Beranda > CSR, Taktik Manajemen > Program Corporate Social Responsibility yang Berkelanjutan

Program Corporate Social Responsibility yang Berkelanjutan

Writer: Timotheus Lesmana
[ARTIKEL BERIKUT MERUPAKAN TULISAN YANG PERNAH DIMUAT DI MAJALAH  LENSA  ETF EDISI 1 NOV 2006, EKA TJIPTA FOUNDATION]
         
          Pembangunan suatu negara bukan hanya tanggung jawab pemerintah saja, setiap insan manusia berperan untuk mewujudkan kesejahteraan sosial dan peningkatan kualitas hidup masyarakat. Dunia usaha berperan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang sehat dengan mempertimbangan pula faktor lingkungan hidup. Kini dunia usaha tidak lagi hanya memperhatikan catatan keuangan perusahaan semata (single bottom line), melainkan sudah meliputi aspek keuangan, aspek sosial, dan aspek lingkungan biasa disebut triple bottom line. Sinergi dari tiga elemen ini merupakan kunci dari konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable development).
          Seiring dengan pesatnya perkembangan sektor dunia usaha sebagai akibat liberalisasi ekonomi, berbagai kalangan swasta, organisasi masyarakat, dan dunia pendidikan berupaya merumuskan dan mempromosikan tanggung jawab sosial sektor usaha dalam hubungannya dengan masyarakat dan lingkungan.
          Namun saat ini – saat perubahan sedang melanda dunia – kalangan usaha juga tengah dihimpit oleh berbagai tekanan, mulai dari kepentingan untuk meningkatkan daya saing, tuntutan untuk menerapkan corporate governance, hingga masalah kepentingan stakeholder yang makin meningkat. Oleh karena itu, dunia usaha perlu mencari pola-pola kemitraan (partnership) dengan seluruh stakeholder agar dapat berperan dalam pembangunan, sekaligus meningkatkan kinerjanya agar tetap dapat bertahan dan bahkan berkembang menjadi perusa haan yang mampu bersaing.
          Upaya tersebut secara umum dapat disebut sebagai corporate social responsibility atau corporate citizenship dan dimaksudkan untuk mendorong dunia usaha lebih etis dalam menjalankan aktivitasnya agar tidak berpengaruh atau berdampak buruk pada masyarakat dan lingkungan hidupnya, sehingga pada akhirnya dunia usaha akan dapat bertahan secara berkelanjutan untuk memperoleh manfaat ekonomi yang menjadi tujuan dibentuknya dunia usaha.
          Konsep tanggung jawab sosial perusahaan telah mulai dikenal sejak awal 1970an, yang secara umum diartikan sebagai kumpulan kebijakan dan praktek yang berhubungan dengan stakeholder, nilai-nilai, pemenuhan ketentuan hukum, penghargaan masyarakat dan lingkungan; serta komitmen dunia usaha untuk berkontribusi dalam pembangunan secara berkelanjutan. Corporate Social Responsibility (CSR) tidak hanya merupakan kegiatan karikatif perusahaan dan tidak terbatas hanya pada pemenuhan aturan hukum semata.

Implementasi konsep sustainable development dalam Program CSR
          Masih banyak perusahaan tidak mau menjalankan program-program CSR karena melihat hal tersebut hanya sebagai pengeluaran biaya (cost center). CSR memang tidak memberikan hasil secara keuangan dalam jangka pendek. Namun CSR akan memberikan hasil baik langsung maupun tidak langsung pada keuangan perusahaan di masa mendatang. Dengan demikian apabila perusahaan melakukan program-program CSR diharapkan keberlanjutan perusahaan akan terjamin dengan baik. Oleh karena itu, program-program CSR lebih tepat apabila digolongkan sebagai investasi dan harus menjadi strategi bisnis dari suatu perusahaan.
          Dengan masuknya program CSR sebagai bagian dari strategi bisnis, maka akan dengan mudah bagi unit-unit usaha yang berada dalam suatu perusahaan untuk mengimplementasi kan rencana kegiatan dari program CSR yang dirancangnya. Dilihat dari sisi pertanggung jawaban keuangan atas setiap investasi yang dikeluarkan dari program CSR menjadi lebih jelas dan tegas, sehingga pada akhirnya keberlanjutan yang diharapkan akan dapat terimplementasi berdasarkan harapan semua stakeholder.

Mengapa Program CSR harus Sustainable.
          Pada saat ini telah banyak perusahaan di Indonesia, khususnya perusahaan besar yang telah melakukan berbagai bentuk kegiatan CSR, apakah itu dalam bentuk community development, charity, atau kegiatan-kegiatan philanthropy. Timbul pertanyaan apakah yang menjadi perbandingan/perbedaan antara program community development, philanthropy, dan CSR  dan mana yang dapat menunjang berkelanjutan (sustainable)?
          Tidak mudah memang untuk memberikan jawaban yang tegas terhadap pertanyaan diatas, namun penulis beranggapan bahwa “CSR is the ultimate level towards sustainability of development. Umumnya kegiatan-kegiatan community development, charity maupun philanthropy yang saat ini mulai berkembang di bumi. Indonesia masih merupakan kegiatan yang bersifat pengabdian kepada masyarakat ataupun lingkungan yang berada tidak jauh dari lokasi tempat dunia usaha melakukan kegiatannya. Dan sering kali kegiatannya belum dikaitkan dengan tiga elemen yang menjadi kunci dari pembangunan berkelanjutan tersebut. Namun hal ini adalah langkah awal positif yang perlu dikembangkan dan diperluas hingga benar-benar dapat dijadikan kegiatan Corporate Social Responsibility yang benar-benar sustainable.
          Selain itu program CSR baru dapat menjadi berkelanjutan apabila, program yang dibuat oleh suatu perusahaan benar-benar merupakan komitmen bersama dari segenap unsur yang ada di dalam perusahaan itu sendiri. Tentunya tanpa adanya komitmen dan dukungan dengan penuh antusias dari karyawan akan menjadikan program-program tersebut bagaikan program penebusan dosa dari pemegang saham belaka. Dengan melibatkan karyawan secara intensif, maka nilai dari program-program tersebut akan memberikan arti tersendiri yang sangat besar bagi perusahaan.
          Melakukan program CSR yang berkelanjutan akan memberikan dampak positif dan manfaat yang lebih besar baik kepada perusahaan itu sendiri maupun para stakeholder yang terkait. Sebagai contoh nyata dari program CSR yang dapat dilakukan oleh perusahaan dengan semangat keberlanjutan antara lain, yaitu: pengembangan bioenergi, melalui kegiatan penciptaan Desa Mandiri Energi yang merupakan cikal bakal dari pembentukan eco-village di masa mendatang bagi Indonesia.
          Program CSR yang berkelanjutan diharapkan akan dapat membentuk atau menciptakan kehidupan masyarakat yang lebih sejahtera dan mandiri. Setiap kegiatan tersebut akan melibatkan semangat sinergi dari semua pihak secara terus menerus membangun dan menciptakan kesejahteraan dan pada akhirnya akan tercipta kemandirian dari masyarakat yang terlibat dalam program tersebut.
          Program CSR tidak selalu merupakan promosi perusahaan yang terselubung, bila ada iklan atau kegiatan PR mengenai program CSR yang dilakukan satu perusahaan, itu merupakan himbauan kepada dunia usaha secara umum bahwa kegiatan tersebut merupakan keharusan/tanggung jawab bagi setiap pengusaha. Sehingga dapat memberikan pancingan kepada pengusaha lain untuk dapat berbuat hal yang sama bagi kepentingan masyarakat luas, agar pembangunan berkelanjutan dapat terealisasi dengan baik. Karena untuk menciptakan masyarakat yang sejahtera dan mandiri semua dunia usaha harus secara bersama mendukung kegiatan yang terkait hal tersebut. Dimana pada akhirnya dunia usaha pun akan menikmati keberlanjutan dan kelangsungan usahanya dengan baik.

Manfaat dari program CSR bagi perusahaan di Indonesia
          Memang pada saat ini di Indonesia, praktek CSR belum menjadi suatu keharusan yang umum, namun dalam abad informasi dan teknologi serta adanya desakan globalisasi, maka tuntutan terhadap perusahaan untuk menjalankan CSR akan semakin besar. Tidak menutup kemungkinan bahwa CSR menjadi kewajiban baru standar bisnis yang harus dipenuhi seperti layaknya standar ISO. Dan diperkirakan pada akhir tahun 2008 mendatang akan diluncurkan ISO 26000 on Social Responsibility, sehingga tuntutan dunia usaha menjadi semakin jelas akan pentingnya program CSR dijalankan oleh perusahaan apabila menginginkan keberlanjutan dari perusahaan tersebut.
          CSR akan menjadi strategi bisnis yang inheren dalam perusahaan untuk menjaga atau meningkatkan daya saing melalui reputasi dan kesetiaan merek produk (loyalitas) atau citra perusahaan.     Kedua hal tersebut akan menjadi keunggulan kompetitif perusahaan yang sulit untuk ditiru oleh para pesaing.     Di lain pihak, adanya pertumbuhan keinginan dari konsumen untuk membeli produk berdasarkan kriteria-kriteria berbasis nilai-nilai dan etika akan merubah perilaku konsumen di masa mendatang. Implementasi kebijakan CSR adalah suatu proses yang terus menerus dan berkelanjutan. Dengan demikian akan tercipta satu ekosistem yang menguntungkan semua pihak (true win win situation) – konsumen mendapatkan produk unggul yang ramah lingkungan, produsen pun mendapatkan profit yang sesuai yang pada akhirnya akan dikembalikan ke tangan masyarakat secara tidak langsung.
          Sekali lagi untuk mencapai keberhasilan dalam melakukan program CSR, diperlukannya komitmen yang kuat, partisipasi aktif, serta ketulusan dari semua pihak yang peduli terhadap program-program CSR. Program CSR menjadi begitu penting karena kewajiban manusia untuk bertanggung jawab atas keutuhan kondisi-kondisi kehidupan umat manusia di masa datang.
           Perusahaaan perlu bertanggung jawab bahwa di masa mendatang tetap ada manusia di muka bumi ini, sehingga dunia tetap harus menjadi manusiawi, untuk menjamin keberlangsungan kehidupan kini dan di hari esok.

(copyright@timotheus_lesmana)
[

Kategori:CSR, Taktik Manajemen
  1. Maret 8, 2007 pukul 1:25 pm

    CSR oh CSR, tapi CSR juga percuma kalau secara internal hak-hak pekerja juga nggak dijamin

  2. dian
    Maret 10, 2007 pukul 9:57 pm

    apakah di indonesia sudah ada legalitas hukum untuk pengesahan CSR? kalo sudah UU apa yang menjelaskan? dan kalo belum ada mengapa?

    • Timotheus Lesmana
      Juli 10, 2011 pukul 10:31 pm

      Dian, maaf terlambat saya menjawab – walau saya baca sepintas banyak yang sudah memberikan jawabannya.
      di Indonesia memang yang ada UU No 40/2007 tentang Perseroan Terbatas, dimana dalam pasal 74 memuat mengenai tanggung jawab sosial dan lingkungan (umumnya sekarang dikenal dengan TJSL), walau pasal ini merupakan pasal kontroversi.
      Sejak dari kemunculannya hingga diajukan ke MK dan sampai saat ini dalam penyusunan RPP (sesuai amanat di pasal tersebut) tidak kunjung rampung, dan bahkan di bulan lalu pada saat rapat finalisasi di kantor Sekretariat Negara, akhirnya RPP tersebut harus dikembalikan ke Kementerian Hukum dan HAM, karena masih adanya perbedaan persepsi atas beberapa kata yang dapat menimbulkan penafsiran yang berbeda.

  3. Maret 10, 2007 pukul 11:26 pm

    Sdr, Anggara, Idealnya CSR dilakukan dengan seimbang memperhatikan kepentingan stakeholder lainnya, seperti karyawan, pemegang saham, pemasok, pembeli, dsb. Tentunya ini semua seyogyanya telah diatur dalam manual kepegawaian dan perjanjian kerja perusahaan dengan karyawan. Jika belum disentuh atau merasa masih kurang diberikan oleh manajemen, agar disampaikan baik2 dengan pihak manajemen perusahaan.
    Untuk Sdr Dian saya masih harus consult dengan pak Timo tentang pertanyaannya. salam hangat.

  4. Evy
    Maret 12, 2007 pukul 11:35 pm

    Aku pernah bantu charity-nya Budha Tsuci, sepertinya grup-nya pak Eka Cipta termasuk juga ya pak, apa itu termasuk program CSR?

    Ini blog bagus banget ya pak seperti baca majalah bisnis..;) wah aku belajar management susyah banget pak, mending disuruh operasi, padahal manajemen itu penting banget ya…untuk hidup, ga cuman buat cari duit, baru tahu setelah belajar hehehe

  5. adit
    Maret 12, 2007 pukul 11:57 pm

    iya mbak…keluarga pak Eka giat berkontribusi di charitynya budha tsuci. Umumnya program charity biasanya dihubungkan dengan rasa kepedulian dari seseorang atau kelompok perseorangan terhadap kepentingan kelompok masyarakat yang kemalangan, tertindas atau terbelakang. Bisa berhenti ditengah jalan jika bensinnya habis.
    Kalau CSR dibuat sedikit melembaga, dikaitkan dengan eksistensi perusahaan… ada rencananya, organisasi, budgetnya. lebih terorganisir…gitu lho.
    thank you banget dengan pujiannya…walaupun ada juga yang mengkritik. salam.

  6. zoul "Akbar"
    Maret 14, 2007 pukul 12:35 pm

    Pak, apa CSR ini bisa dimasukkan kedalam perusahaan dimana lembaga yang bertanggung jawab terhadap CSR ini sebagai strategic partnership terhadap perusahaan?? Seperti layaknya HRD modern yang dicetuskan oleh dave ulrich

  7. Maret 14, 2007 pukul 10:16 pm

    mbak Dian saya sudah tanyakan pada pak Timo, di negeri kita CSR tidak diatur oleh undang2 maupun peraturan pemerintah. yang penting kalo niat sucinya mau bantu community dan kelompok masyarakat tak mampu….engga perlu yhah di atur2. Paling masalahnya sekarang sejauh mana Dirjen Pajak dapat tidak terlalu mengobok obok baik pendpatan maupun perlakuan biaya dari kegiatan ini.
    CSR bisa saya ada dalam struktur organisasi perusahaan atau merupakan unit yang independent, seperti dalam yayasan. Tapi kalo mau di outsource…jangan terlalu diobyekin untuk cari rejeki.

  8. riCO verNANDO
    Maret 15, 2007 pukul 12:26 pm

    Pa saya ingin bertanya,,,apakah CSR yang dikeluarkan perusahaan itu mempengaruhi profitabilitas perusahaan,,,..ADAKAH teori yang menyinggung tentang itu…thanx

  9. Gundur
    Maret 28, 2007 pukul 7:43 am

    Pak, terima kasih atas dibahasnya masalah CSR ini. pada saat ini saya sadang melakukan penelitan mengenai CSR yang berhubungan dengan perilaku konsumen sehingga memunculkan keinginan untuk membeli produk atau jasa dari produsen yang melakukan kegiatan CSR tersebut. Adakah data yang bisa menjelaskan hal tersebut, adakah hasil penelitian atau sumber bacaan yang bisa membantu saya dalam melakukan penelitian ini.

    Terima kasih Pak.

  10. Maret 28, 2007 pukul 2:10 pm

    pada umumnya pak, banyak perusahaan yang mempraktekkan CSR hanya keluar dan jarang yang mempraktekkan CSR ke dalam, dalam hal ini tekait dengan hak-hak pekerja (ini tidak dalam kerangka normatif pak). Dan CSR yang dianut di Indonesia pada umumnya masih bersifat karitatif, sebagai contoh, sumbangan perusahaan-perusahaan untuk pemberantasan korupsi hampir bisa dibilang minim sekali. Saya pikir orientasi CSR sudah harus berubah

  11. Maret 28, 2007 pukul 2:11 pm

    Tapi secara umum ini blog yang menarik, seorang eksekutif perusahaan besar punya blog, wow keren

  12. Subroto
    Maret 28, 2007 pukul 9:23 pm

    bukankah csr itu cara yang digunakan perusahaan dalam menutupi segala kejelekan perusahaan.

  13. Maret 29, 2007 pukul 12:18 am

    Kawan2 seperjuangan,
    terima kasih atas semua tanggapannya. topik CSR rupanya semakin naik daun. Gerakan CSR timbul karena awalnya adalah ketidakpedulian perusahaan pada lingkungan masyarakat (community) sekitar tempat berusaha. Sekarang CSR oleh sebagian perusahaan dilihat sebagai suati kewajiban (responsibility) karena community telah memfasilitasi keberhasilan penjualan dan laba. Jadi bukan lagi sekedar hadiah, kegiatan sukarela atau sesuatu yang mubazir. Dengan dilakukannya CSR maka perusahaan terjamin kelangsungan hidupnya.
    Masih sedikit literatur yang bahas ttg dampaknya CSR kepada laba perusahaan. Kegiatan CSR bukan kegiatan menggantikan kewajiban perusahaan memberikan jaminan kesejahteraan pada karyawan. CSRpun bukan berarti upaya meningkatkan citra. INi kegiatan perusahaan kepada lingkungan eksternal untuk dapat hidup secara berdampingan secara sehat dan saling mendukung.

  14. efi
    Maret 29, 2007 pukul 11:17 am

    saya tertarik dengan CSR, mau tanya2 tentang CSR nie…
    da jenis2 perusahaan tertentu ga yang sebaiknya memiliki CSR ini?
    oiy…model CSR yang bagaimana yang sudah pernah diterapkan di Perushn Indo…
    (stakeholder2 apa aja yang terkait?)
    laen x mo tanya lagi gpp kn =)

  15. April 1, 2007 pukul 7:08 pm

    tentunya jika ingin dibuat rankingnya mungkin demikian:
    1. perusahaan yang banyak mengeluarkan limbah (beracun maupun tidak beracun) di sekitar lokasi usaha
    2. perusahaan yang banyak menuai laba dari keberadaannya di sekitar lokasi usaha
    3. perusahaan yang dalam usahanya tidak banyak memberikan keterkaitan pasokan maun usaha distribusi bagi tempat disekitar usahanya (footloose industry.
    Tapi yang penting… jika perusahaan merasa bahwa suksesnya banyak ditopang oleh keberadaan sumber daya alam, tenaga kerja dsb dari masyarakat setempat, maka mereka wajib untuk melakukan CSR. Mengenai model CSR ga ada yang baku yang diterapkan di Indonesia. Ada yang hanya kasih dana segar, tetapi ada juga yang langsung aktif berperan dalam program community development.
    Thanks atas perhatiannya.

    • rey permana
      Juli 23, 2011 pukul 11:24 am

      yang bener pak eka, tapi yang saya liat tuh ikpp srg, hrd nya malahan kelola parkir… limbah kertas juga ditenderkan…bukannya penelitian csr atau peninjauannya sosial masyarakat dampak lingkungan …rumitnya .

  16. Joko
    April 6, 2007 pukul 10:00 am

    Pak Eka,
    Yayasan Al ghifari memiliki track record luarbiasa dalam pendampingan anak jalanan yogyakarta. Sayang, upaya mereka menggandeng ADB untuk keberlanjutan proyek-proyek pengentasan anak jalanan DIJEGAL LSM-LSM lain yang hanya money oriented. Al Ghifari tidak patah arang, Sigit Sugianto (Ketua Yayasan) tetap melanjutkan pendampingan anak jalanan dengan biaya dari kantong sendiri. Kini, TK anjal, paguyuban keluarga anjal, dan banyak lagi program pendampingan anak jalanan Al Ghifari terancam bubar. Sigit tidak lagi mampu membiayai dari kantung pribadi. Dia juga masih trauma “bekerjasama” dengan pihak “asing” yang berdasar pengalaman lebih senang “memperdagangkan kemiskinan” melalui proyek-proyek kemanusiaan untuk memperoleh kuntungan finansial pribadi/kelompok.
    Lembaga Advokasi PeKa (Joko Windoro, +6185868269892) yang berkantor di Jl. Gambiran 25 Yogyakarta mencoba memediasi Al Ghifari dengan lembaga-lembaga donor plus support pengembangan program pendampingan anak jalanan agar proyek-proyek Al Ghifari tetap sustain. Kami telah menyiapkan design program secara komprehensif dan membuka diri untuk kemitraan dengan lembaga lain yang memiliki visi dan komitmen yang selaras untuk pemberdayaan komunitas anak jalanan.
    Kami tidak “menjajakan” kehidupan minor anak jalanan demi memperoleh dana karitatif, tapi jika Anda tertarik mengenal lebih jauh apa dan siapa Al Ghifari, pintu kami terbuka 24 jam.

  17. ismail sulaiman,
    April 11, 2007 pukul 4:25 pm

    Pak tolong dijelaskan hubungan ethics dengan CSR dong? saya sangat tertarik sekali dengan topik ini!

    Terima ksih sebelumnya

    Ismail Sulaiman

  18. Aldy
    April 11, 2007 pukul 11:51 pm

    Ass..
    Kalo saya boleh jawab, mungkin hubungannya adalah CSR harus dilandasi dengan etika yang baik di mana perusahaan menjalankan CSR tersebut dengan penuh ketulusan dan tanggung jawab terhadap para stakeholders-nya.
    Dengan etika yg baik maka perusahaan dapat menjalankan segala kegiatannya dengan baik pula.
    Ya ini sekedar pendapat saja, mungkin pak Adit dapat menjawabnya dengan lbh jelas hehehe…
    Trims.
    Wass…

  19. April 11, 2007 pukul 11:54 pm

    kalo tidak salah etika bicara soal sopan santun atau halal tidaknya suatu tindakan/perbuatan dari sudut pandang peraturan dan kebiasaan yang berlaku di sebagian besar kelompok masyarakat. nah dalam hubungan ini CSR menyarankan agar perusahaan melihat kegiatan ini sebagai upaya memenuhi tuntutan yang sifatnya universal yang harus dipenuhi perusahaan, karena keberadaannya merupakan sub sistem dalam hubungan sosial dengan institusi di masyarakat.
    Kalo mau afdol mungkin perlu ditelusuri dari aspek bedah kajian filosofis.. yang untuk ini …maaf saya kurang menguasai.

  20. Aldy
    April 12, 2007 pukul 12:09 am

    wah untuk masalah filosofi sepertinya pak Prijono menguasainya tuh, dia sering menghubungkan antara ekonomi dengan filsafat dalam mengajar.

  21. widinata
    April 13, 2007 pukul 8:44 am

    Dear pak Adit

    yang saya mau tanyakan kira 2 kegiatan CSR apa yang tepat untuk perusahaan yang bergerak dalam bidang perdagangan ( baik sebagai distributor maupun ritel

    mohon masukannya

    tks

  22. April 13, 2007 pukul 7:27 pm

    Pertanyaan yang bagus. Sebenarnya tidak ada kegiatan CSR yang khusus untuk sektor2 kegiatan ekonomi tertentu.
    Tapi untuk distributor dan retail mungkin bisa bantu masyarakat atau pemerintahan kota dalam mengelola sampah, membangun gedung pertemuan, kegiatan sponsor acara2 di lokalitas setempat, renovasi pasar tradisional, atau memberikan pembinaan pada para pedagang kecil dan asongan untuk meningkatkan usaha mereka.
    Bisa mulai dicoba ya pak.

  23. widinata
    April 14, 2007 pukul 9:08 am

    terima kasih pak, atas sarannya

    mungkin teman yang lain ada sample proposal yang biasa digunakan untuk membuat suatu program CSR atau mungkin kegiatan sosial kemasyarakatan yang terkait, yang mungkin bs saya lihat
    bs langsung diemail ke saya di widinata@oke.com

    terima kasih sebelumnya kepada rekan – rekan

  24. Sri Diana Rejeki
    April 24, 2007 pukul 2:33 pm

    sebagai seorang mahasiswa yang baru memulai untuk menulis saya ingin menanyakan bagaimana yang di katakan dengan CSR?Apakah konsepnya sama dengan Good Goverment? Apakah semua perusahaan sudah menerapkan sistem CSR ini?

  25. Sri Diana Rejeki
    April 24, 2007 pukul 2:38 pm

    sebagai seorang mahasiswa yang baru memulai untuk menulis saya ingin menanyakan bagaimana yang di katakan dengan CSR?Apakah konsepnya sama dengan Good Governance? Apakah semua perusahaan sudah menerapkan sistem CSR ini?Apakah kasus lapindo adalah kasus yang perlu diterapkan CSR ini?

  26. April 24, 2007 pukul 11:25 pm

    dear sri, jelas beda gcg dengan csr. gcg bicara masalah pengaturan tatakelola perusahaan agar lebeih tertata baik, antara lain dengan mengedepankan prinsip2 good governance. Sedangkan csr bicara tentang kewajiban perusahaan dalam menyumbangkan pengembangan masyarakat sekitar. Hal ini dilandasi oleh suatu premise bahwa kehadiran perusahaan di lokalitas ttt sangat tergantung oleh partisipasi dan keberadaan community.
    Dalam kasus lapindo merupakan malapetaka. perusahaan belum berkembang sudah dihadapkan pada berbagai kewajiban menangani krisis. menurut saya bukan hanya perusahaan Lapindo yang perlu turun tangan, tetapi pemda dan pemerintah pusat memiliki kewajiban moral dan material untuk segera menangani malapetaka tersebut. perlu diingat, pemda disini terlibat juga karena telah memberikan ijin operasional.

  27. paman inasyh
    Mei 3, 2007 pukul 11:37 am

    seurius ni pak…csr tu emang bagus banget. cuma saya bingung, saya lg skrip ni. rencana mo ngangkat masalah csr, tapi kekurangan banyak info, bahan dan yang lebih membingungkan lagi, saya berencana mengangkat csr dari sudut pandang eko.syariah pak…oh my god!!!tolong dunk pak…kirimi saya segala sesuatu ttg csr. titip di nashrullah.aceh@gmail.com aja…trus uda ada bloom UU atau PP yang mengatur csr. terima kasih atas jawabannya.
    maaf juga kalau komen saya g kyk y lain…

  28. hikma
    Mei 28, 2007 pukul 2:44 pm

    ass…saya mau nanya neh, kebetulan saya lg membuat skripsi mengenai Community Development. saya mau tanya bagian2 CSR itu apa aja sih selain CommDev, CommRel?? trus kl bs tolong ks saya data atau sumebr2 tentang CSR atau CommDev krn bk2nya sangat kurang sekali…
    trimah kasih banyak ya pak.. atas bantuannya……

  29. siela
    Juni 25, 2007 pukul 11:07 am

    ass. yth bpk adit, saya butuh informasi neh, mengenai idealnya proses perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi program CSR. email saya ke siela_doank@yahoo.com thanx before

  30. Juni 27, 2007 pukul 12:02 am

    wah…wah…. banyak juga nih yang berminat. Ilmunya itu sendiri saat ini masih dalam tahap pengembangan. jadi tentu saja belum banyak buku tentang itu. Yang tersedia adalah dalam bentuk working papers, atau kasus2 keberhasilan dari proyek2 yang ditangani oleh lembaga internasional seperti bank dunia, ADB atau IFC. Silahkan akses langsung pada web mereka. Terima kasih atas perhatian anda semua.

  31. hikma
    Juli 6, 2007 pukul 12:39 pm

    ass…pak, aku mau tany nech…! CSR dgn Commdev itu beda ya pak ??
    trus perbedaan Commrel,commdev,corporate filantrophy,charity, corporate brand, dll itu apa sih pak? krn sy pengen tau aja perbedaan masing2 bagian dr bentuk tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
    trims bgt ya pak..atas bantuannya….

  32. Arie Andina
    September 26, 2007 pukul 2:17 pm

    saya mahasiswi jurusan akuntansi Unsyiah..
    saya tertarik untuk menyusun skripsi dengan tema CSR dan saya ingin mengetahui sejauh mana keterkaitan CSR dalam bidang akuntansi..
    mohon bantuan ya…
    terima kasih

  33. Ronald
    Oktober 2, 2007 pukul 7:41 pm

    csr….. csr…… malangnya concept mu, kurang banget infonya — ga nyebar, udah gitu persepsi di masyarakatnya juga ga jelas confiusing, pemerintah buat uu nya (yg ttg lingkungan UU No. 1 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas Pasal 74) juga lucu SDA nya itu kayak apa gtu lho ga jelas coba deh baca haha masa yg buat uu udah dibayar mahal masi gitu ya? indonesia ku tercinta hiks,,,,,,,,,

  34. adhit
    Oktober 9, 2007 pukul 11:04 am

    Sekarang ini masyarakat umum, konsumen dan investor udah semakin memiliki kesadaran yang tinggi akan bisnis ethis. Mereka menggunakan hak, daya beli dan kekuatan modalnya untuk menuntut korporasi melakukan tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility – CSR). Tanggung jawab perusahaan tidak hanya menghasilkan keuntungan dan kekayaan bagi pemiliknya (pemegang saham), tetapi juga meliputi peningkatan kualitas hidup pekerja dan masyarakat sekitar serta pemeliharaan lingkungan yang sehat dan jaminan kelestarian lingkungan. Sehingga CSR itu bukan hanya ComDev, Charity, Filantrophy, Corporate Brands, dll. Tetapi itu hanya sebagian kecil dari CSR.

    Jadi logikanya, ketika ada perusahaan yang sudah menjalankan ComdDev belum berarti perusahaan tersebut sudah melakukan atau melaksanakan CSR. Karena CSR itu sebenarnya lebih kepada akuntabilatas bisnis yang menyentuh kepentingan dan permasalahan paling mendasar para stakeholdernya (tentu saja yang berhubungan dengan triple P : People, Planet dan Profit).

    Satu kalimat yang dapat merangkum comment saya diatas adalah :
    ”…csr itu bukan bagi-bagi duit…”. oya satu lagi terima kasih kepada DPR, baru kali ini saya setuju dengan anda semua, ketika anda telah memasukan CSR ke dalam UU Penanaman Modal dan UU Perseroan Terbatas.

    Tetapi sekali lagi CSR itu lahir dari niat baik, ketika sudah ada UU yang mengaturnya lantas konsep CSR diselewengankan apalagi di korupsi. Wah konsep CSR malah jadi tambah salah kaprah donk, Karena isu CSR pasca disahkannya UU Perseroan Terbatas ada dalam persimpangan, kalau itu dibawa oleh kita semua ke arah yang baik, CSR akan berguna bagi kita semua, kalau tidak ya….. itulah Indonesia. Terima kasih Pak Adit. Hehehe….. nama kita sama ya pak, tapi diantara huruf “d” dengan “i”, di nama saya ada huruf “h”nya donk…?!!

  35. Oktober 31, 2007 pukul 8:50 am

    terima kasih adhit atas masukannya. ditunggu tulisan anda untuk masuk di bolg saya. salam

  36. November 9, 2007 pukul 3:36 pm

    untuk BUMN CSR dilaksanakan lama (1970 an) melalui menteri perindustrian, keuangan dan terakhir melalui menteri BUMN, sedangkan PT baru dilegalkan th 2007 melalui UUPT no 40 th 2007 pasal 74. Untuk mengetahui perusahaan sukses atau berhasil menjalankan CSR, apa indikatornya ?

  37. November 11, 2007 pukul 10:41 am

    Ada beberapa indikator keberhasilan CSR:
    1. manfaat yang dirasakan oleh community
    2. publisitas yang positif di media
    3. jumlah participant yang terlibat dalam program
    4. dukungan positif dari para sponsor

  38. Indri
    November 28, 2007 pukul 7:23 pm

    saya adalah mahasiswi akuntansi. Saya memiliki tugas akhir dari mata kuliah seminar akuntansi dimana kami diminta untuk membahas beberapa topik, dan saya memutuskan untuk memilih topik mengenai hubungan antara akuntansi dengan CSR, sejauh mana CSR berpengaruh terhadap laporan keuangan perusahaan, tolong dibantu menjelaskannya pak. Terima kasih sebelumnya atas jawaban yang telah diberikan.

  39. tika
    Desember 6, 2007 pukul 10:34 pm

    yup..
    CSR emg lg booming. tp knp pnelitiannya di indo msh jrg ya??/
    sbnr nya dimensi CSR tuh apa aja ya?? ada hub nya ga c csr ama bran image?
    ada yg tau referensi n jurnal bgs ga bout csr??

  40. asti
    Desember 30, 2007 pukul 10:25 am

    saya mahasisiwi universitas airlangga program studi sosiologi semester 5,sangat tertarik sekali mengenai masalah CSR terlebih ketika saya membaca dan ikut seminar CSR perusahaan Riaupulp. sebagai tambahan referensi untuk gambaran masa depan, saya minta e-mail atau sejenisnya kepada rekan-rekan yang mengetahui lebih banyak informasi mengenai CSR yang bisa saya akses demi terwujudnya keinginan saya kedepan. kepada bapak adit terutama, terimakasih………

  41. intan nurul imamah
    Januari 17, 2008 pukul 9:25 am

    ass. pak saya tertarik dengan csr sejak mengikuti kuliah geografi industri di kampus, dan mengunjungi sebuah pabrik batere di jak-bar. Di smt ini saya berencana mengajukan skripsi tentang csr setelah melihat iklan sebuah rokok kretek yang mengembangkan csr-nya lewat penebaran bibit mangga di wilayah kudus. Yang ingin saya tanyakan kira-kira ada gak yah pak hubungan csr ini dengan jurusan saya di geografi? tolong bantu saya kira-kira perusahaan mana saja yang sudah menjalankan csr ini. terima kasih banyak pak wass..

  42. niela
    Februari 22, 2008 pukul 1:18 pm

    gimana caranya supaya bisa ikut program CSR?

  43. aimi
    Februari 27, 2008 pukul 10:41 am

    tolong dibahas tentang draf peraturan pemerintah tentang tanggung jawab sosial dan lingkungan yang diatur dalam pasal 74 uu perseroan terbatas no 40 tahun 2007…..
    apakah rancangan pp ini sudah disahkan oleh dpr???????
    apakah dalam uu perbankan ada mengatur tentang tanggung jawab sosial dan lingkungan???????? bila ada pada pasal berapa???
    selain pasal 74 uu no 40 tahun 2007 tentang pt menjadi dasar hukum csr , adakah peraturan hukum lain yang mengaturnya?????/
    tolong dibalas ke email saya……..
    saya sedang menyusun skripsi tentang csr
    terima kasih sebelumnya saya ucapkan……..

  44. bryant
    Maret 13, 2008 pukul 10:58 am

    menurut bapak apakah program PKBL yang dijalankan oleh BUMN saat ini sama dengan Program CSR yang diwajibkan oleh UU PT No 40 pasal 74

  45. dewi
    Maret 25, 2008 pukul 11:30 am

    saya mengambil judul tentang penerapan csr dan penyajiannya dalam laporan keuangan.apakah ada pembahasan tentang hal yang terincitentang itu dan penelitian saya berpusat pada perusahaan produksi rotan

  46. farida
    April 20, 2008 pukul 3:07 pm

    saya ingin bertanya, bagaimanakah persepsi manajer terhadap CSDR? sberapa besarkah peran manajer dalam penerapan CSR in, dan adakah perbedaan persepsi antar manajer yang sudah dan belum melaksanakan CSR?. saya harap Anda dapat menjelaskannya. terimakasih

  47. anggit
    Mei 2, 2008 pukul 7:29 pm

    salam kenal, saya mohon bantuan reomendasi perusahaan yang melakukan kegiatan CSR, karena saya sedang melaksanakan skripsi dan ingin meneliti kegiatan CSR. Thanks

  48. maya
    Mei 9, 2008 pukul 11:12 am

    saya mahasiswi akuntansi, saya sedang menulis skripsi.saya berminat untuk menulis tentang csr pak.namun saya masih bingung menghubungkan antara akuntansi manajemen dengan crs.saya mohon bapak bisa membantu dan mengirimkan referensi mengenai csr ini ke email saya.terma kasih sebelumnya…

  49. Sisya
    Mei 23, 2008 pukul 11:47 am

    Pak, saya mahasiswi akuntansi yang sedang menulis skripsi mengenai implementasi CSR di salah satu perusahaan BUMN .. Saya masih bingung untuk menghubungkan antara akuntansi dengan CSR dan bagaimana format dari pengungkapan CSR pada perusahaan BUMN ? Saya mohon bantuan Bapak dan mengirimkan referensi mengenai CSR ini ke e-mail saya..Terimakasih banyak Pak..

  50. pan
    Juni 16, 2008 pukul 8:52 am

    saya akan melakukan penelitian skripsi mengenai CSR di suatu perusahaan pabrik kulit..
    kira-kira judul apa ya yang dapat anda sarankan??
    atau apa saja yang harus saya teliti mengenai CSR ini??
    terima kasih banyak sebelumnya..

  51. Bee
    Juli 14, 2008 pukul 10:04 am

    Pak, saya salah satu karyawan di instansi pendidikan di Indonesia. Menurut kaca mata saya peneraoan CSR di instansi saya msh sgt jauh dari harapan bahkan tidak ada. Bukan hanya ditingkat pusat tetapi sdh meradang ketingkat unit2 di daerah. Kalaupun ada hanya sebatas wacana saja untuk kebutuhan politis dari pimpinan selama ini. Yang mau saya tanyakan adakah saran yg lebih realistis dan masuk akal agar CSR tersebut dapat diaplikasikan.

  52. via w
    Juli 16, 2008 pukul 9:38 am

    Waktu skripsi Februari tahun 2007 saya mengangkat tentang CSR, tp sayangnya saya cukup kesulitan untuk mendapatkan referensi tentang CSR.
    mdh2n dgn adanya blog ini,peneliti yang mengangkat topik CSR selanjutnya mendapatkan kemudahan dalam menjalani penelitiannya..

    semoga program CSR yg sedang digalakkan di Indonesia berjalan dengan lancar dan sukses..

  53. adi panji wibowo
    Juli 30, 2008 pukul 9:12 pm

    csr di indonesia sangat jauh terbelakang dgn negara negara di asia hal ini terjadi karena msh kurangnya kesadaran para petinggi perusahaan untuk mementingkan lingkungan sekitar dan mereka hanya memikirkan keuntunga dan kelangsungan produksi perusahaan.

  54. Wani
    Agustus 14, 2008 pukul 2:44 pm

    Salam Kenal..

    Nama saya Wani,,saya adalah mahasiswi FEUI yang sekarang sedang mengambil skripsi dengan tema perbandingan perusahaan tambang dan migas di Indonesia dan Amerika Serikat dalam mengkomunikasikan CSR media website.

    So,,ada yang bisa membantu saya tidak???
    Ada jurnal yang bisa direferensiin terkait penciptaan shareholders bila perusahaan mengkomunikasikan CSR media website yang tidak kenal ruang dan waktu itu.

    Hehehehe…

    Terima Kasih banyak…

  55. puji
    Agustus 17, 2008 pukul 7:14 pm

    bwt tmn2 atw bpk2 & ibu2 yg pny bahan apa aja yg berkaitan dgn csr, tlg email ke puji_romanista@yahoo.co.id y..thx

  56. arnie
    September 8, 2008 pukul 8:57 am

    saya mahasiswi semester Aakhir,saya sedang mengumpulkan bahan2 untuk skripsi saya,tapi saya bingung untuk mendapatka referensi tentang csr ini karena topik ini masih jarang sekali,dan saya sudah menetapka 2 buah judul” Pengaruh CSR terhadap kinerja pasar”kinerja pasar ini saya fokuskan pada pengaruh investasi,, dan ” pengaruh csr terhadap laba perusahaan pada pt.unilever tbk ” menurut anda bagaimana sebaikya judul ini dan mana yang sebaiknya saya ajukan untuk judul saya..mohon masukanya tolong kalo anda memiliki refernsi tentang judul saya ini..tolong di kirimkan ke email saya terima ksih atw siapa saja yang memiliki bahan atw jurnal2 tentang csr bisa email ke arnie_cute18@yahoo.com

  57. Harry
    September 15, 2008 pukul 12:08 pm

    Hi All

    Saya sekarang sedang membuat program kampung hijau di Kalimantan, dimana kesulitan saya saat ini adalah ada lembaga/perusahan yang membiayai untuk konsep ini, apakah ada CSR perusahan2 yang bisa saya kontak?

    salam
    Harry

  58. aya
    September 17, 2008 pukul 8:13 pm

    saya mahasiswi IISIP jurusan humas, dan duduk pada semester tujuh, Puji Tuhan saat ini saya sudah bisa skripsi, dan saya mengangkat tentang CSR pada BPPT (BADAN PENGKAJIAN DAN PENERAPAN TEKNOLOGI) sebagai instansi pemerintahan. Akan tetapi dalam prakteknya pelaksanaan CSR di BPPT tidak seperti teori yang saya dapatkan di kampus, yang saya ingin tanyakan apakah instansi pemerintahan sendiri sesungguhnya tidak menjalankan kegiatan CSR atau program tersebut memang tidak menjadi program kerja instansi pemerintahan?

    Padahal Peraturan yang dibuat tentang CSR sudah disahkan oleh pemerintah, tapi kenapa instansi pemerintahan sendiri kurang melaksanakan kegiatn tersebut?

    Dari yang hasil wawancara saya dengan pihak terkait mengatakan, ini dikarenakan keterbatasan biaya dan birokrasi dalam proggram kerja instansi pemerintahan!apakah ada bukti otentik instansi pemerintahan tidak punya kewajiban untuk mengadakan program CSR????

    sedangkan program ini sangat perlu untuk perusahaan khususnya bagi pengembangan pengetahuan dan perubahan impementasi tingkah laku masyarakat ke arah positif, bukan hanya sekedar bagi2 uang!!

    Terima kasih atas jawaban bapak, Tuhan Berkati, Shallom..!!!

  59. Oktober 31, 2008 pukul 10:33 am

    apa pengaruh profitabilitas,leverage dan size perusahaan terhadap pengungkapan csr..kalo bisa tolong di jelaskan dengan teori agency…keterkaitan teori ini dengan pengungkapan csr..kalo temen2 juga ada yang bisa menjelaskan bisa email ke saya di arnie_cute18@yahoo.com

  60. bianca
    November 9, 2008 pukul 10:48 am

    hallaaow pak…
    saya mao tanya nie,dari mana ya kita bisa tau,kalo perusahaan pada industri ekstraktif melakukan CSR itu berdasarkan komitmen dan niat baik atau sekedar mengikuti kewajiban undang-undang PT,UU minerba.
    tolong jelasin ya pak..thx..

  61. femy
    November 15, 2008 pukul 4:54 pm

    SAYA LAGI BUAT SKRIPSI JUDUL CSR.TOLONG KIRIMKAN KUESIONERNY YA. SY TUNGGU YA.

  62. sari
    Desember 11, 2008 pukul 9:23 am

    kebetulan lagi bikin essay CSR..yang ternyata rumit luar biasa..banyak teori yang tumpang tindih..Kantism,utilitarianism, Freeman, Friedman, Carroll…semakin banyak membaca semakin tau bahwa ga semudah itu mewajibkan corporate untuk melakukan CSR…sampai detik ini pun setahu saya belum ada hukum international yang mewajibkan corporate ber-CSR…saya jadi tertegun saat tahu bahwa indonesia sudah mewajibkan CSR dilakukan oleh corporate…OMG!!! bener2 akan jadi tugas berat untuk merumuskan hukum turunannya…

  63. eva
    Januari 6, 2009 pukul 6:29 pm

    saya mahasiswi binus university..saat ini saya sedang mengumpulkan bahan” untuk skripsi saya dng topik CSR,tapi sangat sulit untuk mendapatkan informasi yg lebih banyak ttg CSR,pdhl saya tertarik untuk membuat skripsi mengenai CSR ini..sebagai tambahan referensi untuk skripsi saya dan masa depan, saya minta bantuan informasi mengenai CSR melalui email di Fuji_Shuusuke10@yahoo.co.id
    trimakasih..

  64. Eksa Rusdiyana
    Februari 9, 2009 pukul 5:07 am

    Assalamualikum,
    Terimakasih atas artikelnya, insyaAllah membantu saya menulis skripsi tentang Studi Aplikasi CSR dan Program Pemberdayaan Masyarakat (Kajian di Perkebunan Kelapa Sawit)

    Eksa Rusdiyana (Penyuluhan Pertanian, PKP FP UNS) muslimpagi@yahoo.co.id

  65. Hadri
    Februari 25, 2009 pukul 3:44 pm

    hallo kawan2
    saya sangat setuju dengan pernyataan “program CSR lebih tepat apabila digolongkan sebagai investasi”. Dengan itu jika suatu perusahaan ingin menerapkan program partnership SME dan joint event dengan beberapa NGO seperti yg pernah di lakukan unilever “lifeboy (kampanye cuci tangan)”, apakah program tersebut bisa termaksud CSR pak? dan apa keuntungan jika perusahaan mempunyai yayasan sendiri untuk CSR ini. Pertanyaan terakhir :) Apa yang harus saya perhatikan jika saya ingin berkerja-sama dengan LSM untuk membantu program CSR ini.

  66. yeni
    Maret 9, 2009 pukul 8:50 am

    salam……….
    saya masih bingung antara CSR dengan Community Development(comdev)
    tlong dijelasin ya pak.trims……

  67. Tomy
    Maret 15, 2009 pukul 2:03 pm

    Selamat sore pak Eka,
    Saya seorang pengiat Community disalah satu perusahaan Tambang Di Indonesia akan tetapi pengalaman saya sangat minim dalam hal memfasilitasi dan memanagement situasi dalam berdialog dengan masyarakat dan juga teknik menggali potensi usaha di masyarakat.
    apakah bapak dapat memberikan sedikit pengalaman tentang keluhan saya tadi.

    terima kasih
    salam,

    Tomy

  68. Maret 16, 2009 pukul 3:05 am

    sedikit masukan untuk mas Tomy, untuk bisa berdialog dengan masyarakat dan menggali potensi yang ada pada masyarakat, kita sebaiknya mengenal lebih dekat terlebih dahulu masyarakat disekitar perusahaan tempat mas tomy bekerja, pelajari karakteristik masyarakat tsb dari berbagai aspek,hingga potensi lingkungan diluar wilayah pertambangan. referensi dari saya yg mdh2an dapat membantu mas tomy yaitu, ikuti seminar2 tentang Community Relations, atau lebih spesifiknya mengenai Community Development maupun Corporate Social Responsibility, atau untuk lebih mudahnya menambah ilmu pengetahuan tentang community relations pada perusahaan tambang, anda dapat membaca buku ComDev ataupun CSR tulisan Arif Budimanta, Adi Prasetijo, dan Bambang Rudito, mereka adalah pakar2 ComDev dan CSR.

  69. Bayu Purwa
    Maret 25, 2009 pukul 12:28 pm

    hallo..
    saya adalah seorang mahasiswa dan sedang membuat skripsi.
    skripsi yang saya buat bertemakan CSR, apakah CSR memberikan pengaruh kepada konsumen dalam melakukan pembelian prouduk.
    menurut sumber yang saya baca, konsumen jaman sekarang tidak hanya melihat kualitas produk atau harga produk saja tetapi juga melihat tanggung jawab sosial yang sudah dilaksanakan oleh perusahaan pembaut produk tersebut. jadi kepedulian konsumen sudah meluas dari sekedar produk menjadi kepada korporatnya.

    menurut sumber yang saya baca juga, ada penelitian yang mengatakan bahwa banyak konsumen yang mau berpindah ke produk perusahaan yang memiliki CSR yang baik dari pada produk perusahaan yang tidak menerapkan csr.

    saya mohon sumber2 lain yang berguna bagi skripsi saya, saya juga membutuhkan contoh kuesioner yang berguna bagi skripsi saya…

    mohon bantuan teman-teman sekalian, kirim ke mopvril@yahoo.com

    terima kasih sebelum nya..

  70. eko budiyanto
    Maret 30, 2009 pukul 6:29 pm

    Saya ikutan nimbrung nih… di topik yang lagi ngetren di kalangan dunia usaha, khususnya yang memanfaatkan sumber daya alam , bagaimana alam yang diexproitasi ? bisa tetap memberikan manfaat bagi kelangsungan usaha, masyarakat yang terkena dampak dari kegiatan usaha tersebut, maupun pemerintah setempat yang mbaurekso alam apalagi di era otonomi dimana pemerintah daerah yang sumber pendapatannya masih minim sehingga sangat sulit untuk melakukan percepatan perbaikan dan peningkatan perekonomian masyarakat kalau tidak ada campur tangan pengusaha misalnya melalui pola kemitraan, misal untuk perkebunan kelapa sawit melalui Program Kemitraan PIR Trans atau Plasma. Belum lagi dikaitkan dengan isue Global Warming, dimana dunia usaha harus juga memperhatikan aspek-aspek lingkungan.

    CSR ohhh CSR , mohon jangan hanya sebagai kegiatan Tebar Pesona seperti layaknya para Caleg yang berebut Kursi Panas.

    Sukur Pemerintah melalui UU No. 40 tahun 2007 telah mengeluarkan UU PT yang memasukan Program CSR sebagai Kegiatan Wajib sebagaimana diatur dalam pasal 74 bab V dengan judul asli tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan. hanya saja sampai saat ini masih menjadi bahan perdebatan dan Pemerintah belum kunjung juga keluarkan Peraturan Pelaksanaannya, mudah-an pemerintahan sekarang bisa segera merealisasikan. Amiiiinnnnnnn.

    Salam,

    Eko B

  71. nova
    Juni 3, 2009 pukul 5:57 pm

    pak saya minta bantuannya….saya tertarik dengan CSR. alangkah baiknya jika perusahaan yang melakukan CSR ini bukan karena paksaan atau tren, tapi bener2 sadar akan tanggung jawab sosialnya. Kira2 judul apa yang cocok untuk dijadikan skripsi mengenai CSR. n apa aja teopri yang mendukung. trimakasih

  72. Kamal
    Juni 18, 2009 pukul 11:51 am

    saya masih heran, kok masih ada beberapa perusahaan yang mencapur baurkan PKBL dan TJSL menjadi CSR. Apa karena UU No. 40 tahun 2007 pasal 74-nya belum ada PPnya ?

  73. nurul
    Juni 25, 2009 pukul 2:09 pm

    saya tertarik banget dgn materi CSR ini.. khususnya bagi perusahaan-perusahaan tambang.. kira2 judul apa ya yang cocok untuk skripsi ttg CSR ? apa ada pengaruh antara pengungkapan CSR dengan profitabilitas perusahaan ? trimakasih ..

  74. dede
    Juli 16, 2009 pukul 1:04 pm

    Pak apa betul CSR itu merupakan kepedulian pengusaha terhadap lingkunganya /hak masyarakat yang harus dikembalikan untuk kebutuhan sisial ,terus bagai mana kalau CSR itu merupakan kewajiban pengusaha dapat di ajukan

  75. ririn
    September 3, 2009 pukul 7:56 am

    perbincangan tentang CSR makin menarik .. slam kenal.. konsep CSR merupakan aplikasi dari etika bisnis yang dikembangkan sebelumnya. Dimana kepentingan bisnis seyogyanya sejajar dengan kepentingan sosial, stakeholder yang ada disekelilingnya. konsep ini seiring dengan konsep zakat pada ekonomi islam, dimana islam mewajibkan untuk mengeluarkan sebagaian dari keuntungan untuk menjalankan fungsi sosial. ” Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lain.”. konsep pemberdayaan dana zakat juga semakin beragam, dimana zakat bisa dimaksimalkan dengan kegiatan -kegiatan produktif yang dikenal dengan “zakat produktif” sebagaimana yang banyak dilaksanakan akhir-akhir ini. CSR yang dilakukan oleh perusahaan akan memberikan keuntungan pada perusahaan itu sendiri baik dalam bentuk material maupun immaterial. Hal ini sesuai dengan apa yang telah dijanjikan Allah bahwasannya ketika kita memberikan harta kita untuk orang lain, maka kita akan dibalas berjuta kalu lipat keuntungan yang tidak pernah di duga sebelumnya, kalau semua itu dilakukan dengan ihlas . Ada beberapa keterikatan atau kesesuaian CSR dengan konsep ekonomi Islam :
    a. Manusia adalah khalifah , maka dari itu diwajibkan untuk menjaga bumi ini
    b. larangan merusak lingkungan
    c. Anjuran untuk berbagi/ zakat infak dan shodaqoh
    d. Bermanfaat untuk orang lain
    e. berbisnis dengan jujur dan adil.
    Walaupun bisnis itu halal apabila membahayakan untuk orang lain dan memberikan madharat untuk orang lain , hal itu menjadi haram. Maka sewajibnya perusahaan menjalankan program CSR.Namun hal ini juga harus didukung oleh aturan yang jelas, dan penindakan hukum yang jelas.

  76. Inas
    Oktober 16, 2009 pukul 3:16 pm

    Sepengetahuan saya, UU yang mengatur kewajiban CSR bagi perusahaan-perusahaan tertentu sudah diatur, pada tahun 2007 silam. Yaitu sekitar 3% dari profit margin perusahaan. Namun memang belum ada law enforcement yang berarti dari pihak pemerintah dalam upaya me-monev-kan program CSR tersebut.

  77. Oktober 20, 2009 pukul 12:46 am

    Mengomentari Inas, kalo memang ada undang2 yang mana? setahu saya singgungan CSR tersebut ada di UU 40 tahun 2007 tentang perseroan terbatas pasal 74, yang isinya mewajibkan perusahaan untuk melakukan tanggung jawab sosial dan lingkungan, disinggung sedikit juga pada undang-undang no 22 tahun 2001 tentang migas pada pasal 11 poin P dan PP nomer 35 tahun 2004 pasal 26 poin P dimana dalam Kontrak Kerjasama mewajibkan memuat Pengembangan Masyarakat sekitar dan menjamin hak-hak masyarakat adat. Yang belum jelas adalah Juklak Juknisnya di departemen, selain itu memang sulit karena dalam CSR sendiri berkembang ada 3 paradigma menurut Rochman Achwan yang berdialektika yaitu paradigma self regulation and voluntarism, obligatory and norm binding dan yang ketiga business of business is business. Sementara ini yang berkembang pesat ya yang self regulation and voluntarism, maka wajar saja kemudian menjadi banyak perspektif dalam implementasi CSR. Sementara ISO 26000 tentang CSR masih dalam penggodogan yang mungkin akan direlease tahun depan (untuk yang ini mungkin mas Adhit tau)

    Selanjutnya, mungkhin khalayak disini ada penggiat2 CSR yang dapat membantu saya, saat ini saya sedang merancang sebuah penelitian yang akan menjadi tesis saya, saya tertarik dengan implementasi CSR yang berbentuk community development terutama yang meningkatkan kualitas hidup masyarakat pada perusahaan tambang, mungkin ada yang punya akses ke perusahaan tambang, saya akan sangat berterima kasih jika diberikan akses tersebut. karena penelitian saya ini mensyaratkan perspektif perusahaan dalam program CSRnya terutama yang berhubungan dengan community development yang dilakukannya. Saya dapat dihubungi melalui email: raflisr@yahoo.com

  78. Daeng Zailaniali
    November 10, 2009 pukul 3:43 pm

    saya ingin membuat proposal untuk disertasi dengan topik csr,tetapi sy ingin melanjutkan penelitian yang sudah pernah dilakukan orang lain,dan sesuai dengan latar belakang sy (ekonomi/manajemen)inginnya penelitian csr yang dapat dihubungkan dengan agama ? trims atas perhatiannya

  79. Desember 30, 2009 pukul 5:55 am

    ini adalah artikel yang sangat menarik. saya pendatang baru di dunia CSR dan kebetulan bertanggung jawab mengurus program CSR di perusahaan tambang tempat saya bekerja. karena saya masih baru dan belum terlalu familiar..tolong diberikan saran-saran yang dapat membantu mengembangkan program CSR ini. Sebagai informasi, beberapa program yg sudah kami jalankan sbb:
    1. program Taman Bacaan dan Pengajaran bahasa Inggris untuk anak-anak usia sekolah
    2. Kebun percontohan
    3. Pelatihan tata boga
    4. Pusat Pelatihan Keramik.

    saya sangat berharap ada saran dan ide tentang program lain yg sekiranya dapat dikembangkan demi kepentingan rakyat banyak…terimakasih…

  80. Januari 23, 2010 pukul 1:02 pm

    Bulan Januari ini saya baru terjun ke dunia CSR secara utuh, walaupun sebelumnya hanya ad hoc team, untuk rekan-rekan yang sudah berpengalaman mungkin ada saran mengenai program kerja awal soal CSR,apalagi saya mewakili perusahaan saya yang berkecimpung di bidang surat kabar nasional yang juga menjadi salah satu pengguna sumber daya alam yang akhirnya merusak ekosistem yang ada.

    Trims

    • ramelan
      Maret 8, 2011 pukul 11:14 am

      selamat sdh terjun secara utuh di dunia CSR perusahaan anda. untuk dunia usaha perusahaan anda mungkin salah satu program CSR yg bisa dilakukan adalah membantu/mensponsori pelatihan jurnalistik atau terbitnya surat khabar komunitas, majalah sekolah, mading dan lain2nya yg masih sejalan dengan dunia berita surat khabar. kebetulan sy sering melakukan hal tersebut ketika sy meminpin beberapa organisasi kemahasiswaan.namun sayangnya seringkali program2 yang saya lakukan tersebut hanya sebatas program kerja organisasi yg tidak dapat ditindaklanjuti secara berkesinambungan. dan kebetulan saat ini sy menjadi salah satu anggota Dewan pendidikan kabupaten tangerang. klo berminat sy bisa memfasilitas untuk program pelatihan jurnaslistik tingkat SLTP, SLTA dan Perguruan Tinggi di Kota saya dengan tindaklanjut kemudian terbentuknya media surat khabar komunitas pendidikan yg dikelola oleh peserta hasil pelatihan dengan suport dari perusahaan anda. pada akhirnya sy sangat yakin akan ditemukan bibit2 unggul calon jurnalis yg mungkin dibutuhkan oleh perusahaan anda. email sy : ramelan_ade@yahoo.com

  81. rey
    Februari 5, 2010 pukul 7:48 am

    Hallo saya Rey.. salam kenal. saya mau tanya nih mengenai CSR. saat ini saya dalam tahap pembelajaran dan prkatik. tapi susah seali menerapkan CSR ini dalam bentuk tahap awal dan untuk perumusan pedoman dan SOP dari CSR itu kita harus mulai dari mana? dan saat ini referensi yang ada terbatas hanya pada Bahasa Inggris dan Perancis, namun tidak ada yang disediakan dalam bahasa Indonesia, kita ini salah satu negera yang menjadi tujuan pasar Dunia, Program Kemanusiaan, Pasar Ekonomi, tetapi kenapa dalam pelabelan segala Produk Bahasa Indonesia seakan-akan hanyalah nomor 100 di dunia ini.. tolong dong referensi apa yang bisa diberikan untuk memulai pedoman CSR tersebut. Terima Kasih. bisa juga hub saya di garythene@yahoo.com atau di reynard.3t@gmail.com

  82. Juli 24, 2010 pukul 9:09 am

    pak saya mau tanya, dalam program CSR ada terdapat unsur hukumnya kah pak atau UU yang mengatur CSR. saya mau mengangkat tugas akhir tentang CSR, yang saya bingungkan CSR ini bisa di pertanggung jawabkan hukum tau tidak karena saya kuliah di fakultas hukum jurusan hukum bisnis. . . tolong bantuannya pak,thanks.

  83. ida syah
    Agustus 3, 2010 pukul 6:19 am

    saya baru dibidang ini jadi mau tanya hal yang sederhana, apa bentuk kegiatan community development, charitu dan philanthropy dari CSR yang dilakukan..??

    gimana prosedur kerjasama antara CSR dengan LSM atau NGO dan apa persyaratan kerjasamanya?

    thanks

  84. duta
    Oktober 1, 2010 pukul 5:33 am

    saya mahasiswa..saat ini saya sedang mengumpulkan bahan” untuk skripsi saya dng topik CSR,tapi sangat sulit untuk mendapatkan informasi yg lebih banyak ttg CSR,pdhl saya tertarik untuk membuat skripsi mengenai CSR ini..sebagai tambahan referensi untuk skripsi saya dan masa depan, saya minta bantuan informasi mengenai CSR melalui email di

  85. duta
    Oktober 1, 2010 pukul 6:37 am

    saya mahasiswa..saat ini saya sedang mengumpulkan bahan” untuk skripsi saya dng topik CSR,tapi sangat sulit untuk mendapatkan informasi yg lebih banyak ttg CSR,pdhl saya tertarik untuk membuat skripsi mengenai CSR ini..sebagai tambahan referensi untuk skripsi saya dan masa depan, saya minta bantuan informasi mengenai CSR melalui email di duta_andrian@yahoo.com

  86. Januari 20, 2011 pukul 9:33 am

    sgt bgs,,asal tepat sasarn,tdk tumpang tindih dgn dana apbn/d dan transparan serta akuntable

  87. langlang
    Januari 30, 2011 pukul 10:58 pm

    Saya sedang mencoba membantu lingkungan tempat tinggal dalam pemberdayaan generasi muda, telah terbentuk sebuah sanggar PEDEPOKAN SAUNG BASEK thn2010, salah satu anggota inti kami telah menciptakan sebuah alat musik gesek dari bambu ( BASEK, BAMBU GESEK ) orisinil.
    Apakah CSR dalam hal ini bis dijadikan tumpuan kami dalam hal dana produksi BASEK serta biaya pengembangannya kemasyarakat, selain BASEK program lainnya teater & musik.
    Kami berdomisili di depok 1…
    mungkin ada yg bisa memberikan masukan kemana & bagaimana…bisa email ke HUGOZ3N@YAHOO.COM apabila ada alamat perusahaan yg bisa kami tuju thanx

  88. yuliana
    Februari 4, 2011 pukul 12:11 pm

    saya juga masih bingung perbedaan antara comdev dan csr
    apakah keduanya saling berhubungan ….
    tolong dijelaskan ya…
    sebagai mahasiswa semester 1,, masih buta apa manfaat csr untuk pembangunan..
    apa csr sebagai ajang prestise atau memang tujuan nya meningkatkan kesejhteraan masyarakat luas…
    kalau memang tujuan csr mulia untuk pengembangan sdm,lingkungan
    why not,,,
    semua perusahaan di indonesia menerapkan itu semua,,,
    tentunya dengan …
    program kerja yang jelas dan berkelanjutan..
    – yulia fisip unair-

  89. yuliana
    Februari 4, 2011 pukul 12:32 pm

    plzzz help me???
    siapa yang tahu literatur tentang csr??
    kirim ke emailku ea….
    malamsiang2@yahoo.com

  90. yuliana
    Februari 4, 2011 pukul 12:36 pm

    yang tau literatur tentang csr ea…
    kirim ke email q
    malamsiang@yahoo.com
    makasihh,,,,

  91. hyskia
    Februari 11, 2011 pukul 3:56 pm

    hallo, saya mahasiswa fakultas hukum, juga ingin mengangkat tema tentang CSR terkait dengan perusahaan perbankan, saya mohon kepada teman2 semua memberikan informasi ataupun artikel, atau apapun itu mengetahui keterkaitan CSR dengan perbankan, saya mohon kepada teman/saudara apabila berkenan. kirim ke email saya. onasis_back@yahoo.co.id.
    terima kasih sebelum nya..

  92. baboon
    Februari 12, 2011 pukul 8:52 pm

    assalamualaikum pak..
    saya mahasiswa akuntansi..
    saya sedang menyusun skripsi pak..
    judulnya pengaruh CSR terhadap nilai perusahaan..
    yang saya ingin tanyakan..
    buku yang membhas tentang pengaruh CSR tehadap kenaikan nilai pasar saham apa ya pak?
    soalnya dikampus saya pakai teori penghubung.
    terimakasih.
    ( bdoer90@yahoo.com )

  93. M.Dody Haryadi
    Februari 24, 2011 pukul 7:27 pm

    Positioning among the equator, gives opportunity for Indonesia to exploit sunray radiation.
    That is quite high and smooth for powering homes and industries.
    Solar Panel can be the solution as the cheap and independent electricity resource.
    Solar Panel is an innovative instrument to generate clean and renewable electricity, that is capable of powering remote appliances or even partially powering your home or workplace .
    Solar Panels can be solution as the next electricity resource. It is the solution against energy crisis.
    Benefit:
    1. Environmentally friendly
    2. Flexibility assembling
    3. Doesn’t need fossil fuel
    4. Everlasting
    5. Electric power capacity can be added

  94. allein
    Maret 2, 2011 pukul 7:50 pm

    halo…saya mahasiswa akuntansi…bisa minta referensi literatur mengenai csr terhadap profitabilitas dan nilai saham perusahaan… (sea_mandagi@yahoo.com) thanks ^^

  95. Maret 5, 2011 pukul 6:14 am

    bagaimana cara mengetahui dana CSR yang ada di perusahaan2, apa keluar atau tidak nya?

  96. Maret 10, 2011 pukul 2:02 pm

    salam kenal……

    Kami mempunyai program daur ulang (Recycle Program) yg mengedukasi masyarakat utk menjadikan sampah Non Organik sbg sumber daya yg bisa meningkatkan “Value”, Benefit dari program ini adalah mengatasi : Masalah Lingkungan Hidup, Pemberdayaan masyarakat, dan Meningkatkan “Brand/Image” Perusahaan di bidang CSR.
    Kami siap utk bermitra merealisasikan program CSR perusahaan dlm bidang lingkungan Hidup (Recycle Program).
    Solichin, SE
    Ketua Yayasan al-Kalam
    CP 081321825080

  97. ermina
    April 28, 2011 pukul 8:37 pm

    Salam kenal Pak,
    Pak sekarang nih di kota-kota besar kan banyak sekali muncul gedung-gedung pusat pertokoan yang megah-megah sementara masyarakat sekitar lokasi hidup dalam kemiskinan dan kurang berpendidikan sehingga mereka menjadi pengemis dan pengamen di sekitar lokasi. Pak Adit, apakah masalah masyarakat disekitar lokasi pertokoan demikian merupakan masalah CSR?

  98. Mei 3, 2011 pukul 5:26 pm

    Dear Sir,

    Perkenalkan, kami adalah Perusahaan yang bergerak di Industri Fiber
    Glass, yang mampu membuat semua produk berbahan dasar Fiber Glass,
    diantaranya adalah : Tong Sampah.

    Regards,

    Dhani S. ST. MM.
    http://www.tongsampah.web.id
    021-902-5353-2

  99. Mei 18, 2011 pukul 7:48 am

    Benar sekali. CSR memang sangat penting dan bermanfaat.

  100. Mei 23, 2011 pukul 11:28 am

    silahkan kunjungi blog saya
    pantiasuhandarulfarroh.blogspot.com

  101. Timotheus Lesmana
    Juli 10, 2011 pukul 10:24 pm

    Selamat Malam pak Adit,

    Saya baru lihat blog ini, sejak pak Adit meminta ijin saya untuk memuat tulisan saya di blog bapak.Dan saya terkejut juga begitu banyak tanggapan dan pembahasan mengenai CSR di blog ini.
    Sebenarnya saya ingin memberikan tanggapan balik dan ulasan2 terkait dengan CSR serta perkembangannya hingga saat ini, karena topik CSR inimemang selalu dan akan selalu menjadi banyak bahasan dimasa depan ini, terlebih dengan perkembangan kondisi bisnis yang juga harus memperhatikan segala aspek terkait dengan sustainability.
    Semoga dalam waktu kedepan ini, saya akan mencoba untuk melanjutkan kembali tulisan2 yang lebih update dan mudah2an pak Adit bisa memuatnya lagi.

  102. Juli 12, 2011 pukul 4:05 pm

    KAMI LEMBAGA PELATIHAN OPERATOR ALAT BERAT , AKAN MENDUKUNG SEPENUHNYA PROGRAM CSR. KADANG PROGRAM CSR TIDAK TEPAT SASARAN , MAKA KAMI MENGUSULKAN UNTUK DISEKOLAHKAN SAJA MASYRAKAT YANG MENDAPAT PROGRAM CSR DENGAN MENYEKOLAHAKAN ANAK ANAK USIA PRODUKTIF SAMPAI UMUR 40 TAHUN UNTUK DISEKOLAHKAN DILEMBAGA KAMI, YAITU Lembaga Pelatihan Operator alat berat Indonesia ( Heavy equipments operator training School) , kami yakin program kami akan mampu mengangkat taraf hidup seseorang dan mengurangi pengangguran. segera saja , daripada bingung bikin program hubungi kami segera. 081 389 268 351 ( susanto).

  103. Agustus 9, 2011 pukul 7:03 pm

    Saya pernah melakukan kajian sederhana tentang dimungkinkannya program share CSR perusahaan dengan Pemerintah Desa. Hanya saja perlu adanya sebuah perangkat yang dapat dipergunakan untuk mengatur mekanisme hal tersbut. Atau semacam PTO yang bisa diterima dan dijalankan. jika hal ini bisa teraplikasi dengan baik. Saya memiliki optimisme atas kemajuan desa yang memiliki banyak industri di wilayahnya. hanya saja adakah hal tersebut? jika ada bagaimana kita bisa melegitimasikan hal tersbut untuk dapat berintegrasi dengan program pemerintah maupun perusahaan. contoh PNPM

  104. September 2, 2011 pukul 2:47 pm

    Dear all

    Kami KidZania Jakarta adalah tempat hiburan untuk anak, sekaligus pendidikan khusus anak. tempat ini adalah taman hiburan pertama didunia yang memperbolehkan anak-anak untuk berperan menjadi orang dewasa.
    sebagai salah satu pilihan untuk CSR perusahaan bapak-bapak, agar anak-anak yang kurang mampu dapat merasakan serunya belajar sambil bermain di KidZania Jakarta.

    untuk info lebih lanjut bisa menghubungi saya

    Salam hangat
    Yoga
    085691506246

  105. September 16, 2011 pukul 9:54 am

    salam knal…

    Mau tanya Pak….adakah indikator yg telah bersifat baku dan dpt didownload untuk mengukur tingkat penerapan csr pada suatu perusahaan, atau mungkin ada semacam self assessment checklistnya…mohon informasinya bilamana ada.
    trima kasih…..

    abdi jaya

  106. febrina melissa
    Oktober 10, 2011 pukul 11:55 am

    salam pak..
    saya mau tanya bagaimana hubungan antara CSR dengan GCG?
    dan seperti apa bentuk kuesioner CSR untuk mengukur seberapa besar tingkat tanggung jawab perusahaan dalam melaksanakan program CSR?
    terima kasih pak atas perhatiannya..

  107. Oktober 13, 2011 pukul 9:04 am

    banyak bgt pertanyaan yg hampir sama. pa adit nya pusing baca nya.smga slalu sehat pa. maklum orng sibuk. smga cpt ada respon nya pak. d tunggu :-D

  108. Rosida
    Oktober 25, 2011 pukul 1:35 pm

    Saya mendalami teori CSR yg saya dpt dibangku kuliah Pascasarjana. Menarik memang, apalagi kalo kita bs lngs terjun ke Perushn2 yg mnjalankn CSR ini. Membaca email tmn2 menambah ilmu yg ada. Unt tmn2 yg nyusun Tesisnya, bagi2 pnglman dong lwt email ku rosi_ochiktb@yahoo.co.id TKS.

  109. Oktober 30, 2011 pukul 10:39 pm

    CSR, GSR (Goverment…), ESR (Everyone’s …) dan semua omong kosong tentang kebaikan hati orang-orang dan pihak-pihak kaya raya di negeri ini bagaimana bisa berhadapan dengan sistem ekonomi ribawi, PELAKSANAAN Zakat yang sangat minim, dan PELAKSANAAN aturan WARIS yang jauh dari yang semestinya? Ketiga pokok muamallah terakhir memberi garansi 100% KETIDAKBERKAHAN. Ketidakberkahan menjamin kekayaan melimpah ruah negeri ini menjadi tidak berarti bagi yang tidak sudi melakukan KORUPSI. Nah, selama kita masih ngutang dan ngutang terus yang menerus berbunga-bunga (kapan bisa nglunasi utang negeri ini jika sekadar beli panci pun harus ngutang dan bayar bunga!) alis melestarikan SISTEM EKONOMI RIBAWI; Selama kita tidak kunjung sadar bahwa DI DALAM HARTA YANG KITA MILIKI TERDAPAT SEBAGIAN MILIK ORANG LAIN (yang entah tidak tahu, pura-pura tidak tahu, atau tidak mau tahu HAK ORANG LAIN -yang nota bene orang miskin- itu kita makan yang berarti DOYAN MAKAN BARANG HARAM; Selama keadilan dalam masalah waris hanya dipahami dengan pembagian sama rata (kayak KOMUNIS ya???), tidak usahlah kita repot-repot membahas segala TANGGUNGJAWAB SOSIAL. Kita ini misin lahir batin. Kecuali dengan kesadaran penuh sodara-sodara mendukung saya jadi PRESIDEN!

  110. risky
    November 20, 2011 pukul 7:13 pm

    salam pak..
    saya sedang menyusun skripsi mengenai CSR…
    dan saya disuruh dosen untuk mencari masalah csr mengenai profitabilitas. leverage, umur perusahaan, dan kepemilikan institusi…
    mohon bantuannya pak… saya bingung, masalah profitabilitas. leverage, umur perusahaan, dan kepemilikan institusi terhadap CSR itu apa…
    (kuroqi90@yahoo.com)

    • Desember 1, 2011 pukul 11:50 am

      untuk semua tentang CSR seluruhnya.
      silahkan kunjungi http://www.infoCSR.net.
      berita2 terupdate mengenai CSR,ada dalam infoCSR.net.
      trimakasih.

  111. Desember 1, 2011 pukul 11:46 am

    kami situs terbaru CSR,yang memberitakan tentang apapun yang berhubungan dengan CSR.
    terupdate Dengan mengutamakan kecepatan serta kedalaman, infoCSR.net diperbaharui selama 24 jam dalam sepekan, secara kreatif mengawinkan teks, foto, video dan suara. Edisi online ini juga akan dilengkapi dengan edisi majalah bernama Majalah InfoCSR yang ditujukan agar ulasan CSR lebih mendalam.
    silahkan kunjungi di http://www.infocsr.net.
    trimakasih.

  112. suparno,SPd, SH,MM
    Desember 14, 2011 pukul 9:39 am

    CRS bagus ketika berikan kepada yang tepat dan dikelola dengan baik serta diawasi serta dievaluasi apakan memberikan manfaat kepada yang menerima. Dua setengah persen keuntungan adalah angka yang cukup banyak. Saya Suparno, SPd, SH,MM Ketua Pos Daya Keong Sejahtera siap melaksanakan program tersebut. Bidang / Pokja Pos Daya adalah Agama, Pendidikan, Kesehatan dan KB, Ekonomi dan Kewirausahaan serta Lingkukngan Hidup. Mohon bantuannya. Terima kasih.

    Alamat : Desa Keyongan Kecamatan Nogosari Kabupaten Boyolali
    Ketua Pos Daya Keong Sejahtera
    Nomor : 08122580377
    Email : suparno_7278@yahoo.com
    Desa Keyongan Kecamatan Nogosari Kabupaten Boyolali.

  113. liliana echi
    Desember 19, 2011 pukul 9:54 am

    pak… mau minta tolong ni,, bagaimana kita dapat mengetahui perusahaaan – perusahaan yang melakukan dan yang tidak melakukan CSR?

  114. lusi
    Januari 6, 2012 pukul 4:33 pm

    salam kenal…adakah yg pernah mengkaji ttg SSR (Medium or Small Sicial Responsibility ? mohon info….terimakasih.

  115. fatimah
    Februari 3, 2012 pukul 12:39 pm

    Blog ini sangat membantu saya untuk tahu lebih jauh ttg CSR, ada satu pertanyaan yg buat saya penasaran, kira-kira format CSR yang ideal untuk saat ini seperti apa ya pak? atas jawabannya saya haturkan terimakasih

  116. andries hendro riptono
    Februari 9, 2012 pukul 7:29 am

    wah ternyata banyak juga yg tertarik dengan csr ya,..dan csr juga bisa diterapkan pada perusahaan apa saja tanpa ada batasan jenis usaha yg dijalani. kebetulan saya juga sedang menyusun csr perusahaan perkebunan, buku yang mendukung memang masih sedikit. namun, jika hanya ingin mencari referensi csr secara umum, buku yang mendukung sudah banyak yang dijual dipasaran.

  117. Februari 17, 2012 pukul 10:54 am

    CSR (CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY)
    DAN PERATURANNYA DI INDONESIA

    A. CSR Secara Umum
    1. Pengertian CSR
    Corporate Social Responsibility (selanjutnya ditulis CSR) yang di dalam bahasa Indonesia berarti Tanggung Jawab Sosial Perusahaan. CSR sendiri mempunyai banyak pengertian (multi definisi). Hal ini terbukti dari berbagai literatur yang mengupas tentang CSR tidak seragam dalam memberikan pengertian tentang CSR. Pada sisi lain istilah CSR juga mengalami perubahan sejalan dengan perkembangan dunia usaha, politis, dan pembangunan sosial serta hak asasi manusia (HAM).
    Dari berbagai literatur yang membahas tentang CSR, belum ditemukan satu kalimat yang baku dalam memberikan definisi tentang CSR. Beberapa nama lain yang memiliki kemiripan dan bahkan sering diidentikkan dengan CSR adalah corporate giving, corporate philanthropy, corporate community relations, dan community development.
    Berikut adalah beberapa definisi dari CSR sebagaimana yang penulis kutip dari Reza Rahman dalam bukunya yang berjudul Corporate Social Responsibility: Antara Teori dan Kenyataan diantaranya:
    Melakukan tindakan sosial (termasuk kepedulian terhadap lingkungan hidup) lebih dari batas-batas yang dituntut peraturan undang-undang (Chambers dalam Iriantara, 2004:49)
    Komitmen usaha untuk bertindak secara etis, beroperasi secara legal, dan berkontribusi untuk peningkatan ekonomi bersamaan dengan peningkatan kualitas hidup karyawan dan keluarganya, komunitas lokal dan masyarakat yang lebih luas (Trinidad & Tobacco Bureau of Standard)
    Komitmen bisnis untuk berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga karyawan tersebut, berikut komunitas setempat (local), dan masyarakat secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup (The World Business Council for Sustanable Development)
    Sedangkan menurut Suhandri M. Putri, sebagaimana dikutip oleh Hendrik Budi Untung, CSR adalah komitmen perusahaan atau dunia bisnis untuk berkontribusi dalam pengembangan ekonomi yang berkelanjutan dengan memperhatikan tanggung jawab sosial perusahaan dan menitikberatkan pada keseimbangan antara aspek ekonomis, sosial, dan lingkungan.
    Sedangkan menurut sebuah artikel yang penulis temukan dari wikipedia, memberi pengertian CSR sebagai berikut:
    CSR adalah suatu konsep bahwa organisasi, khususnya (namun bukan hanya) perusahaan adalah memiliki suatu tanggung jawab terhadap konsumen, karyawan, pemegang saham, komunitas, dan lingkungan dalam segala aspek operasional perusahaan. CSR berhubungan erat dengan “pembangunan berkelanjutan”, dimana ada argumentasi bahwa suatu perusahaan dalam melaksanakan aktifitasnya harus berdasarkan keputusannya tidak semata berdasarkan faktor keuangan, misalnya keuntungan atau deviden melainkan juga harus berdasarkan konsekuensi sosial dan lingkungan untuk saat ini maupun untuk jangka panjang.
    Meski banyak definisi, namun secara esensi CSR merupakan wujud dari giving back dari korporat kepada komunitas. Perihal ini dapat dilakukan dengan cara melakukan dan menghasilkan bisnis berdasar pada niat tulus guna memberi kontribusi yang paling positif pada komunitas (stakeholders).
    2. Sejarah CSR, dan Perkembangannya
    Sejarah merupakan torehan kejadian masa lampau yang mengungkapkan fenomena realitas sosial yang bisa menjadi kajian menarik dan bermanfaat di masa kini dan mendatang. Dengan memahami sejarah tentang obyek kajian akan bermakna bagi pengungkapan realitas sosial yang lebih obyektif.
    Corporate Social Responsibility (CSR) telah ada sejak Abad 17 dan mengalami perkembangan kajian yang mencerminkan dinamika implementatif yang terus mengalami perubahan. Berikut sejarah singkat CSR dari masa ke masa yang dimulai dari sejarah CSR di tingkat internasional.
    (1) Tahun 1700-an SM
    Tanggung Jawab Sosial Korporasi (Corporate Social Responsibility) telah menjadi pemikiran para pembuat kebijakan sejak lama. Bahkan dalam Kode Hammurabi (1700- an SM) yang berisi 282 hukum telah memuat sanksi bagi para pengusaha yang lalai dalam menjaga kenyamanan warga atau menyebabkan kematian bagi pelanggannya. Dalam Kode Hammurabi disebutkan bahwa hukuman mati diberikan kepada orang-orang yang menyalahgunakan ijin penjualan minuman, pelayanan yang buruk dan melakukan pembangunan gedung di bawah standar sehingga menyebabkan kematian orang lain.
    Perhatian para pembuat kebijakan tentang CSR menunjukkan telah adanya kesadaran bahwa terdapat potensi timbulnya dampak buruk dari kegiatan usaha. Dampak buruk tersebut tentunya harus direduksi sedemikian rupa sehingga tidak membahayakan kemaslahatan masyarakat sekaligus tetap ramah terhadap iklim usaha.
    (2) Tahun 1940-an
    Pengembangan Masyarakat (Community Development, yang sering ditulis Comdev/CD). Secara resmi istilah Comdev dipergunakan di Inggris 1948, untuk mengganti istilah mass education (pendidikan massa). Menurut Hodge, akar munculnya model pengembangan masyarakat (Community Development) terkait dengan disiplin ilmu pendidikan (education). Di Amerika Serikat pengembangan masyarakat juga berakar dari disiplin pendidikan di tingkat pedesaan (rural extension program), sedangkan di perkotaan mereka mengembangkan organisasi komunitas (community organization) yang bersumber dari ilmu kesejahteraan Sosial yang diawali pada tahun 1873.
    Pengembangan masyarakat merupakan pembangunan alternatif yang komprehensif dan berbasis komunitas yang dapat melibatkan baik oleh Pemerintah, Swasta, ataupun oleh lembaga-lembaga non pemerintah. Dari segi tujuan bisa bersifat spesifik, tidak selalu multitujuan. Beberapa alternatif pendekatan yang pernah terjadi di Amerika Serikat terkait dengan pengembangan masyarakat ini, antara lain: (1) pendekatan komunitas, (2) pendekatan pemecahan masalah, (3) pendekatan eksperimental, (4) pendekatan konflik kekuatan, (5) pengelolaan sumberdaya alam, dan (6) perbaikan lingkungan komunitas masyarakat perkotaan.
    Pendekatan komunitas merupakan pendekatan yang paling sering dipergunakan dalam pengembangan masyarakat. Pendekatan ini mempunyai tiga ciri utama (1) basis partisipasi masyarakat yang luas, (2) fokus pada kebutuhan sebagian besar warga komunitas, dan (3) bersifat holistik. Pendekatan ini menaruh perhatian pada kepentingan hampir semua warga. Keunggulan pendekatan ini adalah adanya partisipasi yang tinggi dari warga dan pihak terkait dalam pengambilan keputusan (perencanaan) dan pelaksanaan, serta dalam evaluasi dan menikmati hasil kegiatan bersama warga komunitas.
    Comdev (Community Development atau pengembangan komunitas) semakin menjadi kebutuhan tidak saja bagi masyarakat, tetapi juga perusahaan. Perusahaan bukan lagi merupakan kesatuan yang independen dan terisolasi, sehingga manajer tidak hanya bertanggung jawab kepada pemilik tetapi juga kepada kepentingan yang lebih luas yang membentuk dan mendukungnya dari lingkungan sekitarnya. Dalam mengejar tujuan ekonomisnya, perusahaan menimbulkan berbagai konsekuensi sosial lainnya, baik kemanfaatan (keamanan, kenyamanan, dan kemakmuran bagi masyarakat) maupun biaya sosial (degradasi potensi sumberdaya lingkungan, limbah dan pencemaran). Perkembangan lebih lanjut, konsep Comdev ini mempunyai kontribusi yang signifikan terhadap CSR.
    (3) Tahun 1950-an: CSR MODERN
    Literatur-literatur awal yang membahas CSR pada tahun 1950-an menyebut CSR sebagai Social Responsibility (SR bukan CSR). Tidak disebutkannya kata corporate dalam istilah tersebut kemungkinan besar disebabkan pengaruh dan dominasi korporasi modern belum terjadi atau belum disadari. Menurut Howard R. Bowen dalam bukunya: “Social Responsibility of The Businessman” dapat dianggap sebagai tonggak bagi CSR modern. Dalam buku itu Bowen (1953:6) memberikan definisi awal dari CSR sebagai: “… obligation of businessman to pursue those policies, to make those decision or to follow those line of action wich are desirable in term of the objectives and values of our society.”
    Sejak penerbitan buku tersebut definisi CSR yang diberikan Bowen memberikan pengaruh besar kepada literatur-literatur CSR yang terbit setelahnya. Sumbangsih besar pada peletakan fondasi CSR tersebut membuat Bowen pantas disebut sebagai Bapak CSR.
    (4) Tahun 1960-an
    Pada tahun 1960-an banyak usaha dilakukan untuk memberikan formalisasi definisi CSR. Salah satu akademisi CSR yang terkenal pada masa itu adalah Keith Davis. Davis dikenal karena berhasil memberikan pandangan yang mendalam atas hubungan antara CSR dengan kekuatan bisnis. Davis mengutarakan “Iron Law of Responsibility” yang menyatakan bahwa tanggung jawab sosial pengusahaan sama dengan kedudukan sosial yang mereka miliki (social responsibilities of businessmen need to be commensurate with their social power). Sehingga, dalam jangka panjang, pengusaha yang tidak menggunakan kekuasaan dengan bertanggungjawab sesuai dengan anggapan masyarakat akan kehilangan kekuasaan yang mereka miliki sekarang.
    Kata “corporate” mulai dicantumkan pada masa ini. Hal ini bisa jadi dikarenakan sumbangsih Davis yang telah menunjukkan adanya hubungan yang kuat antara tanggung jawab sosial dengan korporasi.
    Tahun 1963, Joseph W. McGuire (1963:144) memperkenalkan istilah Corporate Citizenship. McGuire menyatakan bahwa: “The idea of social responsibilities supposes that the corporation has not only economic and legal obligations but also certain responsibilities to society which extend beyond these obligations”. McGuire kemudian menjelaskan lebih lanjut kata “beyond” dengan menyatakan bahwa korporasi harus memperhatikan masalah politik, kesejahteraan masyarakat, pendidikan, “kebahagiaan” karyawan dan seluruh permasalahan sosial kemasyarakatan lainnya. Oleh karena itu korporasi harus bertindak “baik”, sebagai mana warga Negara (citizen) yang baik.
    (5) Tahun 1970-an
    Tahun 1971, Committee for Economic Development (CED) menerbitkan Social Responsibilities of Business Corporations. Penerbitan yang dapat dianggap sebagai code of conduct bisnis tersebut dipicu adanya anggapan bahwa kegiatan usaha memiliki tujuan dasar untuk memberikan pelayanan yang konstruktif untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan masyarakat.
    CED merumuskan CSR dengan menggambarkannya dalam lingkaran konsentris. Lingkaran dalam merupakan tanggungjawab dasar dari korporasi untuk penerapan kebijakan yang efektif atas pertimbangan ekonomi (profit dan pertumbuhan); Lingkaran tengah menggambarkan tanggung jawab korporasi untuk lebih sensitif terhadap nilai-nilai dan prioritas sosial yang berlaku dalam menentukan kebijakan mana yang akan diambil; Lingkaran luar menggambarkan tanggung jawab yang mungkin akan muncul seiring dengan meningkatnya peran serta korporasi dalam menjaga lingkungan dan masyarakat.
    Pada tahun 1970-an juga ditandai dengan pengembangan definisi CSR. Dalam artikel yang berjudul “Dimensions of Corporate Social Performance”, S. Prakash Sethi memberikan penjelasan atas perilaku korporasi yang dikenal dengan social obligation, social responsibility, dan social responsiveness. Menurut Sethi, social obligation adalah perilaku korporasi yang didorong oleh kepentingan pasar dan pertimbangan-pertimbangan hukum. Dalam hal ini social obligatioan hanya menekankan pada aspek ekonomi dan hukum saja. Social responsibility merupakan perilaku korporasi yang tidak hanya menekankan pada aspek ekonomi dan hukum saja tetapi menyelaraskan social obligation dengan norma, nilai dan harapan kinerja yang dimiliki oleh lingkungan sosial. Social responsivenes merupakan perilaku korporasi yang secara responsif dapat mengadaptasi kepentingan sosial masyarakat. Social responsiveness merupakan tindakan antisipasi dan preventif.
    Dari pemaparan Sethi dapat disimpulkan bahwa social obligation bersifat wajib, social responsibility bersifat anjuran dan social responsivenes bersifat preventif. Dimensi-dimensi kinerja sosial (social performance) yang dipaparkan Sethi juga mirip dengan konsep lingkaran konsentris yang dipaparkan oleh CED.
    (6) Tahun 1980-an
    Era ini ditandai dengan usaha-usaha yang lebih terarah untuk lebih mengartikulasikan secara tepat apa sebenarnya corporate responsibility. Walaupun telah menyinggung masalah CSR pada 1954 , Empu teori manajemen Peter F. Drucker baru mulai membahas secara serius bidang CSR pada tahun 1984, Drucker (1984:62) berpendapat: ”But the proper ‘social responsibility of business is to tame the dragon, that is to turn a social problem into economic opportunity and economic benefit, into productive capacity, into human competence, into well-paid jobs, and into wealth”.
    Dalam hal ini, Drucker telah melangkah lebih lanjut dengan memberikan ide baru agar korporasi dapat mengelola aktivitas CSR yang dilakukannya dengan sedemikian rupa sehingga tetap akan menjadi peluang bisnis yang menguntungkan.
    (7) Tahun 1987
    Persatuan Bangsa-Bangsa melalui World Commission on Environment and Development (WECD) menerbitkan laporan yang berjudul “Our Common Future” yang juga dikenal sebagai Brundtland Report untuk menghormati Gro Harlem Brundtland yang menjadi ketua WECD waktu itu. Laporan tersebut menjadikan isu-isu lingkungan sebagai agenda politik yang pada akhirnya bertujuan mendorong pengambilan kebijakan pembangunan yang lebih sensitif pada isu-isu lingkungan. Laporan ini menjadi dasar kerjasama multilateral dalam rangka melakukan pembangunan berkelanjutan (sustainable development).
    (8) Tahun 1990-an
    Earth Summit dilaksanakan di Rio de Janeiro pada 1992. Dihadiri oleh 172 negara dengan tema utama Lingkungan dan Pembangunan Berkelanjutan. Menghasilkan Agenda 21, Deklarasi Rio dan beberapa kesepakatan lainnya. Hasil akhir dari pertemuan tersebut secara garis besar menekankan pentingnya eco-efficiency dijadikan sebagai prinsip utama berbisnis dan menjalankan pemerintahan.
    3. Konsep Tanggung Jawab
    Sebelum lebih jauh membahas tentang konsep CSR, terlebih dahulu akan dibahas tentang pertanggungjawaban, karena pertanyaan yang sering muncul adalah apakah yang dimakud dengan tanggung jawab, mengapa harus ada alasan apa pertanggungjawaban sosial korporasi, berikut akan dibahas makna tanggung jawab pada korporasi.
    Isa Wahyudi dan Busyra Azheri membagi tanggung jawab sosial korporasi menjadi dua makna, yakni konsep tanngung jawab sosial dalam makna responsibility dan tanggung jawab sosial dalam makna liability.
    1) Tanggung jawab dalam makna responsibility
    Tanggung jawab dalam makna responsibility menurut Burhanuddin Salam sebagaimana dikutip oleh Isa Wahyudi dan Busyra Azheri, menyatakan bahwa: “responsibility is having the character of a free moral agent: capable of determining one’s act; capable deterred by consideration of sanction or concequences”.
    Dari pengertian tersebut dapat dicatat 2 (dua) hal yaitu: (1) harus ada kesanggupan untuk menetapkan sesuatu perbuatan; (2) harus ada kesanggupan untuk memikul risiko dari sesuatu perbuatan. Selanjutnya konsekuensi dari perbuatan dapat dimaknai suatu perbuatan yang hanya terdapat 2 (dua) alternatif penilaian yaitu dapat bertanggungjawab atau tidak dapat bertanggungjawab.
    Bila kata tanggung jawab dilihat dari segi filosofinya, terdapat 3 (tiga) unsur yang harus dipahamai yaitu: (1) kesadaran; (2) kecintaan atau kesukaan; (3) keberanian.
    2) Tanggung jawab dalam makna liability
    Bicara tanggung jawab dalam makna liability berarti bicara tanggung jawab dalam konteks hukum. Di dalam hukum keperdataan prinsip-prinsip tanggung jawab dapat dibedakan sebagai berikut:
    (1) Prinsip tanggung jawab berdasarkan adanya unsur kesalahan
    Di Indonesia diberlakukan prinsip ini adalah atas asas konkordansi (Pasal 1365 KUHPerdata yang intinya perbuatan melawan hukum yang merugikan orang lain);
    (2) Prinsip tanggung jawab berdasarkan praduga
    Adanya praduga bahwa tergugat dalam aktifitasnya merugikan pihak penggugat. Pihak tergugat dibebankan untuk membuktikan dirinya tidak bersalah;
    (3) Prinsip tanggung jawab mutlak (Absolute Liability atau Strict Liability)
    Para pakar sendiri dalam menggunakan terminologi ini sering terbolak-balik, malahan ada yang membedakan sekaligus menyamakannya. Namun demikian menurut Bin Cheng ada perbedaan antara keduanya. Menurutnya strict liability intinya adalah tuntutan atas kerugian harus ada orang yang bertanggung jawab, dengan kata lain harus ada causa link antara orang yang benar-benar bertanggungjawab dengan kerugian tersebut.
    Sedangkan absolute liability, dimana tanggung jawab akan timbul kapan saja dan tanpa mempermasalahkan oleh siapa dan bagaimana terjadinya kerugian tersebut. Dalam absolute liability tidak diperlukan adanya kasualitas.
    Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa jika tanggung jawab dalam makna responsibility jika belum ada pengaturannya secara eksplisit dalam norma hukum. Sedangkan tanggung jawab dalam liability adalah tanggung jawab yang sudah diatur secara eksplisit oleh norma hukum.
    Maka untuk menjawab pertanyaan selanjutnya mengapa harus ada tanggung jawab sosial korporasi padahal antara korporasi dengan masyarakat tidak pernah ada perjanjian secara langsung.
    Masalahnya sekarang adalah berkaitan dengan “perjanjian atau kontrak sosial” (social contract) antara pihak perusahaan dan masyarakat. Dalam terminologi kontrak sosial ini, antara perusahaan dengan masyarakat tidak pernah ada perjanjian secara langsung, lalu apa yang menjadi dasar masyarakat menggugat perusahaan untuk bertanggungjawab? Berkaitan dengan hal tersebut, Tom Connon menyatakan bahwa pada saat suatu perusahaan melakukan aktivitas usahanya, maka pada saat yang bersamaan pula lahirnya kontrak sosial antara perusahaan dengan masyarakat.
    4. Konsep CSR
    CSR konteks zaman modern (masa sekarang) tidak terlepas dari teori konsep 3BL (Triple Bottom Line) atau 3P (Profit, People, Planet,) yang dikenalkan oleh John Elkington. Neviana dalam artikelnya berjudul “Triple Bottom Line: Lebih dari Sekedar Profit”, menuliskan John Elkington tahun 1988 memperkenalkan konsep Triple Bottom Line (TBL atau 3BL), atau disebut juga 3P – People, Planet and Profit.
    Dalam perkembangannya paradigma 3BL ini dipopulerkan oleh John Elkington pada tahun 1997 melalui bukunya “Cannibals with Forks, the Triple Bottom Line of Twentieth Century Business”. Elkington mengembangkan konsep 3BL dalam istilah economic prosperity, environmental quality, dan social justice.
    Gagasan tersebut mengemukakan bahwa perusahaan tidak lagi dihadapkan pada tanggung jawab yang berpijak pada single bottom line, yaitu aspek ekonomi yang direfleksikan dalam kondisi finansial-nya saja, namun juga harus memperhatikan aspek sosial dan lingkungannya (Elkington dalam Wibisono, 2007).
    Sebenarnya, pendekatan ini telah banyak digunakan sejak awal tahun 2007 seiring perkembangan pendekatan akuntansi biaya penuh (full cost accounting) yang banyak digunakan oleh perusahaan sektor publik. Pada perusahaan sektor swasta, penerapan tanggung jawab sosial (Corporate Social Responsibility/CSR) pun merupakan salah satu bentuk implementasi TBL. Konsep TBL mengimplikasikan bahwa perusahaan harus lebih mengutamakan kepentingan stakeholder (semua pihak yang terlibat dan terkena dampak dari kegiatan yang dilakukan perusahaan) daripada kepentingan shareholder (pemegang saham).
    1) Profit (keuntungan). Motivasi utama dari setiap kegiatan usaha jelas adalah mencari keuntungan (profit), hal ini sesuai dengan prinsip ekonomi yaitu dengan modal sekecil-kecilnya untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Mukti Fajar ND dalam disertasinya yang dibukukan mengutip dari Ian B. Lee bahwa korporasi didirikan oleh para pemegang saham untuk mencari keuntungan. Menurut Isa Wahyudi dan Busyra Azheri profit yang diperoleh itu tidak terlepas dari partisipasi secara aktif maupun secara pasif dari stakeholder dalam makna luas. Oleh karena itu, apabila suatu perusahaan mendapat profit sudah seyogyanya pula perusahaan membagi keuntungan tersebut, kepada stakeholders-nya dalam berbagai bentuk. Jadi di sinilah esensi profit dalam makna 3P, karena di atas keuntungan yang diperoleh perusahaan, ada hak-hak pihak lain yang berhak juga atas keuntungan tersebut.
    2) People (masyarakat). Perusahaan harus menyadari bahwa dengan kekuatan finansial yang diperoleh dari profit saja masih belum cukup membuat suatu perusahaan tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan (sustainable), perusahaan juga harus menyertakan tanggung jawabnya kepada masyarakat yang merupakan salah satu stakeholders-nya. Menyadari bahwa masyarakat sekitar perusahaan merupakan salah satu stakeholders penting bagi perusahaan, karena dukungan masyarakat sekitar sangat diperlukan bagi keberadaan, kelangsungan hidup, dan perkembangan suatu perusahaan. Bila dilihat dari tren dunia usaha yang akan berkembang ke depan yang didasarkan berbagai alasan, maka aliran pemikiran yang semakin diminati dan semakin punya daya tarik adalah paradigma yang meyakini bahwa kondisi keuangan saja tidak cukup menjamin value suatu perusahaan untuk tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan (sustainable). Keberlanjutan perusahaan hanya akan terjamin apabila perusahaan memperhatikan dimensi sosial. Jika dimensi ini diabaikan, yang muncul adalah resistensi masyarakat dan pihak lain yang terkait terhadap perusahaan, akibatnya sudah dapat diperkirakan, yaitu akan menimbulkan kondisi yang tidak kondusif dalam aktifitas dunia usaha itu sendiri.
    3) Planet (lingkungan). Perusahaan harus menyertakan tanggung jawabnya terhadap lingkungan sekitarnya jika ingin tetap tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan (sustainable). Lingkungan adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan upaya kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya. Perlu dipahami juga bahwa hubungan manusia dengan lingkungan adalah hubungan kausalitas, jika manusia merawat lingkungan, maka lingkungan pun akan memberikan manfaat kepada kita. Sebaliknya, jika merusaknya, maka kita akan menerima akibatnya.
    Ketiga komponen (3P) itu saling terkait satu sama lain. Apabila salah satu komponen ditinggalkan, maka akan menimbulkan ketidakseimbangan, sehingga menimbulkan berbagai dampak sosial, ekonomi dan lingkungan.
    ` Hasil Survey “The Millenium Poll on CSR” (1999) yang dilakukan oleh Environics International (Toronto), Conference Board (New York) dan Prince of Wales Business Leader Forum (London) diantara 25.000 responden di 23 negara menunjukkan bahwa dalam membentuk opini tentang perusahaan, 60% mengatakan bahwa etika bisnis, praktek terhadap karyawan, dampak terhadap lingkungan, tanggungjawab sosial perusahaan (CSR) akan paling berperan, sedangkan bagi 40% citra perusahaan & brand image yang akan paling mempengaruhi kesan mereka. Hanya 1/3 yang mendasari opininya atas faktor-faktor bisnis fundamental seperti faktor finansial, ukuran perusahaan,strategi perusahaan, atau manajemen. Lebih lanjut, sikap konsumen terhadap perusahaan yang dinilai tidak melakukan CSR adalah ingin “menghukum” (40%) dan 50% tidak akan membeli produk dari perusahaan yang bersangkutan dan/atau bicara kepada orang lain tentang kekurangan perusahaan tersebut.
    5. Prinsip-Prinsip CSR
    Menurut pakar CSR dari Universitas of Bath Inggris yaitu Alyson Warhurst, sebagaimana yang dikutip oleh Isa Wahyudi dan Busyra Azheri , dimana pada tahun 1998 beliau menjelaskan ada 16 (enam belas) prinsip yang harus diperhatikan dalam mengimplementasikan CSR yaitu:
    1) Prioritas Perusahaan
    Dalam hal ini perusahaan harus menjadikan tanggung jawab sosial sebagai prioritas tertinggi dan penentu utama dalam pembangunan berkelanjutan. Dengan demikian suatu perusahaan dapat membuat kebijakan, program, dan praktek dalam menjalankan aktifitas bisnisnya dengan cara lebih bertanggungjawab secara sosial.
    2) Manajemen Terpadu
    Manajer sebagai pengendali dan pengambil keputusan harus mampu mengintegrasikan setiap kebijakan dan program alam aktifitas bisnisnya, sebagai salah satu unsur dalam fungsi manajemen.
    3) Proses Perbaikan
    Setiap kebijakan, program, dan kerja sosial harus dilakukan evaluasi secara berkesinambungan didasarkan atas temuan riset mutakhir dan memahami kebutuhan sosial serta menerapkan kriteria sosial tersebut secara global.
    4) Pendidikan Karyawan
    Karyawan sebagai stakeholder primer harus ditingkatkan kemampuan dan keahliannya, oleh karena itu perusahaan harus memotivasi merek melalui program pendidikan dan pelatihan.
    5) Pengkajian
    Perusahaan sebelum melakukan sekecil apapun suatu kegiatan harus terlebih dahulu melakukan kajian mengenai dampak sosialnya. Kegiatan ini tidak saja dilakukan pada saat memulai suatu kegiatan, tetapi juga pada saat sebelum mengakhiri atau menutup suatu kegiatan.
    6) Produk dan Jasa
    Suatu perusahaan harus senantiasa berusaha mengembangkan suatu produk dan jasa yang tidak mempunyai dampak negatif secara sosial.
    7) Informasi Publik
    Memberikan informasi dan bila perlu mengadakan pendidikan terhadap konsumen, distributor, dan masyarakat umum tentang penggunaan, penyimpanan, dan pembuangan atas suatu produk barang dan atau jasa.
    8) Fasilitas dan Operasi
    Mengembangkan, merancang, dan mengoperasikan fasilitas serta menjalankan kegiatan dengan mempertimbangkan temuan yang berkaitan dengan dampak sosial dari suatu kegiatan perusahaan.
    9) Penelitian
    Mengembangkan dan atau mendukung suatu riset atas dampak sosial dari pembangunan bahan baku, produk, proses, emisi, dan limbah sehubungan dengan kegiatan usaha itu sendiri dilakukan dalam upaya mengurangi dan atau meniadakan dampak negatif kegiatan dimaksud.
    10) Prinsip Pencegahan
    Memodifikasi manufaktur, pemasaran dan atau penggunaan atas produk barang atau jasa yang sejalan dengan hasil penelitian mutakhir. Kegiatan ini dilakukan sebagai upaya mencegah dampak sosial yang bersifat negatif.
    11) Kontraktor dan Pemasok
    Mendorong kontraktor dan pemasok untuk mengimplementasikan dari prinsip-prinsip tanggung jawab sosial perusahaan, baik yang telah maupun yang akan melakukannya. Bila perlu menjadikan tanggung jawab sosial sebagai bagian dari suatu persyaratan dalam kegiatan usahanya.
    12) Siaga Menghadapi Darurat
    Perusahaan harus menyusun dan merumuskan rencana dalam menghadapi keadaan darurat. Dan bila terjadi keadaan berbahaya perusahaan harus bekerja sama dengan layanan gawat darurat (emergency), instansi berwenang, dan komunitas lokal. Selain itu perusahaan berusaha mengenali potensi bahaya yang muncul.
    13) Transfer Best Practice
    Berkontribusi pada pengembangan dan transfer bisnis praktis sepanjang bertanggung jawab secara sosial pada semua industri dan sektor publik.
    14) Memberikan Sumbangan
    Sumbangan ini ditujukan untuk pengembangan usaha bersama, kebijakan publik dan bisnis, lembaga pemerintahan dan lintas departemen serta lembaga pendidikan yang akan membantu meningkatkan kesadaran akan tanggung jawab sosial.
    15) Keterbukaan (disclosure)
    Menumbuhkembangkan budaya keterbukaan dan dialogis dalam lingkungan perusahaan dan dengan unsur publik. Selain itu perusahaan harus mampu mengantisipasi dan memberikan respon terhadap risiko potensial (potencial hazard) yang mungkin muncul, dan dampak negatif dari operasional, produk, limbah dan jasa.
    16) Pencapaian dan Pelaporan
    Melakukan evaluasi atas hasil kinerja sosial, melaksanakan audit sosial secara berskala dan mengkaji pencapaian berdasarkan kriteria perusahaan dan ketentuan peraturan perundang-undangan serta menyampaikan informasi tersebut kepada dewan direksi, pemegang saham, pekerja, dan publik.
    Selannjutnya Nor Hadi mengutip dari Crowther David (2008) mengenai prinsip-prinsip sosial (social responsibility) menjadi 3 (tiga), yaitu:
    (1) Sustainabilty
    (2) Accountability; dan
    (3) Transparency
    Sustainabilty, berkaitan dengan bagaimana perusahaan dalam melakukan aktifitas (action) tetap memperhitungkan keberlanjutan sumber daya di masa depan.
    Accountabilty, merupakan upaya perusahaan terbuka dan bertanggungjawab atas aktifitas yang telah dilakukan. Akuntabilitas dibutuhkan, ketika aktifitas perusahaan mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lingkungan eksternal.
    Transparency, merupakan prinsip penting bagi pihak eksternal. Transparansi bersinggungan dengan pelaporan aktifitas perusahaan berikut dampak terhadap pihak eksternal.
    6. Tujuan CSR
    Sebagaimana pembahasan mengenai definisi atau pengertian CSR, dari berbagai sumber literatur, tujuan CSR juga masih beragam dan belum ada peraturan yang jelas dan tegas mengenai tujuan CSR ini. Ada banyak pandapat mengenai tujuan CSR, diantaranya menurut Maya Ratnasari dalam artikelnya pada situs resmi Departemen Sosial menyatakan bahwa:
    “CSR bertujuan untuk membantu Pemerintah dalam menyelenggarakan Usaha Kesejahteraan Sosial dan atau memecahkan masalah sosial atas dasar inisiatifnya sendiri, mensejahterakan masyarakat melalui peran Dunia Usaha dalam peningkatan kesejahteraan yaitu dengan menyisihkan sebagian dananya untuk diarahkan bagi usaha-usaha sosial”.

    7. Ruang Lingkup CSR
    Berkaitan dengan ruang lingkup CSR, John Elkington berdasarkan pengertian atau rumusan CSR sebagaimana telah disinggung sebelumnya mengelompokkan CSR atas 3 (tiga) aspek yang dikenal dengan istilah “Triple Bottom Line” atau 3BL, maka ruang lingkup CSR meliputi kesejahteraan dan kemakmuran ekonomi (economic prosperity), peningkatan kualitas lingkungan (environmental quality), dan keadilan sosial (social justice).
    Berikut ini kegiatan-kegiatan CSR sesuai dengan Triple bottom line, antara lain :

    No Aspek Muatan
    1. Sosial Pendidikan, pelatihan, kesehatan, perumahan, penguatan kelembagaan (secara internal, termasuk kesejahteraan karyawan) kesejahteraan sosial, olahraga, pemuda, wanita, agama, kebudayaan, dan sebagainya
    2. Ekonomi Kewirausahaan, kelompok usaha bersama/unit mikro kecil dan menengah (KUB/UMKM), agrobisnis, pembukaan lapangan kerja, infrastruktur ekonomi dan usaha produktif lain
    3. Lingkungan Penghijauan, reklamasi lahan, pengelolaan air, pelestarian alam, ekowisata penyehatan lingkungan, pengendalian polusi, serta, penggunaan produksi dan energi secara efisien
    Tabel 2.1 Kegiatan CSR Triple Bottom Line
    8. Bentuk-Bentuk CSR
    Isa Wahyudi dan Busyra Azheri menggolongkan bentuk-bentuk Tanggung Jawab Sosial Perusahaan menjadi empat bentuk yaitu:
    Pengolahan lingkungan kerja secara baik, termasuk di dalamnya penyediaan lingkungan yang aman dan nyaman, sistem kompensasi yang layak dan perhatian terhadap kesejahteraan dan keluarganya.
    Kemitraan antara perusahaan dengan masyarakat, khususnya masyarakat lokal. Kemitraan ini diwujudkan secara umum dalam program community development untuk membantu peningkatan kesejahteraan umum masyarakat setempat dalam kurun waktu yang cukup panjang. Melalui program ini, diharapkan masyarakat akan menerima manfaat keberadaan perusahaan yang digunakan untuk menopang kemandiriannya bahkan setelah perusahaan berhenti beroperasi.
    Penanganan kelestarian lingkungan, kegiatan ini dimulai dari lingkungan perusahaan sendiri, termasuk melakukan penghematan penggunaan listrik, air, kertas, dan lain sebagainya sampai penanganan limbah akibat kegiatan perusahaan, agar tidak mencemari lingkungan sekitar kantor, pabrik dan atau lahan.
    Investasi sosial yang sering diartikan secara sempit sebagai “kegiatan amal perusahaan”. Makna sesungguhnya adalah perusahaan memberi dukungan finansial dan non finansial terhadap kegiatan sosial dan lingkungan yang dilakukan oleh kelompok/organisasi lain yang pada akhirnya akan menunjang kegiatan bisnis perusahaan, karena perusahaan melalui investasi sosial akan dapat menuai citra yang positif (corporate image).
    9. Sifat CSR
    Khusus di Indonesia dari hasil penelitian Busyra Azheri dalam disertasinya yang berjudul ”Tanggung Jawab Sosial Perusahaan dan Lingkungan dalam Kegiatan Pertambangan di Sumatera Barat”, menurutnya Tanggung jawab sosial perusahaan atau yang biasa disebut dengan Corporate Social Responsibility (CSR) mengalami pergeseran makna, asas, dan konsep dari bersifat voluntary menjadi mandatory.
    Hal ini ditegaskan lagi oleh Mukti Fajar ND yang pada salah satu isi kesimpulan disertasinya yang dibukukan, menyatakan bahwa CSR adalah suatu aktifitas korporasi yang dapat diwajibkan oleh hukum dengan empat butir argumen diantaranya:
    Pertama adanya pergeseran paradigma korporasi dari yang semula hanya bertujuan mencari keuntungan demi kepentingan shareholder, bergeser kepada kepedulian terhadap stakeholder dan lingkungan (triple bottom lines) atau 3P (profit, people, planet);
    Kedua CSR sebagai kewajiban moral dan etika sangat mungkin digeser menjadi kewajiban hukum. Sebab hukum yang baik adalah yang sesuai dengan nilai-nilai moral. Seperti adagium “Quid Leges Sine Moribus?” (Apa artinya hukum jika tidak disertai moralitas?).
    Ketiga pengaturan CSR dalam Undang-undang sangat sesuai dengan nilai-nilai Pancasila yakni sila ke-2 dan sila ke-5. CSR juga sesuai dengan UUD 1945 Pasal 33 yang didasari pokok-pokok pikiran yang terkandung dalam alenia IV pembukaan UUD 1945.
    Keempat pemerintah dapat memberikan kewajiban CSR sesuai dengan kondisi korporasi dan lingkungan yang dihadapi (sesuai dengan reflexive law theory). Jadi selain pemerintah, masyarakat yang akan memberikan sanksi atau penghargaan.
    10. Manfaat CSR
    Hendrik Budi Untung mengutip dari Suhandari M. Putri mengungkapkan bahwa manfaat CSR bagi perusahaan antara lain:
    1) Mempertahanankan dan mendongkrak reputasi serta citra merek perusahaan;
    2) Mendapatkan lisensi untuk beroperasi secara sosial;
    3) Mereduksi risiko bisnis perusahan;
    4) Melebarkan akses sumber daya bagi operasional usaha;
    5) Membuka peluang pasar yang lebih luas;
    6) Mereduksi biaya, misalnya terkait dampak pembuangan limbah;
    7) Memperbaiki hubungan dengan stakeholders;
    8) Memperbaiki hubungan dengan regulator;
    9) Meningkatkan semangat dan produktivitas karyawan;
    10) Peluang mendapatkan penghargaan

    B. CSR di Indonesia dan Peraturan CSR Indonesia
    1. Sejarah Perkembagan CSR di Indonesia
    Di antara negara-negara di Asia, penetrasi aktivitas CSR di Indonesia masih tergolong rendah. Pada tahun 2005 baru ada 27 perusahaan yang memberikan laporan mengenai aktivitas CSR yang dilaksanakannya.
    Ikatan Akuntan Indonesia Kompartemen Akuntan Manajemen sejak tahun 2005 mengadakan Indonesia Sustainability Reporting Award (ISRA). Secara umum ISRA bertujuan untuk mempromosikan voluntary reporting CSR kepada perusahaan di Indonesia dengan memberikan penghargaan kepada perusahaan yang membuat laporan terbaik mengenai aktivitas CSR. Kategori penghargaan yang diberikan adalah Best Social and Environmental Report Award, Best Social Reporting Award, Best Environmental Reporting Award, dan Best Website.
    Pada Tahun 2006 kategori penghargaan ditambah menjadi Best Sustainability Reports Award, Best Social and Environmental Report Award, Best Social Reporting Award, Best Website, Impressive Sustainability Report Award, Progressive Social Responsibility Award, dan Impressive Website Award. Pada Tahun 2007 kategori diubah dengan menghilangkan kategori impressive dan progressive dan menambah penghargaan khusus berupa Commendation for Sustainability Reporting: First Time Sutainability Report. Sampai dengan ISRA 2007 perusahaan tambang, otomotif dan BUMN mendominasi keikutsertaan dalam ISRA.
    Perkembangan program CSR di Indonesia dimulai dari terbitnya Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan BUMN/Kepala Badan Pembina BUMN No: Kep. 216/MPBUMN/1999 tanggal 28 September 1999 tentang Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (selanjutnya ditulis PKBL) BUMN. PKBL merupakan Program Pembinaan Usaha Kecil dan pemberdayaan kondisi lingkungan oleh BUMN melalui pemanfaatan dana dari bagian laba BUMN.
    2. Landasan filosofis CSR di Inonesia
    Pancasila, sila ke-5, yakni: “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.” Berangkat dari pengertian CSR atau Tanggung Jawab Sosial Perusahaan dari kedua Undang-Undang di atas, maka dapat ditarik kata kunci utama dari CSR yaitu keadilan sosial dan ekonomi. Permasalahan keadilan sosial dan ekonomi tertuang di dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia, maka akan kita dapati bunyi alenia II yang menyatakan bahwa negara bertujuan menciptakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, dalam rangka mewujudkan negara yang merdeka, berdaulat, adil, dan makmur. Alenia II Pembukaan UUD 1945 tersebut ditegaskan lagi dalam alenia IV yang berbunyi:
    “…. Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial….”.
    Pokok pikiran kedua ini identik dengan Pancasila, sila ke-5, yakni Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
    Selain itu di dalam konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia juga ditegaskan dalam Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 33 ayat (1), (2), (3), dan (4) yang berbunyi:
    (1) Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan.
    (2) Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara.
    (3) Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
    (4) Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional.
    3. Hubungan antara CSR dengan Hukum dan Sistem Hukum Indonesia
    Sebagaimana telah diketahui bahwa Corporate Social Responsibilty (CSR) yang di dalam bahasa Indonesia berarti Tanggung Jawab Sosial Perusahaan. Oleh karena yang menjadi subjek disini adalah perusahaan, maka jika dikaji secara ilmiah dengan memakai disiplin ilmu hukum, maka segala hal mengenai perusahaan perusahaan ini masuk kedalam golongan hukum privat (perdata).
    Dudu Duswara Machmudin dalam bukunya Pengantar Ilmu Hukum Sebuah Sketsa, menuliskan penggolongan hukum berdasarkan isi atau kekuatan yang diaturnya, hukum digolongkan menjadi dua, yaitu: 1) hukum privat, adalah hukum yang mengatur kepentingan pribadi, misalnya hukum perdata, dan hukum dagang; 2) hukum publik, adalah hukum yang mengatur kepentingan umum atau kepentingan publik, misalnya hukum tata negara, hukum pidana, hukum acara pidana, dan sebagainya.
    Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan memberikan definisi perusahaan sebagai berikut: “Perusahaan adalah setiap bentuk usaha yang menjalankan setiap jenis usaha yang bersifat tetap dan terus menerus dan yang didirikan, bekerja serta berkedudukan.dalam wilayah Negara Republik Indonesia, untuk tujuan memperoleh keuntungan dan atau laba”.
    Mengenai perusahaan ini, dalam naskah memorie van toelichting rencana pembuatan Undang-Undang Hukum Dagang (WvK) di muka parlemen pemerintah Belanda, menerangkan (sebagimana dikutip Purwosutjipto, 1983:14) perusahaan adalah keseluruhan perbuatan, yang dilakukan secara tidak terputus-putus, dengan terang-terangan, dalam kedudukan tertentu dan untuk mencari laba (bagi diri sendiri).
    Terkait dengan korposari/perusahaan, Neni Sri Imaniyati dalam bukunya Hukum Bisnis: Telaah Tentang Pelaku dan Kegiatan Ekonomi dalam memberikan pengertian tentang korporasi mengutip dari Utrecht dan Moch. Soleh, korporasi adalah:
    “Suatu gabungan orang yang dalam pergaulan bertindak bersama-sama sebagai suatu subjek tersendiri suatu personifikasi. Korporasi adalah badan yang beranggota, tetapi mempunyai hak dan kewajiban sendiri terpisah dari hak dan kewajiban anggota masing-masing”.
    Menurut Subekti dan Tjitrosudiro , yang dimaksud dengan corporatie atau korporasi adalah suatu perseroan yang merupakan badan. Sedangkan Yan Pramadya Puspa menyatakan:
    “Korporasi atau badan, adalah suatu perseroan yang merupakan badan; korporasi atau perseroan di sini yang dimaksud adalah suatu perkumpulan atau kumpulan atau organisasi yang oleh diperlakukan seperti manusia (persona) ialah sebagai pengemban (atau pemilik) hak dan kewajiban memiliki hak menggugat atau digugat di muka pengadilan. Contoh badan itu adalah PT (Perseroan Terbatas), N.V. (Namloze Vennotschap) dan yayasan (stichting); bahkan negara pun juga merupakan badan”.
    Dari pemaparan dan argumen di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa korporasi atau perusahaan secara hukum mempunyai tanggung jawab sosial dan tanggung jawab moral.
    4. Landasan Hukum CSR di Indonesia (Pengaturan dan Pelaksanaan CSR di Indonesia)
    CSR di Indonesia diatur di dalam peraturan perundang-undangan dan pelaksana diantaranya sebagai berikut:
    1. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.
    Ketentuan UU ini yang berkaitan dengan CSR adalah sebagai berikut:
    Pasal 6
    (1) Setiap orang berkewajiban memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup serta mencegah dan menanggulangi pencemaran dan perusakan
    (2) Setiap orang yang melakukan usaha dan/atau kegiatan berkewajiban memberikan informasi yang benar dan akurat mengenai pengelolaan lingkungan hidup
    Pasal 16
    (1) Setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan wajib melakukan pengelolaan limbah hasil usaha dan/atau kegiatan
    Pasal 17
    (1) Setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan wajib melakukan pengelolaan bahan berbahaya dan beracun

    2. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.
    Undang-undang ini banyak mengatur tentang kewajiban dan tanggung jawab perusahaan terhadap konsumennya. Perlindungan konsumen ini bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran korporat tentang pentingnya kejujuran dan tanggung jawab dalam perilaku berusaha. Hal-hal lain yang diatur di sini adalah larangan-larangan pelaku usaha, pencantuman klausula baku dan tanggung jawab pelaku usaha.
    3. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara (BUMN) juncto Keputusan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (KEPMEN BUMN) Nomor 236 Tahun 2003 Program Kemitraan
    Dalam Pasal 2 juncto Pasal 66 nayat (1) UU No. 19 Tahun 2003 tentang BUMN juncto Pasal 8 KEPMEN BUMN No. 236 Tahun 2003 tentang Program Kemitraan bersumber dari penyisihan laba setelah pajak sebesar 1%-3%.
    4. UU No. 25 tahun 2007 tentang Penanaman Modal
    Beberapa ketentuan UU ini yang berkaitan dengan CSR adalah Pasal 15 huruf b, Pasal 15 huruf d, Pasal 16, Pasal 17, dan Pasal 34 sebagai berikut:
    Pasal 15
    b. melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan;
    Pasal 15
    d. menghormati tradisi budaya masyarakat sekitar lokasi kegiatan
    usaha penanaman modal;
    Pada penjelasan pasal 15 huruf b, yang dimaksud dengan “tanggung jawab sosial perusahaan” adalah tanggung jawab yang melekat pada setiap perusahaan penanaman modal untuk tetap menciptakan hubungan yang serasi, seimbang, dan sesuai dengan lingkungan, nilai, norma, dan budaya masyarakat setempat.
    Pasal 16
    Setiap penanam modal bertanggung jawab:
    a. menjamin tersedianya modal yang berasal dari sumber yang tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
    b. menanggung dan menyelesaikan segala kewajiban dan kerugian jika penanam modal menghentikan atau meninggalkan atau menelantarkan kegiatan usahanya secara sepihak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
    c. menciptakan iklim usaha persaingan yang sehat, mencegah praktik monopoli, dan hal lain yang merugikan negara;
    d. menjaga kelestarian lingkungan hidup;
    e. menciptakan keselamatan, kesehatan, kenyamanan, dan kesejahteraan pekerja; dan
    f. mematuhi semua ketentuan peraturan perundang- undangan.

    Pasal 17
    Penanam modal yang mengusahakan sumber daya alam yang tidak terbarukan wajib mengalokasikan dana secara bertahap untuk pemulihan lokasi yang memenuhi standar kelayakan lingkungan hidup, yang pelaksanaannya diatur sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
    Pasal 34
    (1) Badan usaha atau usaha perseorangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 yang tidak memenuhi kewajiban sebagaimana ditentukan dalam Pasal 15 dapat dikenai sanksi administratif berupa:
    a. peringatan tertulis;
    b. pembatasan kegiatan usaha;
    c. pembekuan kegiatan usaha dan/atau fasilitas penanaman modal; atau
    d. pencabutan kegiatan usaha dan/atau fasilitas penanaman modal.
    (2) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan oleh instansi atau lembaga yang berwenang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
    (3) Selain dikenai sanksi administratif, badan usaha atau usaha perseorangan dapat dikenai sanksi lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
    Berdasarkan pengaturan-pengaturan di atas, kewajiban dan tanggung jawab perusahaan bukan hanya kepada pemilik modal saja, melainkan juga kepada karyawan dan keluarganya, konsumen dan masyarakat sekitar, serta lingkungan hidup.
    5. UU NO. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas
    Undang-undang ini diundangkan secara resmi pada tanggal 16 Agustus 2007. Ketentuan dalam Pasal 74 sebagai berikut:
    Pasal 74
    Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan
    (1) Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan.
    (2) Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan kewajiban Perseroan yang dianggarkan dan diperhitungkan sebagai biaya Perseroan yang pelaksanaannya dilakukan dengan memperhitungkan kepatutan dan kewajaran.
    (3) Perseroan yang tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
    (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan diatur dengan Peraturan Pemerintah
    6. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah
    Pasal 21
    “Badan Usaha Milik Negara dapat menyediakan pembiayaan dari penyisihan bagian laba tahunan yang dialokasikan kepada Usaha Mikro dan Kecil dalam bentuk pemberian pinjaman, penjaminan, hibah, dan pembiayaan lainnya”. Ketentuan peraturan perundang-undangan inilah yang dijadikan dasar bagi penataan tentang pemanfaatan CSR di Indonesia.
    7. Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan BUMN/Kepala Badan Pembina BUMN No: Kep. 216/MPBUMN/1999 tanggal 28 September 1999 tentang Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (selanjutnya ditulis PKBL) BUMN.
    PKBL merupakan Program Pembinaan Usaha Kecil dan pemberdayaan kondisi lingkungan oleh BUMN melalui pemanfaatan dana dari bagian laba BUMN.
    8. Peraturan Presiden nomor 76 Tahun 2007 tentang Kriteria dan Persyaratan Penyusunan Bidang Usaha Tertutup dan Bidang Usaha Terbuka Dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal.
    Adapun aturan yang terkait CSR tertuang di dalam Pasal 8, 9, 11, 12, 13, 14, dan 15. Adapun bunyi pasal-pasal tersebut sebagai berikut:
    Pasal 8
    Bidang Usaha yang tertutup untuk penanaman modal, baik asing maupun dalam negeri diterapkan dengan berdasarkan kriteria kesehatan, keselamatan, pertahanan dan keamanan, lingkungan hidup dan moral/budaya (K3LM) dan kepentingan nasional lainnya.
    Pasal 9
    Kriteria K3LM sebagaimana dimaksud dalam pasal 8 dapat dirinci antara lain:
    1. Memelihara tatanan hidup masyarakat;
    2. Melindungi keaneka ragaman hayati;
    3. Menjaga keseimbangan ekosistem;
    4. Memelihara kelestarian hutan alam;
    5. Mengawasi penggunaan Bahan Berbahaya Beracun;
    6. Menghindari pemalsuan dan mengawasi peredaran barang dan/atau jasa yang tidak direncanakan;
    7. Menjaga kedaulatan negara, atau
    8. Menjaga dan memelihara sumber daya terbatas.
    Pasal 11
    Kriteria penetapan bidang usaha yang terbuka dengan persyaratan antara lain :
    1. Perlindungan sumber daya alam;
    2. Perlindungan dan perkembangan Usaha Mikro, Kecil, Menengah dan Koperasi (UMKMK);
    3. Pengawasan produksi dan pengawasan ;
    4. Peningkatan kapasitas teknologi;
    5. Partisipasi modal dalam negeri, dan
    6. Kerjasama dengan badan usaha yang ditunjuk oleh pemerintah.
    Pasal 12
    (1) Bidang usaha yang terbuka dengan persyaratan terdiri dari:
    a. Bidang usaha yang terbuka dengan persyaratan perlindungan dan pengembangan terhadap UMKMK.
    b. Bidang usaha yang terbuka dengan syarat kemitraan.
    c. Bidang usaha yang terbuka berdasarkan kepemilikan modal.
    d. Bidang usaha yang terbuka berdasarkan persyaratan lokasi tertentu.
    e. Bidang usaha yang terbuka berdasarkan persyaratan perizinan khusus.
    (2) Bidang usaha yang terbuka sebagaimana dimaksud pada ayat 1 huruf a hanya dapat dilakukan berdasarkan pertimbangan kewajaran dan kelayakan ekonomi untuk melindungi UMKMK.
    (3) Bidang usaha yang terbuka sebagaimana dimaksud pada ayat 1 huruf b, terdiri atas bidang usahs yang tidak dicadangkan dengan pertimbangan kelayakan bisnis.
    Pasal 13
    Pemerintah menetapkan bidang usaha yang dicadangkan untuk UMKMK dan bidang usaha yang terbuka dengan syarat kemitraan.
    Pasal 14
    (1) Penentuan bidang usaha yang dicadangkan untuk UMKMK dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
    (2) Bidang usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah bidang-bidang usaha yang merupakan bidang usaha yang dicadangkan untuk UMKMK tanpa diharuskan menjadi bagian dari daftar bidang usaha yang terbuka dengan persyaratan bidang usaha yang dicadangkan untuk UMKMK.
    (3) Bidang usaha berdasarkan pertimbangan kewajaran dan kelayakan apabila diusahakan oleh UMKMK, menjadi bagian dari daftar bidang usaha terbuka dengan persyaratan bidang usaha yang dicanangkan untuk UMKMK.
    (4) Proses penetapan daftar bidang usaha yang dicanangkan untuk UMKMK sebagaimans dimaksud pada ayat (1), dilaksanakan berdasarkan usulan Menteri teknis yang terkait dengan bidang usaha tersebut, setelah berkoordinasi dengan Kementerian Negara Koperasi Usaha Kecil, dan Menengah, dengan memperhatikan prioritas program pembinaan UMKMK.
    Pasal 15
    (1) Bidang usaha yang terbuka dengan syarat kemitraan merupakan usaha yang dilakukan dalam bentuk kerjasama antara UMKMK dengan usaha besar disertai pembinaan dan pengembangan oleh usaha besar dengan memperhatikan prinsip saling memerlukan, saling memperkuat dan saling menguntungkan.
    (2) Bidang usaha yang mewajibkan kemitraan penanam modal skala besar dengan UMKMK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan dengan pola inti plasma, sub kontraktor, dagang umum, keagenan dan bentuk lainnya, tanpa ada perubahan kepemilikan UMKMK, serta dilaksanakan berdasarkan perjanjian tertulis.
    (3) Perjanjian tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat 2 adalah persyaratan bagi penanam modal skala besar untuk dapat membentuk badan usaha yang berbentuk badan hukum.
    (4) Disamping kemitraan dalam bidang usaha yang dicadangkan untuk UMKMK sebagaimana dimaksud pada ayat (1), kemitraan dapat dilakukan oleh penanam modal skala besar dengan UMKMK dalam bidang usaha sesuai dengan izin usahanya sebagai persyaratan perijinan untuk beroperasi/berproduksi komersial.
    9. Keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) 15 April 2009
    Mahkamah Konstitusi (MK) dalam putusannya 15 April 2009 menolak gugatan uji material oleh KADIN terhadap pasal 74 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UU PT) mengenai kewajiban Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) bagi perusahaan yang berkaitan dengan sumber daya alam, dan putusan MK bersifat final dan mengikat.

  118. Baitul Qiradh Amanah (kota Banda Aceh)
    Maret 15, 2012 pukul 12:25 pm

    Assalamualaikum wr wb.

    kami dari lembaga koperasi baitul qiradh amanah di kota banda aceh. bisa/ ada yang bisa kasih info lemb/perush yang membutuhkan kerjasama dengan kami. untuk prog csr. trima kasih.

    humas

    koperasi baitul qiradh amanah
    ibnu zakaria

    baitul qiradh amanah
    Jl.soekarno – hatta, Kp. Lampeout – kota Banda Aceh – Prov. Aceh
    email/fb/ym ; bq.amanah@yahoo.co.id, telp. 0651-7410981

  119. asep nanan
    April 6, 2012 pukul 9:12 pm

    assalamualaikum,saya pernah ditawari uang pinjaman lunak dengan bunga 1 % per bulannya oleh seseorang yang katanya dari program CSR,hal apa yang harus saya lakukan untuk menganalisa kebenaran tawaran tersebut,mohon jawaban secepatnya.terima kasih

  120. randi
    April 14, 2012 pukul 4:22 pm

    saya minta tolong kpada siapapun yang bisa membantu saya,,saya mendapatkan tugas untuk membuat pereancanaan csr,,saya sedang mngerjakan analisis issue,,namun saya bingung dalam pmetaan stakholder,,apabila suatu PT (pertambangan),,mengadakan CSR,,siapa aja sih stakeholder internalnya yang terlibat dalam kegiatan itu,,mohon pencerahannya,,terima kasih,,

  121. Noval Kurniawan
    Mei 2, 2012 pukul 8:50 pm

    Pak,…saya mau bertanya ?

    apakah ada batasan tertentu setiap perusahaan yang di wajibkan harus CSR …
    mekanisme kerjanya dengan pemerintah bagaimana ?
    pembentukan forumnya siapa saja yang di undang ?
    terimakasih

  122. Mei 25, 2012 pukul 5:16 am

    Hello There. I found your blog the usage of msn.

    That is a very well written article. I will make sure to bookmark it and come
    back to learn more of your helpful information. Thanks for the post.
    I will certainly return.

  123. Paulus Thenu
    Juni 13, 2012 pukul 3:15 pm

    “CSR” tanpa didasari oleh Komitmen yang kuat dan didukung dengan semangat yang tinggi, dari setiap pelaku dalam Perusahaan dan Masyarakat maka hanya tinggal kenangan saja, dan habis Perusahaan beroperasi, maka masyarakat sekitar usaha akan menjadi tidak untuk lebih baik dari waktu dulu……….Oleh karena itu perlu suatu pengawasan dari Pemda dalam penerapan CSR sebuah perusahaan beroperasi sehingga dampak yang akan dialami oleh masyarakat akan tetap dapat dipantau secara baik, bijak dan cerdas….terima kasih………………..Salam pekerja sosial di lingkungan Tambang Pulau Gebe Halteng Malut………….PT. TH.0092.

  124. Juni 30, 2012 pukul 10:17 am

    selamat siang…….saya sedang membuat skripsi dan salah satu variabelnya adalah pengungkapan csr. ada yang bisa bantu cara perhitungan skor csr dan kriterianya apa saja. terima kasih.

  125. Dero
    Agustus 2, 2012 pukul 11:55 pm

    Maaf,ada yang tau teori penghubung csr dengan profitabilitas

  126. September 2, 2012 pukul 7:13 pm

    kawankawan yang jelek aku minta jangan bikin ajakan deh

  127. fafa
    September 4, 2012 pukul 4:39 pm

    saya mahasis

  128. fafa
    September 4, 2012 pukul 4:44 pm

    saya seorang mahasiswa, saya mau malakukan sebuah panalitian skripsi tentang CSR bisakah saya mengetahui perusahaan mana saja yang mempunyai CSR khususnya di daerah DIY, jika ada info bisa dikirim d email saya syafa_cut3@yahoo.co.id
    terima kasih

  129. febtri
    September 5, 2012 pukul 6:19 am

    Tahun 2011, kami sdh membentuk Forum CSR walaupun susah dan alot namun akhirnya terbentuk juga,,,tahun ini kami sedang fokus menyusun program dengan sasaran pengentasan kemiskinan dan masalah-masalah sosial,,,,tolong info daerah dan prusahaan dimana, yang sudah berhasil melaksanakan dalam rangka kegiatan tersebut, trims.

  130. AHA
    Desember 22, 2012 pukul 8:16 am

    Program CSR-Comdev perusahaan kami memiliki Misi/visi : “Mempersiapkan Kemandirian Masyarakat” agar pd saat perusahaan sdh selesai masyarakat dpt mandiri, namun dalam implementasi dilapangan kadang berbenturan dg harapan masyarakat yg lebih mengharapkan sesuatu yg bersifat instan dan dpt dinikmati langsung kasarnya minta bagi2 mentahnya saja dan kurang tertarik dg program kearah mempersiapkan kemandirian, sy perlu masukan. terimakasih salam CSR

  131. Februari 7, 2013 pukul 7:35 pm

    dapatkan sekarang tiket CSR Summit di http://www.csrindonesia.net The 3rd CSR Indonesian Summit 2013, March 28th

  132. Februari 14, 2013 pukul 2:39 pm

    untuk berita dan informasi CSR klik

    108CSR.com

  133. arin
    April 18, 2013 pukul 8:57 am

    saya mahasiswi akuntansi, sedang menyusun skripsi topik csr, saya mau tanya, untuk melihat csr index pada setiap perusahaan manufaktur dapat dilihat dmn ya ?

  134. fitri
    April 25, 2013 pukul 3:46 pm

    salam kenal, aku bingung gimana sh cara bagian community relations buat membedakan khalayaknya sehingga akan memperjelas permasalahan organisasinya? makasih

  135. Mei 31, 2013 pukul 6:15 am

    This is really interesting, You’re a very skilled blogger. I’ve joined your feed and look forward to
    seeking more of your wonderful post. Also, I’ve shared your website in my social networks!

  136. Juli 15, 2013 pukul 10:52 am

    artikel ini menarik dan bisa menambah wawasan baru, salam kunjungan

  137. Bisma Jatmika
    Agustus 1, 2013 pukul 11:28 am

    Saya pikir CSR lebih bisa difokuskan bagi perusahaan berdampak luas di Indonesia. Seperti kita ketahui, negara ini masih mengandalkan komoditas sebagai sumber devisa. Misalnya perusahaan sawit yg membebaskan ratusan ribu hektar lahan di beberapa desa sebaiknya bisa berkontribusi bagi pendidikan, kesehatan dan lingkungan. Dalam hal ini CSR tidak berdampak profit namun lebih pada etika berbisnis. Demikian pandangan saya.

  138. Agustus 5, 2013 pukul 10:29 pm

    I every time spent my half an hour to read
    this website’s posts daily along with a cup of coffee.

  139. Maret 26, 2014 pukul 12:40 pm

    mf njeh saya ikut nibrung , kalau caranya untuk menghitung CSRi bagaimana kalau di perbankan syariah untuk pengungkapannya, biasanya n= 76 pengungkapan atau etc,,, agar dapat mendapat angka 76 tu bagaimana caranya…… siapa aja yang tau tolong email saya njeh di
    susiana_Hera@yahoo.com

  140. April 1, 2014 pukul 6:58 am

    selamat pagi
    saya syahrul mahasiswa asal malang
    mau bertanya, untuk penerapan CSR pada suatu perusahaan apakah tergantung dari kinerja ekonomi/operasionalnya ? atau dapat dikatakan jumlah biaya CSR yang dikeluarkan tergantung pada kinerja ekonomi, jika kinerja ekonominya bagus atau meningkat dari tahun sebelumnya baru biaya/anggaran CSR dinaikkan ?
    mohon penjelasannya
    tolong lewat email saya @ane.syahrul.gan@gmail.com

    • April 1, 2014 pukul 7:07 am

      tolong dikasih dasar teori dan contoh penerapannya dalam suatu perusahaan
      terima kasih banyak sebelumnya …

  141. Mei 2, 2014 pukul 1:55 pm

    Hey! I could have sworn I’ve been to this site
    before but after reading through some of the post I realized it’s new to me.
    Anyways, I’m definitely glad I found it and I’ll be book-marking and checking back frequently!

  1. Mei 2, 2013 pukul 2:27 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 29 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: