Beranda > Ekonomi Makro, PMA/PMDN, Taktik Pembangunan, Teknologi > Strategi Menarik Penanaman Modal Asing dalam Pembangunan Ekonomi

Strategi Menarik Penanaman Modal Asing dalam Pembangunan Ekonomi

Januari 18, 2007

     
          Peran penanaman modal asing (FDI) dalam proses pembangunan ekonomi negara-negara maju dan berkembang telah banyak diutarakan dalam literatur pembangunan ekonomi nasional dan pembangunan ekonomi daerah. Lalu lintas modal asing antar negara dan antar lokalitas di dunia tersebut akan berlalu-lalang mengikuti dinamika perkembangan perusahaan-perusahaan lintas nasional (MNC) dan perusahaan global (global firms) yang dipermudah dengan globalisasi dan temuan teknologi. Bersama-sama dengan investasi domestik dan investasi masyarakat, FDI masih merupakan pilihan stratejik untuk memanfaatkan momentum kebangkitan perekonomian Indonesia di masa datang.
 

Trend Perkembangan FDI secara Global
          Permintaan konsumen dari negara-negara maju sampai saat ini telah menjadi sumber inisiatif terciptanya rekor arus FDI pada tahun 2005. Arus masuk meningkat dari 441,7 milyar dollar AS pada tahun 2003 menjadi 573,2 milyar dollar AS pada tahun 2005. Jumlah ini setara dengan 63,9% dari total arus masuk FDI dunia. Lambat laun dengan meningkatnya daya beli dan permintaan barang impor dari para konsumen di kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara, seperti China, India, Vietnam, Thailand dan Indonesia, FDI mulai meningkat secara berangsur, mencapai 16,3% dari arus masuk FDI global pada tahun 2005. Kesempatan bisnis global yang semakin terbuka ini sayangnya masih didominasi oleh kehadiran perusahaan-perusahaan MNC tersebut.
         
          Perusahaan MNC merupakan satu perusahaan yang melakukan kegiatan produksi barang-barang kebutuhan konsumen dan memasarkan produk maupun jasa terkait ke berbagai negara di penjuru dunia. Karena dorongan persaingan dan kemajuan teknologi maka perusahaan-perusahaan MNC ini akan lebih efisien melakukan hal-hal berikut ini:
Pertama, berupaya mencari kebutuhan bahan baku dan penolong serta menempatkan lokasi pabrik di lokalitas-lokalitas antar benua yang dapat memberikan biaya produksi terendah.
Kedua, menjual hasil produksi barang-barangnya melalui kegiatan produksi manufaktur perusahaan terkait (foreign manufacturing subsidiaries) di lokalitas-lokalitas antar benua dibandingkan dengan menempuh jalur kegiatan ekspor dari negara asalnya. Keputusan ini dilakukan karena dapat menurunkan biaya produksi, mengurangi resiko hambatan tarif perdagangan dan dapat melakukan layanan yang lebih baik pada para konsumen.
          Dalam menjalankan kedua strategi bisnis tersebut perusahaan MNC akan melakukan berbagai proses merger dan akuisisi, serta kerjasama dan aliansi bisnis dengan perusahaan-perusahaan lokal di masing-masing negara yang mereka kunjungi. Tentunya strategi ini akan terlaksana dengan baik apabila segala potensi hambatan dan kendala dalam kegiatan manufaktur dan perdagangan perusahaan MNC tersebut di negara yang terkunjungi tidak terlalu menjadi masalah. Artinya, lokalitas atau negara tersebut dapat menjamin iklim investasi yang baik dan memberikan biaya perijinan, pengangkutan dan biaya-biaya lainnya yang terendah dibandingkan alternatif lokasi-lokasi di tempat lain.
          Diantara negara-negara di dunia, rupanya negara China telah berhasil menarik perhatian pimpinan puncak (CEO) dari perusahaan global dalam menempatkan kapital perusahaan-perusahaan MNC, untuk tujuan perluasan kapasitas pabrik maupun investasi baru.
Negara China memang merupakan komunitas masyarakat yang terbesar penduduknya di dunia, sehingga merupakan target pasar bagi kehadiran FDI tersebut. Tetapi disamping itu negara ini telah memberikan daya tarik tersendiri, yang disebabkan faktor-faktor berikut ini:
1. Laju pertumbuhan ekonomi yang menakjubkan di atas 10%
2. Liberalisasi kebijakan peraturan tentang modal asing. Sektor-sektor ekonomi tertentu seperti transpor udara, peralatan transpor udara, perdagangan eceran, perdagangan ekspor, perbankan, asuransi, akuntansi dan audit, jasa hukum, pertambangan telah dibuka secara bertahap sejak tahun 1990.
3. Memberikan kesempatan perusahaan asing melakukan kegiatan pembangunan prasarana infrastruktur.
4. Kemungkinan FDI membeli asset perusahaan negara yang semakin terbuka.
5. Iklim investasi dan pengurusan perijinan yang mudah, cepat dan murah
6. Undang-Undang penanaman modal asing yang memberikan kelonggaran repatriasi modal maupun laba perusahaan serta jangka waktu perijinan investasi dan hak pengelolaan yang semakin diperpanjang.
          Akibat dari dijalankannya strategi liberalisasi dalam menarik penanaman modal asing ini negara China kemudian mengalami peningkatan yang pesat dalam menerima arus masuk FDI ke Asia. Pada tahun 2005 China berhasil menarik sekitar 22% dari arus masuk FDI ke negara berkembang. Dan memang prestasi ini didukung oleh arus masuk FDI yang meningkat secara luar biasa dari 4,4 milyar dollar AS tahun 1991 mencapai tingkat 60,3 milyar dollar AS tahun 2005. Jika pada tahun 1990 porsi nilai FDI terhadap investasi kotor domestik China masih mencapai sekitar 10%, maka pada tahun 1995 angka ini telah meningkat menjadi 35%. Angka tersebut pada saat ini diperkirakan telah menembus batas 40%.
         Kehadiran FDI secara umum telah memberikan manfaat bagi negara penerima dan mitra bisnis lokal di negara tersebut. Bahkan jika upaya ini disiasati dengan lebih baik dan pintar bukan tidak mungkin kehadiran FDI di Indonesia dapat memberikan manfaat dan dampak positif yang luas.
         Manfaat positif dari peningkatan FDI di berbagai negara berkembang telah dirasakan manfaatnya baik oleh negara, pengusaha dan konsumen dari negara penerima. Berikut ini beberapa pengaruh positif dari kehadiran FDI:
o Menutup defisit neraca traksaksi berjalan secara lebih netral. Artinya dibandingkan dengan pinjaman asing dan portfolio invetsment asing maka FDI banyak terbukti telah menolong penutupan defisit neraca trasaksi berjalan dari negara berkembang dengan baik.
o Memberikan efek multiplier positif pada peningkatan pertumbuhan kegiatan industri pasokan dan industri komponen.
o Memberikan efek multiplier yang tinggi pada penyerapan tenaga kerja trampil (lulusan program pasca sarjana dan sarjana) dan tenaga ahli khusus.
o Mempercepat proses transfer teknologi pada perusahaan mitra lokal dan perusahaan lokal yang terkait.
o Memberikan kesempatan peningkatan kegiatan terkait yang dilakukan oleh perusahaan kecil dan menengah.
o Mengurangi tingkat korupsi karena perusahaan MNC umumnya merupakan perusahaan yang go publik.
Namun demikian kehadiran FDI dan perusahaan MNC dapat juga menyebabkan berbagai potensi kerugian, yang antara lain meliputi:

o Produksi yang berlebihan di satu lokalitas dapat merusak kondisi lingkungan hidup.
o Tekanan politik dan iklim investasi yang tidak menguntungkan dapat mendorong perusahaan MNC melakukan relokasi kegiatannya ke tempat lain.
o Dalam beberapa kasus karena ketidak-siapan sumber daya dan entrepreneur lokal untuk berpartisipasi, kehadiran MNC kurang memberikan efek distribusi yang positif.

FDI di Indonesia
         Kehadiran penanaman modal asing di negara kita bukan merupakan sesuatu yang baru bagi negara dan masyarakat Indonesia. FDI sempat menjadi primadona dalam mitra pembangunan saat negara kita melaju pada tingkat percepatan pertumbuhan ekonomi yang tinggi di atas 7% per tahunnya — saat sebelum krisis perekonomian terjadi. Bersama-sama dengan investasi masyarakat dan PMDN, penanaman modal secara keseluruhan telah tumbuh rata-rata sekitar 10,% per tahun pada periode 1991-1996 dengan kontribusi hampir mencapai 30 % terhadap Produk Domestik Bruto.
          Kinerja penanaman modal yang kurang baik sejak 1996 menyebabkan lambannya proses pemulihan ekonomi negara kita beberapa tahun setelah krisis. Beberapa tantangan yang dihadapi untuk memberdayakan penanaman modal telah juga diakui oleh Pemerintah dalam Laporan buku Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2004-2009. Kendala dan tantangan tersebut antara lain:

1. Persaingan kebijakan investasi yang dilakukan oleh negara pesaing seperti China, Vietnam, Thailand dan Malaysia.
2. Masih rendahnya kepastian hukum, karena berlarutnya RUU Penanaman Modal.
3. Lemahnya insentif investasi.
4. Kualitas SDM yang rendah dan terbatasnya infrastruktur.
5. Tidak adanya kebijakan yang jelas untuk mendorong pengalihan teknologi dari PMA.
6. Masih tingginya biaya ekonomi, karena tingginya kasus korupsi, keamanan dan penyalah gunaan wewenang
7. Meningkatnya nilai tukar riil efektif rupiah.
8. Belum optimalnya pemberian insentif dan fasilitasi.

          Tantangan dan kendala di atas lamban laun mulai dapat diatasi oleh Pemerintah pada beberapa tahun terakhir ini. Pemerintah bertekad dalam program pembangunan yang sedang berjalan untuk mewujudkan iklim investasi yang sehat. Restrukturisasi lembaga pemerintahan segera dilakukan dengan menuntaskan sinkronisasi peraturan antar sektor dan antar pusat dan daerah. Peningkatan efisiensi pelayanan ekspor-impor kepelabuhanan, kepabeanan dan administrasi ekspor-impor telah menjadi prioritas penanganan oleh Instansi Pemerintah terkait. Pemangkasan prosedur perijinanpun telah dilakukan, sekaligus dengan dikeluarkannya berbagai paket insentif investasi pada tahun 2006 ini.
          Upaya yang telah dilakukan Pemerintah ini membuahkan hasil dalam peningkatan kehadiran FDI di Indonesia. Selama kurun waktu tiga tahun terakhir misalnya, realisasi investasi asing di Indonesia secara kumulatif telah mencapai nilai 18,0 miliar dollar AS, atau meningkat sekitar 50 % dibandingkan periode tahun 2000-2003. Bidang investasi menonjol yang yang digeluti oleh perusahaan PMA antara lain kegiatan-kegiatan pada industri logam dan mesin; percetakan; kendaraan bermotor; tekstil; perdagangan dan perkebunan.

Strategi Manajerial Yang perlu Dibangun
          Untuk mendorong lebih lanjut peningkatan investasi penanaman modal di Indonesia, perlu diciptakan iklim investasi dan usaha yang lebih menarik. Tetapi bagaimanakah iklim investasi ini dapat dibangun dan dikembangkan?
         Singkat kata, iklim investasi yang positif dapat ditingkatkan melalui upaya-upaya berkesinambungan yang dilakukan oleh para birokrat dan para pelaku ekonomi di lokalitas-lokalitas tempat investasi dalam hal-hal berikut ini:

1. Memberikan kepastian hukum atas peraturan-peraturan pada tingkat pusat dan daerah serta menghasilkan produk hukum yang berkaitan dengan kegiatan penanaman modal sehingga tidak memberatkan beban tambahan pada biaya produksi usaha.
2. Memelihara keamanan dari potensi gangguan kriminalitas oleh oknum masyarakat terhadap aset-aset berharga perusahaan, terhadap jalur distribusi barang dan gudang serta pada tempat-tempat penyimpanan barang jadi maupun setengah jadi.
3. Memberikan kemudahan yang paling mendasar atas pelayanan yang ditujukan pada para investor, meliputi perijinan investasi, imigrasi, kepabeanan, perpajakan dan pertahanan wilayah.
4. Memberikan secara selektif rangkaian paket insentif investasi yang bersaing.
5. Menjaga kondisi iklim ketenagakerjaan yang menunjang kegiatan usaha secara berkelanjutan.

         Bagi kepentingan para penanam modal asing maka selain iklim investasi tersebut, kehadirannya masih perlu didukung oleh adanya ketentuan-ketentuan dan perlakuan yang tidak diskriminatif, yang diberikan pada para pengusaha lokal atau domestik dalam arena memperebutkan pangsa pasar. Sudah selayaknya jika para pemilik modal asing menginginkan adanya perlindungan dan jaminan investasi atas ancaman terjadinya resiko nasionalisasi dan eksproriasi. Merekapun menginginkan adanya jaminan dalam hak untuk dapat mentransfer laba maupun deviden, dan hak untuk melakukan penyelesaian hukum melalui arbitrase internasional.
         Atas dasar ini dipandang perlu dan sudah merupakan keharusan bagi Indonesia segera meratifikasi RUU Penanaman Modal yang telah terkatung-katung keberadaannya sejak 1995. Rencana Undang-Undang Penanaman Modal ini akan diterima jika Pemerintah Pusat segera melakukan restrukturisasi organisasi lembaga publik dan departemen pada tingkat pusat dan kemudian memberikannya kewenangan yang lebih luas pada Pemerintah Daerah dalam merencanakan dan mengatur rumah tangganya secara lebih leluasa.
          Para pelaku ekonomi di daerah dan aparat birokrasi pemerintahan daerah perlu secara bersama melakukan persiapan-persiapan dalam upaya terprogram meningkatkan kompetensi daerah. Upaya awal yang paling mendasar adalah membangun kesiapan sumber daya manusia yang trampil dan cekatan. Sekolah-sekolah kejuruan industrial, ekonomi, teknologi dan bahasa dapat dibangun secara sinergi antar unsur-unsur pelaku ekonomi yang ada di daerah.
          Berikutnya ketersediaan fasilitas prasarana industri seperti pergudangan, jalur transportasi untuk logistik barang, pelabuhan, terminal serta hub-hub intra moda transportasi, sumber energi, air bersih, saluran irigasi lintas-desa, lembaga-lembaga ekonomi dan finansial pedesaan, serta pos-pos kolektor dan penyimpanan produk-produk hasil pertanian perlu dibangun secara memadai dan berkualitas. Rentetan investasi tersebut perlu ditrigger oleh inisiatif para gubernur dan para bupati dengan mengundang para investor masyarakat lokal.
          Dalam literatur perekonomian daerah jenis penanaman modal yang demikian dimasukkan kedalam kelompok social overhead capital (SOC). Ketersediaan SOC akan memberikan rangsangan pada para investor di luar daerah untuk segera berkunjung dan menetap, karena mereka akan mendapatkan apa yang dinamakan dengan penghematan-penghematan urbanisasi (urbanization economies) dan agglomerasi (agglomeration economies).
         Untuk mengurangi dampak negatif dari kehadiran FDI khususnya di wilayah hinterland, maka Pemerintah Pusat dan Daerah perlu merevisi berbagai ketentuan-ketentuan yang melindungi kepentingan peliharaan kelestarian dan kualitas lingkungan hidup dan lingkungan alam. Perusahaan-perusahaan yang melanggar ketentuan tersebut wajib menggantikan kerugian dengan jumlah penalti yang besarnya cukup untuk memperbaharui kerusakan-kerusakan yang dilakukan.     Bagi para pengusaha lokal dan asing hendaknya perlu semakin sadar dan mulai menyisihkan anggaran yang memadai bagi terselenggaranya kesejahteraan masyarakat di sekitar pabrik dan lokasi usaha. Perhatian akan tanggung jawab sosial merupakan tuntutan bagi terselenggaranya kegiatan usaha yang berkelanjutan. (Copyright@Aditiawan Chandra)

About these ads
  1. Februari 14, 2007 pukul 1:15 am | #1

    BAGUS,KEREN,N BANYAK ILMU YANG BISA DIPEROLEH DARI ARTIKEL BAPAK N KUSUSNYA BUAT MATA KULIAH MANAJEMENT KEUANGAN INTERNASIONAL.
    TAPI GUE LAGI CARI ARTIKEL TENTANG ”’”TRANSAKSI EKSPOSURE BAGI PERUSAHAAN YANG GO INTERNASIONAL””” KO GA ADA YAH…..

  2. cecil wicaksono
    Februari 26, 2007 pukul 5:15 pm | #2

    Keren……..
    briliant.
    two thumbs up om!!!
    whats ur secret success ways?

  3. zoul “Akbar”
    Maret 14, 2007 pukul 1:02 pm | #3

    Wah om…..emang bagus sich diatas kertas, tapi gimana dengan gubernur – gubernur….apalagi ditambah dengan otonomi daerah… saya rasa kita masih harus membenahkan mengenai otonomi daerah yang menurut saya sekarang ini Indonesia sama seperti zaman majapahit… dimana setiap masuk daerah dikenai pajak daerah ditambah dengan pajak gubernur karo konco – koncone. pertanyaan saya seberapa jauh penanganan hak – hak PMA ini dilindungi oleh peraturan RUU Penanaman Modal sejak tahun 1995? Karena itu RUU sudah ada sejak tahun 1995 dimana otonomi belum berjalan….

  4. Maret 14, 2007 pukul 10:09 pm | #4

    terima kasih untuk semua perhatiannya. Artikelyg dimaksud yuken belum sempat sy tulis. Mengenai RUU penanaman modal memang ada sudah sejak tahun 1994. Saat itu pimpinan orde baru belum berkenan untuk mengajukannya ke DPR. Kemudian baru kemarin ini diajukan, tetapi para wakil fraksi daerah masih keberatan.. Mungkin ada agenda yg mereka akan buat… dimana dengan pengesahan RUU tersbut mereka jadi kesulitan. Mental dan budaya para pimpinan dan anggota legislatif di daerah mungkin perlu ditatar dulu yha pak zoul.

  5. berman
    Maret 30, 2007 pukul 12:33 pm | #5

    salam pak adit,
    saya coba memfokuskan pada kendala dan tantangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2004-2009 (kebijakan investasi, RUU Penanaman Modal, insentif investasi, SDM, biaya ekonomi, teknologi, nilai tukar riil efektif rupiah, etc), bahwa semuanya merupakan tugas pemerintah. Mungkin ada 1 hal yang merupakan tugas dari bank sentral yaitu Nilai Tukar Riil Efektif Rupiah.
    Menurut pak adit, seberapa besar pengaruh nilai tukar rupiah terhadap FDI, dan pada nilai tukar rupiah berapa yang mampu meningkatkan FDI di Indonesia (Asumsi APBN 2007 US$ 1 = Rp. 9.300).
    Kemudian faktor-faktor apakah (eksternal & internal) yang mungkin mempengaruhi nilai tukar rupiah selama tahun 2007.
    Atas penjelasannya, saya ucapkan banyak terima kasih.

    best regards,

  6. April 1, 2007 pukul 6:56 pm | #6

    Sebenarnya tinggi rendahnya nilai tukar ini tidak begitu berpengaruh pada FDI. Yang penting bagi investor asing di sektor riil adalah stabilitas nilai tukarnya, Artinya jangan kaya jet coster bentar2 naik bentar2 turun. Apalagi perusahaan FDI kan bisa punya rekening dimana2.
    Nilai tukar 2007 akan terpengaruh oleh kinerja ekspor dan perubahan2 kewajiban pemerintah Indonesia dengan luar negeri. dalam jangka penek dipengaruhi oleh perubahan permintaan atas valuta asing oleh para pelaku ekonomi. moga2 berkenan ya pak bergman….thanks.

  7. Oktober 25, 2007 pukul 4:22 pm | #7

    datel laaaaaaaaaaaaaaah!rak mudeng………….

  8. Oktober 25, 2007 pukul 4:25 pm | #8

    teksnya kepanjangan dan saya kira pemodal asing tidak boleh masuk karena bisa menjadi batu sandungan bagi pemodal lokal

  9. Oktober 31, 2007 pukul 9:11 am | #9

    terima kasih pak paejo. masalah menarik investor asing ini tidak semudah seperti yang diperkirakan. tentunya ada aspek positif dan negatifnya. bagi kepentingan perekonomian makro kita akan mempertimbangkan aspek manfaat keseluruhan (net benefit. Tidak semua pemodal lokal akan tersandung. salam.

  10. candra
    November 26, 2007 pukul 6:21 pm | #10

    Yth Pak Adit, menurut saya, sebenarnya solusi dari semua ketidakberesan yang ada di Indonesia, korupsi, pungutan2, dan faktor2 penghambat ekonomi adalah UU PERS yang tidak segera disetujui oleh DPR, kekuatan media publikasi dalam mengontrol perilaku pejabat yang ga bener sangat terbukti di negara2 maju, pers mampu mengontrol integritas pejabat publik yang sudah menjabat maupun calon pejabat. Dan ini sangat disadari oleh para penguasa di masa lalu, buktinya televisi swasta baru ada tahun 1989 (RCTI), sedangkan di negara lain sudah lumrah sejak tahun 70-an akhir…dan tahun2 berikutnya baru ada beberapa tv swasta. Sampai sekarang meski banyak muncul tv swasta…tapi kita tahu semua tv swasta itu milik siapa, sehingga content dari materi penyiaran bisa dikontrol melalui redaktur masing2 media yang dipilih owner dari media itu…kekritisan warga negara dihambat, people power dicegah. terimakasih dan mohon tanggapannya

  11. surya fortunawan
    November 30, 2007 pukul 1:15 pm | #11

    bisakah saya memperoleh data PMA(FDI)dari tahun 1970 – 2006, atas perhatian dan kerja samanya saya ucapkan terima kasih.

  12. Hari
    Januari 10, 2008 pukul 10:55 am | #12

    bisakah anda memperlihatkan PMA (Penanaman Modal Asing) di setiap daerah Indonesia khususnya daerah Kalimantan. Atas perhatiannya terima kasih saya ucapkan

  13. hendra
    Februari 24, 2008 pukul 5:56 pm | #13

    tulisan yang sangat menarik pak..
    bagaimana pendapat bapak bila PMA dibandingkan dengan PMDN,dan PMA dengan utang luar negeri dalam kaitannya dengan investasi di Indonesia..
    terima kasih…

  14. tie
    Maret 4, 2008 pukul 7:34 pm | #14

    pak mohon bantuannya saya sekarang sedang menyusun skripsi mengenai penanaman modal asing… litertur/buku2 penunjangnya dari buku apa aja? terimakih atas bantuannya.

  15. wahyu
    April 12, 2008 pukul 9:24 am | #15

    yth pak adit menurut bapak apakah tingkat ekspor suatu negara berpengaruh terhadap masuknya fdi ke negara tersebut?terima kasih sebelumnya.

  16. DwI CiPtA
    Mei 20, 2008 pukul 4:28 pm | #16

    ba9us KeYeN S9D. . .
    ThX yIaHhHh. . .

  17. Eka Mardyanti
    Agustus 21, 2008 pukul 10:28 am | #17

    artikel Pak Adit bagus-bagus semua dan benar-benar membuka mata saya mengenai makroekonomi..banyak ilmu yang telah saya dapatkan dari Pak Adit.. baik dalam perkuliahan di MMUI pada pelajaran makro ekonomi maupun dari artikel-artikel Pak Adit..

    Sukses trus yah Pak..

  18. ndaru wahyu
    September 10, 2008 pukul 4:51 pm | #18

    om,saya mahasiswa yang lagi ngejain tugas jurnal tentang “kontribusi penanaman modal asing dan utang luar negeri di INDONESIA”
    om bisa bantu saya.
    terima kasih sebelumnya.

  19. Siska
    Oktober 6, 2008 pukul 10:35 am | #19

    memang PMA ada positif negatifnya. tapi yg paling buruk, bukan hanya sandungan para pemodal lokal, tapi adanya intervensi asing yg sgt berkepentingan di Negari kita

Komentar ditutup.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 27 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: