Beranda > Development Strategy, Macro Economy > Pengendalian Perekonomian Makro Melalui Manajemen Ekspektasi Masyarakat

Pengendalian Perekonomian Makro Melalui Manajemen Ekspektasi Masyarakat

Dimuat pada Rubrik “Opini”  surat kabar harian Kompas 2006

         Dalam bulan terakhir perekonomian Indonesia mengalami  goncangan akibat kenaikan harga minyak bumi di pasar internasional  Pemerintah dengan berbagai upaya melakukan manuver kebijakan publik agar perekonomian kembali ke tingkat yang normal.  Manuver kebijakan yang seharusnya dapat dikelola dengan  baik menjadi terkesan lamban penanganannya, dan  dapat dilihat dengan sarat mata oleh masyarakat.  Akibatnya ketidakpastianpun timbul dan proses penyesuaian ke depan akan meminta ongkos yang lebih tinggi.

          Signal mulai terganggunya sistem perekonomian kita tercium saat Pertamina, sebagai satu-satunya otoritas  yang memanaje pasokan bahan bakar bagi kebutuhan mesin perekonomian kita sedang mengalami kesulitan. Hal ini terjadi akibat mismatch dalam manajemen  cash flow internal jangka pendek perusahaan.

         Lonjakan harga minyak bumi terjadi pada  pertengahan tahun 2005 akibat peningkatan permintaan negara industri atas satu-satunya komoditi  global yang stratejik ini.  Kenaikan harga ini dipicu oleh proyeksi ekonomi negara industri yang meningkat .  Sementara dari sisi supply mengalami ketidakpastian pasokan karena alasan politik dan teknikal.

         Perekonomian kita memang vulnerabled terhadap goncangan harga minyak bumi.  Pada saat pasar  mengkoreksi mencari tingkat keseimbangan baru yang sementara, seyogyanya Pertamina, Pemerintah dan Bank Sentral secara antisipatif segera menyiapkan jurus-jurus manajemen stratejik untuk menangani nya.  Mungkin para pengelola kebijakan perekonomian pada saat itu masih adem ayem dengan proyeksi tingkat kenaikan yang biasa, sehingga wajar tidak akan menganggu asumsi agregat perekonomian yang dianut.  Apalagi ancaman perang di Timur Tengah atau sabotase dari negara tertentu terhadap logistik tak terjadi.  Tetapi kenyataan yang timbul adalah sebaliknya, dimana harga minyak bumi meroket dan memberikan dampak negatif pada perekonomian kita. 

          Secara analisis makro, skenario dampak kenaikan harga minyak bumi dalam periode jangka sangat pendek tentunya akan memukul RAPBN dan neraca perdagangan Indonesia.  Jika Pemerintah saat itu sukses dalam menangani masalah ini, maka stabilitas perekonomian akan diraih.  Tetapi kelambatan dalam menanganinya secara ekonomis pada gilirannya akan menghasilkan tingginya beban subsidi, naiknya kewajiban pembayaran hutang dan merosotnya cadangan devisa akibat jatuhnya nilai mata uang. Pengelolaan dampak kenaikan harga minyak “di luar kebiasaan”  harus ditangani secara cepat dengan memberikan signal-signal perubahan kebijakan yang pasti.  Itulah yang diharapkan oleh para pelaku ekonomi pasar modern pasca era zaman digitalisasi.

           

         Otoritas Pemerintah terkesan agak lamban mengantisipasi dampak kenaikan harga minyak bumi.  Kurang cepatnya Pertamina menangani masalah internal sempat membuat BBM kosong dibeberapa wilayah.  Ditambah lagi dengan matinya aliran listrik di daerah perkotaan se Jawa selama beberapa hari, telah membuat keraguan para pemilik modal dan mendorong mereka mengamankan asset-asset keuangannya.  Kemudian dengan berlarut-larutnya Pemerintah memberikan signal perubahan harga dan segera menyesuaikan patokan harga BBM di dalam negeri — mendorong lebih lanjut  upaya pelarian dana nasional ke luar negeri.

 

         Terjadilah setelah itu proses capital outflow, dan  ini segera menekan secara negatif  posisi cadangan devisa kita. Tidak heran jika kemudian nilai mata uang Republik terdepresiasi di dua bulan terakhir. Pada periode jangka menengah pelemahan rupiah membawa implikasi dalam proses penggerogotan daya beli masyarakat khususnya jika tingkat kesimbangan baru nilai tukar rupiah tetap bertengger di atas Rp 10.000 per dollar Amerika. .

           

         Efek berikut yang dihadapi dari perkembangan ini adalah goncangnya pasar produk reksadana.    Para pemilik reksadana pendapatan tetap, dan sebagian reksadana saham mulai menanggung beban langsung dari dampak  kebijakan pengendalian moneter, karena tingkat bunga terpaksa dikerek keatas. Kepanikanpun terjadi karena jatuhnya nilai aktiva bersih investasi reksadana dengan proses redemption di beberapa perusahaan pengelola reksadana. 

