Arsip

Archive for the ‘Multi Level Marketing’ Category

Prospek Bisnis Penjualan Langsung Retail Indonesia 2017

Tulisan Utama:

Yang dimaksud Penjualan Langsung Retail disini adalah penjualan produk-produk retail tanpa melalui jalur distribusi ke distributor, pedagang menengah, dan kios2 keagenan. Jadi prosesnya dilakukan dengan penjualan lewat online atau melalui sistim jaringan pemasaran berjenjang (multi level).

Bicara mengenai prospek Penjualan Langsung Retail Indonesia ini tentunya tidak terlepas dari perkembangan perekonomian Indonesia.   Sehingga kesehatan dan keberlanjutan ekonomi ke depan tentunya akan mempengaruhi perkembangan kegiatan bisnis retail ini.

  1. Perkembangan Ekonomi Indonesia

Sehatkah kondisi perekonomian Indonesia beberapa tahun kebelakang?

Marilah kita lihat beberapa indikator utama yang menjadi factor penentu (drivers) , meliputi antara lain pertumbuhan ekonomi (growth rate), tingkat inflasi (inflation rate) dan nilai tukar (exchange rate).

Pertumbuhan ekonomi Indonesia rata-rata untuk tahun 2006 adalah 5.0%. Dibandingkan dengan perkembangan jangka panjang 2006-2016, pertumbuhan tinggi dicapai pada level 7.16% dan yang terendah 1.56%.   Ini merupakan prestasi tersendiri dengan pertumbuhan tertinggi di Negara-negara Asia Tenggara. Diantara Negara-negara G-20 Indonesia masuk ke peringkat No-3.

Ke depan pada tahun 2017, pertumbuhan ekonomi kita akan berlanjut walaupun tidak pada level yang terlalu tinggi.

Forecast Bank Indonesia mematok angka optimis pada tingkatan rata-rata 6% untuk periode 2017-2019. Sedangkan Asia Development Bank (ADB) memperkirakan level 5.1% — yang tidak jauh berbeda dengan perkiraan Bank Dunia pada level 5.5%.

og

(Source: Google- Statistics Indonesia)

Sebagai akibat perkembangan perekonomian yang menggembirakan ini, pendapatan per kapita penduduk Indonesia pada tahun 2016 menunjukkan angka 3834 US dollar/ kapita — tingkatan tertinggi yang diraih selama periode 2006-2016. Coba bandingkan dengan level terendahnya 549 US dollar/kapita sehingga merupakan lonjakan dahsyad dalam daya beli konsumen Indonesia secara menyeluruh.

Daya beli konsumen yang melonjak ini membuat sektor retail di Indonesia tumbuh cepat dibandingkan kondisi beberapa tahun sebelumnya. Baik perdagangan partai besar dan kecil mengalami perkembangan yang meningkat.   Akibatnya, investasi di bidang pergudangan, logistic, angkutan barang dan aktivitas mall meningkat pesat. Value added dari kegiatan sektor jasa misalnya, GDP nya mencapai level sekita 40 triliun rupiah, melonjak dari level terendah 23.7 triliun selama periode 2006-2016.

Daya beli yang kuat ini disokong oleh rendahnya tingkat inflasi, yang membukukan level 3.1% tahun 2016.   Pemerintah telah berupaya sekuat tenaga membuat realisasi inflasi dibawah level APBNP 2016.

Satu hal yang membuat kinerja perekonomian belum optimal adalah tingkatan nilai tukar rupiah.   Akibat tekanan faktor eksternal nilai tukar kita pernah mengalami pelemahan, dan kemudian bertengger pada stabilitas baru Rp 13.307 per US dollar pada tahun 2016.   Bagi produk-produk retail yang selama ini diimpor, tingginya nilai tukar ini membuat harga jual beberapa produk impor mengalami penyesuaian harga jual beberapa kali selama waktu 2 tahun terakhir. Produk-produk retail yang terkena dampak antara lain produk makanan, minuman, obat-obatan dan kosmetik.

  1. Tantangan Pasar Penjualan Langsung Retail 2017

Memasuki tahun 2017 pasar sektor retail di Indonesia menghadapi tantangan yang cukup serius. Diperlukan antisipasi para pebisnis dalam menghadapi tantangan berikut.

Pertama, bahwa walaupun pendapatan per kapita mengalami lonjakan sebenarnya kondisi disparitas perolehan pendapatan di level konsumen rumah tangga mengalami kepincangan. Sementara tingkat pertumbuhan ekonomi melaju dengan rata-rata pertumbuhan 5.58% selama periode 2004-2015, ternyata angka kemiskinan menurun dengan level rata-rata 5.53%.

Kedua, pada bulan Februari dan Maret kondisi politik di Negara kita kembali menghangat sejalan berjalannya Pilkada secara serentak.   Apalagi dengan jor-joran peserta partai politik dalam pemilihan kepala daerah, kondisi pasar retail akan terimbas oleh perlehatan akbar tersebut. Semoga proses Pilkada ini bisa berjalan aman dan terkendali.

Ketiga, bahwa produktivitas nasional belum berjalan dengan optimal. Dampak tingkat pengeluaran modal investasi (ICOR) tidak berbanding lurus dengan pertumbuhan perekonomian itu sendiri.  Menurut Harian Kompas ICOR Indonesia meningkat dari 4.5% pada tahun 2013 ke tingkatan 6.8% pada tahun 2015.   Namun demikian laju pertumbuhan ekonomi Indonesia turun dari tingkat 5.6% tahun 2013 menuju 5.02% tahun 2015.   Banyak ahli mengatakan bahwa dana desa yang ditingkatkan oleh Pemerintah dikhususkan untuk pengembangan infrastruktur, dan belum cukup disalurkan pada upaya meningkatkan investasi di bidang pemberdayaan masyarakat.

Terakhir, dengan perkembangan kondisi permintaan pasar global, biaya transport di dalam negeri akan cenderung meningkat. Faktor pencetusnya adalah penyesuaian harga premium dan bahan bakar serta peningkatan tariff pendaftaran kendaraan bermotor di kota besar.

Namun selama pebisnis sektor retail mampu bekerja dengan efisien dan menajamkan tergetting pasarnya maka tantangan ini insya Allah bisa dihadapi dengan baik.

  1. Bagaimana Prospek Sektor Penjualan Langsung Retail ke Depan?

Prospek kegiatan di sektor Penjualan Langsung Retail menurut saya masih menjanjikan.   Masih terdapat ruang gerak yang cukup luas untuk meningkatkan volume penjualan. Tentunya ini semua tergantung dari jenis produk retail yang digeluti dan target konsumen/wilayah pasar yang menjadi sorotan utama.

teaser_2016-retail-and-consumer-products-trends580x280

(picture from Google)

Alasan argumentasi ini saya buat dengan melihat perkembangan yang ditunjukkan oleh hal-hal berikut ini.

A.     Trend pola permintaan masyarakat di sektor riil bisa dilihat dari perkembangan Pengeluaran Konsumen. Rata-rata Consumer Spending masyarakat Indonesia berkisar angka 598 Triliun Rupiah selama tahun 2000-2015.   Kemudian permintaan ini melonjak dahsyad dengan angka 1308 Triliun Rupiah pada Kwartal III tahun 2016. Bandingkan posisi terendahnya pada Kwartal I tahun 2000 yang menunjukkan angka 210 Triliun Rupiah.

B.     Kredit konsumen apakah melalui mekanisme perbankan dan pengeluaran kartu kredit mengambil peran dominan atas lonjakan permintaan tersebut. Per bulan Nopember 2016, terdapat 17.351 juta kartu kredit yang diterbitkan. Jumlah transaksinya mencapai 26.342 juta , atau senilai angka 23.745 Triliun Rupiah. Ke depan dengan upaya pemerintah menurunkan tingkat bunga kredit diharapkan bisa membuat kondisi permintaan ini paling tidak untuk bertahan. Untuk diketahui, pada bulan Januari 2017 ini Bank Indonesia telah menurunkan tingkat Bunga kartu kredit 2.25% per bulan atau 27% per tahunnya.

C.     Penjualan sektor retail di Indonesia telah tumbuh 7.6% dengan basis year on year. Ini adalah posisi pada bulan Oktober 2016. Bandingkan dengan level terendah -26.3% dan max 40.3% selama periode sepuluh tahun terakhir. Sebagai informasi saja jumlah transaksi ATM telah mencapai 44 milyar transaksi dengan nilai Rp 483 Triliun Rupiah.

D.     Tingkat kepercayaan konsumen atas kondisi pasar, yang biasa disebut dengan Consumer Confidence Index –menunjukkan trend yang meningkat. Menurut Hasil Survey Konsumen dari Nilsen angkanya meningkat tajam dari 116 tahun 2015 ke 122 tahun 2016.   Rentang minimum level adalah 9.6 dan maksimum 121 selama periode 2006-2015.

E.     Pemerintah pada tahun 2017 akan lebih mengutamakan upaya memeratakan distribusi pendapatan dengan kebijakan-kebijakan: (a) transfer dana ke desa-desa yang lebih besar, (b) meredistribusikan asset dan (c) meningkatkan volume penyaluran kredit usaha rakyat.

F.     Penggunaan komunikasi dan pemasaran lewat media sosial di Indonesia merupakan salah satu yang terbesar di dunia.   Hal ini berakibat semakin murah dan tersedianya peralatan handphone dan dukungan kapasitas jaringan internet secara nasional. Penjualan on line melalui e-catalog telah banyak dirintis oleh perusahaan retail global, seperti halnya perusahaan kosmetik Oriflame.

Screen Shot 2017-01-18 at 11.58.08 PM.png

(picture from Oriflame Indonesia)

Jadi terlihat jelas dari data-data yang kami peroleh diatas bahwa prospek kegiatan bisnis retail di Indonesia masih cukup menggembirakan.

  1. Implikasi Bagi Pebisnis di Sektor Penjualan Langsung Retail.

 Gambaran perkembangan retail bisnis, di atas khususnya dengan metode penjualan langsung dapat disimpulkan masih memiliki prospek yang bagus.   Masih cukup tersedia ruang yang cukup lebar bagi para pebisnis retail barang2 kebutuhan (sekunder) rumah tangga untuk meningkatkan penjualnya melalui jaringan keanggotaan.   Mengingat trend lonjakan permintaan konsumen pada tahun 2016 dan relative masih kuatnya daya beli masyarakat, akan membawa efek pada peningkatan penjualan dan kegiatan pemasaran pada produk2 kosmetik, obat2an supplement, produk sepatu, barang pakaian serta jasa pengiriman barang.

Kemudian melihat faktor eksternal dari menguatnya nilai mata uang dollar terhadap rupiah tentunya akan membawa dampak pada peningkatan ekspor hasil2 produk pertanian dan hasil hutan. Keadaan ini bisa mempengaruhi lebih lanjut permintaan terhadap kebutuhan rumah tangga sehari-hari di wilayah-wilayah domisili produk ekspor tersebut.   Pasar produk-produk kebutuhan rumah tangga di kota2 menengah dan kecil di Sulawesi, Kalimantan, Sumatera dan Maluku diperkirakan akan meningkat.

Penguatan mata uang asing bisa berarti naiknya lonjakan arus kedatangan turis manca Negara ke wilayah-wilayah wisata di tanah air.   Hal ini meliputi daerah di Bali, Nusa Tenggara, Maluku, Kepulauan Riau, Sumatera Barat. Perekonomian daerah di wilayah wisata ini dapat menberikan prospek bagi peningkatan permintaan produk-produk retail tersebut.

Pebisnis yang menjual produk-produk retail impor perlu mensiati strategi pemasarannya dengan cerdik.   Segmen pasar yang ada hendaknya lebih dipertajam, dengan pintar-pintar membidik target konsumen menengah dan atas, yang meningkat daya belinya dari perkembangan ekonomi yang ada. Konsentrasi pasar tentunya masih di kota-kota besar, khususnya yang memiliki akses dengan kegiatan ekspor impor langsung dengan dunia luar.

Konsumen produk2 retail berbasis impor mendambakan kondisi kemudahan akses mendapatkan informasi tentang spesifikasi jenis produk yang lebih rinci, dengan range harga yang bersaing. Sehingga disini yang diperlukan adalah kemahiran para penjual retail dalam memasarkan produk2 yang ada secara on line atau melalui kegiatan pemasaran di sosial media. Apalagi dengan kecenderungan meningkatnya kemacetan di kota-kota besar di Indonesia, konsumen semakin enggan untuk pergi secara khusus — berbelanja on the spot di toko2 atau gerai mall.   Mereka pergi ke mall utamanya lebih untuk keperluan makan, nonton film dan ngupi2 di café dan bukan khusus untuk tujuan shopping.

Penulis: Aditiawan Chandra