Beranda > Pemasaran, Taktik Manajemen > Mampukah Ari Lasso Mendongkrak Pembeli?

Mampukah Ari Lasso Mendongkrak Pembeli?

tolak_angin.jpggatra_29mar2007.jpgantangin.jpg

[ Foto Ari Lasso dan keluarga beserta pimpinan Sido Muncul berasal dari Majalah Gatra edisi 29 Maret 2007 ]
Beberapa hari terakhir ini saya dibuat terkejut oleh strategi perusahaan Sido Muncul dalam memasarkan produk obat masuk angin merk “Tolak Angin” nya. Mengapa tidak? Selain adanya perubahan tema iklan dengan menampilkan Ari Lasso (mantan group Dewa) , frekuensi penayangan di iklan ini televisipun semakin sering dijumpai.

Mampukah strategi pemasaran perusahaan Sido Muncul mendongkrak pembeli? Pertanyaan ini diajukan mengingat biaya promosi yang cukup besar yang telah dikeluarkan oleh perusahaan tersebut. Semoga saja biaya promosi tersebut sudah diperhitungkan dengan cermat untung ruginya.

Strategi menggunakan para selebriti dalam kampanye produk “Tolak Angin” rupanya telah dilakukan beberapa bulan sebelumnya, menggunakan cerita iklan (story board) yang berbeda. Awalnya, iklan tersebut dicuap-cuapkan oleh bung Renald Kasali sebagai pakar pemasaran dan Jeng Sophia Latjuba bintang sinetron. Dengan penampilannya yang trendy Renald dan Sophy mengajak para eksekutif muda untuk mengikuti jejaknya meminum tolak angin… tentunya jika mereka menderita masuk angin.

Tetapi beberapa bulan kemudian konsep ini mengalami perubahan total. Masuklah celebriti cantik mbak Lula Kamal yang turut berjualan “Tolak Angin”. Mungkin motif dari produsen menggunakan ibu dokter ini adalah ingin merubah persepsi calon pembeli dengan ajakan berikut: “Jika ibu dokter saja pakai tolak angin….mengapa calon pembeli yang bukan dokter tidak mengikuti saya?”. Yang jelas dari kedua story board ini perusahaan tetap konsisten menggunakan tema iklan yang sama: “Hanya orang pintar yang memilih “Tolak Angin”. Dari penerapan strategi diatas “Tolak Angin” mengalami kenaikkan penjualan 40% sebagaimana diutarakan oleh majalah Gatra (edisi 29 Maret 2007, hal 17)

Tanpa diduga tayangan iklan-iklan Sido Muncul ini membangkitkan reaksi langsung dari pesaing, yaitu dengan dimulainya penayangan obat masuk angin merk “Antangin”. Mengikuti apa yang dilakukan oleh Sido Muncul, perusahaan Deltomed Laboratories, sebagai produsen “Antangin”, ikut serta memanfaatkan kehadiran selebriti seperti mas Basuki berkampanye. Siapa yang tak kenal dengan Basuki – yang merupakan ikon masyarakat kota untuk segmen konsumen klas bawah yang biasa bermain pada serial sinetron Bang Dul Anak Betawi. Dengan gayanya yang merakyat, mas Bas menyudahi tayangan iklan tersebut dengan berkata:” wis… wis.. wis… (obat masuk angin) yang lain ga ada artinya!!!”.

Secara telaah stratejik manajemen, tayangan iklan “Antangin” ini merupakan genderang perang yang dilakukan perusahaan pesaing untuk memperebutkan para pembeli produk obat masuk angin di pasar. Bahkan agar berdaya guna, media televisi yang digunakanpun sama, dengan jam tayang yang sama (selang beberapa detik), dan dengan jumlah penayangan yang hampir sama.

Menghadapi tantangan ini rupanya produsen Sido Muncul kemudian memikat Ari Laso dan keluarga, untuk berperan menggantikan ikon selebriti terdahulu. Walaupun tema yang digunakannya mirip, tetapi terlihat arah target pasar yang dituju agak berbeda. Tema tersebut beralih menjadi: “Orang pintar…sayang keluarga. Orang pintarpun tetap menggunakan “Tolak Angin”. Nah… disini mungkin ketenaran dan kehadiran Ari Lasso ingin dihubungkan dengan upaya membidik ceruk pasar yang lebih tajam, yaitu kalangan pembeli rumahtangga baru.

Sungguh mengesankan perang iklan antar produsen produk masuk angin tersebut. Demikian juga muncul tantangan baru bagi Ari Lasso untuk berkinerja seperti ikon-ikon sebelumnya. Sampai saat ini kita masih belum tahu bagaimana akhir dari pertempuran yang menarik ini. Informasi internal yang terekspose ke publik sangat minim. Tetapi paling tidak, sepanjang masing-masing produk berupaya membidik sasaran customer yang berbeda, maka hasil penjualan (pay-off) yang akan diperoleh masing-masing perusahaan mungkin akan meningkat.

Akan tetapi jika ceruk pasar yang dituju adalah sama, maka diperkirakan hasil penerimaan penjualan masing-masing perusahaan tersebut tidak akan menjadi optimal. Meminjam kerangka pemikiran Teori Permainan (game theory) John Nash, yaitu seorang ahli matematik peraih hadiah nobel ekonomi, kedua perusahaan yang bertempur pada pasar yang sama akan terpojok memperoleh hasil penjualan yang minimal, bahkan mungkin merugi. Solusi jangka panjang yang diharapkan akan menguntungkan kedua perusahaan adalah segera mengakhiri perang tersebut. Cara lain, yang dirasakan jauh untuk disepakati, adalah melakukan program iklan bersama mengkampanyekan penggunaan obat masuk angin — tanpa menyebutkan nama merk dan perusahaan masing-masing.

Yang jelas, sampai saat ini, mereka yang memperoleh manfaat dari adanya perang iklan adalah para selebriti, produsen iklan dan para produsen siaran televisi maupun surat kabar. Sedangkan memang nasibnya para konsumen; mereka akhirnya akan diminta untuk menanggung seluruh biaya promosi yang dikeluarkan perusahaan.

(copyright@aditiawanchandra)
[halaman awal]

About these ads
  1. ririsatria
    April 2, 2007 pukul 4:31 pm

    Pak Adit … bagaimanakah mereka akan mengakhiri ? … jangan2 terjebak dalam “the prisonners dilemma” … ya nggak Pak ?

  2. April 3, 2007 pukul 12:08 am

    Betul pak Riri. Istilahnya maju terus babak belur, mundurpun buat yang merasa kuat mungkin gengsi. Feeling saya..lama2 begitu kehabisan engine frekuensi penayangan iklannya akan berkurang. jadi sama2 rugi.

  3. lorkenza
    April 4, 2007 pukul 11:30 am

    yah… cari yang halal aja lah freelance

    gw sambil nawarin buat web murah. mulai 750 ribu. bisa statis dan dinamis ( flash, php etc ) udah termasuk domain + hosting 1 tahun. alias.. terima beres.
    silahkan hub: 021-92969672
    or f4hmiy@gmail.com

  4. Bayu
    April 8, 2007 pukul 8:40 am

    Saya kok ga yakin dengan strategi pemasaran seperti ini. Saya salut kepada extrajoss. Extrajoss memposisikan sebagai minuman berenergi, trus bisa mengingatkan kita kl pas kerja keras dengan fisik kita butuh extrajoss. Lebih unggul dibandingkan produk sejenis yang mempunyai image “obat”. Kalau minuman terkesan lebih aman dikonsumsi dan tidak terlalu “mikir aturan pakai”.
    Untuk jamu tolak angin, kesan dari jamu menurut saya kurang bagus karena banyak sekali jamu yang komposisinya banyak mengandung bahan kimia yang berbahaya. Iklan jamu tolak angin juga ga mengingatkan kita secara spesifik kapan kita butuh jamu tersebut. Pendapat saya seperti tolak angin diposisikan sebagai minuman berkasiat untuk mencegah masuk angin, jadi masyarakat ga ragu2 untuk minum. Dan masyarakat diingatkan kapan harus minum minuman tersebut. Misalkan Kalau kita kerja lembur atau melakukan perjalanan jauh, wajib minum minuman berkasiat tolak angin.

  5. Aldy
    April 11, 2007 pukul 11:10 pm

    Ass..
    Mungkin saya setuju dengan teori yang diutarakan oleh Prof. Nash, bahwa solusi yang dpt diambil adlh dengan mengakhiri perang tersebut. Perusahaan2 tersebut bisa melakukan merger atau sejenisnya, sehingga bisa menguntungkan kedua belah pihak, tidak hanya para selebriti, produsen iklan dan para produsen siaran televisi maupun surat kabar.
    Trims.
    Wass…

  6. Ronny
    April 18, 2007 pukul 12:20 pm

    Saya tertarik membaca tulisan pak Adit.

    Menurut saya pemakaian ari lasso yg mantan pengguna barkoba untuk menjadi endoser tolak angin merupakan suatu challenge terseniri buat si endoser maupun perusahaan krn apakah dia bisa ‘membius’ konsumen untuk melakukan hal terakhir dr teori AIDA (awareness-interest-desire-action), artinya apakah konsumen mau percaya dan akhirnya action (membeli).
    Tapi terus terang saya salut dg pak Rhenald yg merubah paradigma tolak angin dr minuman tradisonal menjadi lebih modern. Krn pd umumnya spt kita ketahui yg minum jamu pada umumnya adalah masyarkat mengah kebawah ataupun yg berada di desa.
    Pemakaian selebritis sbg endoser adl baik jika si seleb bisa mewakili atau sesuai dg produk yg iklankan.

  7. ikliel
    Juni 11, 2008 pukul 1:47 pm

    biarkan saja mereka berkembang dengan caranya masing2
    kalau saudara-saudara butuh jahe putih dalam partai besar, silahkan hubungi
    Hp:08566066088
    terimakasih…

  8. Rudy
    Juli 13, 2008 pukul 9:36 pm

    saya sangat setuju dengan strategy yang di gunakan oleh Jamu sidomuncul memakai bintang iklan kelas atas, dan merupakan suatu inovasi yang sangat cemerlang utnuk merebut hati konsumen dan terbukti sangat sukses, walaupun sebagaian konsumen tingkat atas tidak menyukai yang namanya jamu, tetapi sekarang sudah selalu ingat jika masuk angin yaaa yaa ingat tolak angin sidomuncul…..
    selamat atas iklan yang baru memakai ari rasso dan saya merasa yakin bahwa ikaln tersebut akan meraih kesuksesan yang luar biasa.

  9. Henry
    Juli 16, 2008 pukul 10:16 am

    Pemakaian selebriti sebagai ikon dari sebuah brand atau produk memang sedang trend. Istilahnya marketing celebrity. Saat ini marketing celebrity sebagai endoser sudah mengalami perluasan fungsi. Tidak hanya untuk produk consumer saja bahkan partai politik menggunakan celebrity untuk menarik massa. Dengan menyandingkan celebrity sebagai wakil dalam pilkada setidaknya masyarakat yang awam terhadap calon walikota/bupati/gubernur at least dapat mengingat wakilnya sehingga pasangan tsb menjadi Top of Mind. Strategy pemasaran dalam promosi pilkada berjalan dengan baik, hebat saya sebagai marketer ikut mendukung, tetapi saya prihatin dg dunia politiknya selebriti yg tidak ada background organisasi dijadikan wakil dalam memimpin sebuah pemerintahan???? are u sure??? mau dibawa kemana negeri ini??? Hello…

  10. thomas
    Maret 5, 2009 pukul 1:12 am

    biarkan saja mereka berkembang dengan caranya masing2
    kalau saudara-saudara butuh kopi,lada(sahang),kelapa,jahe emprit(jahe sedang) dalam partai besar, silahkan hubungi
    Hp:+62 859 2180 5552
    thomas
    terimakasih…

  1. Juli 17, 2008 pukul 11:05 am

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 31 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: