Beranda > Ekonomi Mikro, Taktik Manajemen > Kesiapan Industri Produk Plastik Indonesia Dalam Menghadapi Era Globalisasi

Kesiapan Industri Produk Plastik Indonesia Dalam Menghadapi Era Globalisasi

Oktober 15, 2006

Makalah disampaikan pada Seminar BKPM-Sucofindo, 1994. 

          Industri produk plastik di Indonesia, khususnya produk barang plastik, elektronika dan peralatan listrik telah berkembang dengan pesat pada kurun waktu lima tahun terakhir. 

          Perkembangan yang demikian pesat ini telah mendorong peningkatan impor bahan baku plastik dan produksi substitusi impor sejak tahun 1995. Produk-produk bahan baku plastik yang telah dihasilkan di Indonesia selain produk polymer berupa PVC, Polystyrene, Polyethylene dan Polypropylene, juga telah dihasilkan produk Copolymer seperti Acrylonitrile Butadiene Styrene/ABS dan Styrene Acrylonitrile. Produk industri yang terakhir merupakan bahan baku untuk industri elektronika.

          Kehadiran produk-produk hulu bahan baku plastik tersebut di Indonesia diharapkan dapat memperkuat posisi daya saing industri produk plastik di dalam negeri menyongsong era liberali sasi perdagangan di kawasan Asia Tenggara pada tahun 2003. Dalam hal ini sinergi antar pemasok dan pengguna bahan baku plastik sangat diperlukan untuk memenangkan persaingan. 

Perkembangan Industri Produk Plastik

Industri produk plastik maupun produk dengan bahan baku plastik di Indonesia telah meningkat pesat baik pada skala regional maupun nasional. Pada skala regional, perdagangan produk plastik dan barang kimia organik telah berkembang dengan pesat. Perkembangan ekspor produk industri ke negara matahari terbit Jepang meningkat  pesat.  Hal serupa dialami pada ekspor ke pasar Amerika Serikat, Jerman dan negara-negara Eropah lainnya.  Total ekspor petroleum products tahun 1995 mencapai 7,95 milyar dollar AS; dan 4,55 milyar dollar AS untuk barang kimia organik, dan 3.07 milyar dollar AS untuk produk plastik pada tahun yang sama. Terlihat dari kasus tiga negara utama di dunia, terdapatnya kecenderungan meningkatnya perdagangan produk plastik antar negara disekitar wilayah regionalnya masing-masing. Dari gambaran ketiga kasus tersebut, dapat disimpulkan telah dan akan berkembangnya gejala globalisasi perdagangan industri produk plastik antar kawasan di Asia Pasifik dan Asia Tenggara serta kawasan Eropah. Kecenderungan mengglobalnya perdagangan serta lokasi produksi produk tersebut tentunya akan menuntut lebih lanjut agar produsen beroperasi secara lebih efisien. Dengan penurunan tingkat proteksi di masa yang akan datang, masing-masing industri di kawasan harus berlomba menjadi produsen yang unggul dengan spesifikasi produk yang handal.  Pada skala nasional  industri produk plastik berkembang dengan menyakinkan sebagaimana ditunjukkan oleh perkembangan ekspor beberapa jenis produk plastik dan pengguna plastik sejak tahun 1990.  Rata-rata perkembangan barang dari plastik bertumbuh pada tingkat 46,3% selama periode 1990-1995, barang alat listrik 34,0% dan barang elektronika 81,6% pada periode yang sama. Peningkatan tajam dari ekspor produk dan pengguna plastik ini dialami oleh produk barang-barang elektronika, khususnya yang banyak menggunakan komponen bahan baku plastik seperti radio video cassete recorder dan komputer.

 Dengan meningkatnya daya beli konsumen khususnya masyarakat Indonesia di daerah perkotaan maka prospek perkembangan industri produk plastik akan semakin cerah.  Sedangkan ditinjau secara nasional, perkembangan produk plastik dapat dilihat dariperkembangan produksinya yang dilaporkan oleh Departemen Perindustrian.  Jenis produksi produk plastik yang memiliki tingkat kapasitas terpasang dan produksi yang besar antara lain: pipa PVC, alat suntik, kantong palstik, komputer, air conditioner, integrated circuit, mesin cuci, rice cooker kabel telpon dan kabel listrik. Perkembangan selama lima tahun menunjukkan peningkatan yang pesat dalam produksi pipa PVC, kantong plastik, televisi, radio, integrated circuit, mesin cuci dan kabel. Perkembangan yang prospektif ini secara langsung mempengaruhi penggunaan bahan baku industri plastik di dalam negeri maupun laju kenaikan impor bahan baku tersebut dari negara-negara lain di dunia. 

Sejak beberapa tahun terakhir, Pemerintah telah mendorong pendalaman struktur industri kimia, khususnya industri petro chemicals yang memprodusir bahan baku plastik. Melalui berbagai kemudahan pembebasan tarif bea masuk, industri hulu petro chemical dirangsang untuk berkembang di dalam negeri, sehingga Indonesia diharapkan dapat memiliki keunggulan dalam produk-produk yang menggunakan komponen bahan baku tersebut.

 Struktur Pasar Bahan Baku Plastik

 Bahan baku plastik yang utama, yaitu polyethylene (PE), polypropylene (PP), polystyrene (PS), dan polyvinyl chloride (PVC resin) sudah dapat diproduksi di Indonesia. Polyethylene (PE) hingga saat ini diproduksi oleh PT Petrokimia Nusantara Interindo (PEN), dan PT Chandra Asri Petro chemical Center. Petrokimia Nusantara Interindo merupakan pabrik polyethylene pertama di Indonesia yang sudah beroperasi pada tahun 1993. Proyeknya berkapasitas produksi 400.000 ton pertahun berlokasi di Cilegon, Jawa Barat. Perusahaan tersebut sudah beroperasi sejak tahun 1993 dengan kapasitas produksi sebesar 200.000 ton per tahun, dan pada tahun 1995 kapasitas nya ditingkatkan menjadi 400.000 ton per tahun.  Perusahaan lainnya yang memproduksi polyethylene adalah PT Chandra Asri Petrochemical Center, merupakan satu project olefin terpadu. Proyek olefin center PT Chandra Asri berlokasi di Cilegon, Jawa Barat memiliki kapasitas produksi polyethylene 500.000 ton per tahun. PT Chandra Asri selain memproduksi polyethylene juga menghasilkan ethylene sebesar 663.000 ton sebagai bahan baku polyethylene, propylene 297.000 ton, dan polypropylene 100.000 ton per tahun.

Berkaitan dengan beroperasinya pabrik polyethylene PT Chandra Asri Petrochemical Center, maka kapasitas produksi polyethylene Indonesia pada tahun 1995 mencapai 900.000 ton per tahun. Polypropylene (PP) hingga saat ini diproduksi tiga pabrik yaitu PN Pertamina, PT Tripolyta Indonesia, dan PT Chandra Asri Petrochemical Center.

PN Pertamina pabriknya berlokasi di Plaju, merupakan pabrik polypropylene pertama dengan kapasitas produksi 10.000 ton per tahun. Perusahaan polypropylene lainnya adalah PT Tripolyta Indonesia, memiliki kapasitas produksi 390.000 ton per tahun. Pabriknya yang berlokasi di Serang, mulai berproduksi pada pertengahan tahun 1992 lalu. Polypropylene juga diproduksi oleh PT Chandra Asri Petrochemical Center, dengan kapasitas produksi 100.000 ton per tahun.

Dengan beroperasinya ketiga pabrik tersebut maka total kapasitas produksi polypropylene Indonesia menjadi 500.000 ton per tahun. Polystyrene diproduksi oleh dua perusahaan yaitu, PT Polychem Lindo Inc, PT Pasific Indomas Plastik, dan PT Royal Chemical. Perusahaan mulai berproduksi pada tahun 1985 dan memiliki kapasitas produksi 21.500 ton per tahun, yang terdiri dari jenis high impact polystyrene (HIPS), general purpose polystyrene (GPPS), dan expandable polystyrene (EPS). Sedangkan PT Pacific Indomas Plastic Indonesia, mulai beroperasi pada tahun 1993 berlokasi di Merak, memiliki kapasitas produksi 30.000 ton per tahun. Bahan baku plastik PVC resin Indonesia, hingga saat ini diproduksi oleh empat perusahaan yaitu PT Esten Polymer, PT Asahimas Subentra, PT Standard Toyo Polymer, dan PT Impack Pratama Ind.

Perusahaan PVC resin yang memiliki kapasitas terbesar adalah PT Asahimas Subentra Chemical yaitu sebesar 140.000 ton per tahun, perusahaan ini juga memproduksi sendiri bahan bakunya yaitu vynil chloride monomer (VCM). Sementara itu PT Standar Toyo Polymer yang pabriknya di Merak, berkapasitas 82.000 ton per tahun. Dengan beroperasinya pabrik PVC resin tersebut di atas, maka total kapasitas produksi yang ada saat ini sebesar 264.000 ton per tahun. 

Produksi Bahan Baku Plastik Domestik

 Produksi bahan baku plastik di dalam negeri cenderung meningkat sejalan dengan berkembang nya industri pemakainya, terutama industri barang plastik, industri elektronika dan peralatan listrik. Menurut Departemen Perindustrian dan Perdagangan, produksi polypropylene menunjukan kenaikan 50%, polythylene 79,8%, polystyrene 43,9%, dan PVC resin 13,7% setiap tahun. Pada tahun 1992 produksi polypropylene melonjak menjadi 133.000 ton, dan PT Tri Polyta mulai beroperasi pada tahun 1995.  Produksi polyethylene pertama kali diproduksi oleh PT Petrokimia Nusantara Interindo (PENI) pada tahun 1993 lalu. Produksi polythylene pertama pada tahun 1993 itu sebesar 91.000 ton dan kini telah meningkat menjadi 280.000 pada tahun 1995. Produksi polystyrene Indonesia juga terus meningkat, meski salah satu pabrik menghentikan produksinya, yaitu PT Bentala Agung Pradana. Produksi polystyrene pada tahun 1995 mencapai 85.300 ton atau mengalami peningkatan 63% dibandingkan tahun sebelumnya.  Produksi PVC resin Indonesia juga terus meningkat. Pada tahun 1990 produksinya tercatat sebanyak 161.902 ton kemudian meningkat menjadi 290.274 ton pada tahun 1995. Dalam lima tahun terakhir produksinya meningkat rata-rata sekitar 16,7% setiap tahunnya. 

Impor Bahan Baku Plastik   Impor bahan baku plastik di Indonesia masih cukup tinggi walaupun produksi polypropylene dan polyethylene di dalam negeri sudah beroperasi. Padahal pada saat ini, bea masuk bahan
baku plastik polypropylene sudah sebesar 40%, masing-masing bea masuknya 20% dan bea masuk tambahnya 20%. Kemudian bea masuk polyethylene yang berlaku saat ini 25%, terdiri dari bea masuk sebesar 5% dan bea masuk tambahan sebesar 20%.

Untuk polystyrene yang berlaku adalah sebesar 30% dan bea masuk PVC adalah sebesar 25%.  Pemasok terbesar polypropylene tahun 1995 adalah negara Korea Selatan (36,5%), Jepang (27,0%), dan Saudi Arabia (14,9)%. Urutan ranking kontribusi pasokan ini banyak dipengaruhi oleh tingkat harga rata-rata yang ditawarkan oleh masing-masing produsen di negara tersebut, dimana produsen dari Korea dapat menawarkan harga yang paling murah, disusul oleh Jepang dan Saudi Arabia. Disamping negara tersebut masih ada negara Singapura, Bahrain dan Malaysia yang memasok pada jumlah yang cukup berarti. Jumlah impor polypropylene sejak tahun  1994 cenderung meningkat tahun 1995, yaitu melalui prosedur impor biasa. Tetapi pada tahun 1996 kembali menurun (39,6%; 85,4%; 61,5%) dan lebih banyak yang melalui prosedur menggunakan fasilitas masterlist. Sedangkan untuk polyethylene kecenderungan memakai prosedur masterlist terus meningkat selama kurun waktu 1994-1996 (81,3%; 62,1% dan 44,3%).  Volume ekspor kedua bahan baku tersebut keluar negeri cukup kecil karena telah menjadi prioritas Pemerintah untuk mendahulukan kepentingan perusahaan di dalam negeri. Memperhatikan pada gambaran pasokan dan kebutuhan bahan baku plastik ini dapat disimpulkan bahwa kondisi kebutuhan masih ada diatas pasokan produksi dari produsen di dalam negeri. 

 Prospek dan Tantangan

Prospek industri produk plastik dan bahan baku plastik masih tetap cerah dalam beberapa tahun ke depan, sejalan dengan peningkatan tingkat kesejahteraan masyarakat dan pengembangan industri rumah tangga yang memakai produk barang plastik. Faktor lain yang mendukung adalah masih sangat rendahnya konsumsi per kapita, seperti untuk produk polypropylene di Malaysia sudah di atas 2 kg, Jepang sekitar 14 kg dan Taiwan 20 kg per tahunnya. Demikian pula perkembangan perlengkapan kantor dan industri otomotif nasional akan semakin membuka prospek yang baik di masa depan.  Tantangan yang dihadapi oleh para produsen di dalam negeri menyongsong era globalisasi adalah meningkatnya persaingan di dalam negeri dan di pasar global. Dalam kancah persaingan ini ciri-ciri para pemasok di pasar global dalam kurun waktu beberapa tahun kedapan adalah : (a)    Jumlah pemasok semakin beragam dari jumlah negara yang semakin bertambah.(b)    Produk bahanbaku plastik semakin beragam dengan standar kualitas yang semakin spesifik. Sebagai contoh polyethylene (PE) saja dibagi menjadi :  Þ     PE dengan gravitas kurang dari 0,94, rendah (3901100020)Þ     PE dengan gravitas kurang dari 0,94, tinggi (3901100030)Þ     PE dengan gravitas 0,94 atau lebih (3901200000)Þ     PE Terephthalate, bottle grade resin (3907600010)Þ     PE Terephthalate, Nesoi (3907600050) Ciri-ciri yang demikian beragam tentunya akan membawa implikasi terhadap produsen untuk selalu menjaga mutu produknya sesuai dengan spesifikasi standard mutu internasional yang telah ditetapkan. 

Menyongsong era globalisasi, lokasi daripada para pemasok akan menentukan posisi strategis bersaing yang unggul. Program pendalaman struktur industri bahan-bahan plastik yang semakin mengarah ke hulu perlu di optimalkan keterkaitannya, baik dengan industri antara maupun industri hilir. Negosiasi dan peningkatan kerjasama harus sudah dimantapkan sebelum era liberalisasi perdagangan dan investasi tahun 2003 menghadang kita. Dimasa depan perlu juga dipikirkan bahwa begitu proses substitusi impor bahan baku plastik selesai dilaksanakan dan keperluan pasar domestik dapat dipenuhi oleh produksi lokal, maka industri produk plastik yang profesional, lebih handal dan terspesialisasi yang akan tetap langgeng dalam persaingan. Dalam hal ini tehnologi, komitmen terhadap R & D dan kerjasama yang erat dan saling menguntungkan dengan pihak pemasok merupakan kunci sukses di era persaingan abad ke 21.(copyright@aditiawanchandra)

About these ads
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 27 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: