Arsip

Archive for the ‘Strategic Management’ Category

Menyorot Perubahan: Anatomi dan Antisipasi Pengelolaannya

Pagi ini saya membaca koran yang sebagian isinya penuh dengan tulisan yang berisikan kekhawatiran.   Demikian juga semalam “trending line” tweeter banyak bercerita tentang pro dan kontra terhadap berbagai isu munculnya pemimpin baru.   Semua memiliki kemiripan, merupakan reaksi yang muncul spontan karena antisipasi akan terjadinya “perubahan”. Yess perubahan dari kondisi “status quo” yang ada — menuju rancangan kondisi yang diskenariokan oleh Promotor Perubahan.

Mengapa status quo tidak bertahan lama dan selalu bergeser kepada kondisi baru yang kemudian menimbulkan pertentangan, silang pendapat dan reaksi keras ketidak-setujuan?

Meminjam isitilah ilmu ekonomi tingkat pertama, begitu satu tatanan bergeser dari satu kondisi “equilibrium yang lama” kepada posisi “keseimbangan yang baru” maka biasanya akan diikuti oleh perubahan2 tatanan yang ada dan mapan untuk jangka waktu lama. Dampak perubahan kebijakan makro ekonomi menuntut bahwa harga bisa naik dan bisa juga turun. Mereka yang kaya bisa saja menjadi miskin dan mungkin sebaliknya. Buruh pabrik bisa saja ada yang menikmati manfaat dan bisa juga sebaliknya mananggung efek negatif. Jadi intinya dari tindakan perubahan akan ada kelompok masyarakat yang diuntungkan dan ada yang dirugikan.

Naaaah dengan masuknya para pemimpin baru negara2 didunia, terakhir terpilihnya Presiden Amerika Serikat ke-45, yang istilah kerennya bekerja untuk memenuhi “tuntutan warga domestic” , maka terjadilah kegoncangan pada tatanan keseimbangan ekonomi global, pasar keuangan, perjanjian kerjasama antar Negara dan lulurnya komitmen yang dipegang President sebelumnya. Duniapun mengalami perubahan ke arah pendulum menuju kesimbangan barunya.

Ambil contoh misalnya bagaimana Masyarakat Ekonomi Eropah terguncang dengan keributan-keributan akibat keluarnya negara Inggris dari Kelompok Ekonomi Regional tersebut.   Demikian juga sekarang kita menyaksikan bagaimana Masyarakat dan Pemimpin Dunia dibuat ketar-ketir akibat akan adanya perubahan tatanan masyarakat Amerika Serikat yang ingin dirubah oleh kepemimpinan baru President Donald Trump.

tea_party_-_pennsylvania_avenue

(picture from Google)

Dengan “perubahan-perubahan” yang bisa terjadi apakah dalam organisasi publik, swasta maupun kegiatan mandiri, terdapat beberapa hal yang ingin saya “sharing” pada teman-teman tentang esensi “mekanisme kejadian” suatu “perubahan”:

(1) Bahwasanya “perubahan” banyak didorong akibat ketidak puasan atas kinerja yang ada.

Secara makro, kasus di Inggris didorong oleh tuntutan warga negara senior yang ingin agar kondisi kesejahteraannya tidak tergusur oleh kedatangan warga immigrant pendatang.   Kasus di Amerika Serikat terjadilah kehebohan dengan maraknya demo akibat kebijakan Pemerintah yang Baru mengusung “perlindungan pada kepentingan utama warga Amerika” dalam urusan investasi, ekonomi perdagangan luar negeri dan lalu lintas orang maupun modal. Kemudian ditambah lagi karena adanya tekanan deficit fiscal maka terjadi tuntutan perlunya kebijakan efisiensi nasional dikeluarkan, dengan memangkas berbagai kepentingan program kesehatan, pendidikan dan hak asasi.

Secara mikro, setiap perubahan biasanya tercetus dan kemudian menjadi dorongan Pimpinan Organisasi melakukan “perubahan” karena tidak bekerjanya unit-unit organisasi dalam mencapai tujuan.   Misalnya saja, kinerja Kantor Cabang yang tidak bagus dan kalah bersaing di wilayahnya, berdampak Pimpinan Organisasi melakukan perbaikan dengan mengganti pejabat atau menutup Kantor Cabang tersebut. Kondisi kalah bersaing di pasar industri bisa menuntut Pimpinan melakukan program pemangkasan biaya atau program perumahan karyawan. Kemudian dalam kasus “mekanisme pola kerja secara berkelompok”, bisa saja Leader-Leader Unit melakukan kebijakan “bedol desa” dan kemudian menggantikan tenaga2 andalan (coreteam) mereka — begitu signal-signal kemunduran dalam meraih target selalu tidak terpenuhi.   Demikian juga jika satu “ranting jaringan pemasaran” menunjukkan gejala lumpuh, bisa saja kemudian ranting tersebut diabaikan dan segera digantikan dengan proses scouting member baru yang lebih energetic.

(2) Bahwasanya setiap “perubahan” akan mengguncang tatanan yang lama dan menimbulkan reaksi yang berlebihan secara negatif dikalangan Anggota Organisasi/Masyarakat.

Alineasi (keberpihakan) atas kesamaan isu, apakah sifatnya positif ataupun negative, akan mendorong timbulnya reaksi protes yang keras.   Biasanya dalam kasus apapun, protes keras ini akan kalah dengan sendirinya, karena komitmen rezim Pembaharu yang relatif lebih dominan dan punya kuasa. Akhirnya para pelaku protes menghadapi frustasi yang berkepanjangan dan akan merasa terpojok atau lelah dengan sendirinya, yang diakhiri dengan keapatisan pada kondisi yang baru.

(3) Dengan berjalannya waktu “tindakan-tindakan pembaharuan” bisa memberikan hasil atas target yang diinginkan untuk dicapai. Posisi “status quo baru” akan menggantikan posisi yang lama.   Kondisi ini akan terguncang kembali saat ketidakpuasan meningkat atau karena masa jabatan pimpinan telah berakhir.

Melihat pada kasus-kasus bagaimana para Pemimpin/Leader organisasi sepanjang masa mengelola perubahan, ada beberapa manfaat yang bisa saya sarankan.   Memang idea untuk melakukan “perubahan” pada kebijakan atau bentuk struktur organisasi bisa menimbulkan reaksi kompromi yang positif atau reaksi perlawanan yang negative.   Reaksi negatif ini pada akhirnya biasanya akan melemah karena mungkin sebagian tuntutan telah diakomodir atau karena habisnya amunisi dari para pelaku protes.

Jika memang Strategi Perubahan itu sendiri perlu dilakukan, para Leader Organisasi hendaknya telah menyiapkan kejelasan blueprint kebijakan/konsep yang diusung dan ketegasan dalam proses pelaksanaannya. Jika timbul protes dengan reaksi negatif yang masif maka perlu dilakukan upaya mitigasi untuk mencapai kompromi sebelum ekskalasi bola saljunya semakin berbahaya.

Penulis: Aditiawan Chandra – 23 Januari 2017

Efektifitas Pengendalian Kekuatan Monopoli Pasar: KPPU vs. Temasek


Click here to view map
Temasek Tower

Di akhir bulan Nopember ini kalangan pebisnis di Indonesia sempat dibuat tercengang oleh keputusan Komisi Pengawasan Persaingan Usaha (KPPU) yang mevonis Temasek Holdings yang diduga telah melanggar aturan persaingan tidak sehat karena telah memiliki saham secara silang di Indosat dan Telkomsel. Silang pendapatpun bermunculan, yang kemudian mengerucut pada dua kubu: yang “pro” pada keputusan otoritas KPUU dan yang “kontra” dengan berbagai keberatan atas landasan pemikiran dan alasan ditetapkannya keputusan tersebut. Baca selanjutnya…

Bagaimana Mempromosikan Produk Wisata Daerah


Upaya kegiatan mempromosikan tempat kunjungan wisata di daerah tidak semudah dengan kegiatan serupa yang dilakukan untuk produk-produk perusahaan. Disamping karakternya yang berbeda, tempat wisata perlu dijual dengan memanfaatkan jasa kegiatan public relations di pasar internasional.

Promosi tempat tujuan wisata sangat diperlukan oleh daerah-daerah yang memiliki banyak potensi di tanah air. Tentunya upaya kegiatan ini menjadi sangat penting dalam kerangka penyelenggaraan otonomi daerah di Indonesia sampai kepada Pemerintahan Daerah Tingkat II. Promosi tempat wisata yang dirancang dengan baik akan memberikan tambahan penerimaan asli daerah, dan mendorong proses multiplier perkembangan ekonomi lokalitas di sekitar daerah tujuan wisata. Baca selanjutnya…

Mampukah Ari Lasso Mendongkrak Pembeli?

tolak_angin.jpggatra_29mar2007.jpgantangin.jpg

[ Foto Ari Lasso dan keluarga beserta pimpinan Sido Muncul berasal dari Majalah Gatra edisi 29 Maret 2007 ]
Beberapa hari terakhir ini saya dibuat terkejut oleh strategi perusahaan Sido Muncul dalam memasarkan produk obat masuk angin merk “Tolak Angin” nya. Mengapa tidak? Selain adanya perubahan tema iklan dengan menampilkan Ari Lasso (mantan group Dewa) , frekuensi penayangan di iklan ini televisipun semakin sering dijumpai.

Mampukah strategi pemasaran perusahaan Sido Muncul mendongkrak pembeli? Pertanyaan ini diajukan mengingat biaya promosi yang cukup besar yang telah dikeluarkan oleh perusahaan tersebut. Semoga saja biaya promosi tersebut sudah diperhitungkan dengan cermat untung ruginya. Baca selanjutnya…

Program Corporate Social Responsibility yang Berkelanjutan

Writer: Timotheus Lesmana
[ARTIKEL BERIKUT MERUPAKAN TULISAN YANG PERNAH DIMUAT DI MAJALAH  LENSA  ETF EDISI 1 NOV 2006, EKA TJIPTA FOUNDATION]
         
          Pembangunan suatu negara bukan hanya tanggung jawab pemerintah saja, setiap insan manusia berperan untuk mewujudkan kesejahteraan sosial dan peningkatan kualitas hidup masyarakat. Dunia usaha berperan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang sehat dengan mempertimbangan pula faktor lingkungan hidup. Kini dunia usaha tidak lagi hanya memperhatikan catatan keuangan perusahaan semata (single bottom line), melainkan sudah meliputi aspek keuangan, aspek sosial, dan aspek lingkungan biasa disebut triple bottom line. Sinergi dari tiga elemen ini merupakan kunci dari konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Baca selanjutnya…

Dampak Orkestrasi Pemasaran terhadap Prosess Bisnis Utama dan Nilai Perusahaan

Februari 15, 2007 Komentar dimatikan

Penulis: DR Andreas Raharso
[Artikel berikut merupakan teks pidato presentasi DR Andreas Raharso pada saat promosi disertasinya yang berjudul The Impact of Marketing Orchestration on Core Business Process and Firm Value pada tgl. 8 Februari 2007 pada Program Studi Management Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (Promotor Dr Aditiawan Chandra dan Co Promotor Prof Dr Teddy Pawitra dan Prof Dr Ignas Sidik)]

          Penelitian maha guru pemasaran Philip Kotler ditahun 2002 menemukan bahwa pasar bergerak lebih cepat dari pemasaran. Ini berarti konsep-konsep pemasaran yang kini dianut akan menjadi cepat usang sehingga menuntut pemasar terbuka terhadap perubahan agar tidak hancur karena tidak mampu bergerak secepat perubahan pasar.
          Pasar yang berubah cepat menuntut para pemasar mampu menciptakan sinkronisasi dalam aktivitas pemasaran mereka. Atau dengan kata lain kemampuan pemasar meng-orkestrasi pemasaran menjadi kunci memenangkan pelanggan dan kompetisi usaha. Baca selanjutnya…

Mengelola BUMN Dalam Kemelut Campur Tangan Stakeholders


          Mengelola perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memerlukan  seni pengelolaan tersendiri yang agak berbeda dibandingkan dengan sistem pengelolaan dalam sebuah perusahaan swasta.Perbedaan yang paling mencolok dapat ditunjukkan dalam beberapa hal. 
          Pertama, pengelolaan perusahaan BUMN sangat terkait erat dengan campur tangan langsung dari pihak pemilik, atau instansi yang berwenang dalam perihal aspek pengawasan, dan dalam proses penyusunan perencanaan maupun standard pelaksanaan tugas yang menjadi bagian tanggung jawab pimpinan organisasi.  Kedua, saratnya pengaruh kepentingan dari berbagai pihak di luar perusahaan yang menuntut mereka dapat memiliki peran maupun fungsinya serta berpartisipasi  dalam pengelolaan perusahaan.  Dan yang terakhir, terdapatnya kecenderungan budaya perusahaan yang belum terbangun secara positif pada upaya peningkatan produktivitas, efisiensi bisnis proses, peningkatan inovasi dan kemampuan memenangkan persaingan.
          Perusahaan BUMN pada saat ini menghadapi kondisi lingkungan eksternal yang unik. Situasi kondisi yang sedemikian ini jarang dijumpai pada  perusahaan-perusahaan swasta, sehingga hal ini akan membawa implikasi pada cara pengelolaan yang tersendiri agar tujuan-tujuan organisasi dapat diraih secara efektif dan efisien.
Baca selanjutnya…