         Lagi-lagi kelambanan otoritas moneter dalam memberikan signal pada boleh  tidaknya para pengelola reksadana untuk menangani mismatch keuangan internal mereka, mendorong  para pemilik modal panik dan kemudian menarik investasi jangka panjang mereka.  Hal ini patut disayangkan pada saat  sistem  perekonomian kita sedang dalam proses financial deepening dan perluasan  portofolio assets investasi jangka menengah. Indonesia beberapa tahun ke depan akan sangat dibantu oleh ketersediaan sumber-sumber pendanaan jangka panjang seperti reksadana, saham dan obligasi.

Pelajaran apakah yang kita peroleh dari kejadian ini? 

          Pertama, manajemen perekonomian  makro  pada era digitalisasi sekarang ini  tingkat keberhasilannya akan sangat tergantung pada sejauh mana Pemerintah telah memberikan signal-signal yang positip dan akan melakukan tindakan penyesuaian yang dibutuhkan oleh pasar dengan cepat dan tepat.

         Kedua, dalam memanaje ekpektasi masyarakat   Pemerintah seyogyanya dapat  merapatkan barisan dan jangan terkesan sedang melakukan arena perlombaan dalam memberikan penjelasan kepada publik.  Dalam hal ini cukup ditunjuk pejabat yang kompeten  yang akan menjadi jurubicara negara dalam masalah-masalah perekonomian.

         Ketiga, pada saat kita dihadapkan pada tekanan akibat  pengaruh  terpaan badai faktor eksternal yang dominan, maka perlu segera dibentuk tim adhoc kepemerintahan yang dapat menerapkan manajemen krisis secara cepat.  Pada saat itu perhitungan teknikal yang rumit segera perlu digantikan dengan analisis skenario yang stratejik.

         Keempat, saat  terjadi gejolak lingkungan eksternal otoritas moneter maupun unit pemerintahan seringkali terjebak dengan keperluan mengeluarkan obat kebijakan yang mematikan. Yang diperlukan padahal  sekedar pemberian vitamin dengan melakukan sedikit perubahan peraturan pelaksanaan.  Masyarakat boleh panik, tetapi pemerintah perlu menghadapi persoalannya dengan kepala dingin melalui tindakan nyata.

         Terakhir masyarakat perlu memahami  bahwa lonjakan harga minyak bumi atau komoditi internasional, dan perubahan tingkat bunga memiliki batas ambang atasnya.  Dalam tempo beberapa bulan biasanya dia akan turun mengikuti hukum supply-demand.  Jadi publik tidak perlu panik dengan proses redemption  reksadana dan melakukan pelarian modal (capital flight).  Ketidak pastian perlu ditangani secara bijaksana. (copyright@aditiawan chandra)

  1. Februari 12, 2008 pukul 10:25 am

    jadi, benernya untung apa rugi toh???

    apa kita-nya yang masih kurang pinter ejeh??

    Suka

  2. April 24, 2007 pukul 11:37 pm

    menurut data perkembangan cadangan devisa yang dilaporkan BI, dari Jan ke Feb 2007 ada penambahan cadangan devisa sebesar $2,4 milyar. Nah jika kita amati profil bulan februari, sekitar 62% berasal dari surat berharga (seperti ORI) dan sekita 34% berasal dari valuta asing. Artinya kemungkinan besar penambahan cadangan tadi dipicu oleh peningkatan jumlah transaksi ORI dan masuknya devisa dari neraca luar negeri Indonesia.
    Dalam kasus ini, telah terjadi peningkatan devisa masuk dari peningkatan hutang swasta di tanah air yang berasal dari luar negeri. Ini merupakan sesuatu yang perlu dimonitor dengan hati2…karena memiliki dampak jangka panjang yang negatif jika kurs kita melemah. Tapi dalam jangka pendek ini signal meninngkatnya ekspektasi produsen di tanah air.

    Suka

  3. April 23, 2007 pukul 8:19 pm

    Bulan kemarin cadangan devisa naik sebesar $2 Milyar, namun tidak satu pun pejelasan yg memuaskan. Di kompas menyebutkan bahwa akibat keuntungan menempakan di euro, koran lain bilang karena ekpor migas…. barang kali bisa kasih penjelasan. Karena jika krn untung valas krn porfolio nya ada sebagian (taro lah 50%) di euro, gak akan sampai naik $500 juta keuntungannya… sedangkan jika karena migas, kayanya ekspor kita stabil beberapa bulan ini… tidak ada lonjakan yg signifikan…. apakah krn ada dana panas yg selama ini disimpan di LN? How knows…

    Suka

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: