Beranda > Ekonomi Lokal, Ekonomi Makro, Ekonomi Nasional, PMA/PMDN > Peran Penanaman Modal dalam Pembangunan Nasional

Peran Penanaman Modal dalam Pembangunan Nasional

trust_des06.jpg
(Artikel berikut pernah dimuat di harian “Media Indonesia” kamis 30 Nopember 2006; dan “Majalah Trust”, No.8 Tahun V, 11-17 Desember 2006, hal 19)

Tanpa disadari sepuluh tahun telah berlalu sejak perekonomian Indonesia yang tadinya dilanda krisis multi dimensional mengalami proses perubahannya menuju era reformasi guna mewujudkan cita-cita dalam mensejahterakan kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia.

         Proses inipun sekarang masih berlangsung dan menuntut pada para pelaku ekonomi dan pelaku politik untuk segera memperbaiki komitmen serta kinerjanya dalam merealisasikan cita-cita tersebut. 

Pembelajaran Dari Sukses Masa Lalu.
          Marilah kita lihat sekilas prestasi masa lalu yang merupakan pembelajaran berharga dalam melaksanakan tata kelola perekonomian bangsa.   Masih ingat dibenak kita, perekonomian kita pernah mengalami masa-masa jayanya dengan laju pertumbuhan ekonomian rata-rata sekitar 7,5 persen.
          Pertumbuhan yang relatif tinggi ini didukung oleh berbagai faktor, meliputi antara lain:
(a) dukungan kebijakan deregulasi perdagangan dan investasi,
(b) iklim usaha yang kondusif untuk mempercepat laju kenaikkan investasi dan juga
(c) adanya kepercayaan dunia internasional pada para pelaku ekonomi domestik dalam melakukan berbagai bentuk kerjasama usaha patungan.
          Pada saat itu perhitungan serta kalkulasi proyek-proyek investasi baru dapat dengan mudah dilakukan karena memang terdapat kepastian berusaha yang tinggi dan tingkat resiko kegagalan dalam berusaha yang rendah. Resiko berusaha yang rendah ini didukung oleh iklim politik yang stabil. Keamanan dalam perjalanan barang pasokan dan bahan mentah untuk kegiatan industri dan proses logistik dari produk dan barang jadi perusahaan dapat terkirim dengan mudah dan murah ditangan konsumen.
          Demikian juga sistem perijinan investasi masih ditangani secara sentralistis sehingga sekaligus mengurangi rantai birokrasi yang berlebihan. Tuntutan partai politik dan lembaga swadaya masyarakatpun masih dalam koridor yang tidak banyak mengganggu jalannya proses berbisnis. 
         Kondisi iklim berusaha dan resiko investasi yang positif ternyata kemudian membuah kan hasilnya. Perusahaan-perusahaan domestik tanpa ragu-ragu dapat melakukan ekspansi usahanya disegala lini produksi. Minat untuk melakukan investasi secara langsung pada sektor riil yang dilakukan oleh masyarakat bisnis dan industri rumahtangga meningkat tajam baik di sektor pertanian, perikanan, pertambangan, konstruksi, industri pengolahan, industri berat, jasa keuangan dan perbankan, serta pada sektor-sektor jasa lainnya. 
          Minat investasi yang paling menonjol dan menunjukkan peningkatannya adalah investasi langsung dalam rangka mendapatkan fasilitas penanaman modal asing (FDI). Kehadiran FDI telah memberikan kontribusi yang besar dalam mendorong kinerja laju pertumbuhan ekonomi Indonesia, mendorong timbulnya industri pasokan bahan baku lokal, proses alih teknologi dan manajemen, serta manfaat bagi investor lokal. Manfaat yang paling menonjol adalah berkembang nya kolaborasi yang saling menguntungkan dan terjalin antar investor asing dengan kalangan pebisnis lokal. Disini kita melihat bagaimana bisnis dan industri komponen berkembang dengan pesat, termasuk berbagai kegiatan usaha yang berorientasikan ekspor.
          Perkembangan investasi langsung yang dahsyad tersebut kemudian memberikan berbagai manfaat dan dampak positif untuk perkembangan ekonomi nasional dan lokal. Devisa negara kita mengalami peningkatan yang cukup berarti sehingga negara kita dapat memiliki cadangan pendanaan untuk keperluan berjaga-jaga dalam kondisi yang kurang baik. Lapangan kerja secara nasionalpun dapat diberikan pada jumlah yang tinggi, dimana dengan satu persen laju pertumbuhan dalam perekonomian nasional dapat secara langsung memberikan tambahan lapangan kerja antara 700 ribu sampai dengan 800 ribu pekerja.
         Jarang kita mendengar keluhan dari para calon pekerja di daerah perkotaan yang sulit mendapatkan lapangan kerja. Tingkat pengangguran dapat ditekan seminimal mungkin. Lapangan kerja yang diberikan oleh kehadiran perusahaan asing dan domestik berorientasi kan ekspor secara bersamaan telah dirasakan manfaatnya oleh kalangan pekerja kerah putih, para lulusan program pasca sarjana maupun para lulusan dari program pendidikan sarjana di tanah air. Ditempat lokasi kerja perusahaan asing putra-putra bangsa mendapatkan pengalaman yang sangat luas dalam bidangnya masing-masing, dengan pengenalan pada wawasan manajemen modern dan pengenalan terhadap kehadiran pasar global. Beberapa diantara karyawan tersebut kemudian beralih status menjadi entrepeneur-entrepreneur muda yang telah membesarkan perkembangan usaha-usaha ekonomi berskala menegah dan kecil.
          Perkembangan investasi pengusaha domestik dan asing tadi masih memberikan berbagai kontribusi positif untuk peningkatan sumber-sumber pajak perusahaan dan perseorangan yang berguna dalam pembangunan daerah pada tingkat satu dan tingkat dua. Perkembangan ekonomi lokal disekitar lokasi tempat usaha perusahaan-perusahaan yang menanamkan investasinya menunjukkan kecenderungan mendapatkan pengaruh dampak langsung dari kehadiran mereka. Penyelenggaran fasilitas umum dan sosial dapat ditingkatkan sekaligus bertambahnya tingkat konsumsi lokal terhadap kebutuhan pokok dan kebutuhan sehari-hari.

