Arsip

Arsip Penulis

Disruption Cara Berbelanja di Era Inovasi Teknologi Logistik

Kasus perusahaan-perusahaan bangkrut di sektor retail sekarang semakin bertambah saja. Artikel Harvard Business Review September 20 2017 /a/ menyorot masalah kasus kebangkrutan produsen mainan “Toys R Us” dan menjadi menarik untuk diamati implikasinya.

Toko mainan lengkap ini  tahun-tahun yang lalu sangat diminati oleh konsumen mancanegara, khususnya di Amerika Serikat.   Tetapi kemudian terjadi malapetaka karena perusahaan terkenal tersebut mengalami kebangkrutan.   Ini terjadi karena dampak dari inovasi system logistik, yang kemudian mengganggu (disrupted) konsep cara berbelanja tradisional.

Konsep tradisional pemasaran produk2 retail memerlukan adanya kehadiran konsumen ke gerai2 toko di pusat kota (CBD).   Tentunya janji teori lokasi menyarankan bahwa karena konsentrasi pembeli ada di pusat kota– maka pilihlah lokasi usaha di tengah kota. Menariknya janji ini kemudian dimanfaatkan oleh produsen produk2 retail seperti produsen mainan, pakaian dan sepatu dengan membuka pusat2 penjualannya di mal-mal tengah kota. Mereka berbondong-bondong menyewa tempat strategis di mall, dan memang peningkatan penjualanpun terjadi setelah itu.

Namun sekarang zaman emas ini sudah berlalu. Aplikasi teknologi internet dalam sistim logistik pemesanan produk retail, lima tahun terakhir ini membuat mudah konsumen melakukan proses pembelian secara on-line.   Maraknya system penjualan on-line terjadi di produk retail pakaian, mainan anak, sepatu dan produk convenience lainnya.   Konsumen dimanjakan sehingga mereka bisa belanja dari rumah mereka masing-masing. Akibatnya lambat laun toko-toko produk retail mulai sepi pengunjung. Naaah fakta ini yang menjadi pil pahit bagi perusahaan Toys R Us.

Apakah implikasinya buat produsen retail di Indonesia?

Saat ini kota-kota besar Indonesia banyak meniru konsep pengembangan pusat kota seperti yang pernah di lakukan di negara-negara Barat. Mal-mal dan pusat belanja dibangun dan berjamuran di kota-kota besar. Lima tahun ke belakang, produsen dan penjual produk2 retail banyak yang memanfaatkan konsentrasi pengujung di mall tersebut. Mereka melakukan konsep cara menjual dengan mendatangi pusat-pusat keramaian.

Tetapi ke depannya, bisa saja apa yang dialami pada kasus di atas menular terjadi di Negara kita.   Coba saja sekarang ini kita lihat bagaimana Facebook marketing banyak dipakai oleh penjual dan produsen multi level untuk menawarkan produk2 mereka ke konsumen. Lambat laun cara berbelanja on-line akan mulai merupakan gaya hidup masyarakat urban Indonesia. Apalagi dengan kecenderungan kemacetan lalu lintas kota yang tidak usai tertangani. Kita juga melihat bagaimana kemungkinan bahwa motive penduduk kota mengunjungi mall bukan lagi untuk berbelanja produk retail, akan tetapi hanya sekedar untuk cari makan dan kesempatan bersosialisasi di café dan pub.

Jadi bersiaplah teman-teman menyongsong adanya “disruption” di sektor retail tradisional.

 

/a/ Link: https://hbr.org/2017/09/toys-r-us-is-dead-but-physical-retail-isnt?utm_campaign=hbr&utm_source=facebook&utm_medium=social

Iklan

Bagaimana Menyiapkan Karir Anda

Menyiapkan karir

Kehidupan kita tidak terlepas dari keinginan untuk punya penghasilan yang mapan dan berkecukupan. Kehidupan yang berkecukupan ini selalu menjadi dambaan kita semua, baik untuk tujuan membangun rumahtangga, memupuk tabungan investasi, mempersiapan hari tua maupun untuk tujuan ibadah dan non-moneter lainnya.   Hidup sejahtera tentunya akan terselengara jika kita sudah memiliki “mesin penghasil uang”, yang sebagian didapat dengan pemilihan bidang pekerjaan/bisnis yang tepat yang mampu menghasilkan pendapatan yang bagus dan prospektif.   Jadi disinilah arti penting perlunya kita segera mempersiapkan karir secara lebih baik dan matang.

Namun berbicara tentang karir ke depan… merupakan tantangan tersendiri. Hal ini beralasan disebabkan perlunya waktu untuk merintis, mengembangkan dan memelihara bidang pekerjaan atau bisnis yang sedang digeluti. Kemudian dalam banyak kasus, kesempatan untuk menggeluti pekerjaan atau bisnis yang bagus datangnya biasanya “seketika”, padahal “kemampuan” untuk merealisasikan kesempatan tersebut kadang-kadang belum atau tidak kita miliki. Saya sendiri termasuk sosok yang sering menyongsong kesempatan yang ada, berani melakukan keputusan untuk pindah fokus pada bidang pekerjaan agar tujuan akhir yang dimimpikan tercapai.

Bagaimana kemudian kita bisa menyiapkan diri dan berperilaku positif agar perjalanan karir kita berjalan sesuai harapan?

Berikut beberapa kiat yang dapat saya berbagi pada teman-teman:

  1. Memiliki Impian yang Dahsyad

Memang benar jika kita perhatikan hampir semua pemimpin organisasi dan pimpinan negara yang terkenal punya impian-impian yang dahsyad.   Masih ingat dibenak kita bagaimana Presiden Sukarno selalu menggaungkan perlunya bangsa Indonesia bekerja keras untuk mencapai tujuan “Masyarakat Indonesia yang Adil dan Makmur”. Dengan tekad ini masyarakat Indonesia bisa bersatu dan sepakat melakukan pembangunan secara berkelanjutan. Kemudian Presiden John F. Kennedy dengan Impian hebatnya untuk “Mengirim manusia menginjakkan kakinya di Bulan” berhasil menyatukan tekad teknokrat Amerika merekayasa dan mengirimkan pesawat Apollo ke bulan. Belum lagi jika Anda baca visi futuristik perusahaan2 global yang terkenal, selalu menyatakan impian-impian mereka dalam misi akbar yang bukan sekedar mencari keuntungan. Misi akbar ini sangat penting karena akan menjadi acauan para pemangku kepentingan dalam bekerja dan berkolaborasi merealisasikan impian perusahaan tersebut.

Dengan mimpi yang besar maka dia akan mengarahkan dan mendorong kita untuk memiliki andrenalin dan semangat yang kuat agar mau bekerja keras dan berusaha mencapai target-target antara — sebagai syarat meraih mimpi atau keinginan masa depan yang akan dituju.

Sebagai contoh, saya dahulu bekerja keras mendapatkan ijasah S1 yang cukup lama dan sulit diselesaikan. Berbagai kendala ternyata bisa saya selesaikan. Kemudian untuk mengejar keterbelakangan penguasaan bahasa Inggris, saya mengikuti kursus bahasa Inggris di LIA selama 6 bulan setiap harinya sepulang kerja, dan itupun dengan kondisi badan yang lelah. Semua itu saya lakukan semata-mata karena saya ingin “Pergi Melihat Amerika Serikat Secara Gratis”.   Saya pikir pada saat mencari Universitas dan memilih FEUI sebagai jalur karir awal, alasannya karena dengan kuliah di Universitas Unggulan akan terdapat kesempatan besar bagi saya bisa diterima kuliah di Universitas Amerika Serikat. Dengan demikian mimpi akbar saya ini bisa tercapai. Dan kemudian ternyata, dengan bekerja keras dan menjalani proses persiapan panjang selama 8 tahun sejak saya masuk di Universitas Indonesia — saya bisa pergi tinggal di Amerika Serikat selama 8 tahun juga lamanya, yaitu dengan biaya pribadi yang nihil. Semua biaya pendidikan saya di Perguruan Tinggi dibiayai oleh fellowship, atau dana hibah bersaing.

Kesimpulannya, sangat tidak mungkin bahwa tanpa mimpi yang dahsyad seseorang akan memiliki motivasi kuat, penuh semangat untuk mengerjakan tugas dan mengatasi kendala yang berdatangan guna meraih daftar keinginan yang akan dikejarnya.

  1. Kuasai Ketrampilan Terkini

Menurut temuan satu riset yang saya kira berlaku juga di Indonesia, ada sekitar 96% Pengelola Perguruan Tinggi yang meyakini bahwa lembaga pendidikan mereka punya kemampuan dalam menyiapkan mahasiswanya untuk bisa segera bekerja.   Tetapi anehnya hanya ada sekitar 11% Pimpinan Bisnis yang setuju bahwa lulusan Perguruan Tinggi memiliki ketrampilan (skills) dan kemampuan mengelola (competencies) pekerjaan yang dituntut oleh perusahaan mereka.

Hal ini tidak aneh karena bidang tugas/pekerjaan yang ada di dunia nyata biasanya telah disesuaikan dengan kebutuhan organisasi perusahaan — sejalan dengan perubahan permintaan dari produk yang dihasilkan, kemajuan teknologi dan perubahan ketentuan perjanjian perdagangan/investasi yang berlaku antar Negara. Sementara itu kurikulum pengajaran di Perguruan tinggi tidak bisa dirubah dengan cepat dan sesering mungkin mengikuti pola perubahan permintaan dari calon pekerja lulusannya.

Menyikapi kondisi ini saya menyarankan pada teman-teman agar Anda bisa menutup kekurangan masing-masing dengan menguasai ketrampilan terpakai sesuai dengan perubahan zaman.   Persisnya kita perlu menjadi sosok calon pekerja atau pebisnis yang mau belajar secara mandiri (continual learner), mencari informasi paling terbaru dan mau berpikir mencari hal-hal yang kreatif.    Berpikir secara kreatif , mampu berkolaborasi dan melakukan komunikasi dengan baik merupakan syarat utama agar kita siap menjemput tantangan.  Ketrampilan khusus yang unik ini bisa dipupuk antara lain dari bidang kegiatan sehari-hari yang merupakan passion/hobby Anda.   Ketrampilan ini akan lebih baik lagi jika dikembangkan dari talenta atau kemahiran pada suatu bidang yang bisa Anda tonjolkan dan kolaborasikan dengan pihak ketiga. Ikuti perkembangan teknologi terkini dan aplikasikan pada bidang kemahiran yang ingin Anda kembangkan. Dan yang terakhir, dalam era teknologi informasi yang sedang berubah, mau tidak mau kita perlu juga menguasai ketrampilan dalam mengolah dan memanfaatkan data digital, memahami pengetahuan berbagai software aplikasi dan mengikuti perubahan teknologi digital, data transfer dan teknologi internet.

Saya menyarankan pada teman-teman untuk sering mengikuti traning atau seminar dalam bidang inovasi, tehnik berkomunikasi, kemahiran berbahasa asing, penguasaan leadership, membangun teamwork, memanaje data statistik dan data digital, branding melalui media sosial, serta tehnik2 terbaru sesuai bidang hobby masing-masing.

  1. Mahir Mengaplikasikan Pengetahuan Sesuai Bidangnya pada Awal Karir

Kemampuan hardskill yang mencakup wawasan pohon ilmu tertentu, tentunya akan memuluskan perjalanan karir Anda ke depan. Apalagi jika kemampuan ini digabungkan dengan pengalaman lapangan dalam memecahkan permasalahan dalam proses pengambilan keputusan.

Namun saya tidak mengatakan bahwa Anda perlu memilih bidang pengetahuan yang mungkin sedang naik daun di kehidupan bermasyarakat. Sehingga bukan berarti jika kita mampu menguasasi ilmu Hukum dan Hubungan Internasional akan menjadi jauh lebih baik dari mereka yang menguasasi Ilmu Budaya dan Ilmu matematika.    Semua bidang pengetahuan tentunya mempunyai kelebihan dan manfaatnya masing-masing. Tinggal sejauh mana kita mampu menguasai dan mendalami pegetahuan tersebut.   Kita dituntut untuk mampu memutahirkan ilmu tersebut dengan aplikasi di praktek dan kondisi terkini.

Ambil contoh, post graduate saya adalah di bidang Urban Development dan Regional Planning. Kedua bidang tersebut ternyata sedikit sekali mensupport karir saya selanjutnya; sepulang dari menimba ilmu di luar negeri. Saya bahkan sekarang jauh lebih menguasai praktek manajemen perusahaan dan aspek manajerial pengawasan kinerja Perusahaan. Pengetahuan hardskill ini ternyata kemudian saya peroleh saat bekerja praktek di Lembaga Management. Saya dilatih agar mempunyai ketrampilan dalam menghadapi krisis, membuat keputusan yang rasional dan membina teamwork kerja. Ketrampian inilah yang banyak mensupport perjalanan karir saya. Saya juga terlatih untuk memiliki budaya kerja yang keras dan menjaga etika kerja yang professional.

  1. Memiliki Komitmen dan Ulet Bekerja Keras

Jika kita amati bagaimana para pemilik bisnis dan pejabat eksekutif papan atas bisa meraih posisi karir puncaknya, ternyata hampir semua memiliki komitmen yang tinggi dalam menggeluti pekerjaan mereka sehari-harinya.   Mereka pada umumnya merupakan sosok pemimpin yang bisa memotivasi team kerjanya, membangun etos kerja keras di organisasi dan mampu menyelesaikan semua hambatan dan permasalahan kritis yang dihadapinya.

Menurut pengalaman saya, sukses dalam meraih mimpi akan semakin mudah jika dibekali oleh KOMITMEN yang kuat, disamping dukungan bakat, ketrampilan serta mau untuk bekerja keras . Dengan berkomitmen pada diri sendiri — kita berikrar menyatakan akan tetap loyal dengan apa yang kita kerjakan dan terhadap kegiatan-kegiatan yang menjadi prioritas kedepan.    Dalam hal ini, komitmen yang mengarah pada perubahan (commitment to change) biasanya lebih mempunyai daya dorong dan memberikan motivasi yang kuat dalam penyelesaian tugas-tugas sulit dan dalam menghadapi kendala berat.

Contoh nyata, adalah komitment untuk bangkit dari “keterpurukan”. Benar seseorang akan kecewa berat setelah mengalami musibah, penurunan drastis penjualan, putusnya kongsi dengan pemberi kerja, gagal meraih ajang kompetisi dan faktor-faktor kritis lainnya. Bagaimana kemudian setelah itu teman-teman? Cukup beralasan jika dikatakan bahwa dengan kekecewaan yang tinggi biasanya kemudian seseorang akan terdorong dan termotivasi baik mental, emosi dan spiritnya untuk segera bangkit dan melakukan action. Komitmen akan menjadi lebih kuat setelah kita melewati masa-masa kritis.

Komitmen ini seyogyanya di deklarasikan secara verbal dan lisan pada anggota di organisasi dan kepada para pemangku kepentingan. Tujuannya adalah agar mereka bisa mengetahui prioritas dari kegiatan kita sehingga upaya kolaborasi dan kerja sama dapat disinerjikan dengan target-target impian kita.

“Tiada hasil yang bagus tanpa mau bekerja keras”.

Inilah motto budaya kerja dari saya pribadi dalam menghadapi tugas dan pekerjaan yang saya hadapi. Mengapa Negara Jepang dan Jerman bisa maju negaranya dan menjadi Negara yang maju dan stabil sepanjang masa? Hal ini disebabkan oleh cara bekerja dari warga negara dan pekerja sehari-harinya. Mereka umumnya warga kelas dunia yang bertanggung jawab atas tugas yang dihadapi, gigih mengupayakan mengejar prestasi dan mempunyai rasa memiliki terhadap organisasi yang tinggi. Kesimpulannya, segera buang dan jauhi semangat untuk bermalas-malasan, miliki prioritas pekerjaan, dan konsisten membuat “daftar to do list” yang perlu dikerjakan dengan tegas. Budaya kerja keras dan hidup ulet dalam memperjuangkan penyelesaian tugas hendaknya menjadi motto dalam kita berkarya dilapangan.

Berikut adalah contoh-contoh perbuatan yang perlu dibangun sebagai budaya kerja berprestasi demi meraih sukses:

  • Segera lakukan tindakan nyata, hindari slogan dan omong kosong.
  • Prioritaskan waktu Anda pada pekerjaan-perkerjaan utama.
  • Tidak lari dari prioritas pekerjaan jika Anda menghadapi kendala sulit.
  • Utamakan penyelesaian tugas-tugas yang mendukung pencapaian target.
  • Menepati janji, komitmen pada rencana kerja dan kesepakatan bersama.
  • Rela berkorban pada waktu dan sumber daya demi terlaksananya tujuan
  1. Junjung Tinggi Integritas dan Kejujuran

Kemanapun teman-teman berkolaborasi dengan mitra bisnis dan rekan sekerja, mereka akan menuntut Anda bisa memberikan jaminan: mampu memegang janji, tidak melakukan penipuan, bisa dipercaya dan akan taat memenuhi kode etik yang disepakati, tidak lari dari tanggung jawab. Benar istilah kerennya integritas dan kejujuran sangat dituntut dalam pekerjaan, dan menjadi faktor utama lulus test seleksi saat masuk di organisasi.

Kira-kira apa saja kemudian tindakan-tindakan yang bisa menjamin tegaknya integritas pak Adit? Naaaah inilah pertanyaan yang sangat sering dipertanyakan oleh para mahasiswa di kampusku dahulu.

Saya katakan Integritas akan terbentuk jika kita mampu:

  • mengerjakan pekerjaan dengan benar untuk kepentingan organisasi walaupun tak ada orang yang melihat.
  • Memperlakukan rekan sekerja dan bawahan dengan baik dan sejajar, dimana bawahan bukan budak suruhan dari atasan.
  • Mengatakan hal-hal yang paling benar walaupun sulit dilakukan dan tidak populer dimata rekan sejawat.
  • Menghindari perbuatan-perbuatan curang dan korup.
  • Bersekongkol menjatuhkan pihak lawan atau pihak ketiga.
  • Memojokkan dan mempermalukan seseorang karena kita mungkin kecewa atas perbuatannya.
  • Menjaga kerahasiaan organisasi dalam pertukaran data dan informasi.
  • Mengedepankan budi pekerti dan etika sopan santun berorganisasi.
  • Menjaga perbuatan dan perkataan kita tidak berbeda dalam kenyataan.
  • Tidak melakukan penghianatan pada rekan kerja, atasan dan organisasi.
  • Tidak mengatas namakan kepentingan pribadi dan kelompok.
  • Tidak bisa disuap oleh uang dan jabatan, dan tidak gentar atas hilangnya jabatan.

Sepanjang kita mampu membangun integritas dalam pekerjaan sehari-harinya, dan bisa dipercaya oleh mitra kerja maupun organisasi, semuanya ini akan mempermudah perjalanan karir Anda. Bangunlah karakter sebagai “sosok yang jujur dan tidak bisa disalah-gunakan” sebagai motto hidup untuk memuluskan perjalanan karir Anda.

@Copyright by AditiawanChandra

Mengantisipasi Perubahan

Pagi ini saya membaca koran yang sebagian isinya penuh dengan tulisan yang berisikan kekhawatiran.   Demikian juga semalam “trending line” tweeter banyak bercerita tentang pro dan kontra terhadap berbagai isu munculnya pemimpin baru.   Semua memiliki kemiripan, merupakan reaksi yang muncul spontan karena antisipasi akan terjadinya “perubahan”. Yess perubahan dari kondisi “status quo” yang ada — menuju rancangan kondisi yang diskenariokan oleh Promotor Perubahan.

Mengapa status quo tidak bertahan lama dan selalu bergeser kepada kondisi baru yang kemudian menimbulkan pertentangan, silang pendapat dan reaksi keras ketidak-setujuan?

Meminjam isitilah ilmu ekonomi tingkat pertama, begitu satu tatanan bergeser dari satu kondisi “equilibrium yang lama” kepada posisi “keseimbangan yang baru” maka biasanya akan diikuti oleh perubahan2 tatanan yang ada dan mapan untuk jangka waktu lama. Dampak perubahan kebijakan makro ekonomi menuntut bahwa harga bisa naik dan bisa juga turun. Mereka yang kaya bisa saja menjadi miskin dan mungkin sebaliknya. Buruh pabrik bisa saja ada yang menikmati manfaat dan bisa juga sebaliknya mananggung efek negatif. Jadi intinya dari tindakan perubahan akan ada kelompok masyarakat yang diuntungkan dan ada yang dirugikan.

Naaaah dengan masuknya para pemimpin baru negara2 didunia, terakhir terpilihnya Presiden Amerika Serikat ke-45, yang istilah kerennya bekerja untuk memenuhi “tuntutan warga domestic” , maka terjadilah kegoncangan pada tatanan keseimbangan ekonomi global, pasar keuangan, perjanjian kerjasama antar Negara dan lulurnya komitmen yang dipegang President sebelumnya. Duniapun mengalami perubahan ke arah pendulum menuju kesimbangan barunya.

Ambil contoh misalnya bagaimana Masyarakat Ekonomi Eropah terguncang dengan keributan-keributan akibat keluarnya negara Inggris dari Kelompok Ekonomi Regional tersebut.   Demikian juga sekarang kita menyaksikan bagaimana Masyarakat dan Pemimpin Dunia dibuat ketar-ketir akibat akan adanya perubahan tatanan masyarakat Amerika Serikat yang ingin dirubah oleh kepemimpinan baru President Donald Trump.

tea_party_-_pennsylvania_avenue

(picture from Google)

Dengan “perubahan-perubahan” yang bisa terjadi apakah dalam organisasi publik, swasta maupun kegiatan mandiri, terdapat beberapa hal yang ingin saya “sharing” pada teman-teman tentang esensi “mekanisme kejadian” suatu “perubahan”:

(1) Bahwasanya “perubahan” banyak didorong akibat ketidak puasan atas kinerja yang ada.

Secara makro, kasus di Inggris didorong oleh tuntutan warga negara senior yang ingin agar kondisi kesejahteraannya tidak tergusur oleh kedatangan warga immigrant pendatang.   Kasus di Amerika Serikat terjadilah kehebohan dengan maraknya demo akibat kebijakan Pemerintah yang Baru mengusung “perlindungan pada kepentingan utama warga Amerika” dalam urusan investasi, ekonomi perdagangan luar negeri dan lalu lintas orang maupun modal. Kemudian ditambah lagi karena adanya tekanan deficit fiscal maka terjadi tuntutan perlunya kebijakan efisiensi nasional dikeluarkan, dengan memangkas berbagai kepentingan program kesehatan, pendidikan dan hak asasi.

Secara mikro, setiap perubahan biasanya tercetus dan kemudian menjadi dorongan Pimpinan Organisasi melakukan “perubahan” karena tidak bekerjanya unit-unit organisasi dalam mencapai tujuan.   Misalnya saja, kinerja Kantor Cabang yang tidak bagus dan kalah bersaing di wilayahnya, berdampak Pimpinan Organisasi melakukan perbaikan dengan mengganti pejabat atau menutup Kantor Cabang tersebut. Kondisi kalah bersaing di pasar industri bisa menuntut Pimpinan melakukan program pemangkasan biaya atau program perumahan karyawan. Kemudian dalam kasus “mekanisme pola kerja secara berkelompok”, bisa saja Leader-Leader Unit melakukan kebijakan “bedol desa” dan kemudian menggantikan tenaga2 andalan (coreteam) mereka — begitu signal-signal kemunduran dalam meraih target selalu tidak terpenuhi.   Demikian juga jika satu “ranting jaringan pemasaran” menunjukkan gejala lumpuh, bisa saja kemudian ranting tersebut diabaikan dan segera digantikan dengan proses scouting member baru yang lebih energetic.

(2) Bahwasanya setiap “perubahan” akan mengguncang tatanan yang lama dan menimbulkan reaksi yang berlebihan secara negatif dikalangan Anggota Organisasi/Masyarakat.

Alineasi (keberpihakan) atas kesamaan isu, apakah sifatnya positif ataupun negative, akan mendorong timbulnya reaksi protes yang keras.   Biasanya dalam kasus apapun, protes keras ini akan kalah dengan sendirinya, karena komitmen rezim Pembaharu yang relatif lebih dominan dan punya kuasa. Akhirnya para pelaku protes menghadapi frustasi yang berkepanjangan dan akan merasa terpojok atau lelah dengan sendirinya, yang diakhiri dengan keapatisan pada kondisi yang baru.

(3) Dengan berjalannya waktu “tindakan-tindakan pembaharuan” bisa memberikan hasil atas target yang diinginkan untuk dicapai. Posisi “status quo baru” akan menggantikan posisi yang lama.   Kondisi ini akan terguncang kembali saat ketidakpuasan meningkat atau karena masa jabatan pimpinan telah berakhir.

Melihat pada kasus-kasus bagaimana para Pemimpin/Leader organisasi sepanjang masa mengelola perubahan, ada beberapa manfaat yang bisa saya sarankan.   Memang idea untuk melakukan “perubahan” pada kebijakan atau bentuk struktur organisasi bisa menimbulkan reaksi kompromi yang positif atau reaksi perlawanan yang negative.   Reaksi negatif ini pada akhirnya biasanya akan melemah karena mungkin sebagian tuntutan telah diakomodir atau karena habisnya amunisi dari para pelaku protes.

Jika memang Strategi Perubahan itu sendiri perlu dilakukan, para Leader Organisasi hendaknya telah menyiapkan kejelasan blueprint kebijakan/konsep yang diusung dan ketegasan dalam proses pelaksanaannya. Jika timbul protes dengan reaksi negatif yang masif maka perlu dilakukan upaya mitigasi untuk mencapai kompromi sebelum ekskalasi bola saljunya semakin berbahaya.

Penulis: Aditiawan Chandra – 23 Januari 2017

Prospek Bisnis MultiLevel Indonesia 2017

Tulisan Utama:

Yang dimaksud Penjualan Multilevel disini adalah penjualan produk-produk retail tanpa melalui jalur distribusi ke distributor, pedagang menengah, dan kios2 keagenan. Jadi prosesnya dilakukan dengan penjualan lewat online atau melalui sistim jaringan pemasaran berjenjang (multi level).

Bicara mengenai prospek Penjualan Langsung Retail Indonesia ini tentunya tidak terlepas dari perkembangan perekonomian Indonesia.   Sehingga kesehatan dan keberlanjutan ekonomi ke depan tentunya akan mempengaruhi perkembangan kegiatan bisnis retail ini.

  1. Perkembangan Ekonomi Indonesia

Sehatkah kondisi perekonomian Indonesia beberapa tahun kebelakang?

Marilah kita lihat beberapa indikator utama yang menjadi factor penentu (drivers) , meliputi antara lain pertumbuhan ekonomi (growth rate), tingkat inflasi (inflation rate) dan nilai tukar (exchange rate).

Pertumbuhan ekonomi Indonesia rata-rata untuk tahun 2006 adalah 5.0%. Dibandingkan dengan perkembangan jangka panjang 2006-2016, pertumbuhan tinggi dicapai pada level 7.16% dan yang terendah 1.56%.   Ini merupakan prestasi tersendiri dengan pertumbuhan tertinggi di Negara-negara Asia Tenggara. Diantara Negara-negara G-20 Indonesia masuk ke peringkat No-3.

Ke depan pada tahun 2017, pertumbuhan ekonomi kita akan berlanjut walaupun tidak pada level yang terlalu tinggi.

Forecast Bank Indonesia mematok angka optimis pada tingkatan rata-rata 6% untuk periode 2017-2019. Sedangkan Asia Development Bank (ADB) memperkirakan level 5.1% — yang tidak jauh berbeda dengan perkiraan Bank Dunia pada level 5.5%.

og

(Source: Google- Statistics Indonesia)

Sebagai akibat perkembangan perekonomian yang menggembirakan ini, pendapatan per kapita penduduk Indonesia pada tahun 2016 menunjukkan angka 3834 US dollar/ kapita — tingkatan tertinggi yang diraih selama periode 2006-2016. Coba bandingkan dengan level terendahnya 549 US dollar/kapita sehingga merupakan lonjakan dahsyad dalam daya beli konsumen Indonesia secara menyeluruh.

Daya beli konsumen yang melonjak ini membuat sektor retail di Indonesia tumbuh cepat dibandingkan kondisi beberapa tahun sebelumnya. Baik perdagangan partai besar dan kecil mengalami perkembangan yang meningkat.   Akibatnya, investasi di bidang pergudangan, logistic, angkutan barang dan aktivitas mall meningkat pesat. Value added dari kegiatan sektor jasa misalnya, GDP nya mencapai level sekita 40 triliun rupiah, melonjak dari level terendah 23.7 triliun selama periode 2006-2016.

Daya beli yang kuat ini disokong oleh rendahnya tingkat inflasi, yang membukukan level 3.1% tahun 2016.   Pemerintah telah berupaya sekuat tenaga membuat realisasi inflasi dibawah level APBNP 2016.

Satu hal yang membuat kinerja perekonomian belum optimal adalah tingkatan nilai tukar rupiah.   Akibat tekanan faktor eksternal nilai tukar kita pernah mengalami pelemahan, dan kemudian bertengger pada stabilitas baru Rp 13.307 per US dollar pada tahun 2016.   Bagi produk-produk retail yang selama ini diimpor, tingginya nilai tukar ini membuat harga jual beberapa produk impor mengalami penyesuaian harga jual beberapa kali selama waktu 2 tahun terakhir. Produk-produk retail yang terkena dampak antara lain produk makanan, minuman, obat-obatan dan kosmetik.

  1. Tantangan Pasar Penjualan Langsung Retail 2017

Memasuki tahun 2017 pasar sektor retail di Indonesia menghadapi tantangan yang cukup serius. Diperlukan antisipasi para pebisnis dalam menghadapi tantangan berikut.

Pertama, bahwa walaupun pendapatan per kapita mengalami lonjakan sebenarnya kondisi disparitas perolehan pendapatan di level konsumen rumah tangga mengalami kepincangan. Sementara tingkat pertumbuhan ekonomi melaju dengan rata-rata pertumbuhan 5.58% selama periode 2004-2015, ternyata angka kemiskinan menurun dengan level rata-rata 5.53%.

Kedua, pada bulan Februari dan Maret kondisi politik di Negara kita kembali menghangat sejalan berjalannya Pilkada secara serentak.   Apalagi dengan jor-joran peserta partai politik dalam pemilihan kepala daerah, kondisi pasar retail akan terimbas oleh perlehatan akbar tersebut. Semoga proses Pilkada ini bisa berjalan aman dan terkendali.

Ketiga, bahwa produktivitas nasional belum berjalan dengan optimal. Dampak tingkat pengeluaran modal investasi (ICOR) tidak berbanding lurus dengan pertumbuhan perekonomian itu sendiri.  Menurut Harian Kompas ICOR Indonesia meningkat dari 4.5% pada tahun 2013 ke tingkatan 6.8% pada tahun 2015.   Namun demikian laju pertumbuhan ekonomi Indonesia turun dari tingkat 5.6% tahun 2013 menuju 5.02% tahun 2015.   Banyak ahli mengatakan bahwa dana desa yang ditingkatkan oleh Pemerintah dikhususkan untuk pengembangan infrastruktur, dan belum cukup disalurkan pada upaya meningkatkan investasi di bidang pemberdayaan masyarakat.

Terakhir, dengan perkembangan kondisi permintaan pasar global, biaya transport di dalam negeri akan cenderung meningkat. Faktor pencetusnya adalah penyesuaian harga premium dan bahan bakar serta peningkatan tariff pendaftaran kendaraan bermotor di kota besar.

Namun selama pebisnis sektor retail mampu bekerja dengan efisien dan menajamkan tergetting pasarnya maka tantangan ini insya Allah bisa dihadapi dengan baik.

  1. Bagaimana Prospek Sektor Penjualan Langsung Retail ke Depan?

Prospek kegiatan di sektor Penjualan Langsung Retail menurut saya masih menjanjikan.   Masih terdapat ruang gerak yang cukup luas untuk meningkatkan volume penjualan. Tentunya ini semua tergantung dari jenis produk retail yang digeluti dan target konsumen/wilayah pasar yang menjadi sorotan utama.

teaser_2016-retail-and-consumer-products-trends580x280

(picture from Google)

Alasan argumentasi ini saya buat dengan melihat perkembangan yang ditunjukkan oleh hal-hal berikut ini.

A.     Trend pola permintaan masyarakat di sektor riil bisa dilihat dari perkembangan Pengeluaran Konsumen. Rata-rata Consumer Spending masyarakat Indonesia berkisar angka 598 Triliun Rupiah selama tahun 2000-2015.   Kemudian permintaan ini melonjak dahsyad dengan angka 1308 Triliun Rupiah pada Kwartal III tahun 2016. Bandingkan posisi terendahnya pada Kwartal I tahun 2000 yang menunjukkan angka 210 Triliun Rupiah.

B.     Kredit konsumen apakah melalui mekanisme perbankan dan pengeluaran kartu kredit mengambil peran dominan atas lonjakan permintaan tersebut. Per bulan Nopember 2016, terdapat 17.351 juta kartu kredit yang diterbitkan. Jumlah transaksinya mencapai 26.342 juta , atau senilai angka 23.745 Triliun Rupiah. Ke depan dengan upaya pemerintah menurunkan tingkat bunga kredit diharapkan bisa membuat kondisi permintaan ini paling tidak untuk bertahan. Untuk diketahui, pada bulan Januari 2017 ini Bank Indonesia telah menurunkan tingkat Bunga kartu kredit 2.25% per bulan atau 27% per tahunnya.

C.     Penjualan sektor retail di Indonesia telah tumbuh 7.6% dengan basis year on year. Ini adalah posisi pada bulan Oktober 2016. Bandingkan dengan level terendah -26.3% dan max 40.3% selama periode sepuluh tahun terakhir. Sebagai informasi saja jumlah transaksi ATM telah mencapai 44 milyar transaksi dengan nilai Rp 483 Triliun Rupiah.

D.     Tingkat kepercayaan konsumen atas kondisi pasar, yang biasa disebut dengan Consumer Confidence Index –menunjukkan trend yang meningkat. Menurut Hasil Survey Konsumen dari Nilsen angkanya meningkat tajam dari 116 tahun 2015 ke 122 tahun 2016.   Rentang minimum level adalah 9.6 dan maksimum 121 selama periode 2006-2015.

E.     Pemerintah pada tahun 2017 akan lebih mengutamakan upaya memeratakan distribusi pendapatan dengan kebijakan-kebijakan: (a) transfer dana ke desa-desa yang lebih besar, (b) meredistribusikan asset dan (c) meningkatkan volume penyaluran kredit usaha rakyat.

F.     Penggunaan komunikasi dan pemasaran lewat media sosial di Indonesia merupakan salah satu yang terbesar di dunia.   Hal ini berakibat semakin murah dan tersedianya peralatan handphone dan dukungan kapasitas jaringan internet secara nasional. Penjualan on line melalui e-catalog telah banyak dirintis oleh perusahaan retail global, seperti halnya perusahaan kosmetik Oriflame.

Screen Shot 2017-01-18 at 11.58.08 PM.png

(picture from Oriflame Indonesia)

Jadi terlihat jelas dari data-data yang kami peroleh diatas bahwa prospek kegiatan bisnis retail di Indonesia masih cukup menggembirakan.

  1. Implikasi Bagi Pebisnis di Sektor Penjualan Langsung Retail.

 Gambaran perkembangan retail bisnis, di atas khususnya dengan metode penjualan langsung dapat disimpulkan masih memiliki prospek yang bagus.   Masih cukup tersedia ruang yang cukup lebar bagi para pebisnis retail barang2 kebutuhan (sekunder) rumah tangga untuk meningkatkan penjualnya melalui jaringan keanggotaan.   Mengingat trend lonjakan permintaan konsumen pada tahun 2016 dan relative masih kuatnya daya beli masyarakat, akan membawa efek pada peningkatan penjualan dan kegiatan pemasaran pada produk2 kosmetik, obat2an supplement, produk sepatu, barang pakaian serta jasa pengiriman barang.

Kemudian melihat faktor eksternal dari menguatnya nilai mata uang dollar terhadap rupiah tentunya akan membawa dampak pada peningkatan ekspor hasil2 produk pertanian dan hasil hutan. Keadaan ini bisa mempengaruhi lebih lanjut permintaan terhadap kebutuhan rumah tangga sehari-hari di wilayah-wilayah domisili produk ekspor tersebut.   Pasar produk-produk kebutuhan rumah tangga di kota2 menengah dan kecil di Sulawesi, Kalimantan, Sumatera dan Maluku diperkirakan akan meningkat.

Penguatan mata uang asing bisa berarti naiknya lonjakan arus kedatangan turis manca Negara ke wilayah-wilayah wisata di tanah air.   Hal ini meliputi daerah di Bali, Nusa Tenggara, Maluku, Kepulauan Riau, Sumatera Barat. Perekonomian daerah di wilayah wisata ini dapat menberikan prospek bagi peningkatan permintaan produk-produk retail tersebut.

Pebisnis yang menjual produk-produk retail impor perlu mensiati strategi pemasarannya dengan cerdik.   Segmen pasar yang ada hendaknya lebih dipertajam, dengan pintar-pintar membidik target konsumen menengah dan atas, yang meningkat daya belinya dari perkembangan ekonomi yang ada. Konsentrasi pasar tentunya masih di kota-kota besar, khususnya yang memiliki akses dengan kegiatan ekspor impor langsung dengan dunia luar.

Konsumen produk2 retail berbasis impor mendambakan kondisi kemudahan akses mendapatkan informasi tentang spesifikasi jenis produk yang lebih rinci, dengan range harga yang bersaing. Sehingga disini yang diperlukan adalah kemahiran para penjual retail dalam memasarkan produk2 yang ada secara on line atau melalui kegiatan pemasaran di sosial media. Apalagi dengan kecenderungan meningkatnya kemacetan di kota-kota besar di Indonesia, konsumen semakin enggan untuk pergi secara khusus — berbelanja on the spot di toko2 atau gerai mall.   Mereka pergi ke mall utamanya lebih untuk keperluan makan, nonton film dan ngupi2 di café dan bukan khusus untuk tujuan shopping.

Penulis: Aditiawan Chandra

Book Review: Storytelling with Data

TINJAUAN BUKU: Cole Nussbaumer Knaflic. 2015. STORYTELLING WITH DATA. New Jersey: John Wiley and Son. ISBN 978-1-119-00225-3

Oleh Aditiawan Chandra

15216000_120300000861833305_1105883245_o

Dalam era teknologi informasi yang semakin canggih kehidupan kita dipenuhi oleh lautan data. Data bisa berbentuk koleksi angka2 kuantitatif, kejadian satu event atau rekaman serial digital photo. Menjadi pertanyaan lebih lanjut:

“Bagaimana kita bisa memanfaatkan koleksi data yang banyak jumlahnya ini menjadi satu informasi yang bermanfaat bagi keputusan bisnis atau penyebaran komunikasi?”

Kita sering kecewa saat melihat laporan penjualan yang disampaikan bawahan yang sulit dicerna Belum lagi dengan tumpukan album foto tanpa tema, atau cerita panjang tanpa makna yang dijejali masuk ke timeline wall facebook kita.  Menjembatani kegundahan para pembuat keputusan bisnis atau penerima pesan informasi, buku yang ditulis oleh Cole ini sedikitnya menjawab kebutuhan tersebut.

Buku ini berisikan pedoman cara menyampaikan pesan komunikasi dengan baik dan efektif ditengah tumpukan ribuan data yang ada di sekitar kita.Dari buku barunya yang berjumlah 267 halaman, Penulis menyarankan perlunya kita membuat cerita yang mudah ditangkap dan mudah dimengerti (STORYTELLING) dengan memanfaatkan data yang sesuai. Tujuannya tak lain agar pesan komunikasi yang diterima menjadi efektif — tidak membingungkan dan mudah dimengerti.

Penulis yang berlatar belakang pengetahuan matematika dan ilmu manajemen bisnis, memberikan pedoman dalam menyiapkan “storytelling” tersebut. Terdapat 6 tahapan, berikut ini:

  1. Mengerti KONTEKS PESAN yang disampaikan.

Kita perlu menetapkan target dari kelompok orang yang akan menerima pesan.   Intinya hindari keinginan agar semua audience bisa dijangkau dengan pesan Anda. Kemudian berpikirlah sebentar dengan mempertanyakan:“Kira2 inti pesan apa yang paling penting yang ingin disampaikan?”

Konsep yang paling menarik dalam menyiapkan ini Penulis memperkenalkan metode cara membuat cerita yang dibatasi 3 menit untuk membaca/mendengar/ melihatnya. Naah jurus ini kita perlu banyak berlatih.   Kemudian kita perlu membuat rencana “storyboard”, berisikan slogan:

(a) isu yang akan diusung,

(b) hubungkan dengan data yang ada,

(c) kemudian ide untuk memecahkan permasalahan pada isu tersebut,

(d) tunjukan ilustrasi/grafik/diagram/fotonya secara visual, dan

(e) sarankan rekomendasi.

  1. Gunakan TEHNIK PERAGA VISUAL yang cocok.

Tidak ada saran peraga visual yang bagaimana yang paling baik untuk dipakai. Apapun bisa dipakai sepanjang jangan terlalu berlebihan memperagakannya. Buatlah sesederhana mungkin.   Namun demikian Penulis menyarankan untuk kita tidak menggunakan tehnik visual “apple chart” dan “chart 3dimensi”. Kitapun diminta untuk menjaga etika dalam memperagakan konsep pesan, dengan tidak melakukan manipulasi data atau gambar cloning.

  1. HILANGKAN CLUTTER: peraga visual yang rumit

Satu lagi tip untuk membuat cerita pesan yang yang efektif adalah menghindari peraga visual yang rumit. Apalagi jika memasukkan tampilan grafis statistic yang beragam dan rumit dalam satu tayangan. Ini perlu dihindari.

Penulis menyarakan perlunya menggunakan SKENARIO PERAGA sebelum kita memilih gambar yang akan digunakan.. Tentunya dengan membuat tayangan peraga berlatarbelakang warna putih, dengan menggunakan kontras dan tone warna untuk menonjolkan pesan yang “eye-catching”. Kita diminta untuk tidak menggunakan “Gridline” pada grafik presentasi.

  1. FOKUS KE INTI PESAN yang akan disampaikan.

Untuk menggiring perhatian penerima pesan dalam tayangan visual, sebaiknya kita menggunakan apa yang dinamakan “preattentive attribute”. Bentuknya bisa dalam pemilihan skala ukuran, tone dan kontras warna maupun memposisikan gambar/photo di halaman peraga pesan. Dengan tehnik2 contoh yang diberikan oleh Penulis, penggunaan attribute ini mampu menggiring perhatian indra mata dan otak penerima pesan tertuju pada focus pesan yang akan kita tonjolkan.

  1. Gunakan KONSEP DISAIN yang bagus.

Berkomunikasi dengan memanfaatkan data akan lebih menarik jika kita menggunakan PRINSIP KONSEP DISAIN yang bagus. Yang pertama gunakanlah jenis huruf, ketebalannya, warna huruf atau ukuran huruf untuk mendapatkan inti pesan yang menarik. Lebih lanjut hindari kalimat, cerita atau konsep yang mengganggu atau kurang berhubungan dengan pesan inti yang ingin ditonjolkan. Hendaknya penggunaan gaya bahasapun dibuat sesingkat mungkin dan jelas maksudnya. Hilangkan kalimat2 yang engga perlu dan berlebihan atau berulang. Warna pada grafik juga diminta agar kita pintar memilih, dengan kombinasi warna yang engga norak. Warna yang lebih tua bisa dipakai untuk menonjolkan focus pada data yang penting.

  1. Menyiapkan CERITA SINGKAT DAN JELAS berhubungan dengan data.

Pada akhir bagian bukunya, Cole memberikan jurus-jurus menyiapkan draft cerita atas dasar data dengan runtun dan lengkap.   Banyak contoh kasus yang beliau berikan dibukunya tersebut untuk mendapatkan storytelling yang enak dibaca, engga membosankan, dan menarik untuk dibaca.

Saya kira akan lebih baik teman-teman membaca langsung buku yang agak teknis ini untuk mendapatkan wawasan yang lengkap. Penulisnya sendiri memiliki pengalaman yang luas di perusahaan JPMorgan Chase, perusahaan perbankan, private equity dan terakhir di Google Company. Buku ini ditulis atas dasar pengalaman lapangan selama bertugas di banyak perusahaan global tersebut.

Mengerti Sistem Perekonomian Bak Mandi dan Ancaman Bubbled Economy

 

Cara bekerja sistem perekonomian di satu negara dapat digambarkan dengan menggunakan konsep BAK MANDI. Konsep ini menggunakan analogi seorang Bapak atau Ibu rumahtangga dalam memanaje kebutuhan air mandi untuk para anggota rumah-tangganya. Dengan jumlah anggota rumahtangga yang relatif besar yang biasa dijumpai pada kehidupan rumahtangga masyarakat di Indonesia, setiap rumahtinggal selalu diperlengkapi dengan bak mandi dengan kapasitas daya tampung air yang memadai. Sistem instalasi air di rumah tersebut kemudian dibangun, dengan menggunakan tangki penampungan di luar kamar mandi yang menggunakan jetpump atau dengan sistem penimbaan dari sumur terdekat dari lokasi bak mandi tersebut. Baca selanjutnya…

TinjauanBuku: Environmental Economics

gilpin.jpgEnvironmental Economics: A Critical Overview
Pengarang: Alan Gilpin
Edisi: Cetak Ulang, tahun 2000
Penerbit: John Wiley & Sons, Ltd.
Jml halaman: 334


Sebagian besar dari kita telah mengenal disiplin ilmu ekonomi secara makro maupun secara mikro yang mengulas aspek perekonomian makro dan aspek manajemen perusahaan, yang mencakup seperti manajemen strategi, produksi, pemasaran dan sumber daya manusia. Akibatnya mungkin masih sedikit dari kita yang memahami dan mengetahui seluk beluk perihal Ilmu ekonomi lingkungan, yang dalam dua puluh tahun terakhir ini mengalami kemajuan dalam perkembangannya. Adakah buku yang secara khusus membahas aspek yang terakhir ini? Baca selanjutnya…

%d blogger menyukai ini: