Beranda > Ekonomi Global, PMA/PMDN > Relokasi Industri Perusahaan Global di NSB

Relokasi Industri Perusahaan Global di NSB

USAHAWAN NO. 10 TH XXX OKTOBER 2001  
Oleh: Aditiawan Chandra

Praktek manajemen perusahaan global di dunia dewasa ini menghadapi kenyataan semakin tergantungnya operasi bisnis mereka pada perekonomian global dengan melibatkan lebih dari 140 negara sedang berkembang (NSB) sebagai aktor penting dalam kancah bisnis internasional.  Negara sedang berkembang merupakan pelaku ekonomi dengan peran multidimensinya baik sebagai pembeli maupun pemasok, pesaing dan pemakai kapital.

Operasi bisnis global ini diperkirakan akan semakin mempengaruhi dan merubah seluruh tatanan perekonomian dan kehidupan bangsa di dunia dengan semakin meningkatnya gejala dislokasi dan relokasi kegiatan usaha (industri). Akibatnya menjadi sangat penting bagi para manajer di Indonesia untuk mengetahui mengapa relokasi industri semakin meningkat dan bagaimana mengantisipasi perubahan perubahan yang mungkin timbul.

Daya Tarik Negara Sedang Berkembang (NSB)
Relokasi industri dari perusahaan global meningkat karena perubahan-perubahan berbagai parameter pembangunan ekonomi dunia, yang meliputi perubahan dari variabel demografi, struktur perekonomian, transformasi teknologi dan perubahan politik ekonomi. Dalam proses tersebut peran NSB sebagai satu kesatuan ekonomi menjadi semakin menonjol, khususnya dalam lingkup sistem bisnis internasional. Bahkan pada abad ke-21 ini perekonomian NSB semakin memiliki daya tarik sebagai alternatif lokasi bisnis perusahaan global.

Ditinjau dari segi permintaan, kita menyadari bahwa sebagian besar konsumen dunia menetap di NSB mencapai sekitar 85% dari penduduk dunia pada tahun 1993 yang berjumlah 5,5 milyar. Pada periode sepuluh tahun terakhir penduduk NSB meningkat dengan laju percepatan hampir 2% setiap tahunnya sedangkan negara maju tumbuh hanya sekitar 0,5%. Tidak heran apabila pertumbuhan permintaan terhadap barang konsumsi (population driven demand) merupakan gejala umum dari NSB.

Laporan Bank Dunia yang terakhir tahun 1995 menyingkap bahwa sebagian besar konsumen tersebut berpendapatan rendah. Sekitar 56% penduduk dunia pada tahun 1993 masuk dalam klasifikasi negara berpenduduk rendah. Maka secara logis tentunya permintaan efektif dari penduduk NSB secara proporsional akan juga rendah. Tetapi perlu diingat bahwa sejak tahun 1965 perekonomian NSB berpendapatan rendah telah tumbuh pada tingkat yang lebih cepat dibandingkan dengan apa yang dialami oleh negara-negara maju, terutama untuk perekonomian di Kawasan Asia Timur.

Permintaan domestik yang semakin meningkat di NSB ini telah mendorong perusahaan global untuk melaksanakan strategi relokasi demi efisiensi. Misalnya pada awal dasawarsa terakhir NSB memenuhi sebagian porsi permintaan domestiknya melalui pembelian barang-barang konsumsi, barang modal dan bahan penolong dari pasar internasional. Total impor mereka pada tahun 1987 masih tinggi mencapai sekitar seperempat total impor dunia. Impor tersebut umumnya terdiri dari mesin, barang-barang manufaktur, minyak bumi, barang makanan, hasil industri kimia dan beberapa produk bahan penolong. Menjelang akhir tahun 1995, total impor NSB telah turun menjadi sekitar 20% dari total impor dunia, dan sebagian besar dari produk tersebut secara berangsur telah diproduksi oleh NSB melalui kerjasama joint ventures dengan perusahaan global. Hanya untuk beberapa produk industri seperti mesin tekstil, mesin kertas dan traktor, pangsa pasar impor NSB masih mencapai separoh dari seluruh permintaan dunia.

Daya tarik NSB dari segi pemasokan masih tetap penting. Pada tahun 1993 total ekspor NSB mencapai sekitar 22%, dimana sekitar 70 persen penjualan menuju negara maju. Trend peningkatan ekspor barang-barang manufaktur dari NSB ini telah mendorong hasrat para investor maupun pimpinan perusahaan global (CEO) untuk memindahkan sebagian atau bahkan seluruh produksi komponen barang impor produk mereka ke NSB. Sebagai contoh, perusahaan sepatu Nike yang pada pertengahan tahun 1980 berlokasi di Jepang telah memindahkan tempat produksinya ke Korea, Taiwan, Indonesia dan Thailand akibat meningkatnya upah buruh dan peningkatan nilai tukar Yen.

Dimasa datang kecenderungan relokasi akan berlanjut menuju China mengingat negara tersebut merupakan sumber tenaga buruh yang murah. Kemudian hampir seluruh perusahaan semi konductor di Amerika Serikat dan Jepang telah memindahkan kegiatan asembling mereka di NSB khususnya di negara di Kawasan Asean dan China, industri elektronik yang semula berlokasi di kawasan Eropa Bagian Timur, Amerika Serikat dan Jepang, sekarang telah diproduksi di NSB. Seluruh proses manufaktur televisi yang semula di dominasi oleh negara Amerika Serikat dan Jepang, sejak awal tahun 1980 pindah ke negara Taiwan dan Korea dan menjelang tahun 1990 pindah lagi ke negara Thailand, Malaysia dan Indonesia. Memang NSB telah menjadi bagian terpenting dari sistem pasokan dunia yang terintegrasi (integrated global sourcing system).

