<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: FEUI: Dahulu dan Kini Sama Saja?</title>
	<atom:link href="http://businessenvironment.wordpress.com/2007/10/31/feui-dahulu-dan-kini-sama-saja/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://businessenvironment.wordpress.com/2007/10/31/feui-dahulu-dan-kini-sama-saja/</link>
	<description>Diskusi ilmiah populer menyorot aspek ekonomi dan lingkungan bisnis Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Sun, 08 Nov 2009 22:20:55 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Oleh: aquino</title>
		<link>http://businessenvironment.wordpress.com/2007/10/31/feui-dahulu-dan-kini-sama-saja/#comment-1159</link>
		<dc:creator>aquino</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 08 Nov 2009 22:20:55 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://businessenvironment.wordpress.com/2007/10/31/feui-dahulu-dan-kini-sama-saja/#comment-1159</guid>
		<description>masalah di FEUI sama dengan hampir semua masalah Universitas Negeri di Indonesia. Semua kembali ke dana...dana..&amp; dana, yang selalu ditutup dengan meningkatnya biaya pendidikan di UI. Kalau teman2 FEUI yang pastinya pernah belajar akuntansi, pasti akan menyadari bahwa keuangan yang baik akan menuntun kepada tujuan organisasi yang lebih tercapai dengan baik.

Saya setuju dengan apa yang diutarakan oleh saudara Kanti Pertiwi, bahwa dalam kenyataannya di FEUI masih ada segelintir dosen dan asdos yang kurang berdedikasi dalam tugasnya yang mungkin membatalkan kuliah atau dalam kurangnya kemampuan mengajar dan memberikan nilai. Namun di sisi lain cukup banyak juga dosen yang pendidikannya master, doktor, professor yang mampu berdedikasi dalam mendidik mahasiswanya untuk lebih berprestasi selama di FEUI.

Seperti yang telah dikemukakan Pak Aditiawan Chandra diatas, salah satu mantan dekan FEUI, bahwa dosen yang kurang berkualitas karena statusnya yang PNS tidak bisa dilakukan tindakan pemecatan oleh Rektor atau Dekan, karena itulah masalah klasik yang selalu ada dalam organisasi yang berlatar belakang kenegaraan, bahkan contoh nyata yang ada di Departemen Keuangan saja yang terlibat dalam penyusunan laporan keuangan pemerintah namun tidak bertugas dengan baik tidak bisa diambil tindakan yang tegas. Demikian sulitnya hal yang harus dipahami oleh para mahasiswa maupun alumni FEUI secara keseluruhan.

Namun terkait dengan hal dana (keuangan), saya kurang setuju dengan pemaparan beberapa rekan FEUI yang menyatakan bahwa karena insentif yang diberikan kepada pengajar tidak / kurang setimpal dibandingkan dengan rekan mereka di universitas swasta. Bila memang demikian adanya, sebagai seorang ekonom ataupun akuntan yang tentunya mengerti masalah keuangan, pastinya secara normal lebih baik memilih untuk tidak mengajar di FEUI, dan hanya mengajar di universitas swasta. Namun kenyataannya tidak ada satu dosen pun bahkan yang selalu mengeluhkan insentif yang kurang , berani untuk mengundurkan diri sebagai dosen FEUI. Pertanyaannya bukanlah mengapa? Tetapi apakah yang akan terjadi seandainya mengundurkan diri dari dosen FEUI?

Harus dipahami oleh para dosen dan juga mahasiswanya, bahwa menjadi bagian dari FEUI, baik sebagai mahasiswa maupun dosen, bukanlah hal yang bisa dilakukan setiap orang. Hal itu merupakan buah dari kerja keras dan juga merupakan anugerah Tuhan YME. 

Apakah para dosen FEUI yang juga mengajar di universitas swasta bisa begitu saja mendapatkan pekerjaan sebagai dosen swasta, tentunya tidak, namun dengan latar belakang sebagai dosen FEUI itulah mereka bisa juga bekerja sebagai dosen di tempat lain.

Mengharapkan bahwa dengan bekerja sebagai dosen FEUI akan mendapatkan penghidupan yang layak adalah hal yang lumrah namun juga harus melihat semua segi yang ada. Karena di dunia ini yang namanya pekerjaan sebagai pengajar memang diharuskan memiliki insentif yang lebih rendah daripada mereka yang berkecimpung di dunia nyata (praktisi). Karena apabila pekerjaan sebagai pengajar memiliki insentif yang bagus dan memuaskan, maka kiranya semua mahasiswa yang baru saja lulus akan bercita-cita menjadi pengajar, dan dengan demikian mendorong situasi ekonomi yang bertumpu kepada pertumbuhan yang dipacu melalui sektor pendidikan. Artinya pendidikan kita hanya mampu menghasilkan pendidik dan pendidik lagi. 

Hal ini seperti tercatat pada Mikroekonomi maupun Corporate Finance, sebagai &quot;curse of competitive market&quot; dimana bila sebuah sektor perekonomian mampu menghasilkan profit atau insentif yang tinggi dengan pengorbanan yang rendah, akan membuat semua orang ingin memasuki sektor tersebut dan pada akhirnya nilai insentif yang didapat akan menjadi tidak sebesar yang diharapkan. 

Kalau melihat kenyataannya di FEUI, banyak sekali dosen praktisi maupun akademisi yang berdedikasi dan memiliki juga usaha di luar sana tidak hanya sebagai dosen saja. Namun ada juga dosen yang hanya mengharapkan gaji dosen dan tidak mampu mengamalkan ilmu nya secara nyata, dan pada akhirnya menuntut insentif yang tinggi namun tidak mampu mengajar dengan baik. Semua kembali kepada masing-masing individunya. Namun harus selalu diingat bahwa menjadi dosen FEUI juga adalah sebuah anugerah dan kewajiban, Banyak sekali dosen berdedikasi yang bekerja sebagai praktisi maupun akademisi, sebutlah misalnya Bapak Katjep K Abdulkadir, Prathama Rahardja, Willem...., Lepi Tarmidi, Deddi Nordiawan, Sunardji, Rhenald Kasali, Selvy Monalisa, Rony Muntoro, Tia Adityasih, Sisdjiatmo K, dan masih banyak lagi......

Bila kita hanya mendasarkan insentif sebagai tolok ukur kemampuan untuk dapat mengajar dan memberikan nilai dengan baik, hal itu tidak ubahnya seperti seorang mahasiswa yang tidak mampu membeli buku teks yang asli dan mahal dan menjadikan itu sebagai alasan tidak dapat mencetak prestasi dalam hal akademik (IPK tinggi, juara kompetisi, dll) maupun prestasi dalam hal di dunia kerja (menjadi direktur terbaik, pejabat terbaik, pengusaha terbaik, penyumbang terbanyak, dll).

Kita adalah kita, dan hanya kita yang tahu mengapa kita mampu berdedikasi dalam semua aspek kehidupan atau tidak.....</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>masalah di FEUI sama dengan hampir semua masalah Universitas Negeri di Indonesia. Semua kembali ke dana&#8230;dana..&amp; dana, yang selalu ditutup dengan meningkatnya biaya pendidikan di UI. Kalau teman2 FEUI yang pastinya pernah belajar akuntansi, pasti akan menyadari bahwa keuangan yang baik akan menuntun kepada tujuan organisasi yang lebih tercapai dengan baik.</p>
<p>Saya setuju dengan apa yang diutarakan oleh saudara Kanti Pertiwi, bahwa dalam kenyataannya di FEUI masih ada segelintir dosen dan asdos yang kurang berdedikasi dalam tugasnya yang mungkin membatalkan kuliah atau dalam kurangnya kemampuan mengajar dan memberikan nilai. Namun di sisi lain cukup banyak juga dosen yang pendidikannya master, doktor, professor yang mampu berdedikasi dalam mendidik mahasiswanya untuk lebih berprestasi selama di FEUI.</p>
<p>Seperti yang telah dikemukakan Pak Aditiawan Chandra diatas, salah satu mantan dekan FEUI, bahwa dosen yang kurang berkualitas karena statusnya yang PNS tidak bisa dilakukan tindakan pemecatan oleh Rektor atau Dekan, karena itulah masalah klasik yang selalu ada dalam organisasi yang berlatar belakang kenegaraan, bahkan contoh nyata yang ada di Departemen Keuangan saja yang terlibat dalam penyusunan laporan keuangan pemerintah namun tidak bertugas dengan baik tidak bisa diambil tindakan yang tegas. Demikian sulitnya hal yang harus dipahami oleh para mahasiswa maupun alumni FEUI secara keseluruhan.</p>
<p>Namun terkait dengan hal dana (keuangan), saya kurang setuju dengan pemaparan beberapa rekan FEUI yang menyatakan bahwa karena insentif yang diberikan kepada pengajar tidak / kurang setimpal dibandingkan dengan rekan mereka di universitas swasta. Bila memang demikian adanya, sebagai seorang ekonom ataupun akuntan yang tentunya mengerti masalah keuangan, pastinya secara normal lebih baik memilih untuk tidak mengajar di FEUI, dan hanya mengajar di universitas swasta. Namun kenyataannya tidak ada satu dosen pun bahkan yang selalu mengeluhkan insentif yang kurang , berani untuk mengundurkan diri sebagai dosen FEUI. Pertanyaannya bukanlah mengapa? Tetapi apakah yang akan terjadi seandainya mengundurkan diri dari dosen FEUI?</p>
<p>Harus dipahami oleh para dosen dan juga mahasiswanya, bahwa menjadi bagian dari FEUI, baik sebagai mahasiswa maupun dosen, bukanlah hal yang bisa dilakukan setiap orang. Hal itu merupakan buah dari kerja keras dan juga merupakan anugerah Tuhan YME. </p>
<p>Apakah para dosen FEUI yang juga mengajar di universitas swasta bisa begitu saja mendapatkan pekerjaan sebagai dosen swasta, tentunya tidak, namun dengan latar belakang sebagai dosen FEUI itulah mereka bisa juga bekerja sebagai dosen di tempat lain.</p>
<p>Mengharapkan bahwa dengan bekerja sebagai dosen FEUI akan mendapatkan penghidupan yang layak adalah hal yang lumrah namun juga harus melihat semua segi yang ada. Karena di dunia ini yang namanya pekerjaan sebagai pengajar memang diharuskan memiliki insentif yang lebih rendah daripada mereka yang berkecimpung di dunia nyata (praktisi). Karena apabila pekerjaan sebagai pengajar memiliki insentif yang bagus dan memuaskan, maka kiranya semua mahasiswa yang baru saja lulus akan bercita-cita menjadi pengajar, dan dengan demikian mendorong situasi ekonomi yang bertumpu kepada pertumbuhan yang dipacu melalui sektor pendidikan. Artinya pendidikan kita hanya mampu menghasilkan pendidik dan pendidik lagi. </p>
<p>Hal ini seperti tercatat pada Mikroekonomi maupun Corporate Finance, sebagai &#8220;curse of competitive market&#8221; dimana bila sebuah sektor perekonomian mampu menghasilkan profit atau insentif yang tinggi dengan pengorbanan yang rendah, akan membuat semua orang ingin memasuki sektor tersebut dan pada akhirnya nilai insentif yang didapat akan menjadi tidak sebesar yang diharapkan. </p>
<p>Kalau melihat kenyataannya di FEUI, banyak sekali dosen praktisi maupun akademisi yang berdedikasi dan memiliki juga usaha di luar sana tidak hanya sebagai dosen saja. Namun ada juga dosen yang hanya mengharapkan gaji dosen dan tidak mampu mengamalkan ilmu nya secara nyata, dan pada akhirnya menuntut insentif yang tinggi namun tidak mampu mengajar dengan baik. Semua kembali kepada masing-masing individunya. Namun harus selalu diingat bahwa menjadi dosen FEUI juga adalah sebuah anugerah dan kewajiban, Banyak sekali dosen berdedikasi yang bekerja sebagai praktisi maupun akademisi, sebutlah misalnya Bapak Katjep K Abdulkadir, Prathama Rahardja, Willem&#8230;., Lepi Tarmidi, Deddi Nordiawan, Sunardji, Rhenald Kasali, Selvy Monalisa, Rony Muntoro, Tia Adityasih, Sisdjiatmo K, dan masih banyak lagi&#8230;&#8230;</p>
<p>Bila kita hanya mendasarkan insentif sebagai tolok ukur kemampuan untuk dapat mengajar dan memberikan nilai dengan baik, hal itu tidak ubahnya seperti seorang mahasiswa yang tidak mampu membeli buku teks yang asli dan mahal dan menjadikan itu sebagai alasan tidak dapat mencetak prestasi dalam hal akademik (IPK tinggi, juara kompetisi, dll) maupun prestasi dalam hal di dunia kerja (menjadi direktur terbaik, pejabat terbaik, pengusaha terbaik, penyumbang terbanyak, dll).</p>
<p>Kita adalah kita, dan hanya kita yang tahu mengapa kita mampu berdedikasi dalam semua aspek kehidupan atau tidak&#8230;..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: julee</title>
		<link>http://businessenvironment.wordpress.com/2007/10/31/feui-dahulu-dan-kini-sama-saja/#comment-1145</link>
		<dc:creator>julee</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 Oct 2009 05:42:57 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://businessenvironment.wordpress.com/2007/10/31/feui-dahulu-dan-kini-sama-saja/#comment-1145</guid>
		<description>au ah gelap...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>au ah gelap&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Sri wahyuni</title>
		<link>http://businessenvironment.wordpress.com/2007/10/31/feui-dahulu-dan-kini-sama-saja/#comment-1129</link>
		<dc:creator>Sri wahyuni</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 05:50:24 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://businessenvironment.wordpress.com/2007/10/31/feui-dahulu-dan-kini-sama-saja/#comment-1129</guid>
		<description>Apapun pendapat tentang FEUI, tu smua ga akan menghambat obsesi saya untuk masuk FEUI..
SMANGAT!
Kberhasilan tu kan ditentukan oleh kita sendiri, jadi dalam kondisi apapun kita harus tetap menjaga prinsip dan integritas dalam meraih SUKSESSS!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Apapun pendapat tentang FEUI, tu smua ga akan menghambat obsesi saya untuk masuk FEUI..<br />
SMANGAT!<br />
Kberhasilan tu kan ditentukan oleh kita sendiri, jadi dalam kondisi apapun kita harus tetap menjaga prinsip dan integritas dalam meraih SUKSESSS!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: della mene '09</title>
		<link>http://businessenvironment.wordpress.com/2007/10/31/feui-dahulu-dan-kini-sama-saja/#comment-1128</link>
		<dc:creator>della mene '09</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 23 Aug 2009 06:54:32 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://businessenvironment.wordpress.com/2007/10/31/feui-dahulu-dan-kini-sama-saja/#comment-1128</guid>
		<description>wah, ternyata dulu susah ya. skrg sistemnya sudah dibuat online.
UI mau buat perpustakaan baru yg disainnya pake tender.
salut deh sama kakak2 FEUI angkatan sebelumnya.

tapi iya sih, UI sekarang mahal krn dilepas pemerintah.
BOPB aja pake sponsor.

doakan saja FEUI bisa lebih baik lagi dan benar2 menjadi world-class university. jika sdh menjadi world-class saya harap hal  itu tidak hanya dijadikan status, tetapi juga sebagai komitmen untuk menjadi terbaik di dunia.
:D

untuk saya sendiri, saya tidak akan pusing2 soal itu sekarang. yang penting saya dpt menjalankan tri dharma perguruan tinggi dengan baik. setelah itu, baru saya urusi masalah yg lain.

Hidup Mahasiswa!
Hidup Rakyat Indonesia!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>wah, ternyata dulu susah ya. skrg sistemnya sudah dibuat online.<br />
UI mau buat perpustakaan baru yg disainnya pake tender.<br />
salut deh sama kakak2 FEUI angkatan sebelumnya.</p>
<p>tapi iya sih, UI sekarang mahal krn dilepas pemerintah.<br />
BOPB aja pake sponsor.</p>
<p>doakan saja FEUI bisa lebih baik lagi dan benar2 menjadi world-class university. jika sdh menjadi world-class saya harap hal  itu tidak hanya dijadikan status, tetapi juga sebagai komitmen untuk menjadi terbaik di dunia.<br />
 <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>untuk saya sendiri, saya tidak akan pusing2 soal itu sekarang. yang penting saya dpt menjalankan tri dharma perguruan tinggi dengan baik. setelah itu, baru saya urusi masalah yg lain.</p>
<p>Hidup Mahasiswa!<br />
Hidup Rakyat Indonesia!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: nunu</title>
		<link>http://businessenvironment.wordpress.com/2007/10/31/feui-dahulu-dan-kini-sama-saja/#comment-1123</link>
		<dc:creator>nunu</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 26 Jul 2009 12:22:55 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://businessenvironment.wordpress.com/2007/10/31/feui-dahulu-dan-kini-sama-saja/#comment-1123</guid>
		<description>memang tidak perlu dibanggakan tapi harus di syukuri ya.:)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>memang tidak perlu dibanggakan tapi harus di syukuri ya.:)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
