Beranda > BBM, Ekonomi Makro, Inflasi > Dampak Yang Menyakitkan dari Keputusan Kenaikkan Harga BBM 24 Mei 2008

Dampak Yang Menyakitkan dari Keputusan Kenaikkan Harga BBM 24 Mei 2008


Tepat pada pagi hari ini kita berkabung dengan keputusan Pemerintah Indonesia yang pada akhirnya menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi, rata-rata sebesar 28,7%. Kita berbela sungkawa karena dampak luarbiasa yang akan terjadi beberapa bulan ke depan dalam penurunan kondisi kehidupan kelompok masyarakat berpendapatan rendah. Mereka ini merupakan kelompok yang bukan saja termasuk masyarakat penerima BLT tetapi juga meliputi sekitar 40% warga masyarakat berpendapatan rendah di seluruh penjuru tanah air.

Dampak kenaikkan harga BBM sudah pasti akan menyusahkan rakyat berpendapatan rendah. Dampak multiplier negatif tahap pertama segera terjadi dengan resminya Pemerintah menambah tarif minyak tanah Rp 500 per liternya dan tarif angkutan umum rakyat miskin 15% efektif satu minggu ke depan. Bagi kepentingan kelompok berpendapatan rendah yang masih mencicil kredit kendaraan roda duanya, bersiap-siaplah mengurangi kepergiannya karena setiap kilometer perjalanan perlu memperhitungkan dampak kenaikkan harga premium sebesar Rp.1500 per liternya di seluruh SBPU di tanah air. Beberapa organisasi pimpinan bisnis dan lembaga risetpun sudah mencanangkan akan terjadinya malapetaka konsumen. Contohnya, harga produk-produk makanan dan minuman diperkirakan akan naik rata-rata 3-5%, menurut perhitungan matematis Jasa Ritel AC Nilsen. Demikian juga produk-produk yang menggunakan komponen energi dalam proses produksinya, maka harga jualnya produknya akan naik 5-10%, sebagaimana diutarakan oleh Bapak Rachmat Gobel.

Dampak multiplier negatif tahap kedua diperkirakan akan terjadi akibat kenaikkan tarif daya listrik PLN yang paling cepat segera akan disesuaikan beberapa bulan ke depan. Demikian juga sebagian besar Pemerintah Kota Kabupaten segera akan meningkatkan tingkat upah minimum regionalnya, mengatasi kenaikan inflasi di wilayahnya masing-masing. Pengaruh dari dua kebijakan sentral ini adalah akan memukul langsung kinerja pemanfaatan kapasitas produksi sektor manufaktur di Indonesia. Para pengusaha di sektor kegiatan ekonomi tersebut tentunya akan mengurangi jumlah jam kerja para pekerja berpendapatan rendah, bahkan sekarang terbuka celah untuk juga melakukan pemutusan kontrak hubungan kerja. Jika ini terjadi, akibatnya malapetaka bagi kepentingan para rumahtangga berpendapatan rendah karena tertimpa jatuhnya anak tangga dua kali.

Dampak multiplier negatif tahap lebih berikutnya yang akan segera tiba karena kenaikkan harga-harga sebagian besar kebutuhan pokok dan belanja penting lainnya, karena ramalan Pemerintah akan adanya inflasi di atas 12% setelah bulan September 2008. Tingkat inflasi nyata tentunya akan lebih tinggi lagi mengingat akan tibanya bulan Ramadhan dan Hari Raya Islam. Jika Pemerintah tetap akan mempertahankan target inflasi “moderate” pada akhir tahun, bukan tidak mungkin tingkat bunga akan dikatrol naik, Sehingga jika ini terjadi maka resiko kegagalan penanganan perekonomian nasional akan terbuka lebar, dengan kemungkinan naiknya berbagai peristiwa masal gagal bayar kredit rumah murah, kredit motor, kredit modal kerja UKM dan pinjaman-pinjaman rakyat miskin dari para pemilik kapital di sektor informal.

Dengan berbagai pengaruh dampak multiplier negatif diatas, apakah bantuan langsung dan kegiatan sosial yang bersifat “ membagi-bagi permen” akan cukup berarti dalam meringankan beban masyarakat berpendapatan rendah?.

Andaikata saja sekarang dilakukan riset survey jajak pendapat masyarakat berpendapatan rendah atas kebijakan Pemerintah dalam menanggulangi dampak negatif ini, sudah dapat dipastikan jawabannya akan mengatakan tidak efektif. Hal ini mengingat juga bahwa setahun dari saat ini, dimana keberadaan para pembuat keputusan kebijakan nasional 24 Mei 2008 belum tentu akan berada dalam posisi jabatannya sekarang, bantuan tersebut akan diberhentikan. Kemudian yang tersisa adalah rakyat yang berpendapatan rendah dengan kondisi keterpurukan….. sementara mereka pada tahun 2009 akan diminta suaranya untuk segera memilih para pemburu jabatan tinggi legislatif di DPR, MPR dan jabatan-jabatan strategis di Pemerintahan, yang belum tentu akan memikirkan kepentingan rakyat miskin!!!!

Memang ironis kondisi perpolitikan dan strategi politik ekonomi di negara kita.
(copyrights@aditiawanchandra)

About these ads
  1. isaythatGOVERNDAMN
    Mei 26, 2008 pukul 11:40 am

    tau ga ne negara(indonesia) tu sangat tekenal banget!!
    terkenal dgn KEMISKINAN nya.
    termasuk saya.
    tiba2 ada kabar miris yg ampir bikin saya mendadak setep.
    KENAIKKAN-BBM.
    apa ini udah jadi suatu tradisi(kenaikkan nya)?
    kalo bgtu kapan adanya Re-Tradition TuK sekali2 NURUNIN HARGA BBM?.kanapa BBM tu gak pernah turun?selalu naik?
    koruptor makin di tindas bukan malah membaik,tapi malah parah ne negara.
    negara ne udah kaya akan pnduduk nya yg miskin.
    lo govern-damn,malah bikin ne negara makin lekat dgn tu imej!
    dimana otak lo pade?
    dasar tolol lo semua!
    saya harap kalian yg di berada di bangku kuasa pemerintahan agr mikiRin nE jeritan gw.
    ne cuma jeritan saya.
    masih banyak yg di luar yg teriak nya melebihi saya.
    turunin BBM ato sTatiskan saja.
    gw harap SBY yg langsung baca ne comment gw.
    thank’s….

  2. indocoolz
    Mei 31, 2008 pukul 2:54 pm


    AYO LAH KITA MERAMEKAN KOMUNITAS “Axxyc.com”

    (Komunitas Indo, ngak perlu register)

  3. Juli 14, 2008 pukul 12:02 pm

    Kembali rakyat kecil terpukul. Mungkin orang2 kaya dan para pejabat tidak begitu merasakan dampak kenaikan BBM, paling2 pengeluaran mereka naik 15-20%, tapi toh masih tetap kaya.
    Tapi, bagaimana ya, jika pemerintah tidak menaikkan BBM, defisit anggaran harus tutup dari mana? Bingung jadinya….
    Jonathan Haryanto

  4. someone
    Juli 17, 2008 pukul 10:58 pm

    saya punya beberapa tanggapan mengenai tulisan ini,

    1. kenaikan inflasi emang akan memukul rakyat miskin, khususnya yg memiliki proporsi pengeluaran untuk makanan melebihi 80%. orang kaya relatif memiliki kemampuan untuk menyelamatkan kekayaannya dari tekanan inflasi, dengan cara investasi tentunya.

    2.saya pribadi setuju kalo harga BBM untuk kendaraan pribadi dinaikkan. untuk masalah ini kita harus kembali ke masalah konsep “subsidi” subsidi itu kan seharusnya sarana redistribusi pendapatan dari pihak kaya ke pihak miskin. tapi hal ini tidak tercermin melalui penggunaan BBM bersubsidi oleh mobil jazz, avanza, atau innova di jalanan yang dibeli oleh orang yang berpendapatan relatif tinggi. sebaliknya saya setuju kalau BBM subsidi diberikan ke angkutan umum. kenapa angkutan umum? karena angkutan umum di gunakan oleh rakyat berpendapatan menengah ke bawah dan proporsi dalam keranjang inflasi cukup dominan. seperti sudah saya jelaskan di point no.1, inflasi relatif lebih merugikan kaum miskin dibanding kaya.

    3. saya cukup setuju dengan konsep BLT. memang saya mengetahui bahwa BLT bukan mrpkn solusi terbaik, tapi dalam jangka pendek, saya berpendapat bahwa BLT merupakan solusi yang paling efektif dari solusi2 lain. kelemahan utama dari BLT adalah masalah DATA. mengutip pendapat dosen saya, Prof. Mayling, Data merupakan kelemahan utama dari kebijakan2 di Indonesia. data seringkali tidak update dan tidak akurat, shg akhirnya keputusan diambil tidak berdasarkan data terkini.

    4. pendapat para ekonom umunya terbelah antara setuju kenaikan BBM dengan tidak setuju kenaikan. sebagai mahasiswa tingkat 3, dengan segala keterbatasan ilmu dan teori yang saya miliki, saya merasa bahwa pemerintah sdh melakukan kebijakan yg tepat (dalam jangka pendek). akan tetapi dalam jgk panjang pemerintah harus mengkaji ulang berbagai pokok2 dalam perjanjian dan kebijakan energi, khususnya yg berhubungan dengan kontraktor asing menyangkut proporsi bagi hasil, cost recovery, energi alternatif dll. pemerintah Indo harus belajar dari Brazil yang sukses mengembangkan energi alternatif. atau belajar dari venezuela? hehe.

    5. mari berdoa semoga harga minyak tidak menembus US$ 150/barrel sehingga tidak memberikan tekanan tambahan pada APBN. semoga tdk ada perang di timur tengah, semoga spekulan menemukan “mainan” baru sehingg tidak main2 di komoditas makanan dan energi yang menyengsarakan mayoritas rakyat di dunia.

  5. Juli 21, 2010 pukul 10:12 am

    nice………………………………………..^_^b

  6. Oktober 23, 2010 pukul 10:14 pm

    harga bbm di indonesia selalu naik, jarang sekali bisa turun

  7. Oktober 28, 2010 pukul 1:14 pm

    nice post
    jangan lupa kunjungi ini yaaa

  8. September 16, 2011 pukul 2:27 pm

    thank infonnya

  9. Februari 4, 2014 pukul 3:36 am

    ya ya memang saat ini negara kita masih tahap pembelajaran untuk menuju negara yang lebih baik .

  1. No trackbacks yet.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 31 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: