Screen Shot 2017-01-18 at 11.58.08 PM.png

(picture from Oriflame Indonesia)

Jadi terlihat jelas dari data-data yang kami peroleh diatas bahwa prospek kegiatan bisnis retail di Indonesia masih cukup menggembirakan.

  1. Implikasi Bagi Pebisnis di Sektor Penjualan Langsung Retail.

 Gambaran perkembangan retail bisnis, di atas khususnya dengan metode penjualan langsung dapat disimpulkan masih memiliki prospek yang bagus.   Masih cukup tersedia ruang yang cukup lebar bagi para pebisnis retail barang2 kebutuhan (sekunder) rumah tangga untuk meningkatkan penjualnya melalui jaringan keanggotaan.   Mengingat trend lonjakan permintaan konsumen pada tahun 2016 dan relative masih kuatnya daya beli masyarakat, akan membawa efek pada peningkatan penjualan dan kegiatan pemasaran pada produk2 kosmetik, obat2an supplement, produk sepatu, barang pakaian serta jasa pengiriman barang.

Kemudian melihat faktor eksternal dari menguatnya nilai mata uang dollar terhadap rupiah tentunya akan membawa dampak pada peningkatan ekspor hasil2 produk pertanian dan hasil hutan. Keadaan ini bisa mempengaruhi lebih lanjut permintaan terhadap kebutuhan rumah tangga sehari-hari di wilayah-wilayah domisili produk ekspor tersebut.   Pasar produk-produk kebutuhan rumah tangga di kota2 menengah dan kecil di Sulawesi, Kalimantan, Sumatera dan Maluku diperkirakan akan meningkat.

Penguatan mata uang asing bisa berarti naiknya lonjakan arus kedatangan turis manca Negara ke wilayah-wilayah wisata di tanah air.   Hal ini meliputi daerah di Bali, Nusa Tenggara, Maluku, Kepulauan Riau, Sumatera Barat. Perekonomian daerah di wilayah wisata ini dapat menberikan prospek bagi peningkatan permintaan produk-produk retail tersebut.

Pebisnis yang menjual produk-produk retail impor perlu mensiati strategi pemasarannya dengan cerdik.   Segmen pasar yang ada hendaknya lebih dipertajam, dengan pintar-pintar membidik target konsumen menengah dan atas, yang meningkat daya belinya dari perkembangan ekonomi yang ada. Konsentrasi pasar tentunya masih di kota-kota besar, khususnya yang memiliki akses dengan kegiatan ekspor impor langsung dengan dunia luar.

Konsumen produk2 retail berbasis impor mendambakan kondisi kemudahan akses mendapatkan informasi tentang spesifikasi jenis produk yang lebih rinci, dengan range harga yang bersaing. Sehingga disini yang diperlukan adalah kemahiran para penjual retail dalam memasarkan produk2 yang ada secara on line atau melalui kegiatan pemasaran di sosial media. Apalagi dengan kecenderungan meningkatnya kemacetan di kota-kota besar di Indonesia, konsumen semakin enggan untuk pergi secara khusus — berbelanja on the spot di toko2 atau gerai mall.   Mereka pergi ke mall utamanya lebih untuk keperluan makan, nonton film dan ngupi2 di café dan bukan khusus untuk tujuan shopping.

Penulis: Aditiawan Chandra

Book Review: Storytelling with Data

TINJAUAN BUKU: Cole Nussbaumer Knaflic. 2015. STORYTELLING WITH DATA. New Jersey: John Wiley and Son. ISBN 978-1-119-00225-3

Oleh Aditiawan Chandra

15216000_120300000861833305_1105883245_o

Dalam era teknologi informasi yang semakin canggih kehidupan kita dipenuhi oleh lautan data. Data bisa berbentuk koleksi angka2 kuantitatif, kejadian satu event atau rekaman serial digital photo. Menjadi pertanyaan lebih lanjut:

“Bagaimana kita bisa memanfaatkan koleksi data yang banyak jumlahnya ini menjadi satu informasi yang bermanfaat bagi keputusan bisnis atau penyebaran komunikasi?”

Kita sering kecewa saat melihat laporan penjualan yang disampaikan bawahan yang sulit dicerna Belum lagi dengan tumpukan album foto tanpa tema, atau cerita panjang tanpa makna yang dijejali masuk ke timeline wall facebook kita.  Menjembatani kegundahan para pembuat keputusan bisnis atau penerima pesan informasi, buku yang ditulis oleh Cole ini sedikitnya menjawab kebutuhan tersebut.

Buku ini berisikan pedoman cara menyampaikan pesan komunikasi dengan baik dan efektif ditengah tumpukan ribuan data yang ada di sekitar kita.Dari buku barunya yang berjumlah 267 halaman, Penulis menyarankan perlunya kita membuat cerita yang mudah ditangkap dan mudah dimengerti (STORYTELLING) dengan memanfaatkan data yang sesuai. Tujuannya tak lain agar pesan komunikasi yang diterima menjadi efektif — tidak membingungkan dan mudah dimengerti.

Penulis yang berlatar belakang pengetahuan matematika dan ilmu manajemen bisnis, memberikan pedoman dalam menyiapkan “storytelling” tersebut. Terdapat 6 tahapan, berikut ini:

  1. Mengerti KONTEKS PESAN yang disampaikan.

Kita perlu menetapkan target dari kelompok orang yang akan menerima pesan.   Intinya hindari keinginan agar semua audience bisa dijangkau dengan pesan Anda. Kemudian berpikirlah sebentar dengan mempertanyakan:“Kira2 inti pesan apa yang paling penting yang ingin disampaikan?”

Konsep yang paling menarik dalam menyiapkan ini Penulis memperkenalkan metode cara membuat cerita yang dibatasi 3 menit untuk membaca/mendengar/ melihatnya. Naah jurus ini kita perlu banyak berlatih.   Kemudian kita perlu membuat rencana “storyboard”, berisikan slogan:

(a) isu yang akan diusung,

(b) hubungkan dengan data yang ada,

(c) kemudian ide untuk memecahkan permasalahan pada isu tersebut,

(d) tunjukan ilustrasi/grafik/diagram/fotonya secara visual, dan

(e) sarankan rekomendasi.

  1. Gunakan TEHNIK PERAGA VISUAL yang cocok.

Tidak ada saran peraga visual yang bagaimana yang paling baik untuk dipakai. Apapun bisa dipakai sepanjang jangan terlalu berlebihan memperagakannya. Buatlah sesederhana mungkin.   Namun demikian Penulis menyarankan untuk kita tidak menggunakan tehnik visual “apple chart” dan “chart 3dimensi”. Kitapun diminta untuk menjaga etika dalam memperagakan konsep pesan, dengan tidak melakukan manipulasi data atau gambar cloning.

  1. HILANGKAN CLUTTER: peraga visual yang rumit

Satu lagi tip untuk membuat cerita pesan yang yang efektif adalah menghindari peraga visual yang rumit. Apalagi jika memasukkan tampilan grafis statistic yang beragam dan rumit dalam satu tayangan. Ini perlu dihindari.

Penulis menyarakan perlunya menggunakan SKENARIO PERAGA sebelum kita memilih gambar yang akan digunakan.. Tentunya dengan membuat tayangan peraga berlatarbelakang warna putih, dengan menggunakan kontras dan tone warna untuk menonjolkan pesan yang “eye-catching”. Kita diminta untuk tidak menggunakan “Gridline” pada grafik presentasi.

  1. FOKUS KE INTI PESAN yang akan disampaikan.

Untuk menggiring perhatian penerima pesan dalam tayangan visual, sebaiknya kita menggunakan apa yang dinamakan “preattentive attribute”. Bentuknya bisa dalam pemilihan skala ukuran, tone dan kontras warna maupun memposisikan gambar/photo di halaman peraga pesan. Dengan tehnik2 contoh yang diberikan oleh Penulis, penggunaan attribute ini mampu menggiring perhatian indra mata dan otak penerima pesan tertuju pada focus pesan yang akan kita tonjolkan.

  1. Gunakan KONSEP DISAIN yang bagus.

Berkomunikasi dengan memanfaatkan data akan lebih menarik jika kita menggunakan PRINSIP KONSEP DISAIN yang bagus. Yang pertama gunakanlah jenis huruf, ketebalannya, warna huruf atau ukuran huruf untuk mendapatkan inti pesan yang menarik. Lebih lanjut hindari kalimat, cerita atau konsep yang mengganggu atau kurang berhubungan dengan pesan inti yang ingin ditonjolkan. Hendaknya penggunaan gaya bahasapun dibuat sesingkat mungkin dan jelas maksudnya. Hilangkan kalimat2 yang engga perlu dan berlebihan atau berulang. Warna pada grafik juga diminta agar kita pintar memilih, dengan kombinasi warna yang engga norak. Warna yang lebih tua bisa dipakai untuk menonjolkan focus pada data yang penting.

  1. Menyiapkan CERITA SINGKAT DAN JELAS berhubungan dengan data.

Pada akhir bagian bukunya, Cole memberikan jurus-jurus menyiapkan draft cerita atas dasar data dengan runtun dan lengkap.   Banyak contoh kasus yang beliau berikan dibukunya tersebut untuk mendapatkan storytelling yang enak dibaca, engga membosankan, dan menarik untuk dibaca.

Saya kira akan lebih baik teman-teman membaca langsung buku yang agak teknis ini untuk mendapatkan wawasan yang lengkap. Penulisnya sendiri memiliki pengalaman yang luas di perusahaan JPMorgan Chase, perusahaan perbankan, private equity dan terakhir di Google Company. Buku ini ditulis atas dasar pengalaman lapangan selama bertugas di banyak perusahaan global tersebut.

Kategori:Book Review

Pentingnya Master Plan Ekonomi dalam Memanaje Rumah Tangga Perekonomian Daerah

Tuntutan beberapa pakar politik dan teknokrat ekonomi untuk menata rumah tangga Daerah Propinsi dan Kabupaten mulai membahana akhir-akhir ini.   Letupan-letupan konflik sosial dan politik di beberapa wilayah Indonesia, merupakan refleksi tidak langsung atas ketidakpuasan segolongan masyarakat tersebut atas kinerja pembangunan perekonomian di tanah air.  Bahkan bukan saja di Papua yang pernah mengibarkan “regional flag” nya, kemaren ini beberapa warga penduduk di Aceh mengibarkan bendera Aceh.   Inipun merupakan gambaran atas keinginan sepihak dari kelompok penduduk di daerah untuk mengelola rumah tangganya menurut versi mereka.

Kitapun sebagai warga negara Indonesia, yang menjunjung tinggi rintisan para pejuang kemerdekaan Indonesia, terkaget-kaget dengan upaya sementara pihak yang menginginkan kewenangan penuh bagi Pemerintahan Daerah mengelola administrasi dan rumah tangganya sendiri.   Mungkin jika apa yang diberikan ke Timor Leste dikabulkan untuk propinsi lainnya di Indonesia, akan kacau balau Nusantara kita diadu domba oleh kekuatan-kekuatan ekonomi regional dan global.  Kita tidak menginginkan hal ini terjadi.

Jalan tengah yang juga sedang diusung oleh pakar hukum dan politik, adalah dibentuknya pemerintahan Federasi dimana kewenangan mengelola Pemerintahan Daerah tetap diberikan dengan leluasa, tetapi beberapa bidang sektor pembangunan masih berada dikendali Pemerintahan Pusat.   Mereka melihat cerita sukses di Negara Bagian Australia dan Pemerintahan Daerah di Malaysia.  Hanya saja perlu ditekankan disini, bahwa suasana geopolitik dan ekonomi di kedua negara tersebut sangat berbeda dengan kondisi Indonesia.   Sehingga sangat riskan apabila diaplikasikan.

Terlepas dari sistem administrasi Pemerintahan daerah mana yang lebih baik, Pemerintahan Daerah Propinsi dan Daerah Kabupaten dapat memulai pembangunan perekonomiannya secara lebih stratejik dan terfokus.  Beberapa hal yang dapat dirintis pengembangannya adalah sebagai berikut:

1.  Pemerintahan Daerah Propinsi perlu memiliki Master Plan Pengembangan Ekonomi yang baku, yaitu  mengenai bagaimana perekonomian wilayahnya akan dibawa dalam 10 sd 20tahun ke depan.

2. Pada master plan tersebut tersirat kegiatan Ekonomi Kunci apa saja yang ingin dikembangkan, dan bagaimana strategi-strategi untuk menggalang partisipasi masyarakat, pelaku ekonomi dan pemilik modal dalam merealisasikan rancangan pengembangan ekonomi kunci ini.   Pola struktur “keterkaitan kluster” ekonomi utama dengan sektor2 yang berkaitan (ke hulu dan ke hilir) perlu dimantapkan dan didukung oleh sistem perijinan yang baku, tegas, dan tidak birokratis.

3. Rencana pengembangan ini kemudian dilengkapi dengan rencana penggunaan lahan yang mendukung pencapaian strategi-strategi yang ditetapkan.  Rencana infrastruktur, jaringan penghubung lalulintas barang dan jasa serta SDM yang handal perlu dibangun dan dilaksanakan.  Beberapa wilayah industri terpadu dapat dibangun.

4. Master Plan dan Rencana2 Pendukung ini harus dibuat berkelanjutan, artinya siapapun Gubernur atau Bupati yang terpilih, mereka harus memiliki komitmen untuk melaksanakan rencana dan strategi yang ditetapkan.

5. Pemerintahan Kabupaten hendaknya menyelaraskan pola pengembangan perekonomian wilayahnya dengan Master Plan Ekonomi dalam skala tata ruang propinsi di atas.

Tentunya masih banyak tahapan-tahapan berikutnya agar pengembangan perekonomian daerah dapat berkembang dengan baik.  Partisipasi masyarakat perlu selalu diajak dalam merumuskan rancangan tersebut.  Pemerintahan propinsi tetangga harus diajak berkolaborasi demi kemajuan tata-hubungan perekonomian wilayah yang lebih luas lagi.

Kegagalan Kebijakan Mekanisme Pasar dan Perdagangan Bebas


Lengkap sudah bukti-bukti empiris atas kegagalan kebijakan mekanisme pasar dan politik perdagangan internasional yang semakin terbuka dalam sepuluh tahun terakhir ini. Untuk mengantisipasi terulang kembalinya kejadian yang sama maka Pemerintah disarankan segera menerapkan kebijakan perekonomian pasar yang terkendali, dengan memperhatikan kepentingan ekonomi domestik dan ketahanan nasional. Baca selanjutnya…

BBM: Penjajahan Ekonomi Para Kapitalis Minyak Bumi Internasional


Dunia pada era globalisasi saat ini sedang dipermainkan oleh ulah para pemilik kapital yang menguasai aset strategis minyak bumi internasional, baik pada tataran kepemilikan sumberdaya maupun pada tingkatan pengolahan dan distribusinya. Proses penjajahan ini hanya dapat dilawan kehadirannya dengan sistem regulasi yang bertanggung jawab oleh kelompok negara-negara pemakai minyak bumi maupun negara penghasil minyak bumi yang masih memiliki naluri kemanusiaan. Baca selanjutnya…

Dampak Yang Menyakitkan dari Keputusan Kenaikkan Harga BBM 24 Mei 2008


Tepat pada pagi hari ini kita berkabung dengan keputusan Pemerintah Indonesia yang pada akhirnya menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi, rata-rata sebesar 28,7%. Kita berbela sungkawa karena dampak luarbiasa yang akan terjadi beberapa bulan ke depan dalam penurunan kondisi kehidupan kelompok masyarakat berpendapatan rendah. Mereka ini merupakan kelompok yang bukan saja termasuk masyarakat penerima BLT tetapi juga meliputi sekitar 40% warga masyarakat berpendapatan rendah di seluruh penjuru tanah air. Baca selanjutnya…

Kategori:Macro Economy