Sebagai bagian dari kancah persaingan global, NSB secara berangsur telah menjadi pesaing di pasar dunia. Dengan semakin dewasanya (mature) beberapa kelompok industri manufaktur di negara maju yang sarat menggunakan labour, mereka sudah dapat dipastikan kalah bersaing dengan perusahaan yang serupa yang berlokasi di NSB. Apalagi dengan kecenderungan semakin mudahnya akses teknologi di pasar dunia. NSB dengan biaya pekerjanya yang relatif lebih rendah akan memperoleh keunggulan komparatif. NSB pada saat ini telah menjadi pesaing utama dalam memproduksi barang tekstil dan pakaian, sepeda, barang elektronik, pesawat turboprop dan mobil.

Di masa depan persaingan akan muncul bukan hanya dari kategori barang dengan value added yang rendah, tetapi juga dari barang dengan value addedyang tinggi. Estimasi trend jangka panjang yang dilaksanakan oleh The Economist Intelligence Unit pada tahun 1995, memprediksi bahwa negara Jepang, Amerika Serikat dan negara maju Eropa bakal menghadapi persaingan yang ketat dengan negara-negara di kawasan Asia, dan tantangan ini belum pernah terjadi dalam sejarah industrialisasi sebelumnya. Peningkatan upah buruh di negara industri baru Asia (Korea, Singapura, Taiwan) akan meningkatkan penggunaan proses produksi dalam industri berteknologi dan memiliki value added yang tinggi.

NSB memiliki daya tarik sebagai penerima dan pengguna kapital yang berasal dari sumber dana global, masing masing kredit swasta, investasi portofolio, investasi langsung dan bantuan antar Pemerintah. Dalam kaitannya dengan kegiatan relokasi industri, sumber dana dari penyertaan investasi langsung sektor swasta luar negeri (FDI) cenderung semakin meningkat. Pada periode 1970-1986 total net capital flow ke NSB meningkat lebih dari dua kali lipat, mencapai 136 milyar dollar Amerika. Kemudian turun pada tahun 1980-an dan meningkat kembali pada tahun 1990-an. Apabila selama kurun waktu 1970-1990 total FDI hanya berkisar antara US$ 9,7 – 16,7 milyar, atau sekitar 10-18% dari total sumber dana global yang tersedia;maka sejak tahun 1991 total FDI netto mencapai US$ 32 milyar dan melambung tinggi setelah itu menuju angka US$ 68 milyar pada tahun 1994.

Yang menarik dari perkembangan FDI tersebut adalah meningkatnya proporsi arus masuk FDI ke NSB dari 24% tahun 1991 menjadi 39% tahun 1994. Arus masuk FDI ini sebagian besar disumbangkan oleh hanya 5 negara maju, yang menguasai sekitar 70% dari total arus keluar FDI global pada tahun 1994. Negara tersebut masing-masing Amerika Serikat (28%), Perancis (12%), Inggris (13%), Jerman (8%) dan Jepang (8%). Sedangkan negara penerima NSB yang merupakan mayoritas adalah negara-negara di kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara, yang mencapai lebih dari seperempat arus keluar FDI di dunia. Di kawasan ASEAN, Indonesia semakin dinilai sebagai tempat investasi yang baik setelah negara Thailand oleh investor global dari kelima negara tersebut.

Karakteristik Perusahaan Global
Perusahaan global, atau multinational enterprise (MNE) dan sering pula disebut dengan transnational corporation (TNC),sebagaimana disimpulkan oleh Daniels dan Radebaugh (1993) memiliki wawasan operasi yang mendunia, menjangkau berbagai pasar luar negeri dengan sistem pasokan produksi dari berbagai negara.

Perusahaan ini mengintegrasikan berbagai operasi produksi di berbagai negara dalam memprodusir barang dan jasa untuk satu segmentasi pasar global yang meliputi pasardomestik dan pasar luar negeri. Berbeda dengan tingkah laku perusahaan yang melayani satu segmentasi pasar di dalam negeri, perusahaan global memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

(1) Menganut philosofi segmentasi pasar global tanpa dibatasi oleh batas geografis suatu daerah atau negara (Kenichi Ohmae : 1990, 1995).
(2) Sangat fleksibel dalam mengantisipasi kondisi dan perubahan yang terjadi di suatu daerah atau negara. Akibatnya perusahaan global ini sangat cepat bereaksi mengantisipasi businees opportunities atau memanfaatkan penggunaan sumber daya (faktor produksi) yang paling rendah biayanya (Daniel dan Radebaugh, 1993).
(3) Memanfaatkan perusahaan teknologi transportasi dan komunikasi untuk menjalankan strategi paralel atau multisourcing dalam kegiatan operasi perusahaannya di berbagai negara (van Lient, 1992).
(4) Menggunakan standarisasi global atas produk yang dihasilkan dengan merekayasa desain produk yang memenuhi cita rasa dan standar internasional. Untuk menghadapi kondisi pasar yang tertentu mereka sering menggunakan strategi diferensiasi produk secara terbatas.
(5) Menggunakan pendekatan sistem perencanaan strategies secara global (global strategy ) sebagaimana disimpulkan pada Tabel berikut.
.
Tabel Prototipe Pendekatan Strategi Global
(a) Menentukan jangka waktu perencanaan
(b) Memperkirakan permintaan global untuk masing-masing produk atau jasa yang dihasilkan selama jangka waktu perencanaan.
(c) Mengevaluasi kekuatan persaingan di masing-masing negara
(d) Menentukan posisi pasar yang bersaing di setiap negara
(e) Menetapkan target penjualan di masing-masing negara
(f) Menentukan daftar negara sebagai tempat produksi untuk mencapai target
penjualan
(g) Menentukan daftar negara sebagai pasar yang harus dilayani oleh tempat produksi.
(h) Memperkirakan besarnya biaya investasi dan biaya operasi untuk berbagai alternatif tempat produksi, dan menghitung biaya angkut dan tarif bea masuk untuk melayani berbagai alternatif pasar.
(i) Menetapkan tempat lokasi dan jalur logistik yang optimal untuk jangka waktu perencanaan yang ditetapkan
(j) Mempertimbangkan country risk
(k) Mempertimbangkan skedul perluasan investasi
(l) Menghitung arus biaya dengan perkiraan net persent value
(n) Menyesuaikan rencana investasi dan target penjualan

Sumber : Dikutip dari Robock & Simmonds (1989), gambar 9-1, hal 200.

Mengamati karakteristik dan cara perusahaan global melaksanakan sistem perencanaan strategisnya pada tabel 3 maka sangat relevan bagi para perumus kebijakan ekonomi pada tingkat makro dan para manajer bisnis di Indonesia mengetahui lebih lanjut bagaimana proses relokasi dapat terjadi.

Persaingan sebagai Faktor Pemicu Perkembangan
Perusahaan Global

Pada awal tahun 1970 berbagai publikasi menyorot secara khusus berbagai dampak dari kehadiran perusahaan global di NSB. Yang paling sering terdengar adalah tuduhan bahwa kehadiran perusahaan global telah membawa pengaruh yang negatif bagi eksistensi suatu negara dengan berbagai alasan.

Kenyataan empiris sepuluh tahun kemudian menunjukkan hal yang berlainan. Lokasi kegiatan mereka ternyata bukan di sembarang tempat di NSB, tetapi lebih terkonsentrasi di negara kaya sumber daya alam (negara anggota OPEC, termasuk Indonesia), negara yang sarat tenaga kerja dan sedang melaksanaan program industrialisasi (Hongkong, Taiwan, Korea Selatan) dan negara berkembang dengan potensi pasar yang luas dengan tingkat pendapatan yang relatif lebih tinggi (Brazil, Mexico, Thailand). Negara-negara tersebut telah tumbuh dan berkembang dengan pesat berkat kehadiran perusahaan global tersebut.

Di balik cerita sukses ini, secara menyeluruh sebenarnya kecenderungan perusahaan domestik skala besar mengalihkan fungsinya menjadi perusahaan global didorong oleh kondisi persaingan yang semakin ketat. Banyak perusahaan perusahaan di dunia seperti dalam bidang industri otomotif, tekstil, baja, elektronika, kimia dan pesawat terbang mulai menyadari sekitar awal tahun 1970 bahwa jangkauan pasar mereka terlalu sempit, biaya produksi untuk melaksanakan ekspor ke luar negeri secara relatif terlalu tinggi dan kinerja keuangannya yang mulai memburuk.

Sangatlah kebetulan beberapa tahun setelah itu lingkungan bisnis perusahaan global berubah dengan drastis dengan terjadinya berbagai perubahan dalam bidang inovasi teknologi, sistem kelembagaan internasional dan lingkungan politik di masingmasing negara di dunia. Ketiga faktor lingkungan ini secara bersamaan mendorong perusahaan global melakukan penyesuaian struktural dalam bidang logistik, produksi dan distribusi produk.

Relokasi menjadi fenomena utama dari perusahaan global untuk mendapatkan berbagai sumber pasokan dengan tujuan mencapai efisiensi biaya produksi. Perkembangan inovasi teknologi dalam bidang transportasi dan telekomunikasi memungkinkan berbagai komponen atau produk maupun data informasi dikirim dan disampaikan dengan cepat. Jarak sejak itu bukan merupakan kendala utama untuk melayani pasar luar negeri, bahkan mobilitas kapital dapat dipercepat pada tingkat yang belum pernah dialami sebelumnya.

Hambatan-hambatan yang menghalangi arus kapital untuk pindah dari suatu negara ke negara lainnya telah berkurang sejak tahun 1970. Investasi baru dapat dilaksanakan dibelahan bumi manapun, untuk mengejar tingkat keuntungan yang paling maksimal. Peningkatan persaingan global yang dipacu oleh perubahan teknologi angkutan (peti kemas) dan didukung lebih lanjut oleh berbagai perjanjian tentang keselamatan/ keamanan angkutan barang memungkinkan perusahaan global melaksanakan kegiatan produksinya secara terpisah di berbagai negara.

Keharusan melakukan logistik barang secara berlebihan telah digantikan dengan konsep “just in time” yang memungkinkan perluasan organisasi produksi ke berbagai negara dengan menjalankan strategi multiplesourcing. Dengan demikian prinsip skala ekonomis untuk menurunkan biaya produksi rata-rata tidak perlu dipertahankan lagi secara dogmatis, karena hanya dengan berperan sebagai “production organizer” perusahaan global ini dapat melayani permintaan konsumen secara lebih luas dengan tingkat volume penjualan yang lebih tinggi tanpa mengorbankan efisiensi.

Dengan berbagai jaminan tentang dilindunginya hak cipta terhadap inovasi suatu produk, maka transfer teknologi dari negara maju ke NSB menjadi lebih terbuka. Proses product cycle yang biasanya memerlukan waktu lama dapat lebih ditingkatkan dan dipercepat. Tentunya dengan meningkatnya persaingan internasional merangsang lebih lanjut perusahaan internasional ini menggunakan praktek-praktek produksi yang mutakhir (the best production practices), termasuk di dalamnya yang berhubungan dengan lokasi produksi.

Dalam bidang politik, berakhirnya periode “perang dingin” telah mendorong peningkatan volume transaksi bisnis internasional antara lain semakin terbukanya pasar-pasar baru di sebagian belahan bumi bagian tengah (beberapa negara sosialis, Rusia dan China). Demikian pula dengan kesepakatan GATT yang mendorong penurunan berbagai tarif dan hambatan perdagangan memungkinkan arus kapital dan investasi PMA mengalir dengan deras, baik antar negara maju maupun dari negara maju ke negara sedang berkembang. Kesimpulan trend perubahan lingkungan bisnbis setelah tahun 1970 ini diberikan pada Tabel berikut ini:

Tabel Pengaruh Lingkungan Bisnis International Setelah 1970

1. Biaya Operasi
ONGKOS ANGKUT

KONDISI SEBELUM 1970
Jarak merupakan kendala untuk ekspansi usaha karena ongkos angkut daya alam. merupakan strategi bisnis sebagai bisnis domestik
KONDISI SEDUDAH 1970
Jarak bukan kendala karena ongkos angkut semakin murah akibat kemajuan dari teknologi komunikasi dan transportasi dan kontainerisasi

DAMPAK TERHADAP PERUSAHAAN
• Persaingan bisnis semakin tajam, khususnya untuk pasar internasional dan domestik
• Angkutan barang semakin cepat lokasi pabrik semakin tidak berpola (footlose), sehingga tempat produksi dapat berpindah dari satu negara ke negara lainnya
• Perjanjian internasional dalam keselamatan penerbangan dan perubahan standar prosedur menjamin barang diangkut dengan aman dan cepat

PAJAK.BEA MASUK
KONDISI SEBELUM 1970
Masing-masing negara mengenakan tarif bea masuk yang tinggi dan memproteksi industri nasional. Setelah itu melalui perjanjian WTO dalam perdagangan dan investasi tingkat tarif diturunkan secara bertahap

DAMPAK PERUBAHAN LINGKUNGAN SESUDAH 1970
• Perjanjian perpajakan antar negara telah menjamin dihindarinya “double taxation” sehingga investasi PMA menjadi feasibel.
• Kesepakatan GATT mendorong penurunan berbagai tarif bea masuk dan hambatan perdagangan, sehingga investasi PMA meningkat

ONGKOS GUDANG
SEBELUM 1970
Ekspansi bisnis internasional terhambat karena dituntut stock/persediaan barang maupun bahan baku yang tinggI

DAMPAK PERUBAHAN LINGKUNGAN SESUDAH 1970
•eknologi angkutan barang dengan kontainer meniadakan keperluan menyimpan barang dan bahan baku secara berlebihan

2. Proses pengawasan

SEBELUM 1970
• Memerlukan struktur organisasi yang melebar dan cenderung semakin kurang efisien.
• Efektifitas pengawasan kurang dan lambat

DAMPAK PERUBAHAN LINGKUNGAN SESUDAH 1970
Revolusi teknologi komunikasi dan komputer menyebabkan pengawasan kegiatan unit organisasi semakin akurat, cepat dan efektif
• Pengawasan dari jarak jauh semakin mudah
• Pengawasan keuangan dan produksi semakin efisien

3. Metode dan Volume Transaksi Bisnis
SEBELUM 1970
Terbatasnya fungsi uang sebagai metode pembayaran, sebagian besar transaksi dilaksanakan dengan barter atau kepercayaan dalam melakukan bisnis
• Transaksi barter lama, riskan dan mahaL

DAMPAK PERUBAHAN LINGKUNGAN SESUDAH 1970
• Pemasaran barang semakin bersifat global dan cepat akibat penerapan teknologi faksimile dan penggunaan kartu kredit.
• Berkembangnya perjanjian pembayaran antar negara memudahkan sistem pembayaran dengan mata uang internasional sehingga arus barang semakin mudah dan lancar dan risiko berkurang
• Berakhirnya perang dingin mendorong lebih lanjut :
Pengelompokkan pasar secara regional meningkatkan volume transaksi bisnis internasional; dan terbukanya akses pasar baru di bekas negara sosialis dan komunis.

4. Informasi pasar dan produk
SEBELUM 1970
Informasi pasar masih terbatas dan lambat di terima, sehingga mengakibatkan hambatan berbisnis dalam:
• Harga barang dan bahan baku dinegara lain sulit di monitor sehingga ekspansi bisnis internasional menjadi riskan
• Target pasar terbatas pada wilayah geografis yang sempit informasi produk baru terbatas

DAMPAK PERUBAHAN LINGKUNGAN SESUDAH 1970
Kemajuan teknologi telekomunikasi memudahkan informasi di ketahui dengan cepat di seluruh penjuru dunia:
• Hal ini mempengaruhi peningkatan penjualan di luar negeri akibat cepatnya penyampaian informasi tentang produk baru
• Wawasan target pasar tidak lagi di batasi oleh wilayah geografis

5. Sistem organisasi Perusahaan

SEBELUM 1970
Struktur organisasi perusahaan relatif sederhana dan terbatas mencakup sistem organisasi yang melayani pasar domestik

DAMPAK PERUBAHAN LINGKUNGAN BISNIS SESUDAH 1970
Peningkatan persaingan global yang dipacu oleh perubahan teknologi menyebabkan :
• Perusahaan global dapat melakukan kegiatan produksi barang maupun komponen secara terpisah atau terintegrasi dibanyak negara
• Perkembangan teknologi mendorong perubahan sistem kelembagaan organisasi global dengan meningkatnya :

1. Kenyataan perusahaan pusat berperan sebagai “production organizer” dengan menjalankan strategi paralel atau multiple sourcing
2. Menjamurnya perusahaan subcontracting dalam kegiatan sourcing komponen.

6. Sumber Pembiayaan
SEBELUM 1970
Sumber pembiayaan perusahaan sangat terbatas dan di monopoli oleh negara-negara maju tertentu

DAMPAK PERUBAHAN LINGKUNGAN BISNIS SESUDAH 1970
Inovasi teknologi komunikasi dan komputerisasi telah mendorong berkembangnya berbagai jenis sumber pembiayaan secara global
• Kapital menjadi mudah di dapat dan tidak lagi terbatas Internasionalisasi pasar uang, pasar modal dan lembaga perantara keuangan memudahkan investor mendapatkan sumber pembiayaan di pasar uang
• Kapital sebagai faktor produksi menjadi lebih mobile.

Sumber :Aditiawan Chandra, Olahan dari berbagai literatur

Nyata sudah usaha menarik investasi langsung ke NSB pada saat ini merupakan gejala yang mendunia. Masing masing negara maupun Pemerintah Daerah berlomba-lomba mempromosikan kelebihan tempat lokasi industrinya, dengan intensitas misi perdagangan dan promosi investasi yang meningkat. Memang dampak kehadiran perusahaan global melalui proses relokasi telah diterima oleh sebagian besar negara di dunia.

Faktor Yang Mempengaruhi Relokasi
Lokasi dan relokasi kegiatan bisnis internasional sangat dipengaruhi oleh berbagai variabel pada tingkat makro (negara) maupun pada tingkat mikro (industri). Baiklah kita bahas secara singkat peran masing-masing variabel tersebut.

1. Permintaan
Permintaan masyarakat di suatu negara akan sangat mempengaruhi proses relokasi intenasional. Pada saat ini sebagian besar konsumen di negara maju memiliki tingkat pendapat per kapita yang relatif tinggi, sehingga wajar jika sebagian besar proses relokasi terjadi di negara tersebut. NSB sekarang masih merupakan importir dari sebagian besar produk manufaktur dengan tingkat konsumsi rata-rata per kapitanya yang masih rendah.

Tetapi sejalan dengan pertumbuhan pembangunan, NSB secara berangsur akan meningkatkan porsi produksi dunianya lebih tinggi. Begitu intensitas pemakaian barang komponen maupun produk manufaktur meningkat maka tidak diragukan lagi akan lebih banyak perusahaan global tertarik untuk melaksanakan relokasi, sebagaimana ditujunjukkan dalam kasus industri otomotif, besi baja, barang logam serta industri kimia.

2. Perubahan Struktur Perekonomian
Perubahan struktur perekonomian baik di negara maju maupun di NSB telahmempengaruhi baik lokasi maupun relokasi kegiatan industri internasional. Beberapa kecenderungan yang dapat diamati dan disampaikan dari perubahan struktur perekonomian selama dua puluh tahun terakhir adalah sebagai berikut:

(a) Negara maju secara berangsur cenderung mengkonsentrasikan kegiatan produksinya pada proses menghasilkan barang dengan nilai tambah yang sangat tinggi dengan memanfaatkan teknologi maju dan standar Mengandalkan upah buruh yang rendah kualitas yang tinggi (Van Lient, 1992; Ezaki, 1995).
(b) Perubahan struktur dari sektor pertanian ke sektor industri manufaktur di negara industri baru (Korea, Taiwan) telah berkurang intensitsanya dan bergeser kepada kegiatan sektor perdagangan, keuangan, pengangkutan dan komunikasi.

Perubahan ini akan diikuti oleh kegiatan relokasi industri manufaktur ke NSB (Oshima, 1995). Negara Thailand, Malaysia dan Indonesia telah tumbuh dan berkembang mengikuti pola industrialisasi yang pernah dicapai oleh negara industri baru dengan arus masuk PMA dalam industri manufaktur yang semakin meningkat. Pola ini dikenal dengan pola pembangunan “angsa terbang” (the flying geese pattern), dimana sebelumnya Jepang tampil memimpin pembangunan di Korea, Taiwan dan singapura, dan kemudian keberhasilan
industrialisasi di negara industri baru Asia tersebut diikuti oleh ketiga negara ASEAN di atas (Oshima, 1995; Ezaki 1995). Tetapi Ohmae (1995) memprediksi bahwa formasipembangunan kelompok angsa terbang tersebut dapat saja dipimpin oleh negara di luar Jepang, seperti Thailand yang mulai memimpin pembangunan di Myanmar dan Vietnam.

3. Kebijakan Ekonomi Makro dan Ekonomi Daerah
Berbagai literatur tentang kiprah perusahaan multinasional membuktikan bahwa kebijakan ekonomi makro di suatu negara yang dilaksanakan secara konsisten dengan selalu menjaga stabilitas di bidang moneter (antara lain stabilitas nilai tukar dan inflasi), dapat menarik masuknya investasi perusahaan tersebut secara drastis. Hal ini terbukti dengan pengalaman peningkatan arus modal asing di beberapa negara sedang berkembang di Asia Timur dan Asia Tenggara (seperti China, Thailand, dan Indonesia) dan Amerika (Mexico, Brazil dan Argentina).
Berbagai terbitan rutin tentang posisi country risk dan perkembangan perekonomian negara yang diterbitkan oleh lembaga independen skala internasional pada saat ini hampir menjadi bahan bacaan rutin para manajer eksekuti puncak (CEO) dari perusahaan global. Memang country risk mereka gunakan karena dapat memberikan informasi tentang perkembangan berbagai indikator penting dalam bidang ekonomi, keuangan dan politik yang terjadi di suatu negara. Dalam hal ini variabel ekonomi moneter, tingkat harga, dan neraca pembayaran mendapatkan bobot yang tinggi dalam perhitungan index risiko secara menyeluruh, disamping variabel risiko keuangan.

Deregulasi pemerintah yang menghilangkan berbagai hambatan arus perdagangan dan investasi telah acapkali dikemukakan oleh para senior eksekutif di majalah bisnis Fortune dan Asian Bisnis sebagai salah satu daya tarik investasi di NSB untuk kawasan Asia dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Kebijakan Pemerintah Indonesia menurunkan tingkat tarif bea masuk dan Peraturan Pemerintah No. 20 Tahun 1994 juga dilaporkan oleh sebagian besar investor PMA sebagai daya tarik untuk investasi sejak tahun 1994 di Indonesia.

Demikian pula dengan kebijakan dan pembangunan ekonomi daerah. Berbagai literatur telah membahas berbagai usaha dari Pemerintah Daerah dalam merumuskan kebijakan ekonomi pada tingkat lokal dalam menarik investasi asing, meliputi; kawasan industri; taman industri berteknologi (researchparks); pusat inovasi; dana ventura publik; subsidi dalam bentuk insentif pajak untuk pengembangan R & D; pengembangan industri menengah dan kecil; pengembangan kawasan kota; global transport; dan sebagainya (UnitedNation, 1994; Gottlieb dkk, 1994; Young dkk, 1994 Greis dkk, 1994 Kasarda, 1995). Hampir dapat disimpulkan rekayasa kebijakan ekonomi daerah ini telah berhasil menarik arus masuk investasi global.

Literatur tersebut menyarankan bahwa dampak positif kebijakan ekonomi tersebut dikoordinasikan dengan paket kebijakan ekonomi nasional dan program pembangunan daerah, yang memungkinkan peningkatan pengelompokan kegiatan ekonomi (stimulate clustering) di sekitar daerah yang akan dikembangkan sebagai tempat lokasi perusahaan global.

4. Akses Terhadap Biaya Faktor Yang Lebih Rendah
Akses terhadap biaya faktor yang lebih rendah yang dapat diberikan oleh berbagai alternatif tempat lokasi merupakan faktor pertimbangan utama skala mikro yang paling dominan mempengaruhi relokasi perusahaan global (Kinoshita, 1995; Daniels, 1994; Robock, 1989). Biaya ini antara lain meliputi upah buruh, biaya bahan baku dan penolong; harga dan sewa tanah/kapling industri; harga pabrik/gedung; pajak dan pungutan perizinan. Perubahan kebijakan Pemerintah Pusat dan Daerah yang mendorong peningkatan biaya tersebut dapat mempengaruhi perusahaan global memindahkan lokasi pabriknya ke daerah atau negara lain.

5. Akses Terhadap Sumber Daya Manusia dan Local Sourcing
Sumber daya manusia yang terdidik dan trampil merupakan suatu daya tarik relokasi perusahaan manufaktur yang berasal dari Amerika Serikat dan Jepang ke negara industri maju di Taiwan, Korea dan Hongkong (Kinoshita, 1995; Bohn Young, 1984; Daniel, 1994). Di samping kualitas intrinsik yang melekat pada tenaga kerja terdidik tersebut, perusahaan global cukup sensitif dan bias dalam memilih alternatif lokasi tempat usaha mereka, meliputi antara lain adanya dukungan budaya atau etos kerja pekerja yang baik, dan kondisi sosialmasyarakat dengan tingkat polycentrism dan ethnocentrism yang tidak
berlebihan.

Mengingat pula kecenderungan perusahaan global melaksanakan sebagian atau seluruh produksi komponen manufakturnya melalui local sourcing dengan negara penerima (host countries), maka partner lokal dituntut dapat bekerjasama dengan investor global dengan menunjukkan kesanggupannya menguasai bidang teknologi, memelihara volume pasokan sepanjang tahun, serta mempertahankan kualitas pengiriman dan harga secara bersaing. Dalam hal ini bantuan Pemerintah untuk mengembangkan kesanggupan pemasok lokal sangatdiharapkan.

6. Akses Terhadap Lokasi Input Produksi dan Penghematan Eksternal (Anglomeration Economies )
Faktor terakhir yang cukup penting untuk menarik investor global melaksanakan relokasinya adalah komitmen Pemerintah Pusat dan Daerah menyediakan prasarana infrastruktur yang memudahkan akses terhadap lokasi sumber input raw materials dan bahan penolong ke lokasi pabrik dan tempat pengiriman barang. Dalam hal ini tidak kalah pentingnya pengembangan fasilitas infrastruktur kota (urban amenities) disekitar lokasi tempat produksi perusahaan global, meliputi penyediaan pasokan listrik, air minum, fasilitas pendidikan dan keterampilan tenaga kerja.

Antisipasi ke Depan
Proses relokasi industri perusahaan skala dunia ke negara sedang berkembang masih akan berlanjut sampai dengan akhir abad ke-21. Semakin jelas dari uraian singkat pada tulisan ini bahwa perusahaan global sangat mudah memindahkan lokasi usaha mereka (mobile) mencari lokasi yang dapat memberikan biaya relatif faktor produksi yang lebih rendahdibanding kan dengan alternatif lokasi lainnya.

Kecenderungan ini diperkuat oleh berbagai perubahan inovasi teknologi, sistem kelembagaan internasional dan politik ekonomi dari sebagian besar negara di dunia, sehingga modal dan teknologi sebagai komponen faktor produksi menjadi lebih mudah berpindah dari negara maju ke negara sedang berkembang. Sebaliknya dibandingkan dengan dua faktor produksi tersebut, faktor produksi tenaga kerja menjadi lebih sulit dipindahkan secara relatif dari satu negara kenegara lainnya.

Mengantisipasi kedatangan perusahaan global di masa depan kita tidak dapat lagi mengandal kan hanya pada keunggulan komparatif biaya buruh yang relatif rendah, karena kenyataan masih adanya faktor dominan lainnya yang mempengaruhi relokasi. Pemikiran klasik atas pentingnya penyediaan akses kapital dan teknologi di dalam negeri untuk menarik investasi asing sudah menjadi usang di masa datang. Kedua komponen faktor produksi tersebut akan dengan mudah dipindahkan oleh perusahaan global dari negara maju ke berbagai alternatif tempat lokasi di dunia.

Yang terpenting perlu dipersiapkan oleh Pemerintah dan dunia usaha domestik adalah menciptakan stabilitas ekonomi makro dalam jangka panjang dengan menghilangkan sumber kemungkinan instabilitas. Desentralisasi perumusan kebijakan ekonomi pada skala daerah untuk menarik industri global sudah perlu segera dilaksanakan, antara lain dengan melanjutkan program pengembangan infrastruktur secara terarah dan terpadu dengan kebijakan pengembangan industri nasional.

Berbagai faktor yang dapat menghambat arus barang dan jasa dari lokasi input material sampai ke pasar luar negeri perlu segera dikurangi. Demikian pula pengembangan sumber daya manusia yang terdidik dan trampil dalam bidang industri manufaktur serta pembinaan pengusaha domestik yang memiliki wawasan global dan kemampuannya sebagai pemasok global segera harus di mulai jika kita ingin memanfaatkan kehadiran relokasi industri pada era liberalisasi perdagangan dan investasi.

Bahan Bacaan

1.Bohn – Young, 1984, Industrial Structure and Foreign Investment: A Case Study of Their Interrelationship for Korea. Korea Development Institute.
2.Daniels, John D. and Radebaugh, L.H. 1994, International Business;Environment and Aplications, New York; Addison-Wesley PublishingCompany.
3.Ezaki, Mitsou, 1995 “Growth and Structural Changes in Asian Countries”, Asian Economic Journal 1995, vol. 9 No. 21.
4.Greis, Noel P. and kawan, 1994 “Angile Logistics and Global Strategy: The Global Transpark”, University of Norh Carolina, Chapel Hill.
5.Kasarda, John D. 1995 “Transportation Infrastructure for Competitive Success in the Century”, White Paper.
6.Kinoshita, Toshihiko, 1995, “Japan’s Foreign Direct Investment Asia”, Research Institute for International Investment and Development, Jepang.
7.Ministry of International Trade and Industry, “A Survey of Jepan and Foreign Direct Investment Countries”, No. 1994
8.Ohmae, Kinichi, 1993 The Borderless World. Harper Business.
9.Ohmae, Kinichi, 1995, The End of the Nation state; the Risk of Regional Economics. New York; The Free Press.
10.Oshima, Harry T. 1995, “Trends in Productivity Growth in the Economic Transition of Asia and Long Term Prospects for the 1990s”, Asian Economic Journal 1995, Vol. 9 No. 21.
11.Robock, Stefan H. and Simmonds, K. 1989. International Business and Multinational Enterprises, Homewood, III.; Richard D. Irwin Inc.
12.United Nations, 1994 Transnational Corporation and Technology Transfer in Export Processing Zones and Science Park. Monograph No. 2
13.Van Lient, G. 1992 Industry on the Move Geneva; ILO.
14.Young, Stephan; Hood, N. Peters, E. 1994. “Multinational Enterprises and Regional Economic Development”, Regional Studies 1994. Vol 28 No. 7.
15.The World Bank, World Development Report. Berbagai Terbitan.

  1. Maret 26, 2007 pukul 1:19 pm | #1

    salam..
    saya dini, mahasiswi teknik planologi undip. saya sedang cari literatur tentang konsep pengembangan lokal di negara2 sosialis. apa anda bisa bantu?
    hari jumat saya presentasi, kalo ga keberatan tolong bantu saya dan balas ke email nayz_cream@yahoo.com.
    makasih…

  2. gie
    Desember 13, 2007 pukul 2:45 pm | #2

    salam..
    saya anggia,mahasiswi hubungan internasinoal unpas.
    saya sedang mencari tentang masalah yang timbul pada pembayaran antar negara.bisa bantu saya?
    saya baru semester 1,jadi agak2 kurang mengerti..
    (email saya anggiia_piggywiggie@yahoo.com)
    sebelumnya,saya ucapkan terima kasih..

  3. sherly
    Desember 28, 2007 pukul 8:36 am | #3

    assalamualaikum…
    saya sherly mahasiswa ekonomi pembangunan unsri. sedang mencari tugas tentang pembangunan industri di negara sedang berkembang. dengan membuka web ini saya dapat menambah bahan makalah dan saya mengucapkan terimakasih.

  4. abi
    Februari 8, 2008 pukul 8:58 am | #4

    Salam,

    saya abi mahasiswa S2 di Univ. Gunadarma. saat ini saya diberi tugas oleh dosen saya mengenai desain organisasi untuk implementasi strategi bisnis global; multinasional enterprise (gambarkan struktur organisasiny). mungkin Bapak dapat membantu saya dengan memberitahukan saya mengenai struktur organisasinya.
    Atas perhatian Bapak, saya ucapkan terima kasih

  5. shinta
    Maret 7, 2008 pukul 2:53 pm | #5

    salam, saya mahasiswa s2.saat ini saya ada tuas kuliah yaitu mengidentifikasi kareteristik pasar amerika, eropa, cina,jepanf dan korea. Kemudian apa yang harus dilakukan dalam melakukan bisnis di pasar internasiona.Saya sudah mengerjakanya tapi masih perlu tambahan ntk memperkuat jawaban saya.Mhon bantuanya, atas perhatianaya saya ucapkan terima ksih

  6. rafika
    Mei 17, 2008 pukul 2:58 pm | #6

    salam sejahtera Pak, saya Fika mahasiswi S2 IPB. Saya sedang ditugaskan untuk mempresentasikan topik mengenai bisnis international khususnya membahas tentang joint ventura skala international antar negara. kiranya Bapak bisa membantu saya dengan mengirimkan bahan yang terkait dengan tugas saya ke siti_rafika@yahoo.com saya ucapkan banyak terima kasih

  7. Juli 13, 2008 pukul 8:02 am | #7

    salam pak, saya mahasiswa S1 manajemen UPI
    saya sedang mencari tugas nih.
    terimaksih tulisan nya

    ini sangat membantu

    http://mgtupi06.tk

  8. Juli 13, 2008 pukul 4:52 pm | #8

    Salam sejahtera, saya mahasiswa S1 EKONOMI MANAGEMEN UNSIQ sedang ada tugas untuk presentasi mengenai economic global secara umum, sudi kiranya bapak mengirimkan bahan yang berkaitan dengan tugas saya ini. sebelum dan sesudahnya saya sampaikan terima kasih, mudah-mudaham bapak mendapat balasan yang baik dari Allah Yang Maha Kuasa

  9. odilia
    Juli 15, 2008 pukul 11:34 am | #9

    salam pak, saya mahasiswi Akademi Sekretari UWM Sby, sy diberi tugas untuk presentasi pada awal bln depan mengenai dampak perekonomian global bagi perusahaan serta langkah-langkah yang ditempuh untuk bertahan.saya sangat mengharapkan bantuan bapak untuk memberikan bahan-bahan terkait tugas sy tsb. sebelumnya saya ucapkan terima kasih.

  10. September 19, 2008 pukul 9:21 pm | #10

    salam hangat pak, saya mahasiswa UNDIKNAS denpasar, asya ingin bertanya mengenai kiat2 pengusaha untuk dapat bergerak dipasar global, apa aja persiapan yang diperlukan, dan langkah2 yang harus ditempuh dalam persaingan pasar global. saya mengharapkan bantuan bapak terkait pertanyaan2 diatas. sebelumnya saya ucapkan banyak terimakasi..

  11. Toni
    Januari 12, 2009 pukul 9:34 am | #11

    Mohon ijinnya untuk saya copy. terimakasih sebelumnya

  12. wisnu
    Januari 7, 2010 pukul 12:22 am | #12

    assallamualaikum, wr. wb
    salam hormat mr.aditiawan chandra, saya mahasiswa UAD yogyakarta. yang saya tanyakan bagaimana menangani krisis yang sedang melenda seluruh negara, khususnya negara maju dan negara berkembang. terimakasih
    wassalammualaikum, wr. wb

  13. wisnu
    Januari 7, 2010 pukul 12:24 am | #13

    assallamualaikum, wr. wb
    salam hormat mr.aditiawan chandra, saya mahasiswa UAD yogyakarta. yang saya tanyakan bagaimana menangani krisis yang sedang melenda seluruh negara, khususnya negara maju dan negara berkembang dan bagaimana untuk negara2 yang masih terjajah? terimakasih
    wassalammualaikum, wr. wb

  14. huldy
    Mei 8, 2010 pukul 12:22 am | #14

    ass……….
    saya huldy,saya mahasiswa UMRAH KEPRI.Dengan ini saya mohon bantuan saudra/saudari untuk mendapat tugas kuliah saya yaitu mengenai pendekatan sistem hubunga buruh dan industri yang lebih spesifik.sebelum dan sesudah nya saya ucapkan terima kasih,dapat anda kirim pada email saya=HULDY_BALORSTA@YAHOO.COM

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 27 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: