Tulisan Oleh: Kanti Pertiwi
![]()
Tidak mudah memang untuk merubah sesuatu.
Pertanyaan yang paling pertama muncul biasanya adalah “Dari mana harus kita mulai?” Pemikiran ini timbul semenjak saya membaca sebuah email terusan dari salah satu milis yang mengangkat topik tentang pengajaran di FEUI. Si penulis utama dalam email terusan tersebut adalah seorang alumni yang terpukul hatinya mendengar kabar terkini dari FEUI yang ternyata tak banyak bedanya dengan situasi yang dialaminya dulu semasa kuliah, yaitu lebih dari 10 tahun yang lalu.
Apa lagi yang dikeluhkan kalau bukan kualitas dosen dan pengajaran yang memprihatinkan. Keluhan tentang kuliah yang sering ditiadakan, soal ujian yang dari tahun ke tahun itu lagi itu lagi (karena mengambil dari bank soal tahun lalu), materi ajaran yang tidak up-to-date, cara mengajar yang satu arah dan monoton, sampai kepada nilai akhir mahasiswa yang sering berlandas pada “untung-untungan”. Siapakah yang patut disalahkan?
Saya pun terlibat diskusi dengan salah satu alumni yang secara jujur berani mengatakan, tidak ada kebanggaan baginya menceritakan kepada orang lain bahwa dia adalah lulusan FEUI. Tiada perlunya baginya menginformasikan kepada orang lain bahwa dia pernah berkuliah di FEUI, kecuali pada saat menulis resume, dimana nama FEUI masih cukup menjual dimata para headhunter. Menurut sumber yang sama, FEUI tetap bisa menelorkan pemimpin-pemimpin dan pemikir-pemikir berkualitas baik disebabkan atas usaha gigih mereka sendiri. Sedikit sekali kontribusi FEUI dalam membentuk para pemimpin dan pemikir tersebut, kecuali dalam bentuk textbook yang meminjamnya pun harus datang pagi-pagi sekali agar tidak kehabisan. Sungguh sayang memang, FEUI yang namanya begitu harum di media massa dan forum internasional bergengsi ternyata hanya memberikan sedikit kontribusi untuk calon-calon pemimpin dan pemikir ekonomi masa depan.
Diskusi kedua yang ingin saya bagi adalah diskusi dengan alumni sekaligus staf pengajar FEUI yang kini menjalani peran sebagai double agent, yakni sebagai asisten dosen dan sebagai penulis berita di salah satu situs ekonomi. Secara jujur ia mengatakan, seandainya saja (honor) menjadi pengajar cukup untuk menghidupi, tentu ia akan lebih total menjalani profesi mengajarnya. Kertas-kertas ujian itu tentu akan lebih cepat ia kembalikan untuk diumumkan nilainya kepada mahasiswa yang sedang harap-harap cemas menunggu hasil ujiannya masing-masing. Ia pun terkagum-kagum ketika tahu bahwa di salah satu kampus ekonomi diluar negeri dikenal yang namanya “exam viewing session”, yaitu masa sesudah ujian dimana mahasiswa dipersilahkan melihat hasil koreksi ujiannya dan mendebat sang dosen apabila penilaian dirasa tidak adil. Sementara di kampus FEUI tercinta, jangankan terbuka untuk kritik, wong kertas ujiannya sering tidak diketahui dimana keberadaannya.
Diskusi kami pun berlanjut pada persoalan rendahnya insentif. Tunggu dulu, rasa-rasanya ini memang persoalan klasik bangsa ini. Seperti halnya pegawai negeri yang setuju untuk berhenti korupsi dengan syarat gajinya dinaikkan terlebih dahulu. Apakah demikian?
Saya pun teringat dengan konflik batin yang terjadi beberapa minggu sebelum keberangkatan saya menimba ilmu ke negeri kangguru. FEUI meminta saya untuk menandatangani kontrak mengabdi setelah studi dimana dalam isi kontrak tersebut tak ada satu pasal pun yang menyebut tentang hak saya secara rinci, yang ada hanya kewajiban, kewajiban, kewajiban dan ditutup dengan sangsi membayar ratusan juta dollar Australia bila melanggar kewajiban-kewajiban tersebut, meski yang membiayai studi tersebut bukanlah FEUI. Inilah kekhawatiran yang berulang setiap tahunnya yang dirasakan oleh para asisten dosen yang hendak berangkat kuliah karena mereka disodori kontrak yang isinya win-lose situation. Kekhawatiran tersebut berlanjut meski kontrak tetap ditandatangani (demi menghindari konflik berkepanjangan) tetapi akhirnya pada waktu yang dijanjikan banyak yang melanggar. Alasannya pun klasik: tidak ada tempat yang cocok dengan insentif yang cocok. Mereka yang mungkin tidak terlalu idealis pun berusaha bertahan dengan kinerja ala kadarnya sambil mengais rejeki di tempat yang lain. Disinilah kedua persoalan bertemu. Insentif yang minim menjadi salah satu (ingat, bukan satu-satunya) penyebab kinerja yang buruk karena mengajar hanyalah sambilan. Lalu dari manakah harus kita mulai?
Saya sendiri melihat setiap perubahan harus dimulai dari diri sendiri. Saya pun yakin setiap alumni FEUI yang kembali dari menimba ilmu di luar negeri ingin berbuat sesuatu ketika kembali ke tanah air. Mereka pasti ingin bisa lebih baik menjalani profesinya sebagai pengajar. Ingin embuat perencanaan yang lebih matang setiap awal semester, menyediakan waktu yang cukup untuk mahasiswa-mahasiswanya baik didalam maupun diluar kelas (apakah lewat telepon atau email), ingin memberikan feedback yang jelas dan rinci untuk tiap-tiap tugas mahasiswanya, ingin mengoreksi ujian dengan lebih teliti dan membuka kesempatan untuk diskusi tentang hasil ujian mahasiswanya, dan yang paling penting adalah ingin menjaga agar satu sesi perkuliahan tetap 2 x 50 menit untuk mata kuliah 2 sks dan 3 x 50 menit untuk mata kuliah 3 sks. Tidak kurang dan tidak dilebihkan untuk menutupi jam-jam yang hilang karena dibatalkannya kuliah minggu lalu.
Tentu mereka tidak ingin sejarah berulang dengan merenggut hak mahasiswa untuk mendapat pengajaran yang baik dan dan membiarkan mereka semakin kecewa ketika tahu tentang ketertinggalan almamaternya dibandingkan dengan kampus lain. Namun apakah komitmen indah ini bisa terwujud sesuai rencana? Apakah FEUI akan ikut membenahi dirinya sendiri? Besarnya nama FEUI sudah saatnya diimbangi dengan tajamnya kualitas dosen dan pengajaran didalam kampus FEUI sendiri. Jangan sampai FEUI meredup perlahan bahkan diredupkan oleh para alumninya sendiri. Lebih jauh lagi, apakah para pemimpinnya mengerti akan perlunya pembenahan atau telah merasa puas dengan sistem yang sudah ada? Semoga saja tidak, semoga saja ketika tulisan ini hampir selesai dibuat, sebuah perubahan besar sedang dirancang di FEUI, kampus abu-abu yang kita cintai.
Kanti Pertiwi
L’Oreal e-Strat Challenge 4 Champion
Mahasiswa program Master di Uni of Melbourne sekaligus penerima beasiswa Australian Partnership Scholarship 2006
*Terimakasih kepada Bung Helmi Arman (FEUI 1996) atas emailnya yang menggelitik kita semua
Paling males sama dosen2 tua yang feodal dan dosen2 muda yang sok sibuk. Golongan pertama makin sedikit di FEUI
Komentar oleh Achlanudin Yusuf — Nopember 16, 2007 @ 9:04 pm |
FEUI jd kampus komersil skrg..bayaran makin mahal, tp fasilitas terbatas, warnet aja bayar..paling cuma yg punya laptop aja yg bisa make free hotspot ui..
dan juga sangat jarang sekali ditemui dosen yg setelah memeriksa ujian lalu diperlihatkan kepada mahasiswanya utk direview lg, selama 5 tahun kuliah di sutu, saya hanya menemui skitar 2-4 dosen saja yang melakukan itu..
Komentar oleh Aldy — Nopember 24, 2007 @ 12:51 pm |
Fenomena seperti ini bukannya “lumrah”? Tak cuma di UI; UGM, Unpad, Undip, Unair, dan sebagainya mengalami hal yang sama.
Komentar oleh Nofie Iman — Nopember 27, 2007 @ 7:44 pm |
Saya alumni FE UI (ekstension) th 1996. Dulu memang parah, seperti yang diceritakan. Saya lihat yang IP nya bagus karena rajin mengkopi soal-soal yang dari tahun ke tahun itu-itu saja. Ada dosen yang menilai hanya dari wajah, yang dia kenal karena duduk di depan dan sering tanya, nilainya A. Lainnya B. Entah bagaimana dia menentukan nilai C. Yang jelas, dengan kesibukannya yang seabreg kayaknya nggak sempat koreksi.
Saya tidak terkejut kalau itu masih berlaku sampai sekarang. Memang kekuatan FE UI pada modal awal mahasiswanya, yang memang bagus karena seleksi masuk ketat. (To be honest, demikian halnya dengan STAN, tempat saya mengambil D3.)
Tak heran, kalau di level SMA kita bisa ‘bunyi’ dengan beberapa prestasi seperti TOFI (olimpiade fisika), dll. Kalau sudah di perguruan tinggi, memble. Ranking universitas terbaik kita masih ratusan di Asia.
Apa yang bisa kita bantu lakukan sebagai alumni?
Komentar oleh hendro — Nopember 28, 2007 @ 4:22 pm |
kirain FEUI itu bagus… setidaknya lebih bagus lha dibanding FE universitas negeri lainnya…. *waktu kuliah dulu saya tetangganya FEUI*
Komentar oleh dimasu — Desember 16, 2007 @ 8:49 am |
Menurut saya masalah ini tidak hanya terjadi di FEUI.
Kebetulan saya dari Gunadarma tetangganya UI Depok. Melihat kedalam sama juga masalahnya seperti UI.
Hmm… jadi apa sebenarnya yang perlu diperbaiki ke depan ya?
Sepertinya jadi mahasiswa memang harus survive sendiri yach… setelah selesai kuliah mau lanjut S2 harus survive juga… cari kerja survive… lebih baik saya mendengarkan lagu I will survive aja deh.
Komentar oleh Edwin Maolana — Januari 8, 2008 @ 5:44 pm |
kalo komentarnya gitu smua, jadi rada ilfil neh mau mesuk FEUI!
tapi saya yakin itu nggak sepenuhnya benar iya kan?
Anak-anak SMA yang pengen masuk ke FEUI gimana dong?
Komentar oleh nisa — Februari 5, 2008 @ 3:40 pm |
semua univ di indonesia punya masalah yg sama.
saya selalu bilang “ada 3 alasan orang kuliah di UI” (dan juga kampus sejenis di Indonesia):
1. miskin (alias nggak mampu bayar kampus bagus di luar negri).
2. bodoh (alias otak mentok untuk bersaing di kampus bagus luar negri).
3. malas (pintar sih, tapi malas kerja keras bersaing di kampus top LN).
akhirnya ada 3 alasan mengapa kuliah ke LN:
1. motif ekonomi (nggak punya uang, jadi nyari beasiswa biar bisa sekolah ke LN, untung2 bisa nabung).
2. motif jalan2 (bayar sendiri nggak mampu, jadi perlu nyari beasiswa).
3. untung2 dapat gelar (buat modal jadi bos di Indonesia dan malas2-an).
mantan FEUI juga nih, yg cabut dari ngajar krn kecewa dapat info sekretaris dekan gajinya lebih besar dari dosen junior macam saya.
Komentar oleh rizal — Februari 15, 2008 @ 10:33 am |
wah..wah… wah
rupanya masukan2 ini menggambarkan dua hal:
(a) mereka sayang pada almamater perguruan tingginya, sehingga membantu pimpinan fakultas untuk mengadakan pembaharuan2 yang diminta oleh kalangan pengguna pasar kerja lulusan FEUI dan institusi perguruan tinggi lainnya. keterbukaan mereka yang memberikan kritik dengan berani, lugas dan to the point mrpk salah satu keberhasilan program pembelajaraan di Universitas.
(b) SDM fakultas dan universitas negeri di Indonesia sebenarnya banyak yang cukup berbobot. Tetapi kelambatan pimpinan melakukan perubahan2 yang diperlukan…mungkin disebabkan oleh hambatan2 struktural yang mereka hadapi. Misalnya: (1)tidak dapatnya mereka secara leluasa (seperti rektor atau dekan) memecat dosen2 berstatus pegawai negeri yang tidak berprestasi, (2) tidak leluasanya rektor melakukan pricing strategy/adjustment peningkatan tarif SPP, (3) tidak adanya bea siswa asisten pengajar untuk menuntut ilmu di luar negeri, (4) tidak dihargainya prestasi dan dedikasi para dosen tetap dan tidak tetap, yaiutu dengan memberikan balas jasa yang wajar dan layak. Untuk diketahui saja dosen UI dengan pengalaman kerja 30 tahun, mengajar setiap semester 2 mk hanya diberikan balas jasa antara 2,5 sd 3 juta per bulan!!!. Malu memang masih lebih kalah tinggi dari para lulusan S1 yang dibinanya. Kalau di Perguruan tinggi swasta dosen tetap dapat memperoleh gaji di atas 12 juta.
Mari kita bantu bangun perguruan tinggi di Indonesia, agar lembaga pendidikan domestik kita dapat maju dan berkembang. Bagi para lulusan yang berhasil misalnya, dapat turut andil memberikan alokasi dana sponsor melalui yayasan ILUNInya. Atau langsung saja memberikan kontribusi positif lainnya.
Salam, adit (mantan lulusan Univ of wisconsin dan North Carolina, tetapi masih menyangi almamater yang membesarkannya: Universitas Indonesia.)
Komentar oleh adit — Februari 25, 2008 @ 4:35 pm |
sekarang FEUI makin berat… dosen on time… kuliah pengganti selalu ada (bahkan sabtu sekalipun!)…. metodenya jadi PBL dan SCL… soal-soal UTS-UAS tambah unpredictable… nilainya udah keluar paling lambat ’sebulan’ kemudian di SIAK-NG… waduh tambah susah aja hidup di FEUI, tugasnya banyak banget… pada stres semua malah… dibanding semester kemarin, rasanya semester ini FEUI makin berat aja…
cuman yang ngeselin, FEUI doang yang nggak ngijinin ngambil 24 sks… males banget siy… *kontras gak ya komentar gue haha*
Komentar oleh Malinda — Maret 20, 2008 @ 10:14 pm |
Ayo FEUI berbenah!
Komentar oleh Rajawalimuda — April 14, 2008 @ 9:47 pm |
great info!
Komentar oleh omar — April 17, 2008 @ 9:12 pm |
great info~!
Komentar oleh omar — April 17, 2008 @ 9:13 pm |
Manchester United menjadi juara Champion memang dikarenakan kualitas para pemainnya. Berterima kasihlah MU kepada para pemainnya, karena dia lah MU menjadi terkenal. Begitu pun FEUI. Tidak berarti apapun kalau tidak ditopang dengan kualitas mahsiswanya. Sudah tidak berguna lagi membanggakan suatu institusi. Sewajarnya adalah FEUI yang berterima kasih terhadap mahasiswanya. FEUI besar karena kegigihan mahasiswanya yang telah mendapatkan prestasi.JADI PERGILAH KEPADA KUALITAS, JANGAN BERSEMBUNYI DI “KETEK” FEUI!!. Mantan IESP 03
Komentar oleh kuli tinta — Juni 2, 2008 @ 3:06 pm |
FEUI skarg uda mulai menunjukan perubahnnya pak, walaupun masih sangat kasat mata. skrang soal2 ujian ga bisa cuma blajar dari soal2 bank soal. sekarang setiap soal yg dibuat asisten buat ujian selalu di rapatkan sama dosen yg bersangkutan layak/tidaknya dikeluarkan dalam ujian. makanya jadi unperidctable bgt. a.k.a susah. walaupun masih banyak juga dosen yang ngeluarin soal mirip2 taun sebelumnya..(saya kmaren ujian MSDM mirip bgt sama taun sebelumnya).
dan saya juga stuju sama yang diatas FEUI besar karena mahasiswanya. sangat2 malu menjadi orang bodoh di FE terbaik seIndonesia. sangat2 malu menjadi orang kurang pergaulan di fakultas paling aktif(banyak kegiatan,acara) di UI.
maka dari itu karena doktrin demikian yang membuat mahasiswa FEUI menjadi lebih unggul dari mahasiswa lainnya. jadi jangan kawatir pak kualitas mahasiswa FEUI masih bisa di adu di dunia kerja kok.
o..iya ada info kmaren mahasiwa FEUI angkatan 04 jurusan ilmu ekonomi lulus 3.5 taun cumlaude. dan skarang dapet beasiswa ke Harvard University sampe S3.
Komentar oleh angga feui 06 — Juli 6, 2008 @ 5:56 am |
mau ikutan sharing aja ni atas masalah2 yg disebutin diatas, dengan update terkini soalnya skrg saya mahasiswa S1 taun ke-3.. hehe
1. soal dari taun ketaun yg relatif mirip sih tergantung dosennya ya, ada dosen yg spt itu ada juga yg nggak. dosen2 yg senior biasanya ngasih soal yg relatif mirip di beberapa nomer, walopun biasanya ada soal kejutan. cth: miranda gultom
2. sekarang di fe jawaban ujian di kembalikan ke mahasiswa (baru mulai tahun ini sih). contohnya di ujian2 SP kmrn, 3 dari 3 ujian saya dikembalikan dan bisa didebat.
3.kelas yg dibatalin skrg relatif lebih ketat dan jarang, kalaupun iya biasanya pasti ada kelas penggantinya.
4. kalau masalah kompensasi utk asdos saya kurang paham.. maklum bkn asdos..
5. kalo kampus komersil jujur aja saya krg setuju. SPP saya 1,3 jt/semester dan gak ditambah biaya per SKS. menurut saya itu sangat sepadan dan masuk akal. Subsidi pemerintah buat kampus sekarang udah dikurangin, UI sekarang statusnya BHMN. jadi bagaimana caranya UI ningkatin kualitas tanpa melakukan kegiatan pencarian dana? menurut saya pencarian dana ini sah2 aja selama gak ngorbanin kualitas. jujur, saya lebih prefer biaya pendidikan bagi yang mampu dinaikkan daripada fasilitas2 yg ada dikorbankan. cth kegiatan cari dana: UI sekarang punya program Kelas Internsional yang biaya per semesternya sekitar 30jt.
6. feui skrg punya labkom yg bisa dipake buat internet dgn gratis plus fasilitas print gratis. hotspot UI juga gratis.
7. metode blajar udah relatif berubah, ada yg namanya SCL dan PBL.
still, the best economics and business studies in Indonesia.
Komentar oleh someone. feui 2005 — Juli 17, 2008 @ 10:33 pm |
alangkah baiknya kalau dosen dan alumni feui makin banyak yang punya peran di masyarakat (swasta, bumn, pemerintah) dan menulis buku & artikel surat kabar/ majalah. Terutama yang muda-muda itu lho, jangan jadi jago kandang alias tidak dikenal rakyat
Komentar oleh haiya — Juli 20, 2008 @ 8:26 pm |
ada beberapa komentar yang gak tau apa yang sebenernya terjadi di FE sekarang..
1. FEUI tidak komersil
internet di labkom gratis sekarang malah baru beli komputer baru di lab a. hotspot gratis, bayar sp per sks relatif lebih murah dibanding fak lain di UI, cek fak sebelah (teknik), bayaran per semester yg 1,3 jt pun bisa dibilang murah jika dibanding univ lain yang belum tentu fasilitasnya sebanding dengan FE (klo 2008 ke atas dah beda cuman masih pake sistem keadilan juga), dan tidak pernah ada biaya tambahan
2. Fasilitas baik
Labkom ada, perpustakaan ada, pusat kegiatan kemahasiswaan ada, ESAC ada, kantin ada, musholla ada, auditorium ada 3, tempat nongkrong banyak salah satunya kopet =p hhe dan blom lama baru ngebangun pertamina hall lap futsal n basket
3. kegiatan kemahasiswaan banyak
BEM, BO, BSO, dari keagamaan, hobi (musik, fotografi, dll), ampe penjurusan macem MSS, SPA, Kanopi, dan semuanya berkualitas
4. Dosen pengajar bermutu
Dari Ibu Sri Mulyani sampe Miranda Gultom, org2 top di negeri ini masih mengajar di FEUI, dan dosen lainnya pun tak kalah kualitasnya mis Pak Sisdjiatmo, Harry Supangkat, dll.. metode pengajarannya pun beragam dari pbl, scl
so sebenernya FEUI itu bagus, walaupun masih ada beberapa kekurangan, namun di Indonesia, FEUI masih fakultas ekonomi terbaik. untuk tantangan LN, doakan saja semoga FEUI bisa membaik
Komentar oleh adit - FEUI '06 — Agustus 5, 2008 @ 5:34 pm |
PANTESAN GUE GAK MERASA BANGGA KULIAH DI FE UI. TRNYATA MEMANG ADA APA2NY DI BLAKANG.
DAMN!
Komentar oleh michelle — Agustus 18, 2008 @ 4:28 pm |
okeh. gue bkal berterima kasih pada FEUI. the best that we have.
Komentar oleh arie dw akun '08 — Agustus 18, 2008 @ 4:36 pm |
saya maba feui 2008..akun
mmm..duh jadi gundah
Komentar oleh dio — Agustus 24, 2008 @ 3:02 pm |
saya masuk lewat jalur kelas paralel..
per semesternya 10 juta..ga bisa ngajuin keringanan.
kesel sih.MAHAL.
tapi bukannya FEUI bagus ya??
Komentar oleh dio — Agustus 24, 2008 @ 3:04 pm |
Kuliah di fe ui belum merupakan jaminan akan berhasil dalam hidup,khususnya perekonomian. semua harus dikembalikan pada mahasiswanya. apakah ia akan benar-benar menimba ilmu dan mengamalkannya? atau sekedar sekolah lalu menjadi pegawai seperti kebanyakan para mahasiswa sekarang ini?
semua bisa dilihat dari cara mereka kuliah. yang rata-rata pada semester awal akan dihabiskan untuk berorasi di jalanan,ikut demo ini itu, menghabiskan waktu kuliah dan biaya dengan percuma.mahasiswa yang dengan nilai pas-pasan akan lebih berharga,karena dari tangan merekalah lahir usaha-usaha baru yang membuka lapangan kerja,karena mereka terbiasa untuk bertahan dan kreatif dalam semua keterbatasan.
Komentar oleh ALIG — Agustus 24, 2008 @ 4:13 pm |
sapa suruh masuk jalur paralel? hahaha
Komentar oleh noun — Agustus 26, 2008 @ 8:43 am |
saya sebagai salah satu alumnus FEUI menilai tulisan ini tidak mencerminkan FEUI keseluruhan, dan memang sepertinya condong kepada salah satu/dua program/jurusan. Saya sebagai alumnus S1 reguler akuntansi merasakan betapa jurusan saya telah melatih saya dan kawan2 saya menjadi pribadi yang sigap dan tangguh. Saya merasakan hal tersebut ketika masuk ke dunia kerja. Saat pelatihan, teman2 saya sesama alumni akuntansi FEUI yang mereka dulunya di kampus bukan tergolong pribadi2 yang superior, nyatanya mampu menyerap pengetahuan dengan lebih mumpuni dibandingkan dgn org lain berIPK sangat2 tinggi dari universitas bukan FEUI. Jadi tulisan ini ga bisa mengeneralisasikan FEUI saam2 saja dari dulu hingga sekrg
Komentar oleh Paul — Oktober 5, 2008 @ 4:30 pm |
mungkin tulisan itu ada benarnya,,tapi ga semuanya….sekarang fasilitas juga uda sangat2 berkembang….bener2 ngasi kemudahan buat mahasiswa…..
mo beli buku tinggal ke leksika…..
mo ngeprint gratiss….
mo ngenet,,gratiss d labkom……cepet banget pula…..
dan banyak kemudahan lainnya….
pokoknya menurut saya FEUI tetep the best meski mungkin harus ada sedikit perbaikan….
Komentar oleh hayu — Oktober 8, 2008 @ 3:52 pm |
iya, semua tergantung dosennya kok, ada dosen yg ngembaliin kertas ujian n ada yg sama sekali g, tapi yg ngeselinnya dosen klo batalin kelas alesanny g mutu bgt c, msk dosen pe-q batalin kelas gr2 dia kena macet, trus dosen pa-q nyuruh bawahanny d KPMG buat gantiin dia ngajar coba???!!!o, y…asdos pe-q peliiiiiiiiiiiiiiiitttttttttttttttt ngasih nilai padahal klo dibandingin jwban tmen2 yg dinilai dosen laen n dpet nilai 90-an,mnrutq jwbanq lebih lengkap (hehe..narsis), sumpah dech, t asdos mnta dimusuhin
Komentar oleh ratih — Desember 14, 2008 @ 4:58 pm |
wlopun bgitu,,,saya b’syukur bgt udh bs kuliah d FEUI,,,mnurut saya,FEUI ttep nomer satu,,,
Komentar oleh egi — Januari 12, 2009 @ 1:38 pm |
Rame juga,
kebetulan saya mhs prog.extensi, dan sejauh yang saya tau, tiap tahun SPP selalu meningkat skitar stengah juta rupiah, yang secara kumulatif akan terasa sangat jauh lebih mahal dari beberapa tahun lalu. ekstensi sebagai salah satu ’sumber pemasukan’ lainnya yang cukup besar (perorang skrg 5,6jt u akt & 5,1jt u manj salemba, lebih mahal 500rb dari kelas depok) seharusnya dapat memberikan sesuatu yang lebih bagi mahasiswanya, baik dari segi fasilitas maupun pengajarannya.
jujur saya sempat kaget pada awalnya, karena hawa kekecewaan mulai menghampiri teman2 seangkatan, mulai dari cara pengajaran, sampai pemberian nilai, bisa ya nilai yang ada itu hanya berupa satu-satunya nilai huruf di siak tanpa ada keterangan lainnya darimana nilai itu didapatkan..???? bahkan hingga menjelang uas nilai uts lalu pun belum diketahui score nya, apalagi untuk didebat.. meski tidak juga mengeneralisir semua dosen seperti itu, karena beberapa lainnya memang cukup mempunyai kredibilitas yang ckp baik & komitmen sebagai pengajar yang ckp baik.
pun mengenai infrastruktur, hal-hal administrative yang sepetinya simple tapi menjadi masalah, tidak sesuainya kondisi siak dengan peraturan, berubah-ubahnya data, dll..
tapi saya percaya ui sedang dalam proses perbaikan, seperti yang di ucapkan rektor baru kita, “Dalam keadaan seperti sekarang ini, UI memang masih dapat bertahan hingga puluhan tahun kedepan, tapi tanpa perubahan ke arah yang lebih baik lagi, UI hanya dapat jalan ditempat dan pada akhirnya akan tertinggal jauh, karena universitas2 lain di negeri ini akan maju meninggalkan kita”
yah semoga saja jalannya perubahan itu konkrit dan sesuai dengan yang diharapkan, dan kedepannya para dosen yang sungguh-sungguh ingin menjadi pengajar dapat berkomitmen penuh terhadap pengajarannya, para dosen yang ingin menelitipun dapat berkonsentrasi penuh dalam penelitiannya, dan bagi yang ingin menjadikan profesi dosen sebagai sambilan, sebaiknya berfikir ulang, fokuslah, karena pendidikan bangsa, masadepan bangsa salah satunya ada pada mereka, dan semoga perubahan yang ada cukup membuat para pengajar berkomitmen & berkonsentrasi atas keputusan mereka untuk menjadi dosen, sehingga materi2 ajarnya lebih uptodate, bagus2 kalau kita dpt menciptakan hal baru dan tidak hanya bergantung pada materi dari luar, dengan komplektisitas bangsa ini, cukup banyak hal yang dapat dipelajari dan dicarikan solusi.
cukup panjang ternyata, dan memang cukup besar harapan saya untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik, kondisi yang lebih baik, bukan hanya sekedar institusi yang ‘mengumpulkan’ anak2 dengan kemampuan yang baik, tapi juga mampu membuat mereka jauh lebih baik lagi (malah lebih keren kalo bisa buat orang yang gak ngerti jd ngerti, dari pada…)
yup, banyak harapan, do’a & dukungan untuk kebaikan mendatang
Komentar oleh za — Februari 6, 2009 @ 4:03 pm |
Rasanya kita harus bijak menilai sesuatu institusi sebesar FEUI. Karena penilaian yang parsial dapat merusak citra FEUI. Kalau kita sebagai alumni merasa mencintai FEUI tentunya kita juga harus menilai institusi secara bijak, melihat kondisi terkini dan cukup obyektif penilaiannya.
Tulisan alumni yang melakukan penilaian sepihak di satu sisi mungkin sebagai kritik dan masukan buat FEUI. Tapi justru buat mahasiswa awam dapat menimbulkan persepsi negatif yang sulit untuk dihilangkan…. Kalau kita sama2 mencintai FEUI tetaplah bijak… Karena kebijakan kita mencerminkan kita mencintai FEUI dan ikut membesarkan nama FEUI…
Komentar oleh DM — Maret 2, 2009 @ 12:19 pm |
gue setuju banged,,tulisan di atas kalo misalnya gue liat pas masih SMA
atau gue ga di FEUI pasti langsung gue berpikir kalo FE itu butut banged,,
seolah-olah hanya gitu2 doang,,statis dan ga ada perbaikan sama sekali..
padahal,,menurut gue FE kita tercinta ini tu udah paling top bgd se ui fasailitasnya..
kaya yg udah disebutin di atas,,ada labkom yg bisa ngenet n ngeprint gratis,,kantin lengkap menu dan harganya bervariasi,,cocok lah buat mahasiswa,,
trua ada lcd+pc di tiap kelas,,lap basket dan futsal indoor,,tempat nongkrong yg asik bgd buat review blajar sebelum ujian di kopet,, satpam 24 jam (walaupun masi suka ada laptop yg hilan,,tapi kerjanya satpam tu cepet dan cekatan bgd kalo ada masalah beginian) dan lainnya yg males gue sebutin karena banyak bgd..
bukannya sombong,,tapi silahkan dibandingin sama fakultas lain di UI,,apa ada yg bisa nandingin fe soal fasilitasnya??
menurut gue si belom ada..
kalo masalah dosen,,emg gue setuju bgd,,
ada dosen yg seenak udelnya aja kalo ngasi nilai di SIAK
ga pake rincian sama sekali tau2 hurufnya aja yg keluar
tapi ga sedikit juga dosen yg ngasi nilai lengkap pake rincian bahkan sampe 2angka di belakang koma,,
ya menurut gue si manusia itu emang macem2 jenisnya,,begitu juga dosen,,jadi harap maklum aja,,
lagian kalo ga suka kita bisa “ngancurin” dosen ybs di SIAK kok,,
kan ada EDOM,,evaluasi dosen oleh mahasiswa,,sekelas sepakat aja jelek2in rating dosen itu,,
nanti pasti ditinjak lanjutin ma dekanat
enak kan??semua serba online
bahkan sekarang absen dan ngambil silabus aja ol,,da dari gue smt 2 si,,ok bgd kan tu fe kita tercinta??
bentuk soal2 sekarang,,setelah smt2,,itu smakin ga bisa ditebak tu,,
soalnya angkatan ‘06 dan seterusnya (kalo ga salah) da ga ada ujian kompre lagi,,
jadi soalnya bakal lebih bervariasi lagi
beda dgn soal2 dulu yg pasti keluar dari tahun kemarennya,,kita jadi cuma terbiasa untuk menyelesaikan soal aja,,ga untuk mengerti bagaimana kita menyelesaikan soal tsb
intinya,,gue bangga jadi anak feui dan gue cinta ma feui!!
Komentar oleh Tommy--manajemen '07 — Maret 12, 2009 @ 8:58 pm |