Tantangan
         Rekaman peristiwa dan kasus-kasus diatas terjadi beberapa puluh tahun sebelum krisis perekonomian terjadi. Setelah krisis multidimesional melanda negeri kita kondisi dan perkembangan yang diutarakan tersebut mengalami kemunduran. Proses perubahan tatanan sosial dan ekonomi pada era reformasi menimbulkan tantangan sekaligus harapan-harapan.Kita dihadapkan pada kenyataan pahit bagaimana mesin pertumbuhan perekonomian nasional yang berbasiskan perluasan kapasitas terpasang industri ternyata belum mampu untuk tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan.
          Banyak perusahaan-perusahaan domestik yang menggurita sebagai perusahaan konglomerasi mengalami kemundurannya,dan bahkan sebagian gugur dimedan laga terkena imbas negatif krisis ekonomi.
         Kekurang hati-hatian dalam mengelola perusahaan dalam kondisi lingkungan eksternal perusahaan yang berubah cepat (turbulent change) merupakan salah satu faktor utama dari kegagalan tersebut. Praktek bisnis yang tercela dan kasus-kasus kecurangan dalam politik berbisnis yang berbau korupsi, kolusi dan nepotisme mengakibatkan perusahaan-perusahaan tersebut sangat rentan menghadapi badai krisis dan lingkungan yang bergejolak. Kecerobohan dan praktek-pratek tidak terpuji ini membawa implikasi pada peningkatan biaya rente dan pemborosan finansial yang berlebihan.
         Akibatnya perusahaan-perusahaan tersebut tidak lagi memliki daya saing dalam percaturan untuk memperebutkan pangsa pasar produk-produk Indonesia di perekonomian internasional. Posisi daya saing sebagian produk ekspor Indonesia terpaksa terkerek jatuh pada tingkat terbawah dalam ranking daya saing internasional. Kita terpaksa mengakui keunggulan daya saing dari negara-negara pengekspor produk-produk serupa seperti China, Malaysia, India, Vietnam, dan Korea Selatan yang dapat bertahan dan bahkan meraih dan memperluas pangsa pasar ekspor mereka. Pengusaha-pengusaha pribumi di negara tetangga tersebut dapat meraih keunggulan karena mereka telah melakukan praktek berbisnis secara lebih baik dari apa yang telah diperbuat oleh pengusaha-pengusaha domestik kita. Tidaklah heran jika pada saat ini mereka tetap berjaya.
        Melihat lebih lanjut pada pengalaman negara lain dalam mempersiapkan datangnya gelombang globalisasi kita terpaksa harus belajar banyak.Sebagai contoh dapat kita lihat dengan pengalaman negara China. China memiliki jumlah penduduk yang tinggi di dunia, melebihi jumlah penduduk diIndonesia. Negara ini sama-sama memperoleh kemerdekaan nya tidak jauh berbeda dengan Indonesia. Chinapun sedang dalam proses melakukan transformasi di bidang sosial-ekonominya sejak dicanangkannya revolusi kebudayaan beberapa puluh tahun yang lalu.
         Perubahan terpenting yang dilakukan oleh pemerintah dan kalangan pebisnis di negara tersebut tidaklah tangung-tanggung. Segera setelah reformasi pembangunan menggelinding, pemerintah pusat menetapkan beberapa kawasan utama sebagai tempat lokasi bermukimnya perusahaan-perusahaan asing yang menjadi sasaran pembangunan. Pemerintah dan kalangan pebisnis di China sangat menyadari arti dan peran kehadiran FDI dalam mendukung proses transformasi ekonomi mereka.
         Desentralisasi kewenangan dalam perijinan usaha dan investasi diberikan dengan penuh pada pengelolaan kawasan tersebut. Melalui strategi ini pemerintah China telah melakukan proses otonomi daerah secara tidak langsung. Hanya model yang mereka tempuh lebih terkelola dengan baik, dengan dapat diminimalisirnya kemungkinan hambatan birokrasi dan instabilitas politik. Para pengambil kebijakan pada tingkat pusat dan daerah menyadari sepenuhnya bahwa yang memerlukan kehadiran FDI adalah China dan bukan kondisi sebaliknya.
        Kebijakan lainnya yang mendukung program peningkatan investasi di negara China adalah pengiriman para karyawan pabrik ke negara industri untuk mempelajari proses produksi produk-produk berbasiskan teknologi maju dan ketrampilan dalam bidang riset dan rekayasa industri. Pemerintah menyadari pentingnya negara penerima FDI untuk menyiapkan tenaga trampil siap pakai saat mereka akan mengundang calon investor asing tersebut berketetapan akan memulai merealisasikan rencana-rencana investasi, pemerintah pusat menunjuk dan memberikan kewenangan penuh pada beberapa pihak tertentu untuk memproses perijinan dalam satu atap. Dengan demikian birokrasi yang tidak diperlukan dapat dihilangkan.
        Orientasi kebijakan pemerintah pusat dan pemerintah daerah yang “pro” kepada kehadiran investasi di kawasan industri dan lokasi-lokasi usaha tertentu kemudian ternyata membuahkan hasilnya. Tanpa diduga arus masuk modal asing, kredit investasi dan FDI ke wilayah-wilayah tersebut meningkat dengan tajamnya. Hiruk pikuk dan peningkatan pembangunan proyek-proyek investasi dalam segala jenis kegiatan dan besaran skala usaha mewarnai perekonomian nasional dan perekonomian lokal. Tingkat penggangguran dapat ditekan dan terjadilah lonjakan tajam dan percepatan laju  pertumbuhan ekonomi maupun tingkat pendapatan rumah tangga.
        Tantangan lainnya yang dihadapi oleh para pelaku bisnis dan calon investor di negeri kita adalah bagaimana pemerintah pusat, pemerintah daerah dan masyarakat dapat memberikan iklim yang kondusif untuk terselengaranya investasi. Pada tingkatan pemerintah pusat, masalah yang dihadapi adalah masih belum terlihatnya yang jelas dalam strategi pengembangan industrialisasi. Strategi yang demikian sangat diperlukan sehingga birokrasi pada pemerintah daerah propinsi dan pemerintah daerah kabupaten, dapat menyatu-padukan dan melakukan koordinasi atas rancangan-rancangan pengembangan investasinya di daerah untuk dapat mendukung tercapainya target-target dari strategi industrialisasi nasional tersebut.
         Pemerintah daerah juga dituntut untuk dapat memelihara iklim usaha yang baik dan tidak memberatkan dunia usaha dan para calon investor di kawasannya masing-masing. Akhirnya bagi masyarakat, pada era demokratisasi saat ini yang sedang marak akhir-akhir ini dengan berbagai tuntutan-tuntutan yang berlebihan janganlah mengorbankan iklim usaha yang telah terbina. Pengusaha dan calon investor di manapun menuntut kenyamanan, keamanan dan kepastian berusaha dari proses penanaman modalnya di daerah. Kemajuan dan peningkatan volume produksi dari kegiatan-kegiatan investasi yang diunggulkan sudah pasti lambat laun akan memberikan efek pengganda pada perekonomian lokal dan pendapatan rumah tangga masyarakat disekitarnya.
          Masih banyak lagi tantangan-tantangan lainnya untuk disebutkan satu persatu disini. Yang jelas baik kalangan pebisnis sendiri maupun para pelaku-pelaku ekonomi dan administrasi pemerintahan perlu melakukan perubahan-perubahan cara pandang, penerapan tata kelola perusahaan dan tata kelola administrasi pemerintahan yang saling mendukung demi terciptanya percepatan investasi di masing-masing daerah dan lokalitas.
          Momentum percepatan investasi seperti yang terjadi di China perlu dipelajari dan ditiru, sehingga pada akhirnya dapat tercipta lapangan kerja yang lebih banyak dan manfaat untuk masyarakat yang lebih luas.

Mempersiapkan Masa Depan
          Kondisi kehidupan perekonomian dan tatanan masyarakat yang adil dan sejahtera merupakan harapan yang banyak ditunggu oleh putra-putri Indonesia dalam menyongsong masa depannya. Harapan yang mereka sangat tunggu adalah kapankah lapangan kerja di sekitar mereka dapat tersedia dengan cukup dan memadai. Mereka telah melihat sendiri dan turut serta dalam menggulirkan berbagai reformasi, tentunya dengan harapan pada suatu saat akan dapat mewujudkan cita-cita tersebut.
         Lapangan kerja yang memadai dan penerapan sistem balas jasa di perusahaan secara berkecukupan dapat terselenggara apabila proses investasi secara langsung dapat bergulir seperti sediakala. Bahkan untuk mengejar keterlambatan dalam memacu mesin perekonomian kita, ternyata masih diperlukan lagi lonjakan jumlah investasi yang besar dan dahsyad. Kondisi perekonomian di negara kita yang berangsur baik dalam beberapa tahun terakhir masih perlu didorong lebih lanjut dengan memacu kehadiran dan tambahan investasi yang berasal dari masyarakat, investasi PMDN maupun investasi PMA.
        Orientasi pada pembangunan ekonomi nasional dan lokal perlu dibuat agar lebih mendekatkan pada kepentingan kehadiran calon-calon investor di berbagai pelosok tanah air. Demikian juga perusahaan-perusahaan yang sudah ada harus dijaga eksistensinya, agar mereka tetap betah dan dapat menjalankan kegiatan usahanya di lokasi-lokasi tersebut. Tekanan-tekanan yang menuntut keadilan dan perbaikan kesejahteraan karyawan perlu dilakukan dengan sopan, senantiasa mencari solusi-solusi kompromi demi kepentingan kelangsungan hidup usaha. Janganlah tujuan-tujuan politik dan kepentingan dari segelintir kelompok dicampur-adukkan dalam proses pemberian perijinan investasi dan usaha dengan memperpanjang jalur birokrasi.
         Proses otonomi daerahpun perlu dilakukan dengan bijak tanpa membebani kepentingan dunia usaha secara berkelebihan. Proses pencarian dan penetapan sumber-sumber keuangan pemerintahan daerah hendaknya dapat dilakukan dengan memperhatikan keberlangsungan dan eksistensi perusahaan-perusahaan yang telah bermukim lama di daerah.
          Budaya melayani kepentingan calon investor baru perlu ditanamkan diseluruh jajaran aparat birokrasi pemerintahan. Dalam hal ini perlu dimengerti bahwa wilayah atau kawasan tempat berusaha tidak lagi dapat ditawarkan dan dipromosikan dengan mudah. Masih ada ratusan alternatif tempat usaha di berbagai lokalitas di penjuru dunia yang memiliki aksesibilitas ke pasar global. Tidak ada cara yang lebih baik apabila birokrat pemerintahan memberikan pelayanan yang terbaik, memangkas birokrasi, mengurangi beban-beban usaha yang berlebihan, menciptakan iklim investasi dan usaha serta mempersiapkan putra-putri di daerah untuk dapat berpartisipasi dalam proses kegiatan investasi.    
Dengan cara demikian maka kita telah memberikan warisan terbaik baik putra-putri bangsa, antara lain melalui penciptaan lapangan kerja yang lebih baik, lebih luas. (copyright@aditiawan chandra).

About these ads
  1. Desember 19, 2006 pukul 12:21 pm

    Tulisan Pak Chandra ini harusnya dibaca oleh para pengambil keputusan di pusat atau pemerintah daerah. Mungkin juga para politisi yang di partai maupun DPR dan DPRD perlu membacanya. Sebenarnya yang acap menjadi pemahaman rancu para pengambil keputusan di daerah adalah menjadikan investasi dan investor sebagai PAD, yang mengakibatkan banyaknya pungutan dibebankan kepada para investor. Padahal seharusnya jadikan invetasi tersebut sebagai pemicu pertumbuhan ekonomi dan daerah, yang nantinya akan mendorong taraf hidup masyarakat.

    Jadi pemerintah seharusnya bukan berorientasi bagaimana meningkatkan PAD tetapi bagaimana meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

    Bravo Pak…. :)

  2. Desember 20, 2006 pukul 12:08 am

    Terima kasih pak Thamrin. Kami telah memberikan pemahaman ini pada para perancang investasi daerah melalui Kantor BKPM-Pusat, dalam program pelatihan PID. Memang benar saya ingin para anggota DPR dan DPRD memahami ini.

  3. Riza Sativa
    Maret 10, 2007 pukul 10:15 pm

    Pak Aditiawan Chandra, saya minta izin mengutip sebagian dari Artikel ini untuk keperluan literatur dalam mengerjakan tugas Hukum investasi, demi kepentingan pendidikan. Terimakasih

  4. Maret 10, 2007 pukul 11:18 pm

    Terima kasih anda telah menghargai artinya copyright. Silahkan untuk di kutip, semoga bermanfaat. Bisa sharing makalahnya dong? hi3.

  5. Agus Sapri
    April 20, 2007 pukul 7:47 am

    Tulisan ini sangat bagus, hanya jika kami ingin mendapatkan tulisan dalam bentuk soft file, why.trus jika ada hal hal yanng ingin kami tanyakan mengenai saham , kealamat mana :

  6. anis
    Juni 12, 2007 pukul 10:10 am

    pak, saya minta izin ngutip tulisannya…
    untuk literatur penelitian tugas saya…
    thx..

  7. ratna baskoro
    September 14, 2007 pukul 9:22 am

    pak, utk referensi saya..saya mengutip tulisan bapak..trm ksh..

  8. leny
    November 9, 2007 pukul 6:04 pm

    apa ada hubungannya antara peranan perbankan dalam pembangunan nasional dengan penawaran modal?????????

  9. Rudy k
    November 19, 2007 pukul 7:53 am

    Ass, Pak saya ingin minta izin untuk mengutip artikel ini untuk kepentingan tugas perkuliahan, sebelumnya saya ucapkan banyak terima kasih. Wass

  10. nova ulina
    November 19, 2007 pukul 12:36 pm

    saya telah mengutip sebahagian dari artikel bapak untuk menyelesaikan tugas pendidikan saya dan saya ucapkan terima kasih atas penjelasannya.

  11. Aditya D A
    November 21, 2007 pukul 10:47 am

    Ass, saya ingin mengutip artikel bapak untuk keperluan tugas perkuliahan ilmu hukum, wassalam.

  12. November 29, 2007 pukul 9:07 am

    pak ,ajarin saya bisnis dunk…….
    and ajarin juga supaya bisa masuk teknik pertambangan or perminyakan!!!

    makaciii pak ……….

  13. lessiatandi
    Desember 4, 2007 pukul 9:16 am

    hi sir, saya sedang mencari jembatan dalam tulisan saya, saya punya data ttg investasi china di indonesia,saya juga punya data ttg iklim ind yg gak friendly investor, jembatan yang saya perlu adalah analisis ato statment ato apa aja yang perah meuliskan bahwa turunya investasi China di tahun 2001 ke ind adalah karena iklim ind yg gak frindly itu…
    if u can help me plis reply at my email : ax_asia@yahoo.com
    thanks.God bless u

  14. Desember 6, 2007 pukul 11:42 am

    dear lessiatandi: artikel yang khusus membahas ini banyak di artikel2 ilmiah ttg investasi china, yang dikeluarkan oleh university of Peking. Tetapi masukknya investasi ke suatu negara bukan hanya ditentukan oleh iklim investasi saja, tetapi oleh keberadaan/kemudahan mendapatkan bahan baku, tenaga kerja, teknologi dan informasi. Disamping itu juga ada tidaknya tax holiday dan keberadaan industrial economies/urbanization economies.

  15. Shinn Asuka
    Januari 2, 2008 pukul 5:36 pm

    Gomene…
    Orewa Nippon desu…

    Arigatou Chandra san….

    Terima kasih artikel bapak telah membantu saya menyelesaikan tugas Ilmu sosial di Kampus…

    Makacih ya pak…!!!!

  16. Januari 2, 2008 pukul 6:17 pm

    sama-sama terima kasih sdr shinn asuka. mohon dapat e mail anda.

  17. Jalanangin
    Januari 25, 2008 pukul 10:17 pm

    Biasa aja tuh artikelnya. Kurang tajam analisisnya!! Bahasa yang dipergunakan kurang lugas, kurang tegas, dan sangat kurang contoh-contoh kasusnya.Engga banget deh kayaknya!!!!! Maap yah. Buat Mas Chandra; artikel gini kon dikutip sih. Buat penulis; Asah lagi tuh otaknya, apa sudah tumpul kali yah. hohoho.
    Tapi, Tetap Smangat!!!!!!!!

  18. hendra nurdiansyah
    Januari 26, 2008 pukul 8:00 am

    Pak Aditiawan Chandra, saya minta izin mengutip Artikel ini untuk keperluan literatur dalam mengerjakan tugas kuliah kenotarisan Teman Saya,Terimakasih.

  19. andre
    Maret 19, 2008 pukul 2:54 pm

    jelek banget

  20. yunisa zahrah
    Juni 5, 2008 pukul 4:29 pm

    makasih y buat mas chandra…. artikel ini telah membantuku untuk menyelesaikan tugas Pkn ku di sekolah..
    arigato gozaimasu

  21. andreas
    September 12, 2008 pukul 11:39 am

    saya seorang mahasiswa, saya sangat kagum terhadap peran bapak yang fokus terhadap perekonomian di Indonesia, saya ingin sekali ikut serta mengambil peran dalam meningkatkan perekonomian di negara ini. karena menurut saya perekonomian adalah titik yang terpenting dalam suatu negara dan sangat menunjuang dalam kemajuan bangsa. trimz pak. saya ingin sekali bertemu dengan bapak secara langsung dan bisa berdiskusi secara langsung dengan bapak. trimz again.

  22. I nyoman Arianta
    Desember 12, 2008 pukul 2:35 pm

    Pak.. saya minta izin untuk mengutip tulisan bapak…
    untuk tambahan makalah saya.
    thx.

  23. Maret 7, 2009 pukul 9:46 am

    TULISAN BAPAK SEBAIKNYA DIKEMBANGKAN

  24. suci
    April 13, 2009 pukul 9:34 am

    Ass, artikelnya aq copy paste bwt tgs kulyh y….!!! tx b4…

  25. Ubaidillah
    Mei 11, 2009 pukul 12:29 pm

    Mohon ijin mengutip artikrl bapak untuk kelengkapan makalah saya terimakasih

  26. angie
    Maret 14, 2010 pukul 3:20 pm

    bapa…bisakah memberi saya referensi mengenai orientasi PMA di indonesia itu sendiri? apakah bnar beroriantasi ekspor atau justru menjadikan host country sebagai market share.. ^^
    terima kasih

  27. yopie
    Juni 8, 2010 pukul 9:35 pm

    wah … pak chandra …artikelnya bagus ,,,,sya stju agr pmrintah memberikan pelayanan yg terbaik pada investor , dan mempermudah birokrasi yang selama ini selalu mempersulit para investor untuk berinvestasi di negeri ini ….sya stju skli dgn apa yg bpk tulis trsbt… mdh2an tulisan bpk ini dibaca oleh para pengambil kebijakan d pmrntahan,,,,

    sya juga mhn ijin untk mengutip tulisan bpk ini sbg klngkpan tugas kuliah saya y pak …
    terima kasih sblmnya …

  28. Juni 4, 2011 pukul 1:52 am

    pak saya minta izin untuk mengutip artikel buat makalah saya terima kasih banyak pak

  29. Agustus 18, 2014 pukul 9:28 am

    I every time spent my half an hour to read this weblog’s articles every day along with a cup of coffee.

  1. Juni 5, 2013 pukul 10:41 pm
  2. Juni 23, 2013 pukul 8:55 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 30 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: