Beranda > General > FEUI: Dahulu dan Kini Sama Saja?

FEUI: Dahulu dan Kini Sama Saja?


Tulisan Oleh: Kanti Pertiwi


Tidak mudah memang untuk merubah sesuatu.
Pertanyaan yang paling pertama muncul biasanya adalah “Dari mana harus kita mulai?” Pemikiran ini timbul semenjak saya membaca sebuah email terusan dari salah satu milis yang mengangkat topik tentang pengajaran di FEUI. Si penulis utama dalam email terusan tersebut adalah seorang alumni yang terpukul hatinya mendengar kabar terkini dari FEUI yang ternyata tak banyak bedanya dengan situasi yang dialaminya dulu semasa kuliah, yaitu lebih dari 10 tahun yang lalu.

Apa lagi yang dikeluhkan kalau bukan kualitas dosen dan pengajaran yang memprihatinkan. Keluhan tentang kuliah yang sering ditiadakan, soal ujian yang dari tahun ke tahun itu lagi itu lagi (karena mengambil dari bank soal tahun lalu), materi ajaran yang tidak up-to-date, cara mengajar yang satu arah dan monoton, sampai kepada nilai akhir mahasiswa yang sering berlandas pada “untung-untungan”. Siapakah yang patut disalahkan?

Saya pun terlibat diskusi dengan salah satu alumni yang secara jujur berani mengatakan, tidak ada kebanggaan baginya menceritakan kepada orang lain bahwa dia adalah lulusan FEUI. Tiada perlunya baginya menginformasikan kepada orang lain bahwa dia pernah berkuliah di FEUI, kecuali pada saat menulis resume, dimana nama FEUI masih cukup menjual dimata para headhunter. Menurut sumber yang sama, FEUI tetap bisa menelorkan pemimpin-pemimpin dan pemikir-pemikir berkualitas baik disebabkan atas usaha gigih mereka sendiri. Sedikit sekali kontribusi FEUI dalam membentuk para pemimpin dan pemikir tersebut, kecuali dalam bentuk textbook yang meminjamnya pun harus datang pagi-pagi sekali agar tidak kehabisan. Sungguh sayang memang, FEUI yang namanya begitu harum di media massa dan forum internasional bergengsi ternyata hanya memberikan sedikit kontribusi untuk calon-calon pemimpin dan pemikir ekonomi masa depan.

Diskusi kedua yang ingin saya bagi adalah diskusi dengan alumni sekaligus staf pengajar FEUI yang kini menjalani peran sebagai double agent, yakni sebagai asisten dosen dan sebagai penulis berita di salah satu situs ekonomi. Secara jujur ia mengatakan, seandainya saja (honor) menjadi pengajar cukup untuk menghidupi, tentu ia akan lebih total menjalani profesi mengajarnya. Kertas-kertas ujian itu tentu akan lebih cepat ia kembalikan untuk diumumkan nilainya kepada mahasiswa yang sedang harap-harap cemas menunggu hasil ujiannya masing-masing. Ia pun terkagum-kagum ketika tahu bahwa di salah satu kampus ekonomi diluar negeri dikenal yang namanya “exam viewing session”, yaitu masa sesudah ujian dimana mahasiswa dipersilahkan melihat hasil koreksi ujiannya dan mendebat sang dosen apabila penilaian dirasa tidak adil. Sementara di kampus FEUI tercinta, jangankan terbuka untuk kritik, wong kertas ujiannya sering tidak diketahui dimana keberadaannya.

Diskusi kami pun berlanjut pada persoalan rendahnya insentif. Tunggu dulu, rasa-rasanya ini memang persoalan klasik bangsa ini. Seperti halnya pegawai negeri yang setuju untuk berhenti korupsi dengan syarat gajinya dinaikkan terlebih dahulu. Apakah demikian?

Saya pun teringat dengan konflik batin yang terjadi beberapa minggu sebelum keberangkatan saya menimba ilmu ke negeri kangguru. FEUI meminta saya untuk menandatangani kontrak mengabdi setelah studi dimana dalam isi kontrak tersebut tak ada satu pasal pun yang menyebut tentang hak saya secara rinci, yang ada hanya kewajiban, kewajiban, kewajiban dan ditutup dengan sangsi membayar ratusan juta dollar Australia bila melanggar kewajiban-kewajiban tersebut, meski yang membiayai studi tersebut bukanlah FEUI. Inilah kekhawatiran yang berulang setiap tahunnya yang dirasakan oleh para asisten dosen yang hendak berangkat kuliah karena mereka disodori kontrak yang isinya win-lose situation. Kekhawatiran tersebut berlanjut meski kontrak tetap ditandatangani (demi menghindari konflik berkepanjangan) tetapi akhirnya pada waktu yang dijanjikan banyak yang melanggar. Alasannya pun klasik: tidak ada tempat yang cocok dengan insentif yang cocok. Mereka yang mungkin tidak terlalu idealis pun berusaha bertahan dengan kinerja ala kadarnya sambil mengais rejeki di tempat yang lain. Disinilah kedua persoalan bertemu. Insentif yang minim menjadi salah satu (ingat, bukan satu-satunya) penyebab kinerja yang buruk karena mengajar hanyalah sambilan. Lalu dari manakah harus kita mulai?

Saya sendiri melihat setiap perubahan harus dimulai dari diri sendiri. Saya pun yakin setiap alumni FEUI yang kembali dari menimba ilmu di luar negeri ingin berbuat sesuatu ketika kembali ke tanah air. Mereka pasti ingin bisa lebih baik menjalani profesinya sebagai pengajar. Ingin embuat perencanaan yang lebih matang setiap awal semester, menyediakan waktu yang cukup untuk mahasiswa-mahasiswanya baik didalam maupun diluar kelas (apakah lewat telepon atau email), ingin memberikan feedback yang jelas dan rinci untuk tiap-tiap tugas mahasiswanya, ingin mengoreksi ujian dengan lebih teliti dan membuka kesempatan untuk diskusi tentang hasil ujian mahasiswanya, dan yang paling penting adalah ingin menjaga agar satu sesi perkuliahan tetap 2 x 50 menit untuk mata kuliah 2 sks dan 3 x 50 menit untuk mata kuliah 3 sks. Tidak kurang dan tidak dilebihkan untuk menutupi jam-jam yang hilang karena dibatalkannya kuliah minggu lalu.

Tentu mereka tidak ingin sejarah berulang dengan merenggut hak mahasiswa untuk mendapat pengajaran yang baik dan dan membiarkan mereka semakin kecewa ketika tahu tentang ketertinggalan almamaternya dibandingkan dengan kampus lain. Namun apakah komitmen indah ini bisa terwujud sesuai rencana? Apakah FEUI akan ikut membenahi dirinya sendiri? Besarnya nama FEUI sudah saatnya diimbangi dengan tajamnya kualitas dosen dan pengajaran didalam kampus FEUI sendiri. Jangan sampai FEUI meredup perlahan bahkan diredupkan oleh para alumninya sendiri. Lebih jauh lagi, apakah para pemimpinnya mengerti akan perlunya pembenahan atau telah merasa puas dengan sistem yang sudah ada? Semoga saja tidak, semoga saja ketika tulisan ini hampir selesai dibuat, sebuah perubahan besar sedang dirancang di FEUI, kampus abu-abu yang kita cintai.

Kanti Pertiwi
L’Oreal e-Strat Challenge 4 Champion
Mahasiswa program Master di Uni of Melbourne sekaligus penerima beasiswa Australian Partnership Scholarship 2006

*Terimakasih kepada Bung Helmi Arman (FEUI 1996) atas emailnya yang menggelitik kita semua

Kategori:General
  1. aditiawan chandra
    Januari 24, 2012 pukul 9:17 pm

    Hello Sobat mahasiswa dan para alumni FEUI.
    Lebih dari 4 tahun sejak artikel ini dimuat perubahan2 terjadi di lingkungan kita. Saat ini FEUI dan Universitas Indonesia sudah banyak berubah. Saya mendengar bagaimana para lulusan UI bangga dengan almamaternya, terlepas dari kelemahan2 yang dimiliki pada tiap fakultasnya.
    Tantangan selalu bermunculan, dan dengan bijak kita berketetapan memecahkan permasalahan tersebut. Saya masuk FEUI pada tahun 1969…. dan bersyukur bahwa saya mendapatkan proses pembelajaran, baik dilingkungan kampus maupun di luar kampus. Tidak ada hal-hal yang patut saya sesalkan dari fasilitas, pelayanan maupun kualitas pembelajaran saat saya masih menjadi mahasiswa. Dunia kampus merupakan ajang untuk belajar hidup dalam kemandirian, mengakomodir kondisi kekurangan dan bersosialisasi dengan teman2 sesama fakultas maupun antar fakultas.
    Marilah kita berbagi bagi kepentingan masyrakat yang lebih luas, menularkan aspek2 positif yang didapat, dan bercerita kiat2 sukses di dunia pekerjaan dan usaha.
    Salam hangat selalu, saya mendoakan sukses bagi teman2 di tahun 2012 ini.
    Adit

    Suka

  2. maba
    Desember 30, 2011 pukul 1:20 pm

    Gue maba FEUI. Menurut gue, fasilitasnya sangat oke. Mulai dari labkom yang free print tugas (meskipun ada limitnya tapi reasonable limit kok) dan labkom yang internet siap selalu, perpustakaan yang adem dan kondusif untuk belajar, selasar yang nyaman untuk duduk menunggu kelas sambil bersosialisasi, tempat fotokopi yang banyak, leksika yang jualan buku, tempat makan yang beragam dari kafe, AH, de plum dll, koperasi yang jual berbagai macam kebutuhan yg sering mendadak perlu, pertamina hall yang asik untuk olahraga, auditorium yang fasilitasnya terbesar di UI (bahkan kuota dari audit perpus pusat dan balai sidang pun kalah). Gue sangat puas dengan fasilitasnya.
    Untuk dosen, ya gue akuin masih ada dosen yang kolot dan terlalu text book. Cara mengajarnya masih monoton dan sangat satu arah.
    Tapi banyak juga dosen yang sangat gue hargain, gue lihat dedikasinya buat ngajar tinggi banget. Ada dosen yang bela-belain naik ojek dari jakarta sampe rambutnya klimis karena jalanan macet. Mirisnya, saat dia sampe kelas, bahkan mahasiswanya belom mencapai setengah kelas. Maafkan kami, pak. Semoga pahala bapak karena mengajar terus mengalir. Ada juga kok dosen yang ngajarnya niat banget, selalu memberikan print out dari presentasinya untuk difotokopi sekelas.
    Gue rasa FEUI sedang berkembang menuju yang lebih baik kok. FEUI really IS the best.

    Suka

  3. Abdul Malik
    November 23, 2011 pukul 9:57 pm

    Persoalan kuliah di negeri menurut sama, cuma karana SDM udah bagus ya mau diapain gampang, cuma sayang kalau ngak dioptimalkan, kl pengin bagus ya kuliah di LN aja seperti di singapura, insya alloh bagus dan bisa dioptimalkan otaknya,

    Suka

  4. geeka
    Mei 20, 2011 pukul 6:07 pm

    tauk ah, yg jelas gw di IE FEUI 09 sekarang uda ga jelas pelajarannya, susah

    Suka

  5. donatelo
    September 5, 2010 pukul 11:56 am

    sekarang udah beda banget
    bagus lho
    pokoknya fe ui toopp

    Suka

  6. joyoboyo
    Agustus 21, 2010 pukul 7:59 am

    Dulu waktu kuliah di FEUI nggak pernah terlintas untuk nyontek saat ujian, karena sanksinya yg sangat keras. Kalo nggak salah mata kuliah yg diambil di semester itu hangus semua + skors 1 semester. Beda banget dg temen di tempat lain yg punya semboyan “posisi (kursi) tempat ujian menentukan nilai”, bravo FEUI ..

    Suka

  7. dhika
    Agustus 9, 2010 pukul 1:56 pm

    ah enggak kok feui itu bagus
    coba aja bandingin sam fe fe lainnya
    trust me

    Suka

  8. poenky
    April 22, 2010 pukul 9:43 am

    siip..

    Suka

  9. kaskuser
    November 28, 2009 pukul 8:23 am

    nyari nilai di FE UI mah😮 percuma lo baca buku orang tinggal baca soal2 tahun sebelumnya cari jawaban teruss di hapal, apalagi yang cewe sambil memeelas2 telpon dosen or asdos biar dikasih tahu kisi2 soalnya :eek:…….dijamin IP diatas 3.3

    Suka

  10. aquino
    November 9, 2009 pukul 4:20 am

    masalah di FEUI sama dengan hampir semua masalah Universitas Negeri di Indonesia. Semua kembali ke dana…dana..& dana, yang selalu ditutup dengan meningkatnya biaya pendidikan di UI. Kalau teman2 FEUI yang pastinya pernah belajar akuntansi, pasti akan menyadari bahwa keuangan yang baik akan menuntun kepada tujuan organisasi yang lebih tercapai dengan baik.

    Saya setuju dengan apa yang diutarakan oleh saudara Kanti Pertiwi, bahwa dalam kenyataannya di FEUI masih ada segelintir dosen dan asdos yang kurang berdedikasi dalam tugasnya yang mungkin membatalkan kuliah atau dalam kurangnya kemampuan mengajar dan memberikan nilai. Namun di sisi lain cukup banyak juga dosen yang pendidikannya master, doktor, professor yang mampu berdedikasi dalam mendidik mahasiswanya untuk lebih berprestasi selama di FEUI.

    Seperti yang telah dikemukakan Pak Aditiawan Chandra diatas, salah satu mantan dekan FEUI, bahwa dosen yang kurang berkualitas karena statusnya yang PNS tidak bisa dilakukan tindakan pemecatan oleh Rektor atau Dekan, karena itulah masalah klasik yang selalu ada dalam organisasi yang berlatar belakang kenegaraan, bahkan contoh nyata yang ada di Departemen Keuangan saja yang terlibat dalam penyusunan laporan keuangan pemerintah namun tidak bertugas dengan baik tidak bisa diambil tindakan yang tegas. Demikian sulitnya hal yang harus dipahami oleh para mahasiswa maupun alumni FEUI secara keseluruhan.

    Namun terkait dengan hal dana (keuangan), saya kurang setuju dengan pemaparan beberapa rekan FEUI yang menyatakan bahwa karena insentif yang diberikan kepada pengajar tidak / kurang setimpal dibandingkan dengan rekan mereka di universitas swasta. Bila memang demikian adanya, sebagai seorang ekonom ataupun akuntan yang tentunya mengerti masalah keuangan, pastinya secara normal lebih baik memilih untuk tidak mengajar di FEUI, dan hanya mengajar di universitas swasta. Namun kenyataannya tidak ada satu dosen pun bahkan yang selalu mengeluhkan insentif yang kurang , berani untuk mengundurkan diri sebagai dosen FEUI. Pertanyaannya bukanlah mengapa? Tetapi apakah yang akan terjadi seandainya mengundurkan diri dari dosen FEUI?

    Harus dipahami oleh para dosen dan juga mahasiswanya, bahwa menjadi bagian dari FEUI, baik sebagai mahasiswa maupun dosen, bukanlah hal yang bisa dilakukan setiap orang. Hal itu merupakan buah dari kerja keras dan juga merupakan anugerah Tuhan YME.

    Apakah para dosen FEUI yang juga mengajar di universitas swasta bisa begitu saja mendapatkan pekerjaan sebagai dosen swasta, tentunya tidak, namun dengan latar belakang sebagai dosen FEUI itulah mereka bisa juga bekerja sebagai dosen di tempat lain.

    Mengharapkan bahwa dengan bekerja sebagai dosen FEUI akan mendapatkan penghidupan yang layak adalah hal yang lumrah namun juga harus melihat semua segi yang ada. Karena di dunia ini yang namanya pekerjaan sebagai pengajar memang diharuskan memiliki insentif yang lebih rendah daripada mereka yang berkecimpung di dunia nyata (praktisi). Karena apabila pekerjaan sebagai pengajar memiliki insentif yang bagus dan memuaskan, maka kiranya semua mahasiswa yang baru saja lulus akan bercita-cita menjadi pengajar, dan dengan demikian mendorong situasi ekonomi yang bertumpu kepada pertumbuhan yang dipacu melalui sektor pendidikan. Artinya pendidikan kita hanya mampu menghasilkan pendidik dan pendidik lagi.

    Hal ini seperti tercatat pada Mikroekonomi maupun Corporate Finance, sebagai “curse of competitive market” dimana bila sebuah sektor perekonomian mampu menghasilkan profit atau insentif yang tinggi dengan pengorbanan yang rendah, akan membuat semua orang ingin memasuki sektor tersebut dan pada akhirnya nilai insentif yang didapat akan menjadi tidak sebesar yang diharapkan.

    Kalau melihat kenyataannya di FEUI, banyak sekali dosen praktisi maupun akademisi yang berdedikasi dan memiliki juga usaha di luar sana tidak hanya sebagai dosen saja. Namun ada juga dosen yang hanya mengharapkan gaji dosen dan tidak mampu mengamalkan ilmu nya secara nyata, dan pada akhirnya menuntut insentif yang tinggi namun tidak mampu mengajar dengan baik. Semua kembali kepada masing-masing individunya. Namun harus selalu diingat bahwa menjadi dosen FEUI juga adalah sebuah anugerah dan kewajiban, Banyak sekali dosen berdedikasi yang bekerja sebagai praktisi maupun akademisi, sebutlah misalnya Bapak Katjep K Abdulkadir, Prathama Rahardja, Willem…., Lepi Tarmidi, Deddi Nordiawan, Sunardji, Rhenald Kasali, Selvy Monalisa, Rony Muntoro, Tia Adityasih, Sisdjiatmo K, dan masih banyak lagi……

    Bila kita hanya mendasarkan insentif sebagai tolok ukur kemampuan untuk dapat mengajar dan memberikan nilai dengan baik, hal itu tidak ubahnya seperti seorang mahasiswa yang tidak mampu membeli buku teks yang asli dan mahal dan menjadikan itu sebagai alasan tidak dapat mencetak prestasi dalam hal akademik (IPK tinggi, juara kompetisi, dll) maupun prestasi dalam hal di dunia kerja (menjadi direktur terbaik, pejabat terbaik, pengusaha terbaik, penyumbang terbanyak, dll).

    Kita adalah kita, dan hanya kita yang tahu mengapa kita mampu berdedikasi dalam semua aspek kehidupan atau tidak…..

    Suka

  11. Oktober 7, 2009 pukul 11:42 am

    au ah gelap…

    Suka

  12. Agustus 24, 2009 pukul 11:50 am

    Apapun pendapat tentang FEUI, tu smua ga akan menghambat obsesi saya untuk masuk FEUI..
    SMANGAT!
    Kberhasilan tu kan ditentukan oleh kita sendiri, jadi dalam kondisi apapun kita harus tetap menjaga prinsip dan integritas dalam meraih SUKSESSS!

    Suka

  13. della mene '09
    Agustus 23, 2009 pukul 12:54 pm

    wah, ternyata dulu susah ya. skrg sistemnya sudah dibuat online.
    UI mau buat perpustakaan baru yg disainnya pake tender.
    salut deh sama kakak2 FEUI angkatan sebelumnya.

    tapi iya sih, UI sekarang mahal krn dilepas pemerintah.
    BOPB aja pake sponsor.

    doakan saja FEUI bisa lebih baik lagi dan benar2 menjadi world-class university. jika sdh menjadi world-class saya harap hal itu tidak hanya dijadikan status, tetapi juga sebagai komitmen untuk menjadi terbaik di dunia.😀

    untuk saya sendiri, saya tidak akan pusing2 soal itu sekarang. yang penting saya dpt menjalankan tri dharma perguruan tinggi dengan baik. setelah itu, baru saya urusi masalah yg lain.

    Hidup Mahasiswa!
    Hidup Rakyat Indonesia!

    Suka

  14. Tommy--manajemen '07
    Maret 12, 2009 pukul 8:58 pm

    gue setuju banged,,tulisan di atas kalo misalnya gue liat pas masih SMA
    atau gue ga di FEUI pasti langsung gue berpikir kalo FE itu butut banged,,
    seolah-olah hanya gitu2 doang,,statis dan ga ada perbaikan sama sekali..

    padahal,,menurut gue FE kita tercinta ini tu udah paling top bgd se ui fasailitasnya..
    kaya yg udah disebutin di atas,,ada labkom yg bisa ngenet n ngeprint gratis,,kantin lengkap menu dan harganya bervariasi,,cocok lah buat mahasiswa,,
    trua ada lcd+pc di tiap kelas,,lap basket dan futsal indoor,,tempat nongkrong yg asik bgd buat review blajar sebelum ujian di kopet,, satpam 24 jam (walaupun masi suka ada laptop yg hilan,,tapi kerjanya satpam tu cepet dan cekatan bgd kalo ada masalah beginian) dan lainnya yg males gue sebutin karena banyak bgd..

    bukannya sombong,,tapi silahkan dibandingin sama fakultas lain di UI,,apa ada yg bisa nandingin fe soal fasilitasnya??
    menurut gue si belom ada..

    kalo masalah dosen,,emg gue setuju bgd,,
    ada dosen yg seenak udelnya aja kalo ngasi nilai di SIAK
    ga pake rincian sama sekali tau2 hurufnya aja yg keluar

    tapi ga sedikit juga dosen yg ngasi nilai lengkap pake rincian bahkan sampe 2angka di belakang koma,,

    ya menurut gue si manusia itu emang macem2 jenisnya,,begitu juga dosen,,jadi harap maklum aja,,

    lagian kalo ga suka kita bisa “ngancurin” dosen ybs di SIAK kok,,
    kan ada EDOM,,evaluasi dosen oleh mahasiswa,,sekelas sepakat aja jelek2in rating dosen itu,,
    nanti pasti ditinjak lanjutin ma dekanat
    enak kan??semua serba online

    bahkan sekarang absen dan ngambil silabus aja ol,,da dari gue smt 2 si,,ok bgd kan tu fe kita tercinta??

    bentuk soal2 sekarang,,setelah smt2,,itu smakin ga bisa ditebak tu,,
    soalnya angkatan ’06 dan seterusnya (kalo ga salah) da ga ada ujian kompre lagi,,
    jadi soalnya bakal lebih bervariasi lagi
    beda dgn soal2 dulu yg pasti keluar dari tahun kemarennya,,kita jadi cuma terbiasa untuk menyelesaikan soal aja,,ga untuk mengerti bagaimana kita menyelesaikan soal tsb

    intinya,,gue bangga jadi anak feui dan gue cinta ma feui!!

    Suka

  15. DM
    Maret 2, 2009 pukul 12:19 pm

    Rasanya kita harus bijak menilai sesuatu institusi sebesar FEUI. Karena penilaian yang parsial dapat merusak citra FEUI. Kalau kita sebagai alumni merasa mencintai FEUI tentunya kita juga harus menilai institusi secara bijak, melihat kondisi terkini dan cukup obyektif penilaiannya.

    Tulisan alumni yang melakukan penilaian sepihak di satu sisi mungkin sebagai kritik dan masukan buat FEUI. Tapi justru buat mahasiswa awam dapat menimbulkan persepsi negatif yang sulit untuk dihilangkan…. Kalau kita sama2 mencintai FEUI tetaplah bijak… Karena kebijakan kita mencerminkan kita mencintai FEUI dan ikut membesarkan nama FEUI…

    Suka

  16. za
    Februari 6, 2009 pukul 4:03 pm

    Rame juga,
    kebetulan saya mhs prog.extensi, dan sejauh yang saya tau, tiap tahun SPP selalu meningkat skitar stengah juta rupiah, yang secara kumulatif akan terasa sangat jauh lebih mahal dari beberapa tahun lalu. ekstensi sebagai salah satu ‘sumber pemasukan’ lainnya yang cukup besar (perorang skrg 5,6jt u akt & 5,1jt u manj salemba, lebih mahal 500rb dari kelas depok) seharusnya dapat memberikan sesuatu yang lebih bagi mahasiswanya, baik dari segi fasilitas maupun pengajarannya.
    jujur saya sempat kaget pada awalnya, karena hawa kekecewaan mulai menghampiri teman2 seangkatan, mulai dari cara pengajaran, sampai pemberian nilai, bisa ya nilai yang ada itu hanya berupa satu-satunya nilai huruf di siak tanpa ada keterangan lainnya darimana nilai itu didapatkan..???? bahkan hingga menjelang uas nilai uts lalu pun belum diketahui score nya, apalagi untuk didebat.. meski tidak juga mengeneralisir semua dosen seperti itu, karena beberapa lainnya memang cukup mempunyai kredibilitas yang ckp baik & komitmen sebagai pengajar yang ckp baik.
    pun mengenai infrastruktur, hal-hal administrative yang sepetinya simple tapi menjadi masalah, tidak sesuainya kondisi siak dengan peraturan, berubah-ubahnya data, dll..

    tapi saya percaya ui sedang dalam proses perbaikan, seperti yang di ucapkan rektor baru kita, “Dalam keadaan seperti sekarang ini, UI memang masih dapat bertahan hingga puluhan tahun kedepan, tapi tanpa perubahan ke arah yang lebih baik lagi, UI hanya dapat jalan ditempat dan pada akhirnya akan tertinggal jauh, karena universitas2 lain di negeri ini akan maju meninggalkan kita”

    yah semoga saja jalannya perubahan itu konkrit dan sesuai dengan yang diharapkan, dan kedepannya para dosen yang sungguh-sungguh ingin menjadi pengajar dapat berkomitmen penuh terhadap pengajarannya, para dosen yang ingin menelitipun dapat berkonsentrasi penuh dalam penelitiannya, dan bagi yang ingin menjadikan profesi dosen sebagai sambilan, sebaiknya berfikir ulang, fokuslah, karena pendidikan bangsa, masadepan bangsa salah satunya ada pada mereka, dan semoga perubahan yang ada cukup membuat para pengajar berkomitmen & berkonsentrasi atas keputusan mereka untuk menjadi dosen, sehingga materi2 ajarnya lebih uptodate, bagus2 kalau kita dpt menciptakan hal baru dan tidak hanya bergantung pada materi dari luar, dengan komplektisitas bangsa ini, cukup banyak hal yang dapat dipelajari dan dicarikan solusi.

    cukup panjang ternyata, dan memang cukup besar harapan saya untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik, kondisi yang lebih baik, bukan hanya sekedar institusi yang ‘mengumpulkan’ anak2 dengan kemampuan yang baik, tapi juga mampu membuat mereka jauh lebih baik lagi (malah lebih keren kalo bisa buat orang yang gak ngerti jd ngerti, dari pada…)

    yup, banyak harapan, do’a & dukungan untuk kebaikan mendatang

    Suka

  17. egi
    Januari 12, 2009 pukul 1:38 pm

    wlopun bgitu,,,saya b’syukur bgt udh bs kuliah d FEUI,,,mnurut saya,FEUI ttep nomer satu,,,

    Suka

  18. ratih
    Desember 14, 2008 pukul 4:58 pm

    iya, semua tergantung dosennya kok, ada dosen yg ngembaliin kertas ujian n ada yg sama sekali g, tapi yg ngeselinnya dosen klo batalin kelas alesanny g mutu bgt c, msk dosen pe-q batalin kelas gr2 dia kena macet, trus dosen pa-q nyuruh bawahanny d KPMG buat gantiin dia ngajar coba???!!!o, y…asdos pe-q peliiiiiiiiiiiiiiiitttttttttttttttt ngasih nilai padahal klo dibandingin jwban tmen2 yg dinilai dosen laen n dpet nilai 90-an,mnrutq jwbanq lebih lengkap (hehe..narsis), sumpah dech, t asdos mnta dimusuhin

    Suka

  19. hayu
    Oktober 8, 2008 pukul 3:52 pm

    mungkin tulisan itu ada benarnya,,tapi ga semuanya….sekarang fasilitas juga uda sangat2 berkembang….bener2 ngasi kemudahan buat mahasiswa…..
    mo beli buku tinggal ke leksika…..
    mo ngeprint gratiss….
    mo ngenet,,gratiss d labkom……cepet banget pula…..
    dan banyak kemudahan lainnya….
    pokoknya menurut saya FEUI tetep the best meski mungkin harus ada sedikit perbaikan….

    Suka

  20. Paul
    Oktober 5, 2008 pukul 4:30 pm

    saya sebagai salah satu alumnus FEUI menilai tulisan ini tidak mencerminkan FEUI keseluruhan, dan memang sepertinya condong kepada salah satu/dua program/jurusan. Saya sebagai alumnus S1 reguler akuntansi merasakan betapa jurusan saya telah melatih saya dan kawan2 saya menjadi pribadi yang sigap dan tangguh. Saya merasakan hal tersebut ketika masuk ke dunia kerja. Saat pelatihan, teman2 saya sesama alumni akuntansi FEUI yang mereka dulunya di kampus bukan tergolong pribadi2 yang superior, nyatanya mampu menyerap pengetahuan dengan lebih mumpuni dibandingkan dgn org lain berIPK sangat2 tinggi dari universitas bukan FEUI. Jadi tulisan ini ga bisa mengeneralisasikan FEUI saam2 saja dari dulu hingga sekrg

    Suka

  21. noun
    Agustus 26, 2008 pukul 8:43 am

    sapa suruh masuk jalur paralel? hahaha

    Suka

  22. ALIG
    Agustus 24, 2008 pukul 4:13 pm

    Kuliah di fe ui belum merupakan jaminan akan berhasil dalam hidup,khususnya perekonomian. semua harus dikembalikan pada mahasiswanya. apakah ia akan benar-benar menimba ilmu dan mengamalkannya? atau sekedar sekolah lalu menjadi pegawai seperti kebanyakan para mahasiswa sekarang ini?
    semua bisa dilihat dari cara mereka kuliah. yang rata-rata pada semester awal akan dihabiskan untuk berorasi di jalanan,ikut demo ini itu, menghabiskan waktu kuliah dan biaya dengan percuma.mahasiswa yang dengan nilai pas-pasan akan lebih berharga,karena dari tangan merekalah lahir usaha-usaha baru yang membuka lapangan kerja,karena mereka terbiasa untuk bertahan dan kreatif dalam semua keterbatasan.

    Suka

  23. dio
    Agustus 24, 2008 pukul 3:04 pm

    saya masuk lewat jalur kelas paralel..
    per semesternya 10 juta..ga bisa ngajuin keringanan.

    kesel sih.MAHAL.

    tapi bukannya FEUI bagus ya??

    Suka

  24. dio
    Agustus 24, 2008 pukul 3:02 pm

    saya maba feui 2008..akun

    mmm..duh jadi gundah

    Suka

  25. arie dw akun '08
    Agustus 18, 2008 pukul 4:36 pm

    okeh. gue bkal berterima kasih pada FEUI. the best that we have.

    Suka

  26. michelle
    Agustus 18, 2008 pukul 4:28 pm

    PANTESAN GUE GAK MERASA BANGGA KULIAH DI FE UI. TRNYATA MEMANG ADA APA2NY DI BLAKANG.
    DAMN!

    Suka

    • nunu
      Juli 26, 2009 pukul 6:22 pm

      memang tidak perlu dibanggakan tapi harus di syukuri ya.:)

      Suka

    • geeka
      Mei 20, 2011 pukul 6:04 pm

      lo michelle IE 08 ya? salam kenal ,hehe

      Suka

  27. adit - FEUI '06
    Agustus 5, 2008 pukul 5:34 pm

    ada beberapa komentar yang gak tau apa yang sebenernya terjadi di FE sekarang..

    1. FEUI tidak komersil
    internet di labkom gratis sekarang malah baru beli komputer baru di lab a. hotspot gratis, bayar sp per sks relatif lebih murah dibanding fak lain di UI, cek fak sebelah (teknik), bayaran per semester yg 1,3 jt pun bisa dibilang murah jika dibanding univ lain yang belum tentu fasilitasnya sebanding dengan FE (klo 2008 ke atas dah beda cuman masih pake sistem keadilan juga), dan tidak pernah ada biaya tambahan

    2. Fasilitas baik
    Labkom ada, perpustakaan ada, pusat kegiatan kemahasiswaan ada, ESAC ada, kantin ada, musholla ada, auditorium ada 3, tempat nongkrong banyak salah satunya kopet =p hhe dan blom lama baru ngebangun pertamina hall lap futsal n basket

    3. kegiatan kemahasiswaan banyak
    BEM, BO, BSO, dari keagamaan, hobi (musik, fotografi, dll), ampe penjurusan macem MSS, SPA, Kanopi, dan semuanya berkualitas

    4. Dosen pengajar bermutu
    Dari Ibu Sri Mulyani sampe Miranda Gultom, org2 top di negeri ini masih mengajar di FEUI, dan dosen lainnya pun tak kalah kualitasnya mis Pak Sisdjiatmo, Harry Supangkat, dll.. metode pengajarannya pun beragam dari pbl, scl

    so sebenernya FEUI itu bagus, walaupun masih ada beberapa kekurangan, namun di Indonesia, FEUI masih fakultas ekonomi terbaik. untuk tantangan LN, doakan saja semoga FEUI bisa membaik

    Suka

  28. haiya
    Juli 20, 2008 pukul 8:26 pm

    alangkah baiknya kalau dosen dan alumni feui makin banyak yang punya peran di masyarakat (swasta, bumn, pemerintah) dan menulis buku & artikel surat kabar/ majalah. Terutama yang muda-muda itu lho, jangan jadi jago kandang alias tidak dikenal rakyat

    Suka

  29. someone. feui 2005
    Juli 17, 2008 pukul 10:33 pm

    mau ikutan sharing aja ni atas masalah2 yg disebutin diatas, dengan update terkini soalnya skrg saya mahasiswa S1 taun ke-3.. hehe

    1. soal dari taun ketaun yg relatif mirip sih tergantung dosennya ya, ada dosen yg spt itu ada juga yg nggak. dosen2 yg senior biasanya ngasih soal yg relatif mirip di beberapa nomer, walopun biasanya ada soal kejutan. cth: miranda gultom

    2. sekarang di fe jawaban ujian di kembalikan ke mahasiswa (baru mulai tahun ini sih). contohnya di ujian2 SP kmrn, 3 dari 3 ujian saya dikembalikan dan bisa didebat.

    3.kelas yg dibatalin skrg relatif lebih ketat dan jarang, kalaupun iya biasanya pasti ada kelas penggantinya.

    4. kalau masalah kompensasi utk asdos saya kurang paham.. maklum bkn asdos..

    5. kalo kampus komersil jujur aja saya krg setuju. SPP saya 1,3 jt/semester dan gak ditambah biaya per SKS. menurut saya itu sangat sepadan dan masuk akal. Subsidi pemerintah buat kampus sekarang udah dikurangin, UI sekarang statusnya BHMN. jadi bagaimana caranya UI ningkatin kualitas tanpa melakukan kegiatan pencarian dana? menurut saya pencarian dana ini sah2 aja selama gak ngorbanin kualitas. jujur, saya lebih prefer biaya pendidikan bagi yang mampu dinaikkan daripada fasilitas2 yg ada dikorbankan. cth kegiatan cari dana: UI sekarang punya program Kelas Internsional yang biaya per semesternya sekitar 30jt.

    6. feui skrg punya labkom yg bisa dipake buat internet dgn gratis plus fasilitas print gratis. hotspot UI juga gratis.

    7. metode blajar udah relatif berubah, ada yg namanya SCL dan PBL.

    still, the best economics and business studies in Indonesia.

    Suka

  30. angga feui 06
    Juli 6, 2008 pukul 5:56 am

    FEUI skarg uda mulai menunjukan perubahnnya pak, walaupun masih sangat kasat mata. skrang soal2 ujian ga bisa cuma blajar dari soal2 bank soal. sekarang setiap soal yg dibuat asisten buat ujian selalu di rapatkan sama dosen yg bersangkutan layak/tidaknya dikeluarkan dalam ujian. makanya jadi unperidctable bgt. a.k.a susah. walaupun masih banyak juga dosen yang ngeluarin soal mirip2 taun sebelumnya..(saya kmaren ujian MSDM mirip bgt sama taun sebelumnya).

    dan saya juga stuju sama yang diatas FEUI besar karena mahasiswanya. sangat2 malu menjadi orang bodoh di FE terbaik seIndonesia. sangat2 malu menjadi orang kurang pergaulan di fakultas paling aktif(banyak kegiatan,acara) di UI.

    maka dari itu karena doktrin demikian yang membuat mahasiswa FEUI menjadi lebih unggul dari mahasiswa lainnya. jadi jangan kawatir pak kualitas mahasiswa FEUI masih bisa di adu di dunia kerja kok.

    o..iya ada info kmaren mahasiwa FEUI angkatan 04 jurusan ilmu ekonomi lulus 3.5 taun cumlaude. dan skarang dapet beasiswa ke Harvard University sampe S3.

    Suka

  31. omar
    April 17, 2008 pukul 9:13 pm

    great info~!

    Suka

  32. omar
    April 17, 2008 pukul 9:12 pm

    great info!

    Suka

  33. April 14, 2008 pukul 9:47 pm

    Ayo FEUI berbenah!

    Suka

  34. Malinda
    Maret 20, 2008 pukul 10:14 pm

    sekarang FEUI makin berat… dosen on time… kuliah pengganti selalu ada (bahkan sabtu sekalipun!)…. metodenya jadi PBL dan SCL… soal-soal UTS-UAS tambah unpredictable… nilainya udah keluar paling lambat ‘sebulan’ kemudian di SIAK-NG… waduh tambah susah aja hidup di FEUI, tugasnya banyak banget… pada stres semua malah… dibanding semester kemarin, rasanya semester ini FEUI makin berat aja…

    cuman yang ngeselin, FEUI doang yang nggak ngijinin ngambil 24 sks… males banget siy… *kontras gak ya komentar gue haha*

    Suka

  35. Februari 25, 2008 pukul 4:35 pm

    wah..wah… wah
    rupanya masukan2 ini menggambarkan dua hal:

    (a) mereka sayang pada almamater perguruan tingginya, sehingga membantu pimpinan fakultas untuk mengadakan pembaharuan2 yang diminta oleh kalangan pengguna pasar kerja lulusan FEUI dan institusi perguruan tinggi lainnya. keterbukaan mereka yang memberikan kritik dengan berani, lugas dan to the point mrpk salah satu keberhasilan program pembelajaraan di Universitas.
    (b) SDM fakultas dan universitas negeri di Indonesia sebenarnya banyak yang cukup berbobot. Tetapi kelambatan pimpinan melakukan perubahan2 yang diperlukan…mungkin disebabkan oleh hambatan2 struktural yang mereka hadapi. Misalnya: (1)tidak dapatnya mereka secara leluasa (seperti rektor atau dekan) memecat dosen2 berstatus pegawai negeri yang tidak berprestasi, (2) tidak leluasanya rektor melakukan pricing strategy/adjustment peningkatan tarif SPP, (3) tidak adanya bea siswa asisten pengajar untuk menuntut ilmu di luar negeri, (4) tidak dihargainya prestasi dan dedikasi para dosen tetap dan tidak tetap, yaiutu dengan memberikan balas jasa yang wajar dan layak. Untuk diketahui saja dosen UI dengan pengalaman kerja 30 tahun, mengajar setiap semester 2 mk hanya diberikan balas jasa antara 2,5 sd 3 juta per bulan!!!. Malu memang masih lebih kalah tinggi dari para lulusan S1 yang dibinanya. Kalau di Perguruan tinggi swasta dosen tetap dapat memperoleh gaji di atas 12 juta.

    Mari kita bantu bangun perguruan tinggi di Indonesia, agar lembaga pendidikan domestik kita dapat maju dan berkembang. Bagi para lulusan yang berhasil misalnya, dapat turut andil memberikan alokasi dana sponsor melalui yayasan ILUNInya. Atau langsung saja memberikan kontribusi positif lainnya.
    Salam, adit (mantan lulusan Univ of wisconsin dan North Carolina, tetapi masih menyangi almamater yang membesarkannya: Universitas Indonesia.)

    Suka

  36. rizal
    Februari 15, 2008 pukul 10:33 am

    semua univ di indonesia punya masalah yg sama.
    saya selalu bilang “ada 3 alasan orang kuliah di UI” (dan juga kampus sejenis di Indonesia):
    1. miskin (alias nggak mampu bayar kampus bagus di luar negri).
    2. bodoh (alias otak mentok untuk bersaing di kampus bagus luar negri).
    3. malas (pintar sih, tapi malas kerja keras bersaing di kampus top LN).

    akhirnya ada 3 alasan mengapa kuliah ke LN:
    1. motif ekonomi (nggak punya uang, jadi nyari beasiswa biar bisa sekolah ke LN, untung2 bisa nabung).
    2. motif jalan2 (bayar sendiri nggak mampu, jadi perlu nyari beasiswa).
    3. untung2 dapat gelar (buat modal jadi bos di Indonesia dan malas2-an).

    mantan FEUI juga nih, yg cabut dari ngajar krn kecewa dapat info sekretaris dekan gajinya lebih besar dari dosen junior macam saya.

    Suka

  37. nisa
    Februari 5, 2008 pukul 3:40 pm

    kalo komentarnya gitu smua, jadi rada ilfil neh mau mesuk FEUI!
    tapi saya yakin itu nggak sepenuhnya benar iya kan?
    Anak-anak SMA yang pengen masuk ke FEUI gimana dong?

    Suka

  38. Januari 8, 2008 pukul 5:44 pm

    Menurut saya masalah ini tidak hanya terjadi di FEUI.

    Kebetulan saya dari Gunadarma tetangganya UI Depok. Melihat kedalam sama juga masalahnya seperti UI.

    Hmm… jadi apa sebenarnya yang perlu diperbaiki ke depan ya?

    Sepertinya jadi mahasiswa memang harus survive sendiri yach… setelah selesai kuliah mau lanjut S2 harus survive juga… cari kerja survive… lebih baik saya mendengarkan lagu I will survive aja deh.

    Suka

  39. Desember 16, 2007 pukul 8:49 am

    kirain FEUI itu bagus… setidaknya lebih bagus lha dibanding FE universitas negeri lainnya…. *waktu kuliah dulu saya tetangganya FEUI*

    Suka

  40. November 28, 2007 pukul 4:22 pm

    Saya alumni FE UI (ekstension) th 1996. Dulu memang parah, seperti yang diceritakan. Saya lihat yang IP nya bagus karena rajin mengkopi soal-soal yang dari tahun ke tahun itu-itu saja. Ada dosen yang menilai hanya dari wajah, yang dia kenal karena duduk di depan dan sering tanya, nilainya A. Lainnya B. Entah bagaimana dia menentukan nilai C. Yang jelas, dengan kesibukannya yang seabreg kayaknya nggak sempat koreksi.

    Saya tidak terkejut kalau itu masih berlaku sampai sekarang. Memang kekuatan FE UI pada modal awal mahasiswanya, yang memang bagus karena seleksi masuk ketat. (To be honest, demikian halnya dengan STAN, tempat saya mengambil D3.)

    Tak heran, kalau di level SMA kita bisa ‘bunyi’ dengan beberapa prestasi seperti TOFI (olimpiade fisika), dll. Kalau sudah di perguruan tinggi, memble. Ranking universitas terbaik kita masih ratusan di Asia.

    Apa yang bisa kita bantu lakukan sebagai alumni?

    Suka

  41. November 27, 2007 pukul 7:44 pm

    Fenomena seperti ini bukannya “lumrah”? Tak cuma di UI; UGM, Unpad, Undip, Unair, dan sebagainya mengalami hal yang sama.

    Suka

  42. Aldy
    November 24, 2007 pukul 12:51 pm

    FEUI jd kampus komersil skrg..bayaran makin mahal, tp fasilitas terbatas, warnet aja bayar..paling cuma yg punya laptop aja yg bisa make free hotspot ui..
    dan juga sangat jarang sekali ditemui dosen yg setelah memeriksa ujian lalu diperlihatkan kepada mahasiswanya utk direview lg, selama 5 tahun kuliah di sutu, saya hanya menemui skitar 2-4 dosen saja yang melakukan itu..

    Suka

  43. Achlanudin Yusuf
    November 16, 2007 pukul 9:04 pm

    Paling males sama dosen2 tua yang feodal dan dosen2 muda yang sok sibuk. Golongan pertama makin sedikit di FEUI

    Suka

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: